Kamis, 17 Agustus 2017

TRAGEDI SAMPIT Disusun Oleh Kelompok 1 XI MIPA 4 SMA Xaverius 1 Palembang


 Disusun Oleh 
Kelompok 1 XI MIPA 4 SMA Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota :
1.    Clarissa Agnes Wijaya                    (06)
2.    Frederik Arnold Cahyadi                (11)
3.    Maria Jenni Fourtuna Pramia          (20)
4.    Mimi                                               (24)
5.    Nico Steven                                    (27)
6.    Therine Arnecia                              (34)






Pelanggaran HAM sudah sering terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, baik disengaja maupun tidak disengaja. Dalam kasus ini kami akan membahas mengenai pelanggaran HAM genosida yang terjadi di Sampit, Kalimantan Tengah atau yang dikenal dengan istilah Tragedi Sampit. Tragedi Sampit disebabkan oleh adanya pertentangan antara dua suku yang berbeda yaitu suku Madura dan suku Dayak. Awalnya pemerintah pusat menerapkan kebijakan transmigrasi agar terjadinya kemerataan penduduk di Indonesia. Tetapi, permasalahan mulai terjadi saat datangnya masyarakat Madura di tanah masyarakat Dayak yang menyebabkan masyarakat Dayak terhambat dalam mengembangkan potensi asli nya.

Adapun kronologis terjadinya perang sampit :

    Tanggal 18 Februari 2001

o   Pukul 01.00 WIB terjadi pertikaian antar etnis diawali dengan terjadinya perkelahian antara suku Madura dengan kelompok suku Dayak di Jalan Padat Karya yang mengakibatkan 5 orang meninggal dunia dan satu orang luka berat ( semuanya dari suku Madura)

o   Pukul 08.00 WIB terjadi pembakaran rumah suku Dayak sebanyak 2 rumah yang dilakukan oleh kelompok suku Madura dan satu buah rumah suku Dayak dirusak dan dijarah oleh suku Madura. Kejadian ini mengakibatkan 3 orang meninggal semuanya dari suku Dayak

o   Pukul 09.30 WIB, pengiriman pasukan Brimob Polda dari Kalsel sebanyak 103 personil dengan kendali BKO Polda Kaliteng untuk pengamanan di Sampit dan tiba pukul 12.00 WIB

o   Pukul 10.00 WIB sebanyak 38 orang tersangka dari kelompok suku Dayak atas kejadian tersebut diamankan ke Mapolda Kalteng di Palangkaraya dan menyita beberapa macam senjata tajam sebanyak 62 buah

o   Pukul 20.30 WIB ditemukan satu orang mayat dari kelompok suku Dayak di Jalan Karya Baru, Sampit

*    Tanggal 19 Februari 2001

o   Pukul 02.00 WIB terjadi pembakaran satu buah mobil Kijang milik suku Madura di Jalan Suwikto, Sampit

o   Pukul 16.00 WIB ditemukan mayat sebanyak 4 orang dan satu orang luka bakar semuanya dari suku Dayak di Jalan Karya Baru, Sampit

o   Pukul 17.00 WIB diadakan sweeping oleh petugas aparat keamanan terhadap kelompok suku Madura dan kelompok suku Dayak di Sampit

o   Penangkapan 6 orang suku Dayak tersangka berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap tersangka yang telah ditahan sebelumnya dan diamankan di Polres Kotim

o   Pada tanggal 18 dan 19 Februari 2001 hampir seluruh kota Sampit dikuasai suku Madura yang menggunakan sajam dan bom molotov

*    Tanggal 20 Februari 2001

o   Pukul 08.30 WIB terjadi pertemuan antara Kapolda dan wakil gubernur untuk mengupayakan penghentian pertikaian dan dilanjutkan dengan mengadakan dialog dengan warga yang bertikai

o   Warga yang ketakutan karena kerusuhan dan sweeping disertai pembakaran rumah mengungsi ke Gedung Balai Budaya Sampit

*    Tanggal 21 Februari 2001

o   Terjadi unjuk rasa oleh masyarakat suku Dayak, suku Jawa, suku Batak, dan masyarakat lainnya ke DPRD Kalteng

*    Tanggal 22 Februari 2001

o   Ditemukannya 14 buah bom rakitan di rumah suku Madura di Sampit

*    Tanggal 23 Februari 2001

o   Pembentukan tim sukarelawan untuk dikirim ke Sampit

*    Tanggal 24 Februari 2001

o   Ditemukan 4 mayat suku Madura di Sampit dan dilakukan pengevakuasian terhadap suku Madura

*    Tanggal 25 Februari 2001

o   Terjadi kerusuhan dari Sampit meluas ke kota Palangkaraya dan mulai terjadi pembakaran rumah-rumah suku Madura oleh orang non Madura yang datang dari pedalaman

*    Tanggal 26 Februari 2001

o   Penerimaan bantuan dari penanggulan bencana

*    Tanggal 27 Februari 2001

o   Pengevakuasian suku Madura dengan menggunakan speedboat serta upaya penanggulangan kerusuhan

*    Tanggal 28 Februari 2001

o   Terjadinya kebakaran di pasar Sampit dan besar kerugian belum bisa dihitung

*    Tanggal 1 Maret 2001

o   Kunjungan dari wakil presiden beserta rombongan untuk memberikan pengarahan kepada gubernur

*    Tanggal 2 Maret 2001

o   Diadakan rapat koordinasi yang dipimpin oleh gubernur mengenai solusi penanganan pertikaian antar etnis oleh tokoh masyarakat

*    Tanggal 3 Maret 2001

o   Adanya bantuan kiriman darah sebanyak 100 kantong dan 100 kantong darah segar dari PMI pusat ke Sampit

Banyak versi mengenai penyebab terjadinya perang Sampit, yaitu :

§  Pada tahun 1972 di Palangkaraya terdapat seorang gadis Dayak digodai dan diperkosa dan diselesaikan dengan perdamaian menurut hukum adat

§  Tahun 1982 terjadi pembunuhan oleh orang Madura atas seorang suku Dayak dan tidak ada penyelesaian hukum sebab pelakunya tidak tertangkap

§  Tahun 1983 seorang warga Dayak dikeroyok oleh 30 orang Madura

§  Tahun 1996 pemerkosaan terjadi kembali dan dibunuh dengan sadis. Akan tetapi pelaku yang merupakan orang Madura hanya dihukum ringan

§  Tahun 1997, orang Dayak dikeroyok oleh orang Madura. Tetapi orang Madura mati semua dan orang Dayak dihukum berat

§  Tahun 1997 seorang anak laki-laki Dayak terbunuh oleh tukang sate yang berasal dari Madura

§  Tahun 1998, orang Dayak dikeroyok oleh empat orang Madura dan pelakunya belum ditangkap sehingga tidak ada penyelesaian hukum

§  Tahun 1999, seorang warga Dayak dibacok oleh orang Madura dan pelakunya berhasil ditangkap

§  Masih dengan tahun 1999, terjadi perkelahian antar keduanya dikarenakan suku Madura yang memaksa mengambil emas saat suku Dayak sedang menambang emas dan tetap tidak ada penyelesaian hukum

§  Tahun 2000, satu keluarga Dayak tewas dibantai oleh suku Madura, pelaku pembantaian lari tanpa penyelesaian hukum. Di tahun yang sama, satu orang suku Dayak dibunuh / mati oleh pengeroyok suku Madura di depan Gereja Imanuel, Jalan Bangka

§  Tahun 2001, suku Madura yang terlebih dahulu menyerang suku Dayak dan terjadi pada tanggal 17-21 Februari 2001

                                                                   

Masyarakat Dayak yang merasa tersaingi dalam segi ekonomi nya. Sehingga masyarakat Dayak bernisiatif dan bertindak anarkisme untuk mengusir masyarakat Madura dari tanah mereka. Namun, karena masalah pengusiran yang tidak kunjung berhasil akhirnya masyarakat Dayak melakukan kekerasan dan pembantaian terhadap masyarakat Madura. Kondisi ekonomi masyarakat Dayak yang sebelumnya rendah, semakin rendah semenjak kedatangan masyarakat Madura. Oleh karena itu, daya saing perekonomian antara masyarakat Dayak dan masyarakat Madura tidak stabil dan cenderung dikuasai oleh masyarakat Madura yang dengan status pendatang baru.

Tragedi ini bermula saat pemerintah pusat mulai menerapkan program transmigrasi pada tahun 1930, dan kesenjangan tidak baik mulai berangsur angsur terjadi sehingga pada  Desember 1996 sampai Januari 1997 terjadi konflik besar dan pembantaian besar yang dilakukan masyarakat Dayak kepada masyarakat Madura. Akhir tragedi ini yaitu saat pemerintah pusat turun tangan dan melibatkan satuan keamanan dan pertahanan negara yaitu Polisi dan Tentara untuk menghentikan dan menengahi konflik ini.

Banyak pelanggaran HAM yang terjadi dalam tragedi ini. Pembunuhan, pemerkosaan, pembantaian, penyiksaan, perebutan paksa hak milik. Saling berbalas serangan juga terjadi diantara dua pihak yang berkonflik. Mereka tidak kenal ampun dan melakukan segala hal buruk tersebut dengan keji. Sampai pada akhirnya, masyarakat Dayak berhasil menguasai seluruh daerah Sampit dan Kalimantan Tengah. Banyak korban yang ditimbulkan akibat tragedi ini. Perempuan dan anak-anak juga menjadi sasaran kekerasan. Para perempuan diperkosa dan dibunuh begitu juga anak-anak yang disiksa dan dibunuh. Sementara para pria juga dibunuh dan dibantai, bahkan sampai tampak penggalan kepala disetiap sisi jalanan, korban pun mencapai ratusan jiwa.

Adapun rumor-rumor yang mengatakan jika magisnya orang-orang Dayak benar-benar terjadi nyata kala itu. Mulai dari mandau yang terbang sendiri dan mengincar kepala manusia, sampai kemampuan mencium bau seseorang.

Usaha preventif yang dilakukan pemerintah pusat dan pihak keamanan-pertahanan juga belum mampu untuk menyelesaikan tragedi ini dengan baik. Eksistensi Polisi dan Tentara pun menurun drastis karena gagal menghentikan tragedi dengan baik. Namun, disisi lain kita juga tidak dapat menyalahkan pihak tersebut secara langsung karena tragedi tersebut benar-benar besar dan sulit untuk diredam secara halus. Pemerintah pusat yang ikut turun tangan juga kesulitan untuk mendamaikan kedua belah pihak.

Terlepas dari peristiwa ini, kita sangat berharap agar kejadian ini tidak pernah terulang lagi untuk kedua kalinya. Perisitiwa ini sangat mengerikan dan membawa luka lama. Maka dari itu kita bisa belajar mengenai tragedi Sampit, agar kita bersikap lebih dewasa (tidak cepat tersinggung/sensitif) dan dapat menyelesaikan masalah dengan musyawarah dan bijak. Karena bangsa Indonesia dikenal dengan keramahtamahan penduduknya bukan sikap kekerasannya.



Sumber:       



Opini/tanggapan/analisis/solusi :

1.    Nico Steven

Menurut saya, kasus tragedi sampit ini sangat menyedihkan dan menyakitkan karena telah merengut nyawa seseorang yang belum tentu bersalah tetapi masyarakat malah membunuhnya tanpa mengetahui kebenaran yang terjadi. Kasus ini telah melanggar pasal 28 I yang berisis hak untuk hidup dan tidak disiksa mereka telah kehilangan nyawanya dengan cara yang tidak baik yaitu ada yang dipenggal dan disiksa hingga menderita.

2.    Maria Jenni

Menurut saya, kasus tersebut melanggar pasal 28 C ayat 2 UUD 1945 dan juga melanggar pasal 28 I ayat 3 dan 4 UUD 1945 karena kasus tersebut terjadi diantara masyarakat Madura dan masyarakat Dayak. Masyarakat Madura tidak mau mengembangkan kehidupannya secara kolektif terhadap masyarakat Dayak juga masyarakat Dayak tidak bisa berkembang dan perekonomian masyarakat Dayak menurun, seharusnya setiap orang berhak memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya (Pasal 28 C ayat 2). Adanya perampasan hak hidup yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Tindakan diskriminatif juga banyak terjadi dalam kasus ini, pemerintah seakan kurang melindungi dan menjaga keutuhan dalam tragedi tersebut. Juga melakukan pembunuhan, pemerkosaan, dan sebagainya adalah hal-hal yang dilarang oleh agama. Tindakan ini sungguh tidak berperikemanusiaan. Solusi yang layak dilakukan adalah adanya pemahaman bahwa indahnya keberagaman, melalui keberagaman kita dipersatukan bukan untuk memecah belah. Sebaiknya kita juga saling memahami dan menghormati keberadaan budaya dan adat lain, juga kita harus saling mendukung satu sama lain untuk mencapai kehidupan yang damai dan tenteram juga untuk kemajuan Indonesia.

3.    Clarissa Agnes

Menurut saya, konflik yang terjadi di Sampit tidak seharusnya terjadi karena telah melanggar hak manusia untuk hidup apalagi konflik tersebut terjadi antar warga negara Indonesia sendiri. Sebagai warga negara yang baik, alangkah baiknya kita harus saling menghormati dan menghargai karena dengan itu perang akan mustahil terjadi. Segala permasalahan yang terjadi dapat diselesaikan dengan kepala dingin, bukan menggunakan kekerasan yang dapat menimbulkan kerugian satu sama lain. Selain itu, kita perlu menyelidiki masalah yang dihadapi agar tidak hanya membuat bencana bagi diri sendiri maupun orang lain. Permasalahan yang utama adalah, saya tidak setuju dengan adanya pemenggalan kepala sebab perbuatan tersebut sangatlah tidak berperikemanusiaan apapun alasan. Dengan demikian, semua rakyat diharapkan dapat bersatu teguh agar tidak dapat dipecah belah sesuai dengan semboyan yang berbunyi "Bhinneka Tunggal Ika" yang artinya berbeda-beda tapi tetap satu jua.

4.    Frederik

Menurut saya, tragedi ini sangat memprihatinkan, sebab sebagai sesama manusia kita tidak sepatutnya saling membinasakan atau saling menyakiti. Selain itu, kita masing-masing memiliki hak yang sama, yaitu hak untuk hidup.

5.    Therine

Menurut saya, tragadi sampit merupakan pelanggaran HAM dan melanggar pasal 28 I UUD 1945, karena setiap orang berhak untuk hidup, bebas dari perlakuan diskkriminasi, dan berhak atas perlindungan dan identitas budaya tradisional. Dalam kasus ini terjadi karena disebabkan oleh adanya rasa yang tiak etis terhadap suku adat budaya lain, yang menyebabkan pertikaian. Kemudian pertikaian tersebut semakin membesar sampai melanggar hukum negara dengan membunuh, menjarah, membakar rumah,dll. Perbuatan tersebut mereka lakukan tanpa adanya kesadaran bahwa mereka semua adalah kesatuan yang sama, memiliki hak yang sama yaitu hak untuk hidup dan merupakan ciptaan Tuhan yang seharusnya saling mengasihi dan menghargai dalam setiap perbedaan yang ada. Maka dari itu, tragedi sampit merupakan kasus pelanggaran HAM yang terkenal di Indonesia.

6.    Mimi

Menurut saya, kasus tersebut melanggar hukum pada pasal 28 B ayat 2 karena korban disana bukan hanya orang dewasa namun anak-anak juga diambil hak hidupnya. Serta Pasal 28 I ayat 1 karena pada kasus ini banyak orang yang tewas karena pemenggalan kepala.



         
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar