Senin, 25 September 2017

KLIK UNTUK VIDEO>>TUGAS ANALISIS TERHADAP DEMOKRASI INDONESIA

LINK VIDEO: https://www.youtube.com/watch?v=feLuZlDwe84



Amatilah video diatas sampai dengan selesai, kemudian analisislah dan tuliskan pada buku latihanmu!
1) apa demokrasi menurut pemahamanmu?
2) Bagaimanakah Proses Demokrasi di Indonesia dulu hingga saat ini?
3) bisakah demokrasi disalahgunakan? mengapa?
4) bagaimana solusi yang dapat di ambil berkaitan demokrasi yang disalahgunakan?
5) bagaimanakah demokrasi yang semestinya di bangsa kita? menurut pendapatmu?

Rabu, 06 September 2017

KASUS PELANGGARAN HAM PENGEBOMAN DI SARINAH Disusun Oleh Kelompok 5 XI IPS 1 SMA Xaverius 1 Palembang


Disusun Oleh
Kelompok 5 XI IPS 1 SMA Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota:
1. Dimas Dewantara 10
2. Indah Novela 17
3. Joshep N 19
4. Larissa Levina 22
5. Michelle Wen 27




Serangan yang dilakukan teroris di area Jalan MH. Thamrin, Jakarta, 14 Januari 2016, pada pukul 10.10, menampilkan aksi operasi yang baru : melemparkan granat dan menembaki sasaran di tiga tempat kejadian perkara, yaitu di Pos Polisi Sarinah, di dalam kafe Starbucks dan di halaman kafe itu. Polisi menyimpulkan bom yang diledakkan pelaku di serangan di kawasan Sarinah itu berdaya ledak rendah. Kendati demikian, karena di dalam bom ada paku-paku tajam, serta mur maut dan lempengan logam, bom itu punya daya mematikan bagi mereka yang ada dalam jarak dekat, apalagi pelaku bom bunuh diri. Diketahui ada 6 bom dan sejumah granat yang tidak sempat dilontarkan.

Para pelaku berasal dari kelompok Bahrun Naim yang melakukan aksi nyata tindakan teror untuk mengharapkan ganjaran masuk surga. Di duga, misi mereka sebelumnya adalah target besar seperti Polda Metro dan Mabes Polri. Setelah gagal, mereka menyisir target seperti pos-pos polisi. Dari kejadian ini, ada 8 korban tewas. Diantaranya adalah 4 warga sipil dan 4 penyerang serta 24 orang luka-luka.


Sumber:



Opini/Tanggapan
1. Dimas Dewantara
Setiap ada bom yang dilakukan oleh teroris tentunya kita sebagai warga masyarakat sangat mengerikan/menakutkan karena bom tersebut pasti banyak memakan korban jiwa/harta benda kita sebagai warga masyarakat harus waspada terutama di tempat keramaian... dan yang melakukan hal tersebut harus dihukum seberat beratnya dan itu masuk dalam undang undang. Dan kita harus waspada dimana pun kita berada.


2. Indah Novela
Kasus sarinah merupakan kasus yang sangat berat karena termasuk kedalam pelanggaran HAM yang ada di indonesia. Dengan adanya perkembangan kelompok teroris mengalami perubahan yang dipicu oleh keberadaan WNI yang marak dilakukan melalui jejaring sosial dan kelompok menggunakan landasan agama.Oleh karena itu, rakyat Indonesia harus mendukung langkah Polri, BIN, TNI, BNPT serta kerja sama lembaga terkait lainnya dalam menguak kelompok teroris yang ada di Jakarta dan juga menangkap penyandang dana teroris.


3. Joshep
Para teroris melakukan pengeboman pada wilayah sarinah di jakarta dengan tujuan politik isis mereka.Pengeboman itu mengakibatkan banyak nyawa yang melayang dan juga banyak orang yang terluka.Serta Hancurnya bangunan bangunan masyarakat. Hal ini merupakan pelanggaran HAM sebab Para teroris ini Demi Menyelesaikan tujuan politik mereka.mereka melakukan aksi teror dan pengeboman tanpa peduli jiwa orang lain.


4. Larissa Levina
Perbuatan yang dilakukan terroris merupakan tindakan yang tidak baik untuk sesama manusia sebab semua itu telah melanggar HAM yang kita ketahui terdapat dalam pasal 28A. Dengan begitu secara langsung mereka (terroris) tersebut sudah melanggar hukum di indonesia dan telah melakukan perbuatan yang sangat keji. Namun kita sebagai warga negara Indonesia harus berhati hati dan saling menjaga. Pemerintah juga harus lebih memperketat keamanan dan kenyamanan wilayah di indonesia.


5. Michelle Wen
Aksi pengeboman oleh teroris seperti ini tidak hanya terjadi sekali di negara kita, tapi sudah berkali-kali. Mereka mengatasnamakan kepercayaan untuk melakukan tindakkan tersebut. Mereka ingin menunjukkan keberanian mereka serta kekuatan mereka di atas ketakutan orang-orang. Salah satu pasal yang telah dilanggar dalam aksi para teroris ini, adalah pasal 28 I ayat 1 mengenai hak untuk hidup. Menurut saya, ada baiknya pemerintah untuk meningkatkan keamanan negara serta keamanan teknologi dan internet kita, agar tidak ada pesan-pesan atau ajakan yang dapat memicu munculnya terorisme.

KASUS PELANGGARAN HAM PEMBUNUHAN ANGELINE DISUSUN OLEH Kelompok 2 XI IPS 1 SMA Xaverius 1 Palembang

DISUSUN OLEH
Kelompok 2 XI IPS 1 SMA Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota:
1.       Felixianto R. (13)
2.       Gabriella R. C. S (15)
3.       Leona Jaya (23)
4.       Meirina Nabila Saputri (26)
5.       M. Imansyah H (29)
6.       Salsabila Adifa (32)



Link Video Youtube: https://youtu.be/gqXPhjT9Ass
Kasus  pembunuhan Angeline merupakan peristiwa kekerasan terhadap anak perempuan berusia delapan tahun yang terjadi di Kota Denpasar, Balipada tanggal 16 Mei 2015. Peristiwa ini menjadi populer dalam berbagai media di Indonesia diawali dengan pengumuman kehilangan anak tersebut (semula disebut Angeline) dari keluarga angkatnya melalui sebuah laman di facebookberjudul "Find Angeline-Bali's Missing Child". Besarnya perhatian dari berbagai pihak membuat terungkapnya kenyataan bahwa Engeline selama ini tinggal di rumah yang tidak layak huni dan mendapat pengasuhan yang kurang baik dari orangtua angkatnya bahkan mendapatkan penyiksaan baik fisik maupun mental. Akibat sikap yang sangat tertutup dan tidak kooperatif dari ibu angkatnya, Margriet Christina Megawe (62 tahun), memunculkan dugaan bahwa Engeline hilang bukan karena diculik melainkan karena dibunuh bahkan sebelum jenazahnya ditemukan. Jasad Engeline kemudian ditemukan terkubur di halaman belakang rumahnya di Jalan Sedap Malam, Denpasar, Bali, pada hari Rabu tanggal 10 Juni 2015 dalam keadaan membusuk tertutup sampah di bawah pohon pisang setelah polisi mencium bau menyengat dan melihat ada gundukan tanah di sana. Selanjutnya polisi menyelidiki lebih mendalam dan menetapkan dua orang tersangka pembunuh, yaitu Agus Tay Hamba May, pembantu rumah tangga, dan Margriet Christina Megawe, ibu angkatnya. Ayah angkat Engeline, Douglas, dikabarkan sangat menyayangi anak angkatnya tersebut. Namun kemudian Douglas meninggal dunia pada tanggal 17 September2008. Margriet tampak terpukul dengan kematian suami keduanya tersebut.Dalam pengasuhan Margriet sebagai orangtua tunggal, pada tahun-tahun terakhirnya diduga Engeline mengalami banyak kekerasan baik secara fisik maupun mental.Diketahui bahwa ibu angkatnya tersebut menjadi seorang yang temperamental. Dari foto-foto yang ada dan kesaksian dari guru di sekolahnyatampak bahwa pada tahun terakhir kehidupannya ia mengalami penurunan berat badan. Engeline juga tinggal di rumah yang tidak layak huni, karena dikelilingi oleh kandang ayam dan berbau tidak sedap walaupun mereka adalah keluarga yang secara ekonomi berkecukupan.Setiap hari Engeline diberi tugas untuk mencuci baju, mengepel lantai, membersihkan rumah, serta memberi makan binatang-binatang peliharaan ibu angkatnya berupa ayam, anjing, dan kucing. Bila ia lupa melakukannya, maka ia pasti mendapatkan perlakuan kasar dari ibu angkatnya. Padahal jumlah ayam yang dimiliki ibu angkatnya tersebut mencapai puluhan ekor. Akibat tugas tersebut, ia sering datang ke sekolah dalam keadaan baju yang lusuh serta badan dan rambut yang bau. Bahkan pernah ia dilaporkan oleh teman-teman sekelas kepada guru kelasnya di kelas 2B, Putu Sri Wijayanti, karena baunya. Ternyata saat itu di rambut Angeline banyak gumpalan kotoran ayamsehingga ia harus dimandikan dan dikeramasi rambutnya oleh Wijayanti. Di sekolahnya, SD 12 Sanur, Denpasar, khususnya setelah menginjak kelas 2, Engeline terlihat sebagai anak yang memiliki sifat pendiam, pemurung, lusuh, berwajah sendu, dan sering terlambat. Dia bersekolah pukul 12.00 WITA dan pulang pukul 17.00 WITA. Ia harus mempersiapkan bekal sekolahnya sendiri dan pergi ke sekolah dengan berjalan kaki sejauh 2 km bila melaui jalan raya atau 1 km bila melalui pematang sawah. Rutinitas pekerjaan yang tidak sewajarnya bagi seorang anak ini mengakibatkan Engeline tampak kelelahan, tidak sehat, dan terganggu perkembangannya.Namun Engeline bersifat tertutup dan tidak mau bercerita tentang penderitaan yang ia alami kepada gurunya. Hanya setelah didesak akhirnya ia mau mengatakan kepada gurunya bahwa ia sering pusing di sekolah karena belum makan. Mengenai hal ini, Margriet membela diri bahwa Engeline memang tidak suka makan dan cuma mau minum susu saja. Padahal ketika diberi makan di sekolah oleh gurunya, ternyata Engeline bisa sampai menghabiskan dua piring makanan yang disediakan. Mengetahui keadaan yang dialami Engeline, Kepala Sekolahnya - I Ketut Ruta - sempat berniat untuk mengadopsi anak tersebut. Ia meminta wali kelas Engeline untuk menyampaikan niatnya kepada Margriet. Namun Margriet melarangnya dengan alasan Engeline mempunyai tanggung jawab berupa berbagai tugas dan kewajiban yang harus dilakukannya di rumah. Walaupun Margriet adalah seorang yang temperamental tetapi ia membantah sangkaan bahwa ia sebagai ibu angkat tidak mengasuh Engeline dengan baik apalagi sampai melakukan kekerasan. Ia menyatakan bahwa ia menyayangi Engeline dan anak itu pun menyayangi dia. Ia memberi berbagai tugas kepada Engeline semata hanya untuk mendidiknya agar mandiri. Ia mengaku tidak mau dipisahkan dengan Engeline, sehingga ketika mendengar bahwa Komnas Perlindungan Anak akan mengambil hak asuh anaknya, ia berang dan menyatakan akan membunuh siapapun yang akan mengambil anak itu dari sisinya. Kasus yang menimpa Engeline pertama kali mengemuka dengan beredarnya kabar tentang hilangnya anak tersebut. Kabar tersebut tersebar luas antara lain akibat dibuatnya sebuah laman di jejaring sosial facebook berjudul "Find Angeline-Bali's Missing Child". Laman tersebut dibuat oleh salah satu kakak angkat Engeline yang sedang kuliah di Amerika Serikat, yaitu Christine, pada tanggal 16 Mei 2015 sekitar pukul 17.00 WITA.  Sementara Yvonne membuat selebaran mengenai hilangnya Engeline. Keesokan harinya berbagai media massa turut memberitakan kehilangan tersebut. Berdasarkan informasi dari Yvonne, dikabarkan bahwa adiknya hilang saat mereka bermain di depan rumah sekitar pukul 15.00 WITA. Setelah tidak juga ditemukan sampai pukul 18.00, maka kemudian Yvonne melaporkannya ke polisi. Tim pencari anak hilang dari kepolisian lantas mencarinya dari Denpasar sampai ke Banyuwangi, tampat lahir orang tua kandungnya. Berbagai upaya dilakukan oleh polisi, seperti mengamati CCTV di sekitar lokasi, menganalisis telepon seluler orang tua kandung dan orang tua angkatnya, serta menggunakan anjing pelacak. Namun anjing tersebut tidak menemukan jejak Engeline dan hanya berputar-putar di sekitar rumah saja. Keluarga Engeline yang berasal dari luar Bali pun berdatangan ke kediaman Engeline untuk membantu mencari anak tersebut.Kasus kehilangan anak ini juga menarik perhatian Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sehingga ketuanya, Arist Merdeka Sirait, beserta dua anggota timnya datang ke Bali untuk melakukan dialog dengan Polresta Denpasar dan Polda Bali. Mereka juga kemudian berkunjung dan menemui Margriet di rumahnya. Saat itu, Margriet memperkenankan mereka untuk melihat kamar dan ruangan dalam rumah. Dari hasil kunjungan itu, Arist berkesimpulan bahwa selama ini Engeline tinggal di rumah yang kondisinya sangat buruk dan tidak layak huni dengan halaman dipenuhi kandang ayam berjumlah sekitar seratus ayam sehingga akan membuat anak tidak bisa berkembang dengan baik. KPAI juga menyatakan maksudnya akan mengambil alih sementara hak asuh Margriet atas Engeline, sehingga membuat Margriet menangis histeris. Dia mengaku tidak terima, bahkan mengancam akan membunuh siapa pun yang akan mengambil anaknya itu karena dia menyayangi Engeline dan Engeline pun menyayanginya. Selain oleh KPAI, rumah Margriet juga didatangi oleh dua menteri Kabinet Kerja, yaitu Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi, dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,Yohana Yembise. Namun Margriet menolak menemui keduanya dan kedua menteri itu tidak diperbolehkan memasuki rumahnya. Hilangnya Engeline juga dibantu penanganannya oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar, yang merupakan perpanjangan tangan Pemerintah Kota Denpasar yang menangani perempuan dan anak. Mereka sudah memiliki kekhawatiran bahwa hilangnya Angeline bukan karena diculik atau melarikan diri, tapi justru dibunuh. Hal ini dinyatakan oleh pendamping hukum P2TP2A, Siti Sapurah tanpa mencurigai siapa pun termasuk ibu angkatnya. Hal tersebut didasari minimnya indikasi yang mereka temukan bahwa Engeline hilang di sekitar rumah atau diambil seseorang. Sehingga mereka menduga bahwa Engeline dihilangkan, dikubur atau dibunuh. Apalagi saat polisi melakukan pemeriksaan Margriet tidak koperatif dan ada ruang di rumah Margriet yang tidak boleh dimasuki orang lain kecuali orang terdekatnya dia. Ditambah lagi karena mantan pembantu Margriet, yaitu Agus Tay Hamba May, pernah mengatakan bahwa satu hari sebelum dilaporkan hilang, hidung Engeline berdarah karena dipukul ibunya. Pencarian Engeline terhenti setelah ia ditemukan dalam keadaan tewas terkubur di halaman belakang rumahnya pada hari Rabu, 10 Juni 2015. Jasadnya dalam kondisi membusuk di bawah pohon pisang, ditutup sampah, terkubur bersama bonekanya. Otopsi segera dilakukan di Instalasi Forensik di RSUP Sanglah pimpinan dr Ida Bagus Putu Alit, DMF, SpF. Dari hasil otopsi, Engeline diketahui meninggal sejak tiga minggu sebelumnya. Di tubuh jenazah ditemukan luka-luka kekerasan berupa memar pada wajah, leher, serta anggota gerak atas dan bawah. Di punggung kanan jenazah ditemukan luka sundutan rokok. Selain itu, ditemukan juga luka lilitan dari tali plastik sebanyak empat lilitan. Sebab kematiannya dipastikan karena kekerasan benda tumpul pada wajah dan kepala yang mengakibatkan pendarahan pada otak. Jasad Engeline kemudian dimakamkan di Dusun Wadung Pal, Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi yang merupakan kampung halaman dari ibu kandungnya.


Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Pembunuhan_Engeline
Opini dan Tanggapan, Analisis, Solusi dari setiap anggota:

1.       Felixianto : Menurut pendapat saya kasus tersebut merupakan pelanggaran HAM yang sangat tidak terpuji dan tidak pantas dilakukan oleh orang tua,seharusnya orang tua harus memberikan perhatian yang lebih untuk anak di bawah umur

2.    Gabriella : Menurut saya kasus pembunuhan Angeline merupakan suatu perbuatan yang melanggar HAM karena telah menghilangkan nyawa seseorang. Angeline merupakan bocah cilik yang tidak memiliki kesalahan apapun namun harus disiksa dan diperlakukan seperti seekor binatang oleh ibunya sendiri. Padahal tidak seharusnhya seorang ibu menyuruh tukang kenbun yang ada dirumahnya untuk memeperkosa Angeline yang notabene adalah seorang anak dibawah umur yang dibunuh dan dibuang jasadnya di belakang rumah. Seharusnya hal ini tidak terjadi di Indonesia.

3.       Leona : Menurut pendapat saya kasus ini melanggar kebijakan HAM dan memaksa kehendak anak maka kasus ini harus diberantas .sebaiknya angeline diberi pendidikan dan kasih sayang oleh orang tua agar angeline dapat menjadi pribadi yang baik di masa depannya

4.       Meirina :  kasus pelanggaran HAM Angeline adalah salah satu kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi di Indonesia karena kasus tersebut telah melanggar pasal 28 A dan 28 B dimana Angeline memiliki hak untuk hidup dan mempertahankan hidupnya karena ibu tirinya merampas hidup Angeline dengan membunuh Angeline, Angeline juga memiliki hak untuk kelangsungan hidupnya, tumbuh dan berkembang serta perlindungan dari kekerasan & diskriminasi namun ibu tirinya melakukan kekerasan dan menyiksa Angeline. Seseorang tidak diperbolehkan untuk mengambil hidup seseorang atau mengancam nyawa seseorang bahkan membunuh, Ibu tiri Angeline telah melanggar HAM yang dimiliki oleh Angeline dengan mengambil nyawa Angeline seharusnya ibu tiri Angeline dapat mendapat hukuman yang pantas karena telah mengambil nyawa seorang anak yang tidak berdosa. Karena setiap orang memiliki hak atas HAM.

5.       M. Imansyah : Menurut pendapat saya kasus ini sangat di sayangkan karena sudah di luar batas kewajaran manusia dan saya merasa kasihan dengan angeline karena masa depanny terhenti seharusnya orang tua angeline lebih memikirkan kasih sayang kepada angeline dari pada harta warisan dll

6.       Salsabila Adifa : Menurut saya apa yang telah dilakukan oleh ibu tiri Angeline merupakan salah satu contoh pelanggaran HAM pasal 28 A dan B. Tidak sepantasnya ibu tiri Angeline membunuh anak kecil yang tidak berdosa itu. Angeline disiksa, dianiaya bahkan diperkosa. Seperti yang kita ketahui di Indonesia terdapat hak untuk hidup hak untuk melanjutkan masa depan yang baik dan hak untuk mendapat perlindungna. Para penegak hukum harus memberi hukuman yang setimpal untuk kejadian-kejadian seperti ini agar nantinya tidak akan lagi ada peristiwa menyedihkan ini di Indonesia.

Selasa, 05 September 2017

Kasus Pelanggaran HAM Gerakan G30S PKI Disusun Oleh Kelompok 1 Kelas XI IPS 1 SMA Xaverius 1 Palembang

Disusun Oleh
KELOMPOK 1 XI IPS 1 SMA Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota:
1.      Albert (02)
2.      Cahtline (05)
3.      Darmawan (08)
4.      Devin (09)
5.      Fernando (14)
6.      Jason (18)



Sebenarnya Partai Komunis Indonesia (PKI) sudah lama meniupkan hawa perlawanan dan pemberontakan terhadap Indonesia. Kelompok ini bersikeras untuk mengganti dasar negara Republik Indonesia, yakni Pancasila menjadi negara yang berdasar asas komunis. Perlawanan PKI yang tidak diterima oleh setiap kalangan ini, menjadikan kelompok ini merencanakan sebuah rencana yang besar.

KRONOLOGIS PENUMPASAN PKI
1.    Tanggal 1 Oktober 1965
Operasi penumpasan G 30 S/PKI dimulai sejak tanggal 1 Oktober 1965 sore hari. Gedung RRI pusat dan Kantor Pusat Telekomunikasi dapat direbut kembali tanpa pertumpahan darah oleh satuan RPKAD di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhi Wibowo, pasukan Para Kujang/328 Siliwangi, dan dibantu pasukan kavaleri. Setelah diketahui bahwa basis G 30 S/PKI berada di sekitar Halim Perdana Kusuma, sasaran diarahkan ke sana.
2.     Tanggal 2 Oktober 1965
 Pada tanggal 2 Oktober, Halim Perdana Kusuma diserang oleh satuan RPKAD di bawah komando Kolonel Sarwo Edhi Wibowo atas perintah Mayjen Soeharto. Pada pikul 12.00 siang, seluruh tempat itu telah berhasil dikuasai oleh TNI – AD.
3.    Tanggal 3 Oktober 1965
Pada hari Minggu tanggal 3 Oktober 1965, pasukan RPKAD yang dipimpin oleh Mayor C.I Santoso berhasil menguasai daerah Lubang Buaya. Setelah usaha pencarian perwira TNI – AD dipergiat dan atas petunjuk Kopral Satu Polisi Sukirman yang menjadi tawanan G 30 S/PKI, tetapi berhasil melarikan diri didapat keterangan bahwa para perwira TNI – AD tersebut dibawah ke Lubang Buaya. Karena daerah terebut diselidiki secara intensif, akhirnya pada tanggal 3 Oktober 1965 titemukan tempat para perwira yang diculik dan dibunuh tersebut.. Mayat para perwira itu dimasukkan ke dalam sebuah sumur yang bergaris tengah ¾ meter dengan kedalaman kira – kira 12 meter, yang kemudian dikenal dengan nama Sumur Lubang Buaya.
4.    Tanggal 4 Oktober 1965
Pada tanggal 4 Oktober, penggalian Sumur Lubang Buaya dilanjutkan kembali (karena ditunda pada tanggal 13 Oktober pukul 17.00 WIB hingga keesokan hari) yang diteruskan oleh pasukan Para Amfibi KKO – AL dengan disaksikan pimpinan sementara TNI – AD Mayjen Soeharto. Jenazah para perwira setelah dapat diangkat dari sumur tua tersebut terlihat adanya kerusakan fisik yang sedemikian rupa. Hal inilah yang menjadi saksi bisu bagi bangsa Indonesia betapa kejamnya siksaan yang mereka alami sebelum wafat.
5.     Tanggal 5 Oktober 1965
Pada tanggal 5 Oktober, jenazah para perwira TNI – AD tersebut dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata yang sebelumnya disemayamkan di Markas Besar Angkatan Darat.
6.   Tanggal 6 Oktober 1965
Pada tanggal 6 Oktober, dengan surat keputusan pemerintah yang diambil dalam Sidang Kabinet Dwikora, para perwira TNI – AD tersebut ditetapakan sebagai Pahlawan Revolusi.
Gerakan 30 September atau yang sering disingkat G 30 S PKI adalah sebuah kejadian yang terjadi pada tanggal 30 September 1965 di mana enam pejabat tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha pemberontakan yang disebut sebagai usaha kudeta yang dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia.
Latar Belakang

PKI merupakan partai Stalinis yang terbesar di seluruh dunia, di luar Tiongkok dan Uni Sovyet. Anggotanya berjumlah sekitar 3,5 juta, ditambah 3 juta dari pergerakan pemudanya. PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang mempunyai 3,5 juta anggota dan pergerakan petani Barisan Tani Indonesia yang mempunyai 9 juta anggota. Termasuk pergerakan wanita (Gerwani), organisasi penulis dan artis dan pergerakan sarjananya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung.
Pada bulan Juli 1959 parlemen dibubarkan dan Sukarno menetapkan konstitusi di bawah dekrit presiden - sekali lagi dengan dukungan penuh dari PKI. Ia memperkuat tangan angkatan bersenjata dengan mengangkat para jendral militer ke posisi-posisi yang penting. Sukarno menjalankan sistem "Demokrasi Terpimpin". PKI menyambut "Demokrasi Terpimpin" Sukarno dengan hangat dan anggapan bahwa dia mempunyai mandat untuk persekutuan Konsepsi yaitu antara Nasionalis, Agama dan Komunis yang dinamakan NASAKOM.
Pada era "Demokrasi Terpimpin", kolaborasi antara kepemimpinan PKI dan kaum burjuis nasional dalam menekan pergerakan-pergerakan independen kaum buruh dan petani, gagal memecahkan masalah-masalah politis dan ekonomi yang mendesak. Pendapatan ekspor menurun, foreign reserves menurun, inflasi terus menaik dan korupsi birokrat dan militer menjadi wabah.
PKI telah menguasai banyak dari organisasi massa yang dibentuk Soekarno untuk memperkuat dukungan untuk rezim Demokrasi Terpimpin dan, dengan persetujuan dari Soekarno, memulai kampanye untuk membentuk "Angkatan Kelima" dengan mempersenjatai pendukungnya. Para petinggi militer menentang hal ini.

Jadi, kasus ini telah melanggar HAM yang terdapat dalam pasal 28 i ayat 1 yaitu hak untuk hidup,hak untuk tidak disiksa,hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani,hak beragama,hak untuk tidak di perbudak dan hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum.
Sumber:


Pendapat

1.      Albert
Menurut saya, PKI berpaham ideologi yang merusak umat dan bangsa, dan pada zaman sebelum reformasi tidak ada tempat di Indonesia yang berkehidupan Pancasila. Sejarah PKI zaman dulu, tutur dia, tidak mengetahui persis dibentuk untuk apa. Ia hanya tahu orang-orang PKI berjiwa komunis, berperilaku tidak manusiawi.



2.      Cahtline
Maka dapat saya simpulkan, apa yang terjadi pada tahun 47 tahun yang lalu adalah sebuah pemutar balikkan fakta dan kekejian luar biasa yang dilakukan oleh rezim yang berkuasa selama 32 tahun itu.Sebuah rezim tirani tamak yang hanya mementingkan kesejahteraan golongannya sendiri tanpa mempedulikan kepentingan bangsa


3.      Darmawan
Menurut saya, dalang dari kasus ini adalah CIA dalang dibelakang G 30 S/PKI. menyatakan bahwa CIA telah memberikan 5000 nama tokoh PKI kepada Angkatan Darat 1965 yang kemudian dibunuh akibat kegagalan G 30 S/PKI. Presiden Soekarno hanya memberi peluang PKI untuk memenuhi ambisi politiknya melalui konsep Nasakom dalam revolusi.dan kasus ini tercantum dalam pasal 28 i ayat 1.


4.      Devin
Menurut saya, Watak dasar dari komunis untuk mengkudeta dan membentuk suatu kediktatoran proletariat. Berdasarkan catatan sejarah, partai berhaluan komunis juga telah tiga kali melakukan pemberontakan di tanah air, yaitu di masa kemerdekaan pada tahun 1948 dan 1965, serta pada masa prakemerdekaan pada tahun 1926. Meski pemberontakan tahun 1926 dilakukan terhadap pemerintahan kolonial Belanda, tetapi hal itu juga merugikan perjuangan nasional yang masih belum siap dan akibatnya menimbulkan tragedi Digul."

5.      Fernando
Menurut saya,Upaya mengubah sejarah G30S/PKI dengan memposisikan PKI sebagai korban dan bukannya pelaku atau dalang kini terus berlanjut dan semakin intensif. Modus dari upaya pihak-pihak yang ingin menghapus jejak sejarah itu dilakukan dengan menimbulkan keraguan di tengah masyarakat terhadap siapa yang sebenarnya melakukan gerakan pemberontakan pada tahun 1965 itu.

6.      Jason
Menurut saya,fakta dibalik duka peristiwa G30S/PKI ini diungkap secara jelas dan transparan atas dugaan keterlibatan Suharto dalam peristiwa G30S/PKI yang menakutkan bangsa negeri ini.Untuk itu untuk mengungkap fakta dibalik duka atas keterlibatan mantan presiden Suharto dalam peristiwa berdarah G30S/PKI tahun 1965-1966.Agar persoalan ini tidak menjadi konflik antara pro dan kontra sepanjang masa dan sepanjang sejarah negeri ini.

Minggu, 03 September 2017

Pembantaian Rawagede Disusun Oleh Kelompok 2 XI MIPA 2 SMA Xaverius 1 Palembang

Disusun Oleh
Kelompok 2 XI MIPA 2 SMA Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota
1. Christian Evan Heng
2. Daniel Dwi Wijaya
3. Livya
4. Maria Marchella
5. Mario Andika
6. Michael kevin Lie


Kronologis :
         pembantaian tentara Belanda pada tahun 1947 ketika Agresi militer Belanda ke 1 yang mengakibatkan sekitar 431 penduduk Rawagede meninggal dunia.  Para keluarga korban mencoba untuk meminta keadilan akibat perlakukan tentara Belanda ke Pengadilan Belanda, dan tanpa diduga gugatan mereka di kabulkan Pengadilan setempat, tentu saja hal ini menggembirakan para keluarga korban karena usaha selama ini akhirnya bisa mendapatkan sedikit rasa keadilan.  Pembantaian Rawagede adalah peristiwa pembantaian pembunuhan Kampung Rawagede (terletak di Desa Balongsari, Rawamerta , Karawang) yang bertempat diantara Karawang dan Bekasi oleh tentara Belanda ketika melakukan agresi militer pertama nya pada tanggal 9 Desember 1947.  Akibat peristiwa ini sebanyak 431 penduduk meninggal dunia.
         Sebelum perjanjian Renville ditandatangani, Tentara Belanda yang tergabung dalam Divisi satu atau disebut juga Divisi 7 Desember melakukan pembersihan unit pasukan TNI dan pejuang-pejuang Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap Belanda.  Dalam operasinya di daerah Karawang, para tentara Belanda ini memburu Kapten Lukas Kustario yang merupakan Komandan Kompi Siliwangi dan juga menjadi Komandan Batalyon Tajimalela/Brigade II Divisi Siliwangi.  Beliau berkali-kali berhasil menyerang patroli dan pos-pos militer Belanda.  Selain itu di wilayah Rawagede ini juga banyak laskar dan pejuang Indonesia.
          Pada tanggal 9 Desember 1947, satu hari setelah perundingan Renville.  Tentara Belanda mengepung Dusun Rawagede dan menggeledah setiap rumah.  Tetapi mereka tidak menemukan satupun pucuk senjata disana.  Kemudian para tentara Belanda ini mengumpulkan semua penduduk di lapangan terbuka.  Penduduk laki-laki disuruh berjejer, dan ditanya keberadaan para pejuang serta Tentara Indonesia.  Tentapi tidak ada satupun penduduk yang mengatakan keberadaan mereka.
       Kemudian akibat bungkamnya para penduduk, pemimpin tentara Belanda memerintahkan untuk menembak mati seluruh penduduk laki-laki, baik yang sudah tua maupun remaja.  Beberapa orang berhasil melarikan diri ke hutan, walaupun banyak yang terlukan karena terkena tempakan.  Tentara Belanda menembak mati dengan memberondong dengan senapan mesin tanpa ampun.  Karena peristiwa itu sekitar 431 penduduk Rawagede tewas.  Sebetulnya korban tewas lebih dari 431, karena banyak mayat yang hanyut dibawa ke sungai karena banjir dan hujan deras.
          Keesokan harinya tentara Belanda meninggalkan desa tersebut.  Para wanita yang masih hidup menguburkan mayat-mayat penduduk laki-laki tersebut dengan peralatan sederhana.  Dikarenakan tidak dapat menggali terlalu dalam, jenazah ditutup dengan potongan kayu dan ada yang menggunakan daun pintu kemudian diurug tanah seadanya, akibatnya bau mayat masih tercium selama beberapa hari.


Sumber :

Opini :
1. Christian Evan Heng
Saya sangat tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh tentara Belanda kepada rakyat Rawagede. Karena tindakan tentara Belanda sangat jelas melanggar HAM. Belanda dengan begitu gampang nya membunuh rakyat Rawagede tanpa memikirkan nasib rakyat Rawagede padahal manusia memiliki hak untuk hidup(diperoleh sejak manusia lahir) oleh karena itu manusia tidak boleh membunuh sesama secara kejam dan disengaja seperti yang dilakukan oleh tentara Belanda yang membunuh kurang lebih 431 rakyat Rawagede, hanya Tuhan lah yang berhak mencabut nyawa seseorang. Tindakan tentara Belanda juga sangat merugikan negara Indonesia karena bangsa Indonesia kehilangaan para penerus/generasi-generasi bangsa. Bangsa Indonesia harus bertindak secara tegas dan cepat untuk menegakkan hukum dan keadilan agar hal serupa (pelanggaran HAM) tidak terjadi lagi.
2. Daniel Dwi Wijaya
Yang dilakukan Tentara-tentara belanda sangan kejam dan sangat melanggar aturan HAM karena,pembantaian Rawagede diyakini merupakan tindakan paling kejam, paling brutal, dan paling berdarah yang dilakukan Belanda dalam kurun waktu 1945 sampai 1949. Namun, di Belanda selama beberapa dekade, pembantaian Rawagede hanya dianggap konsekuensi dari aksi polisi.
3. Livya
Menurut pendapat saya, Peristiwa Rawagede ini merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan oleh Tentara Belanda dengan membantai 431 penduduk sipil yang tidak bersalah sama sekali. Pembantaian ini terjadi  setelah Indonesia Merdeka, seharusnya Belanda tidak dapat lagi menjajah Indonesia dengan semena-semena. Belanda datang ke Indonesia hanya untuk mencari keberadaan seseorang. Apakah wajar Belanda membantai 431 penduduk sipil yang tidak menahu mengenai orang yang dicari Belanda ? . Pembantaian Rawagede ini melanggar hak untuk hidup. Tentara Belanda melakukan pembantaian sehingga merenggut banyak nyawa penduduk tersebut, dan juga tentara Belanda tidak sama sekali menghargai hak hidup warga RawaGede. Setiap orang bebas untuk membela haknya masing- masing HAM merupakan Hak yang dimiliki oleh setiap manusia sejak lahir dan bersifat mutlak sekalipun ia pejabat tertinggi. Akan tetapi, pada Pengadilan Den Haag tanggal 14 September 2002, pemerintah Belanda dinyatakan bersalah dan harus bertanggung jawab dengan membayar kompensasi bagi keluarga korban. 
4. Maria Marchella
Pelanggaran HAM merupakan pelanggaran yang tidak bisa di anggap sepele bagaimana pun tempat,waktu,situasi, serta besar kecilnya masalah yang di akibatkan. Seperti yang dapat dilihat dari kasus Pembantaian Rawagede ini, tindak penjajahan pertama-tama merupakan tindak pelanggaran HAM. Tindakan yang ditujukan kepada bangsa Indonesia yang secara sistematik ini termasuk dalam pelanggaran HAM kemanusiaan. Dan pembantaian Rawagede ini merupakan salah satu cara sistematik tersebut. Pembantaian yang dilakukan kepada penduduk sipil yang tidak bersenjata dan tidak berdaya ini berupa pembunuhan dan  pemusnahan penduduk. Ini merupakan tindak pelanggaran HAM yang tidak dapat dibiarkan untuk terjadi 2 kali. Maka dari itu kita sebagai generasi muda penerus bangsa harus melakukan segala cara untuk membela dan menjaga negara kita. 
5. Mario Andika
Saya sangat tidak setuju dengan yang di lakukan oleh tentara belanda kepada rakyat rawege karna tindakan tentara belanda sangat melanggar ham.belanda sangat mudah dan gambang membunuh rakyat rawege tanpa memikirkan nasib mereka padahal manusia memiliki ham(hak asasi manusia) oleh karna itu kita harus saling menghargai satu sama lain sesama manusia. Karna manusia mempunyai hak untuk hidup.tindakan tentara belanda sangat merugikan bangsa indonesia karna bangsa indonesia banyak kehilangan generasi generasinya dan indonesia harus menindak tegas dan harus memegang teguh ham karna manusia memiliki hak yang sama.
6. Michael kevin Lie
Tindakan yang dilakukan Tentara-Tentara Belanda sungguh kejam, mereka pun tidak merasa bersalah atau pun meminta maaf kepada Indonesia terutama kepada keluarga korban yang telah mereka bunuh secara sadis dan tanpa peri kemanusiaan. Saya setuju dengan apa yang telah dilakukan keluarga korban, pemerintah Belanda harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan yang telah mereka lakukan. Pembantaian Rawagede ini merupakan salah satu contoh pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), setiap manusia mempunyai hak untuk hidup, Seseorang tidak berhak untuk menghakimi atau mengakhiri hidup orang lain. Hak Asasi Manusia ( HAM ) merupakan Hak yang dimiliki manusia sejak lahir dan bersifat mutlak. Hukum di Indonesia harus ditegakkan, Pembataian Rawagede yang dilakukan Belanda merupakan tindakan kriminal dan harus diselesaikan secara tuntas. pemerintah Indonesia harus turut serta membantu keluarga korban untuk mendapatkan pertanggung jawaban atas apa yang telah dilakukan Tentara-Tentara Belanda, Pemerintah Indonesia harus menyelesaikan masalah ini sampai tuntas.