Rabu, 06 September 2017

KASUS PELANGGARAN HAM PEMBUNUHAN ANGELINE DISUSUN OLEH Kelompok 2 XI IPS 1 SMA Xaverius 1 Palembang

DISUSUN OLEH
Kelompok 2 XI IPS 1 SMA Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota:
1.       Felixianto R. (13)
2.       Gabriella R. C. S (15)
3.       Leona Jaya (23)
4.       Meirina Nabila Saputri (26)
5.       M. Imansyah H (29)
6.       Salsabila Adifa (32)



Link Video Youtube: https://youtu.be/gqXPhjT9Ass
Kasus  pembunuhan Angeline merupakan peristiwa kekerasan terhadap anak perempuan berusia delapan tahun yang terjadi di Kota Denpasar, Balipada tanggal 16 Mei 2015. Peristiwa ini menjadi populer dalam berbagai media di Indonesia diawali dengan pengumuman kehilangan anak tersebut (semula disebut Angeline) dari keluarga angkatnya melalui sebuah laman di facebookberjudul "Find Angeline-Bali's Missing Child". Besarnya perhatian dari berbagai pihak membuat terungkapnya kenyataan bahwa Engeline selama ini tinggal di rumah yang tidak layak huni dan mendapat pengasuhan yang kurang baik dari orangtua angkatnya bahkan mendapatkan penyiksaan baik fisik maupun mental. Akibat sikap yang sangat tertutup dan tidak kooperatif dari ibu angkatnya, Margriet Christina Megawe (62 tahun), memunculkan dugaan bahwa Engeline hilang bukan karena diculik melainkan karena dibunuh bahkan sebelum jenazahnya ditemukan. Jasad Engeline kemudian ditemukan terkubur di halaman belakang rumahnya di Jalan Sedap Malam, Denpasar, Bali, pada hari Rabu tanggal 10 Juni 2015 dalam keadaan membusuk tertutup sampah di bawah pohon pisang setelah polisi mencium bau menyengat dan melihat ada gundukan tanah di sana. Selanjutnya polisi menyelidiki lebih mendalam dan menetapkan dua orang tersangka pembunuh, yaitu Agus Tay Hamba May, pembantu rumah tangga, dan Margriet Christina Megawe, ibu angkatnya. Ayah angkat Engeline, Douglas, dikabarkan sangat menyayangi anak angkatnya tersebut. Namun kemudian Douglas meninggal dunia pada tanggal 17 September2008. Margriet tampak terpukul dengan kematian suami keduanya tersebut.Dalam pengasuhan Margriet sebagai orangtua tunggal, pada tahun-tahun terakhirnya diduga Engeline mengalami banyak kekerasan baik secara fisik maupun mental.Diketahui bahwa ibu angkatnya tersebut menjadi seorang yang temperamental. Dari foto-foto yang ada dan kesaksian dari guru di sekolahnyatampak bahwa pada tahun terakhir kehidupannya ia mengalami penurunan berat badan. Engeline juga tinggal di rumah yang tidak layak huni, karena dikelilingi oleh kandang ayam dan berbau tidak sedap walaupun mereka adalah keluarga yang secara ekonomi berkecukupan.Setiap hari Engeline diberi tugas untuk mencuci baju, mengepel lantai, membersihkan rumah, serta memberi makan binatang-binatang peliharaan ibu angkatnya berupa ayam, anjing, dan kucing. Bila ia lupa melakukannya, maka ia pasti mendapatkan perlakuan kasar dari ibu angkatnya. Padahal jumlah ayam yang dimiliki ibu angkatnya tersebut mencapai puluhan ekor. Akibat tugas tersebut, ia sering datang ke sekolah dalam keadaan baju yang lusuh serta badan dan rambut yang bau. Bahkan pernah ia dilaporkan oleh teman-teman sekelas kepada guru kelasnya di kelas 2B, Putu Sri Wijayanti, karena baunya. Ternyata saat itu di rambut Angeline banyak gumpalan kotoran ayamsehingga ia harus dimandikan dan dikeramasi rambutnya oleh Wijayanti. Di sekolahnya, SD 12 Sanur, Denpasar, khususnya setelah menginjak kelas 2, Engeline terlihat sebagai anak yang memiliki sifat pendiam, pemurung, lusuh, berwajah sendu, dan sering terlambat. Dia bersekolah pukul 12.00 WITA dan pulang pukul 17.00 WITA. Ia harus mempersiapkan bekal sekolahnya sendiri dan pergi ke sekolah dengan berjalan kaki sejauh 2 km bila melaui jalan raya atau 1 km bila melalui pematang sawah. Rutinitas pekerjaan yang tidak sewajarnya bagi seorang anak ini mengakibatkan Engeline tampak kelelahan, tidak sehat, dan terganggu perkembangannya.Namun Engeline bersifat tertutup dan tidak mau bercerita tentang penderitaan yang ia alami kepada gurunya. Hanya setelah didesak akhirnya ia mau mengatakan kepada gurunya bahwa ia sering pusing di sekolah karena belum makan. Mengenai hal ini, Margriet membela diri bahwa Engeline memang tidak suka makan dan cuma mau minum susu saja. Padahal ketika diberi makan di sekolah oleh gurunya, ternyata Engeline bisa sampai menghabiskan dua piring makanan yang disediakan. Mengetahui keadaan yang dialami Engeline, Kepala Sekolahnya - I Ketut Ruta - sempat berniat untuk mengadopsi anak tersebut. Ia meminta wali kelas Engeline untuk menyampaikan niatnya kepada Margriet. Namun Margriet melarangnya dengan alasan Engeline mempunyai tanggung jawab berupa berbagai tugas dan kewajiban yang harus dilakukannya di rumah. Walaupun Margriet adalah seorang yang temperamental tetapi ia membantah sangkaan bahwa ia sebagai ibu angkat tidak mengasuh Engeline dengan baik apalagi sampai melakukan kekerasan. Ia menyatakan bahwa ia menyayangi Engeline dan anak itu pun menyayangi dia. Ia memberi berbagai tugas kepada Engeline semata hanya untuk mendidiknya agar mandiri. Ia mengaku tidak mau dipisahkan dengan Engeline, sehingga ketika mendengar bahwa Komnas Perlindungan Anak akan mengambil hak asuh anaknya, ia berang dan menyatakan akan membunuh siapapun yang akan mengambil anak itu dari sisinya. Kasus yang menimpa Engeline pertama kali mengemuka dengan beredarnya kabar tentang hilangnya anak tersebut. Kabar tersebut tersebar luas antara lain akibat dibuatnya sebuah laman di jejaring sosial facebook berjudul "Find Angeline-Bali's Missing Child". Laman tersebut dibuat oleh salah satu kakak angkat Engeline yang sedang kuliah di Amerika Serikat, yaitu Christine, pada tanggal 16 Mei 2015 sekitar pukul 17.00 WITA.  Sementara Yvonne membuat selebaran mengenai hilangnya Engeline. Keesokan harinya berbagai media massa turut memberitakan kehilangan tersebut. Berdasarkan informasi dari Yvonne, dikabarkan bahwa adiknya hilang saat mereka bermain di depan rumah sekitar pukul 15.00 WITA. Setelah tidak juga ditemukan sampai pukul 18.00, maka kemudian Yvonne melaporkannya ke polisi. Tim pencari anak hilang dari kepolisian lantas mencarinya dari Denpasar sampai ke Banyuwangi, tampat lahir orang tua kandungnya. Berbagai upaya dilakukan oleh polisi, seperti mengamati CCTV di sekitar lokasi, menganalisis telepon seluler orang tua kandung dan orang tua angkatnya, serta menggunakan anjing pelacak. Namun anjing tersebut tidak menemukan jejak Engeline dan hanya berputar-putar di sekitar rumah saja. Keluarga Engeline yang berasal dari luar Bali pun berdatangan ke kediaman Engeline untuk membantu mencari anak tersebut.Kasus kehilangan anak ini juga menarik perhatian Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sehingga ketuanya, Arist Merdeka Sirait, beserta dua anggota timnya datang ke Bali untuk melakukan dialog dengan Polresta Denpasar dan Polda Bali. Mereka juga kemudian berkunjung dan menemui Margriet di rumahnya. Saat itu, Margriet memperkenankan mereka untuk melihat kamar dan ruangan dalam rumah. Dari hasil kunjungan itu, Arist berkesimpulan bahwa selama ini Engeline tinggal di rumah yang kondisinya sangat buruk dan tidak layak huni dengan halaman dipenuhi kandang ayam berjumlah sekitar seratus ayam sehingga akan membuat anak tidak bisa berkembang dengan baik. KPAI juga menyatakan maksudnya akan mengambil alih sementara hak asuh Margriet atas Engeline, sehingga membuat Margriet menangis histeris. Dia mengaku tidak terima, bahkan mengancam akan membunuh siapa pun yang akan mengambil anaknya itu karena dia menyayangi Engeline dan Engeline pun menyayanginya. Selain oleh KPAI, rumah Margriet juga didatangi oleh dua menteri Kabinet Kerja, yaitu Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi, dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,Yohana Yembise. Namun Margriet menolak menemui keduanya dan kedua menteri itu tidak diperbolehkan memasuki rumahnya. Hilangnya Engeline juga dibantu penanganannya oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar, yang merupakan perpanjangan tangan Pemerintah Kota Denpasar yang menangani perempuan dan anak. Mereka sudah memiliki kekhawatiran bahwa hilangnya Angeline bukan karena diculik atau melarikan diri, tapi justru dibunuh. Hal ini dinyatakan oleh pendamping hukum P2TP2A, Siti Sapurah tanpa mencurigai siapa pun termasuk ibu angkatnya. Hal tersebut didasari minimnya indikasi yang mereka temukan bahwa Engeline hilang di sekitar rumah atau diambil seseorang. Sehingga mereka menduga bahwa Engeline dihilangkan, dikubur atau dibunuh. Apalagi saat polisi melakukan pemeriksaan Margriet tidak koperatif dan ada ruang di rumah Margriet yang tidak boleh dimasuki orang lain kecuali orang terdekatnya dia. Ditambah lagi karena mantan pembantu Margriet, yaitu Agus Tay Hamba May, pernah mengatakan bahwa satu hari sebelum dilaporkan hilang, hidung Engeline berdarah karena dipukul ibunya. Pencarian Engeline terhenti setelah ia ditemukan dalam keadaan tewas terkubur di halaman belakang rumahnya pada hari Rabu, 10 Juni 2015. Jasadnya dalam kondisi membusuk di bawah pohon pisang, ditutup sampah, terkubur bersama bonekanya. Otopsi segera dilakukan di Instalasi Forensik di RSUP Sanglah pimpinan dr Ida Bagus Putu Alit, DMF, SpF. Dari hasil otopsi, Engeline diketahui meninggal sejak tiga minggu sebelumnya. Di tubuh jenazah ditemukan luka-luka kekerasan berupa memar pada wajah, leher, serta anggota gerak atas dan bawah. Di punggung kanan jenazah ditemukan luka sundutan rokok. Selain itu, ditemukan juga luka lilitan dari tali plastik sebanyak empat lilitan. Sebab kematiannya dipastikan karena kekerasan benda tumpul pada wajah dan kepala yang mengakibatkan pendarahan pada otak. Jasad Engeline kemudian dimakamkan di Dusun Wadung Pal, Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi yang merupakan kampung halaman dari ibu kandungnya.


Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Pembunuhan_Engeline
Opini dan Tanggapan, Analisis, Solusi dari setiap anggota:

1.       Felixianto : Menurut pendapat saya kasus tersebut merupakan pelanggaran HAM yang sangat tidak terpuji dan tidak pantas dilakukan oleh orang tua,seharusnya orang tua harus memberikan perhatian yang lebih untuk anak di bawah umur

2.    Gabriella : Menurut saya kasus pembunuhan Angeline merupakan suatu perbuatan yang melanggar HAM karena telah menghilangkan nyawa seseorang. Angeline merupakan bocah cilik yang tidak memiliki kesalahan apapun namun harus disiksa dan diperlakukan seperti seekor binatang oleh ibunya sendiri. Padahal tidak seharusnhya seorang ibu menyuruh tukang kenbun yang ada dirumahnya untuk memeperkosa Angeline yang notabene adalah seorang anak dibawah umur yang dibunuh dan dibuang jasadnya di belakang rumah. Seharusnya hal ini tidak terjadi di Indonesia.

3.       Leona : Menurut pendapat saya kasus ini melanggar kebijakan HAM dan memaksa kehendak anak maka kasus ini harus diberantas .sebaiknya angeline diberi pendidikan dan kasih sayang oleh orang tua agar angeline dapat menjadi pribadi yang baik di masa depannya

4.       Meirina :  kasus pelanggaran HAM Angeline adalah salah satu kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi di Indonesia karena kasus tersebut telah melanggar pasal 28 A dan 28 B dimana Angeline memiliki hak untuk hidup dan mempertahankan hidupnya karena ibu tirinya merampas hidup Angeline dengan membunuh Angeline, Angeline juga memiliki hak untuk kelangsungan hidupnya, tumbuh dan berkembang serta perlindungan dari kekerasan & diskriminasi namun ibu tirinya melakukan kekerasan dan menyiksa Angeline. Seseorang tidak diperbolehkan untuk mengambil hidup seseorang atau mengancam nyawa seseorang bahkan membunuh, Ibu tiri Angeline telah melanggar HAM yang dimiliki oleh Angeline dengan mengambil nyawa Angeline seharusnya ibu tiri Angeline dapat mendapat hukuman yang pantas karena telah mengambil nyawa seorang anak yang tidak berdosa. Karena setiap orang memiliki hak atas HAM.

5.       M. Imansyah : Menurut pendapat saya kasus ini sangat di sayangkan karena sudah di luar batas kewajaran manusia dan saya merasa kasihan dengan angeline karena masa depanny terhenti seharusnya orang tua angeline lebih memikirkan kasih sayang kepada angeline dari pada harta warisan dll

6.       Salsabila Adifa : Menurut saya apa yang telah dilakukan oleh ibu tiri Angeline merupakan salah satu contoh pelanggaran HAM pasal 28 A dan B. Tidak sepantasnya ibu tiri Angeline membunuh anak kecil yang tidak berdosa itu. Angeline disiksa, dianiaya bahkan diperkosa. Seperti yang kita ketahui di Indonesia terdapat hak untuk hidup hak untuk melanjutkan masa depan yang baik dan hak untuk mendapat perlindungna. Para penegak hukum harus memberi hukuman yang setimpal untuk kejadian-kejadian seperti ini agar nantinya tidak akan lagi ada peristiwa menyedihkan ini di Indonesia.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar