Rabu, 16 Agustus 2017

TRAGEDI TRISAKTI Disusun Oleh Kelompok 6 Kelas XI MIPA 3 SMA Xaverius 1 Palembang

Disusun Oleh
Kelompok 6 Kelas XI MIPA 3 SMA Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota :
1.      Adelia Jane P.
2.      Daniel Dewana
3.      Justin Malvin I.
4.      Melisa Sofian
5.      Nadya 

Kronologi terjadinya Tragedi Trisakti
Tragedi Trisakti adalah peristiwa penembakan, pada tanggal 12 Mei 1998, terhadap mahasiswa pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Hal ini terjadi akibat beberapa factor. Ekonomi Indonesia mulai goyah pada awal 1998, yang terpengaruh oleh krisis finansial Asia sepanjang 1997 - 1999. Mahasiswa pun melakukan aksi demonstrasi besar-besaran ke gedung DPR/MPR, termasuk mahasiswa Universitas Trisakti dalam unjuk keprihatinan di depan Kampus Universitas Trisakti, Jakarta, Selasa (12/5/1998) petang]]. Mereka yang tewas adalah Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977 - 1998), Hafidin Royan (1976 - 1998), dan Hendriawan Sie (1975 - 1998). Mereka tewas tertembak di dalam kampus, terkena peluru tajam di tempat-tempat vital seperti kepala, tenggorokan, dan dada.
Gerakan ini menjadi monumental karena dianggap berhasil memaksa Soeharto berhenti dari jabatan Presiden Republik Indonesia pada tangal 21 Mei 1998, setelah 32 tahun menjadi Presiden Republik Indonesia sejak dikeluarkannya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada tanggal 11 Maret 1966 hingga tahun 1998. Pada April 1998, Soeharto terpilih kembali menjadi Presiden Republik Indonesia untuk ketujuh kalinya (tanpa wakil presiden), setelah didampingi Try Soetrisno (1993-1997) dan Baharuddin Jusuf Habibie (Oktober 1997-Maret 1998). Namun, mereka tidak mengakui Soeharto dan melaksanakan pemilu kembali. Pada saat itu, hingga 1999, dan selama 29 tahun, Partai Golkar merupakan partai yang menguasai Indonesia selama hampir 30 tahun, melebihi rejim PNI yang menguasai Indonesia selama 25 tahun. Namun, terpliihnya Soeharto untuk terakhir kalinya ini ternyata mendapatkan kecaman dari mahasiswa karena krisis ekonomi yang membuat hampir setengah dari seluruh penduduk Indonesia mengalami kemiskinan.
Gedung parlemen, yaitu Gedung Nusantara dan gedung-gedung DPRD di daerah, menjadi tujuan utama mahasiswa dari berbagai kota di Indonesia. Seluruh elemen mahasiswa yang berbeda paham dan aliran dapat bersatu dengan satu tujuan untuk menurunkan Soeharto. Organisasi mahasiswa yang mencuat pada saat itu antara lain adalah FKSMJ dan Forum Kota karena mempelopori pendudukan gedung DPR/MPR.
Berikut ini merupakan kronolis kejadian tragedi Trisakti.
·         Pukul 11.00 – 13.00: Aksi Damai ribuan mahasiswa di dalam kampus.
·         Pukul 13.00: Mahasiswa ke luar ke Jl. S Parman dan akan menuju gedung DPR/MPR.
·         Pukul 13.15: Dicapai kesepakatan antara mahasiswa dengan aparat keamanan, bahwa mahasiswa tidak boleh melanjutkan aksi. Tawaran dari aparat keamanan diterima baik. Kemudian aahasiswa melanjutkan aksinya di depan bekas Kantor Wali Kota Jakbar.
·         Pukul 13.30-17.00: Aksi Damai Mahasiswa berlangsung di depan bekas kantor Wali Kota Jakbar berjalan dengan tenang tanpa ketegangan.
·         Pukul 16.30: Kemudian polisi memasang police line yang berjarak sekitar 15 meter dari mahasiswa.
·         Pukul 17.00: Diadakan pembicaraan dengan aparat keamanan yang mengusulkan mahasiswa supaya kembali ke kampus. Kemudian mahasiswa bergerak masuk ke daalam kampus dengan tenang. Mahasiswa menuntut supaya pasukan yang berdiri berjajar mundur terlebih dahulu. Akhirnya Dandim Jakbar dan Kapolres memenuhi keinginan mahasiswa.
·         Pukul 17.10: Kapolres menyatakan rasa terima kasih kepada mahasiswa karena sudah tertib. Kemudian mahasiswa membubarkan diri secara tertib dan perlahan-lahan kembali ke kampus. Saat itu hujan turun sangat deras.
·         Pukul 17.15: Tiba-tiba ada tembakan dari arah belakang barisan mahasiswa. Kemudian mahasiswa lari menyelamatkan dirimasuk  ke dalam gedung-gedung kampus. Namun aparat keamanan terus menembaki dari luar. Selain itu, puluhan gas air mata juga dilemparkan ke dalam gedung kampus.
·         Pukul 17.15-23.00: Situasi di kampus tegang. Para korban yang berjatuhan dirawat di beberapa tempat. Enam mahasiswa Trisakti dinyatakan meninggal dunia. Adapun yang mengalami luka berat segera dilarikan ke RS Sumber Waras. Akhirnya jumpa pers dilakukan oleh pimpinan universitas. Selain itu, anggota Komnas HAM pun datang ke lokasi.
Gerakan ini mendapatkan momentumnya saat terjadinya krisis moneter pada pertengahan tahun 1997. Namun para analis asing kerap menyoroti percepatan gerakan pro-demokrasi pasca Peristiwa 27 Juli 1996 yang terjadi 27 Juli 1996. Harga-harga kebutuhan melambung tinggi, daya beli masyarakat pun berkurang. Tuntutan mundurnya Soeharto menjadi agenda nasional gerakan mahasiswa. Ibarat gayung bersambut, gerakan mahasiswa dengan agenda reformasi mendapat simpati dan dukungan dari rakyat.
Demonstrasi bertambah gencar dilaksanakan oleh para mahasiswa, terutama setelah pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM dan ongkos angkutan pada tanggal 4 Mei 1998. Agenda reformasi yang menjadi tuntutan para mahasiswa mencakup beberapa tuntutan, seperti:
·         Adili Soeharto dan kroni-kroninya
·         Laksanakan amandemen UUD 1945,
·         Hapuskan Dwi Fungsi ABRI,
·         Pelaksanaan otonomi daerah yang seluas-luasnya,
·         Tegakkan supremasi hukum,
·         Ciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN
Sumber :
ü  Wikipedia.(2014, 27 Januari). Tragedi Trisakti. Diperoleh 12 Agustus 2017, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Tragedi_Trisakti.
ü  Wikipedia.(tt.). Gerakan Mahasiswa Indonesia 1998. Diperoleh 12 Agustus 2017, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_mahasiswa_Indonesia_1998.
ü  Sikkabola. (2012, 28 Agustus). Kasus Pelanggaran HAM Tragedi Trisakti. Diperoleh 12 Agustus 2017, dari https://sikkabola.wordpress.com/2012/08/28/kasus-pelanggaran-ham-tragedi-trisakti/.
ü  Satu Jam. (tt.). Menyusuri Sejarah Kelam Tragedi Trisakti 12 Mei 1998. Diperoleh 12 Agustus 2017, dari https://www.satujam.com/tragedi-trisakti/.
Opini para anggota :
1.      Adelia
Menurut saya, Tragedi Trisakti merupakan peristiwa yang tidak seharusnya terjadi, mengingat Indonesia adalah Negara yang menjunjung tinggi HAM. Seperti yang kita ketahui, para mahasiswa berdemo dan melakukan aksi damai dengan tujuan untuk menurunkan jabatan Presiden Soeharto (pada saat itu) karena dinilai tidak mampu meningkatkan ekonomi Indonesia, bahkan terjadi krisis ekonomi di Indonesia. Para mahasiswa tentu memiliki hak untuk menyampaikan pendapat mereka sesuai pasal 28 dan 28E ayat (3) bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan berpendapat. Pemerintah bisa saja bernegosiasi agar aksi damai berjalan lancer dan menemukan titik terang bagi masalah ekonomi di Indonesi, namun yang terjadi adalah penembakan beberapa mahasiswa yang tentu saja melanggar HAM. Padahal seperti yang kita ketahui dalam pasal 28A bahwa setiap orang berhak untuk hidup serta berhak untuk mempertahankan hidup dan kehidupannya. Hal yang dilakukan mahasiswa sebenarnya masih pada batasan yang benar karena bertujuan untuk melakukan aksi damai demi perbaikan ekonomi Indonesia yang lebih baik, hanya saja tidak ditanggap dengan baik oleh aparat pemerintahan. Dan tentu saja, diharapkan peristiwa dan tragedy Trisakti tidak terulang lagi karena kejadian tersebut sangat melanggar HAM yang dijunjung tinggi di Negara Indonesia.

2. Daniel Dewana
Pembunuhan dan penyiksaan yang terjadi pada Tragedi Trisakti merupakan hal yang tidak pernah terbayangkan. Dimana terjadinya pelanggaran HAM secara besar - besaran (1. Pasal 28 dimana mahasiswa tidak diberi kesempatan untuk memberikan pendapatnya)(2. Pasal 28I dimana mahasiswa dibunuh[penghilangan nyawa seseorang]) Banyak darah tertumpah dan kemarahan yang menurut saya karena presiden Soeharto tidak dapat mengurus krisis ekonomi yang melampaui batasan (korupsi, kolusi, dan neporisme (KKN)). Akibat itulah terjadi keributan yang dilakukan oleh ribuan mahasiswa yang memprotes hal tersebut, tetapi karena takut akan kekuasaan Soeharto, mereka tidak mau ikut campur urusan tersebut secara perorangan. Tetapi tidak semuanya kesalahan para aparat, karena mahasiswa juga tidak menunjukkan sikap yang baik (dimana mahasiswa langsung melakukan aksi brutal memasuki kawasan gedung dan menaikinya). Seharusnya hal ini tidak perlu terjadi, karena menunjukkan ketidak makmuran negara indonesia pada saat itu. Mungkin peristiwa ini dapat menjadi panutan dan pembelajaran bagi kita semua masyarakat dan bangsa kita untuk kemajuan bangsa.
2.      Justin
Tragedy Trisakti merupakan peristiwa penembakan mahasiswa yang menuntut untuk menurunkan Soeharto dari jabatannya. Sehingga peristiwa tersebut memakan korban sebanyak 3 mahasiswa yang terkena pelurudi tempat yang vital. Peristiwa tersebut melanggar HAM karena bisa saja pemerintah membicarakan baik-baik tentang masalah tersebut sehingga masalah tersebut selesai dan tidak memakan korban jiwa. Pemerintah tidak perlu menembakkan peluru agar mahasiswa tersebut bubar. Karena peristiwa tersebut mahasiswa menuntut dan Soeharto tidak dipilih lagi menjadi presiden menimbulkan korban jiwa sehingga Soeharto ditolah menjadi presiden.
Sehingga perbuatan keji tersebut melanggar HAM yg berada pasa pasal 28I yang berisi hak untuk hidup dan 28E yaitu hak manusia untuk mengeluarkan pendapat sehingga pemerintah tidak boleh menutup / melanggar peraturan HAM tersebut sebagaimana semestinya. 
4.      Melisa
Menurut saya, kejadian Trisakti tidak akan terjadi jika pemerintahan Indonesia dulu tidak menginginkan menggunakan sistem komunis. Sudah diketahui juga bahwa Indonesia merupakan negara HAM dan negara yang bebas. Sebagai negara HAM, setiap manusia memiliki hak untuk hidup sesuai dengan pasal 28I dan juga sebagai negara bebas bahwa semua masyarakat bebas mengeluarkan pendapatnya masing-masing.

5.      Nadya
Tragedi Trisakti merupakan kasus pelanggaran HAM yang termasuk dalam kejahatan genosida. Tragedi terjadi dikarenakan ketidakbijaksanaan seorang pemerintah yang tidak mampu mengatur system ekonomi negara dan melanggar hak asasi milik orang lain atas dasar berpendapat sesuai dengan UUD pasal 28E ayat 3. Selain itu juga tragedy ini memakan korban jiwa yang disebabkan oleh aparat kepolisian yang langsung menembak begitu saja di bagian yang vital dan pada bagian ini telah dilanggar pasal 28I tentang hak untuk hidup. Seharusnya tragedy ini tidak perlu memakan korban jiwa apabila tidak dilakukan kekerasan terhadap para mahasiswa yang sedang berupaya unjuk rasa atas nasib negaranya. Perlu ditegaskan kembali dalam Undang-Undang mengenai HAM agar hidup Bangsa Indonesia tidak lagi memakan korban jiwa akibat keegoisan seorang pemimpin/pemerintah yang tidak mau mengalah demi kemanusiaan dan malah mengorbankan jiwa orang lain. Sangat ironis.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar