Selasa, 15 Agustus 2017

TRAGEDI TRISAKTI Disusun Oleh Kelompok 6 XI MIPA 5 SMA Xaverius 1 Palembang

 Disusun Oleh 
Kelompok 6 XI MIPA 5 SMA Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota :
1.         Felicia Subianto
2.         Haris Kristanto W
3.         Kevin Tyas R.H.
4.         Michael
5.         Valentzka Sukanto



Penjelasan Mengenai Kasus
Tragedi Trisakti adalah peristiwa penembakan, pada tanggal 12 Mei 1998, terhadap mahasiswa pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Kejadian ini menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta,Indonesia serta puluhan lainnya luka.
Peristiwa ini terjadi disebabkan karena Ekonomi Indonesia mulai goyah pada awal 1998, yang terpengaruh oleh krisis finansial Asia sepanjang 1997 - 1999. Mahasiswa pun melakukan aksi demonstrasi besar-besaran ke gedung DPR/MPR, termasuk mahasiswa Universitas Trisakti.
Mereka melakukan aksi damai dari kampus Trisakti menuju Gedung Nusantara pada pukul 12.30. Namun aksi mereka dihambat oleh blockade dari Polri dan militer dating kemudian. Beberapa mahasiswa mencoba bernegosiasi dengan pihak Polri. Akhirnya, pada pukul 5.15 sore hari, para mahasiswa bergerak mundur, diikuti bergerak majunya aparat keamanan.
Ø  Hal tersebut menyebabkan
Aparat keamanan pun mulai menembakkan peluru ke arah mahasiswa. Para mahasiswa panic dan bercerai berai, sebagian besar berlindung di universitas Trisakti. Namun aparat keamanan terus melakukan penembakan. Korban pun berjatuhan, dan dilarikanke RS Sumber Waras.
Pada pukul 20.00 dipastikan empat orang mahasiswa tewas tertembak dan satu orang dalam keadaan kritis. Meskipun pihak aparat keamanan membantah telah menggunakan peluru tajam, hasil otopsi menunjukkan kematian disebabkan peluru tajam. Hasil sementara diprediksi peluru tersebut hasil pantulan dari tanah, peluru tajam untuk tembakan peringatan.
Ø  Mereka yang tewas adalah
  1. Elang Mulia Lesmana (1978-1998)
  2. Heri Hertanto (1977 - 1998)
  3. Hafidin Royan (1976 - 1998)
  4. Hendriawan Sie (1975 - 1998).
Mereka tewas tertembak di dalam kampus, terkena peluru tajam di tempat-tempat vital seperti kepala, tenggorokan, dan dada.
Sumber:

Pendapat Anggota Kelompok :
Felicia Subianto
Tragedi Trisakti adalah kasus pelanggaran HAM yang terjadi pada 12 Meri 1998. Pada awalnya, para mahasiswa melakukan aksi demonstrasi kepada pemerintah untuk menuntut diturunkannya Soeharto dari jabatannya. Aksi yang awalnya berjalan lancar ini menjadi rusuh ketika aparat mulai memaksa demonstran untuk mundur, bahkan terjadi tembakan dari aparat ke mahasiswa. Akibatnya, ada 4 orang mahasiswa yang terbunuh dalam aksi itu. Menurut saya kasus ini jelas pelanggaran Hak Asasi Manusia. Dapat dilihat dari aksi demonstran yang seperti 'dilarang' berpendapat. Pembunuhan yang dilakukan juga merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia, yakni hak untuk hidup. Selain itu, akibat tembakan yang mengenai bagian vital korban membuat korban tidak bisa mempertahankan hidupnya, jelas bahwa ini adalah pelanggaran hak untuk bertahan hidup.  Banyak juga mahasiswa yang mengalami tindak kekerasan dari aparat dan juga para mahasiswa tidak mendapat perlindungan dari pemerintah. Hal ini melanggar hak untuk tidak disiksa dan hak untuk mendapat perlindungan dari pemerintah.

Haris Kristanto Wahyudi T.
Menurut pendapat saya, Pelanggaran hak asasi manusia memang bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia, akan tetapi, masih banyak ditemukan sejumlah kasus pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia. Salah satu contoh kasus pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia adalah Tragedi Trisakti 1998. Jaminan hak asasi manusia yang telah dilanggar dalam kasus itu adalah jaminan hak untuk hidup. Jaminan hak asasi tersebut tercantum pada UUD 1945 Pasal 28A.Sesuai dengan UUD 1945 Pasal 28A yang berbunyi: "Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya." Dalam pasal 28A tersebut jelas diterangkan bahwa pasal tersebut menjamin hak seseorang untuk hidup. Tetapi, dalam kasus Tragedi Trisakti 1998, para anggota polisi dan militer/TNI yang terlibat dalam kasus itu telah merenggut hak hidup mahasiswa Universitas Trisakti dengan cara menginjak, memukuli, dan menembak mahasiswa secara brutal.Dan seharusnya para anggota polisi dan militer/TNI tidak melakukan hal yang sekeji itu, dan seharusnya dibicarakan baik-baik dengan mahasiswa tersebut, bukan melakukan kekerasan sampai membunuh mahasiswa tersebut.

Kevin Tyas Ronaldo H.
Dalam Insiden Trisakti pada 12 Mei 1998 banyak tertuang suatu konflik setelah habisnya masa jabatan Presiden Soekarno pada 12 Maret 1967. Pada saat Soeharto menjabat sebagai presiden ia sangat mengekang kebebasan berpendapat dan adanya bentuk protes apapun ( Sistem pemerintahan Komando ) dengan alasan agar indonesia maju. Hal ini lah yang menjadi asal muasalnya insiden trisakti dengan munculnya konflik - konflik dan kritik oleh para mahasiswa, staff dan dosen. Para protestan tersebut melakukan demo dan dihentikan oleh aparat keamanan. Ketika hari mulai sore semua para demonstran telah kembali ke area kampus dan terdengar banyak caci maki yang dilakukan oleh kumpulan polisi dan tentara dengan diikuti rentetan tembakan yang memakan 2 korban yaitu, Elang Mulya Lesmana dan Hendriwan Sie. Dan memakan 2 korban lagi, yaitu Heru Hartanto dan Hafidin Royan yang masih berada disebuah ruangan terbuka.
Dalam Insiden tersebut telah terlihat melanggar atau melecehkan HAM yaitu tertuang pada pasal :
28 A : Hak untuk mempertahankan hidup.
28 D ayat 1 : Hak atas pengakuan, jaminan, dan perlindungan hukum.
28 E ayat 3 : Hak untuk bebas berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat.
28 I ayat 1 : Hak untuk hidup dan tidak disiksa.
28 I ayat 4 : Hak untuk mendapat perlindungan dan kemajuan dari pemerintah.
Jadi, insiden Trisakti tersebut juga dapat dikatakan sebagai  kasus pelanggaran HAM terberat di Indonesia.

Michael
Menurut pendapat saya dari tragedi trisakti ini dapat dilihat penegakkan HAM di masa itu masih sangat minim, bahkan HAM sendiri pada saat itu tidak dilindungi oleh negara. Aksi demonstrasi ini tidak hanya dilakukan oleh Universitas Trisakti, melainkan juga dilakukan oleh beberapa universitas diluar Jakarta. Hal ini menandakan memang adanya kesalahan pada sistem pemerintahan di masa itu, tetapi masih rakyatlah yang menjadi korban dari hasil penembakan yang dilakukan oleh para aparat keamanan sehingga berujung kematian beberapa mahasiswa yang jelas menunjukkan adanya tindak pelanggaran HAM. Menurut saya aksi demo tersebut masih berada pada batas wajar, karena aksi demonstrasi ini dilakukan dengan alasan yang cukup penting, saat itu Soeharto dianggap tidak bisa mengatasi masalah perekonomian saat itu. Jika diamati pemerintahan dimasa itu terkesan "egois" karena hanya mementingkan suatu golongan tanpa memperhatikan keberadaan golongan yang lainnya. Selain itu dari video yang dilihat aparat keamanan tampak melakukan tindak kekerasan pada beberapa mahasiswa seakan-akan mereka adalah seorang kriminal.

Valentzka Sukanto
Menurut saya, pelanggaran hak asasi manusia memang bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia, akan tetapi, masih banyak ditemukan sejumlah kasus pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia. Salah satu contoh kasus pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia yaitu Tragedi Trisakti 1998. Peristiwa yang terjadi tepat pada tanggal 12 Mei 1998 itu merupakan saksi bagaimana aparat mengesampingkan rasa kemanusiaannya demi tugas komandannya. Tragedi Trisakti merupakan saksi bagaimana pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dihalalkan untuk mencapai suatu tujuan kelompok tertentu. 
Jaminan hak asasi manusia yang telah dilanggar dalam kasus itu adalah jaminan hak untuk hidup. Jaminan hak asasi tersebut tercantum pada UUD 1945 Pasal 28A. Sesuai dengan UUD 1945 Pasal 28A yang berbunyi: "Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya." Dalam pasal 28A tersebut jelas diterangkan bahwa pasal tersebut menjamin hak seseorang untuk hidup. Tetapi, dalam kasus Tragedi Trisakti 1998, para anggota polisi dan militer/TNI yang terlibat dalam kasus itu telah merenggut hak hidup mahasiswa Universitas Trisakti dengan cara menginjak, memukuli, dan menembak mahasiswa secara brutal. Akibat dari peristiwa itu, 6 orang dinyatakan tewas dan 16 orang lainnya mengalami luka parah. Selain itu, tragedi ini juga melanggar beberapa pasal HAM lain yaitu : 
  • Pasal 28 D ayat 1 : hak mendapatkan jaminan, perlimdungan, kepastian hukum serta perlakuan yang adil dan sama di hadapan hukum
  • Pasal 28 E ayat 3 : hak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat
  • Pasal 28 I ayat 1 : hak untuk hidup dan tidak disiksa
  • Pasal 28 I ayat 4 : hak untuk mendapat perlindungan dan kemajuan dari pemerintah
Seharusnya para aparat tidak melakukan tindakan keji seperti itu. Para aparat sebaiknya membicarakan masalah tersebut secara baik2 dengan mahasiswa, bukan dengan cara menginjak, memukuli, dan menembak mahasiswa secara brutal.



Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar