Sabtu, 02 September 2017

GERAKAN 30 SEPTEMBER PARTAI KOMUNIS INDONESIA Disusun oleh Kelompok 1 XI MIPA 2 SMA Xaverius 1 Palembang

Disusun oleh
Kelompok 1 XI MIPA 2 SMA Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota :
1.         Cecilia Debby
2.         Chris Evander
3.         Edo Renaldo
4.         Indiharti Wijaksono
5.         Kevin Pratama



Kronologis :
Peristiwa G30S/PKI adalah peristiwa yang terjadi pada tanggal 30 September 1965 dan 1 Oktober 1965. Peristiwa ini dilatarbelakangi beberapa faktor, yang pertama ialah PKI. Pimpinan PKI telah mengadakan beberapa pertemuan rahasia untuk menyusun rencana kudeta pada tanggal 30 September 1965. G30S/PKI dilakukan menggunakan kekuatan militer yang dipimpin oleh Kolonel Untung. Pada saat itu Kolonel Untung menjabat sebagai Komandan Batalion Resimen Cakrabirawa yang bertugas menjadi pimpian formal atas pengawal presiden.
Kolonel Untung memerintakan pasukan anggotanya untuk melakukan pergerakan pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari. Pergerakan ini meliputi penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan enam perwira tinggi dan satu orang perwira pertama TNI-AD yang setelah itu dibuang ke Lubang Buaya. Korban-korban dari kekejaman ini ialah:
1.      Jendral TNI Anumerta Ahmad Yani
2.      Mayor Jendral Anumerta Donald Isaac Pandjaitan
3.      Brijendral TNI Anumerta Katamso Darmokusumo
4.      Letnan Jendral TNI Anumerta Mas Tirtodarmo Haryono
5.      Letnan Jendral TNI Anumerta Suprapto
6.      Kapten Anumerta Pierre Tendean
7.      Ajun Inspektur Polisi 2 Anumerta KS. Tubun
8.      Kolonel Infanteri Anumerta R. Sugiyono Mangunwiyoto
Pada tanggal 1 Oktober 1965, operasi penumpasan dilakukan. Operasi penumpasan G30S/PKI ini dipimpin oleh Mayor Jendral Soeharto. Penumpasan itu dilakukan dengan langkah-langkah berikut:
1.      Pasukan Medan Merdeka yang dimanfaatkan oleh PKI dinetralisir.
2.      Pasukan RPKAD berhasil mengamakan seluruh wilayah Medan Merdeka tanpa pertumpahan darah.
3.      Markas Kodam V/Jaya dan Lapangan Banteng berhasil diamankan oleh Pasukan Batalyon 238 Kujang/Siliwangi.
4.      Pasukan Batalyon Kavaleri berhasil mengamankan BNI Unit I dan Percetakan Uang di daerah Kebayoran.
Pada tanggal 2 Oktober 1965, Pasukan RPKAD  bersama Batalyon 238 Kujang/Siliwangi dan Batalyon 1 Kavalen berhasil menduduki Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma. Kampung-kampung di sekitar Lubang Buaya dibersihkan dari pengaruh PKI.
Pada tanggal 3 Oktober 1965, mayat para jenderal korban G30S/PKI ditemukan, dibersihakan, dan disemayamkan dengan layak di Markas Besar Angkatan Darat. Pada tanggal 5 Oktober 1965, mayat para jenderal dimakamkan.
Untuk meredam dan menghilangkan ketakutan dan kegelisahan masyarakat dilakukan siara RRI. Kemudian berakhirlah peristiwa G30S/PKI.
Sumber :

Opini :
1.      Cecilia
Peristiwa G30S/PKI disebabkan oleh PKI, Politik Luar Negri, dan Paham Nasakom. Peristiwa ini dapat terjadi karena PKI yang merasa kedudukannya berada di ujung tanduk karena adanya isu "Resolusi Dewan Jendral" yang akan menggulingkan pemerintahan Presiden Soekarno yang merupakan pendukung terkuat PKI pada saat itu. Bila Presiden Soekarno dilengserkan, PKI akan sulit dalam memperluas kedudukannya dan mengembangkan pengaruhnya di Indonesia. Soeharto yang merupakan panglima tinggi tidak berpengaruh memanfaatkan kondisi ini dengan membiarkan PKI menjalankan rencananya menculik para jenderal. Dalam pelaksanaan perencanaan, PKI dibantu oleh CIA dan MI6 yang mendukung tersebarnya paham komunis. Soeharto pun menjadikan PKI sebagai kambing hitam dengan mengatakan bahwa PKI melakukan pemberontakan untuk melengserkan Presiden Soekarno. Namun, Soeharto berhasil menggagalkan kudeta tersebut karena persiapan PKI yang kurang matang sehingga kejadian G30S/PKI pun terselesaikan. Peristiwa G30S/PKI ini juga mempengaruhi kehidupan masyarakat dalam bidang politik, sosial, dan ekonomi. Perekonomian masyarakat menurun dan menyebabkan kesenjangan sosial, selain itu politik Indonesia pada saat itu pun menjadi kacau balau dan mudah dipecah belah.
Menurut saya, apa yang telah dilakukan PKI merupakan pelanggaran ham karena telah membunuh banyak orang baik itu panglima, TNI, maupun masyarakat setempat. Hal ini melanggar salah satu hak kita yaitu hak untuk hidup yang telah kita dapatkan sejak berada dalam kandungan yang terdapat dalam Pasal 28A. Bukan hanya itu, peristiwa G30S/PKI juga melanggar Pasal 28E yaitu hak untuk beragama dan menjalankan ibadah sesuai agama masing-masing. Seperti yang kita ketahui bahwa PKI merupakan gerakan komunis yang ada di Indonesia. Tujuan PKI ialah mengubah paham dan ideologis Negara Indonesia menjadi negara yang berpahamkan komunis. Yang menunjukkan PKI bertentangan dengan paham Indonesia yaitu, Pancasila yang melambangkan negara Indonesia adalah negara yang beragama dan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebaiknya, bangsa Indonesia lebih memperketat politik Indonesia dan meniadakan hal-hal yang bertentangan dengan hukum dan dasar negara Indonesia. Dengan begitu, hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemberontakan dapat terhindari. Rakyat sendiri dapat membantu terhindarnya pemberontakan atau kerusuhan seperti di masa-masa lalu dengan lebih memperdalam iman dan tetap teguh dengan kepercayaan yang dipegang sejak lama. Dan juga menjalankan sila-sila dalam Pancasila yang dapat memicu persaudaraan antar sesama dan rasa cinta tanah air. Sehingga, bangsa Indonesia tidak mudah tergoyahkan atau dipecah belah.
2.      Chris
Menurut saya, PKI berpaham ideologi yang merusak umat dan bangsa, dan pada zaman sebelum reformasi tidak ada tempat di Indonesia yang berkehidupan sesuia dengan Pancasila. PKI berjiwa komunis dan berperilaku tidak manusiawi. Seharusnya, PKI dari awal tidak perlu dibentuk karena tidak sesuai dengan dasar negara kita, yaitu Pancasila. Pada sila pertama yang berbunyi "Ketuhanan Yang Maha Esa", membuktikan bahwa Indonesia adalah negara yang beragama dan percaya kepada Tuhan YME. Sehingga, hal-hal yang berbau komunis harus dihilangkan atau diantisipasi di Indonesia. Langkah setelah tragedi itu juga sudah tepat dengan tindakan Presiden Soekarno yang mengeluarkan supersemar untuk memberikan kekuasaan kepada Soeharto yang bertujuan melindungi Indonesia pada saat itu.
Solusinya adalah membuat peraturan atau Undang-Undang yang tegas dan jelas yang mengatur tentang pelarangan organisasi dengan ideologi yang berlawanan dengan pancasila seperti PKI dan membuat UU yang mengatur tentang pelarangan hal-hal yang berbau komunis.

3.      David
Menurut saya, kejadian tersebut merupakan pelanggaran HAM yang berat karena PKI menyerang dan membunuh masyarakat yang tidak bersalah dalam peristiwa tersebut. Sampai sekarang banyak aliran yang mengatakan bahwa PKI lah yang bersalah. Namun pada aliran lain, ada yang menyatakan bahwa Soeharto bersalah karena memiliki hubungan yang erat dengan partai komunis. Karena setelah peristiwa 30 September terjadi, Soeharto menjadi presiden.
Hal semacam itu bisa terjadi di masa yang akan datang. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya hal tersebut, kita perlu berbuat baik kepada orang lain tanpa meminta balasan, tidak membeda-bedakan dalam berteman, selalu jujur pada orang lain, dan bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuat.
4.      Edo
Menurut pendapat saya, G30S/PKI merupakan pelanggaran HAM yang amat berat. Kejadian G30S/PKI menewaskan banyak korban, seperti 10 orang yang dibunuh dan masyarakat yang juga dibunuh. HAM yang dilanggar yaitu hak untuk hidup dan hak untuk mempertahankan hidupnya, hak untuk bebas dari penyiksaan, hak untuk hidup sejahtera lahir dan batin, dan berbagai hak lainnya.
Seharusnya pemerintah bertindak tegas terhadap komunisme yang ada di negara kita. Menegakan keadilan bagi pelanggar-pelanggar HAM. Sebagai warga negara, kita juga harus ikut serta dalam menegakan keadilan HAM bagi sesama kita.
5.      Indi
G30S/PKI merupakan suatu gerakan yang dilancarkan oleh PKI pada tanggal 1 Oktober 1965 dimana persiapannya pada malam tanggal 30 September 1965. Gerakan ini bisa disebut Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) dan Gestok (Gerakan Satu Oktober). Gerakan ini dilancarkan dalam rangka menculik dan membunuh perwira tinggi angkatan darat (TNI-AD) yang dianggap merupakan musuh utama yang akan menghambat tujuan dari PKI. Sasaran utama adalah para jenderal.
Menurut saya, pelaku dari peristiwa itu bukan hanya PKI, tetapi ada yang menyebutkan dalangnya antara lain, Agen Pusat Intelijen Amerika Serikat (CIA) dan Agen Rahasia Inggris (MI6). Sehingga terlihat ada upaya pembelokan sejarah Gerakan 30 September/PKI dan semakin gencar dengan munculnya beragam versi dari peristiwa itu yang berpotensi membingungkan masyarakat luas. Upaya mengubah sejarah G30S/PKI dengan memposisikan PKI sebagai korban dan bukan pelaku atau dalangnya kini terus berlanjut dan semakin intensif. Modus dari upaya pihak-pihak yang ingin menghapus jejak sejarah itu dengan menimbulkan keraguan di tengah masyarakat terhadap siapa yang sebenarnya melakukan gerakan pemberontakan pada tahun 1965 itu.
Watak dasar dari komunis untuk mengkudeta dan membentuk suatu kediktatoran dan proletariat. Berdasarkan catatan sejarah, partai berhaluan komunis juga telah tiga kali melakukan pemberontakan di tanah air, yaitu di masa kemerdekaan pada tahun 1948 dan 1965, serta pada masa pra-kemerdekaan pada tahun 1926. Meski pemberontakan tahun 1926 dilakukan terhadap pemerintahan kolonial Belanda. Tetapi hal itu juga merugikan perjuangan nasional yang masih belum siap dan akibatnya menimbulkan tragedi Digul.
6.      Kevin
Menurut pendapat saya, gerakan G30S/PKI adalah kasus pelanggaran HAM yang sangat berat. Peristiwa G30S/PKI adalah usaha untuk mengganti ideologi negara kita yaitu Pancasila menjadi ideologi komunis. Perbuatan PKI dalam rangka usahanya untuk merebut kekuasaan di negara Republik Indonesia dengan memperalat oknum ABRI sebagai kekuatan fisiknya, untuk itu maka Gerakan 30 September telah dipersiapkan jauh sebelumnya dan tidak pernah terlepas dari tujuan PKI untuk membentuk pemerintah Komunis.
Peristiwa G30S/PKI ini sangat miris. Jenderal TNI-AD dan satu ajudan diculik, disiksa, dan dibunuh dengan cara tidak wajar. Tentu saja hal ini telah melanggar UUD 1945 pasal 28A tentang hak untuk hidup dan pasal 28I tentang hak untuk tidak disiksa. Kemudian dampak ekonomi akibat peristiwa ini juga sangat berat bagi masyarakat, yaitu ekonomi menjadi kacau, nilai tukar uang rupiah menurun, semua sektor ekonomi terhambat, dan semua rakyat menderita.
Peristiwa ini sangat merugikan bangsa Indonesia. Semoga peristiwa G30S/PKI bisa dijadikan pelajaran bagi pemerintahan dan masyarakat di Indonesia.
Sebagai pelajar, kita seharusnya meletakkan sila-sila Pancasila didalam hati kita. Pancasila harus dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari supaya jiwa nasionalisme dan patriotisme kita tumbuh. Pemerintah juga harus bersifat tegas dalam mengadili hal-hal yang menyimpang dari ideologi negara kita, Pancasila. Seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali, harus menghilangkan segala sesuatu tentang ajaran komunis agar sejarah kelam G30S/PKI tidak terulang kembali.
JASMERAH-Soekarno
JAngan Sekali Sekali MElupakan sejaRAH.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar