Kamis, 17 Agustus 2017

TRAGEDI BOM SAMARINDA Disusun Oleh Kelompok 7 XI MIPA 4 XAVERIUS 1 PALEMBANG

Disusun Oleh
Kelompok 7 Kelas XI MIPA 4 SMA Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota:
1.      David Taslim
2.      Haykel Septian
3.      Kayleen Mirabel
4.      Mario Fredo T
5.      Richel Laverne




Bom Samarinda 2016 adalah peristiwa meledaknya bom jenis molotov di depan sebuah tempat ibadah di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, tepatnya di Gereja Oikumene Jalan Cipto Mangunkusumo Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir, pada 13 November 2016 pukul 10.10 waktu setempat. Empat korban yang kesemuanya anak-anak mengalami luka bakar di sekujur tubuh. Salah seorang korban di antaranya yang berusia 2,5 tahun meninggal dunia dalam perawatan di rumah sakit pada keesokan harinya. Aksi ini merupakan teror bom pertama di Samarinda.
Peristiwa terjadi pada 13 November 2016 pukul 10.10 waktu setempat. Ledakan bom terjadi ketika terjadi pergantian jemaat di Gereja Oikumene, yakni jemaat HKBP bergantian dengan Jemaat Kristen Indonesia (JKI) Mawar Sharon. Sejumlah anak pun mulai keluar dari pintu utama untuk bersiap pulang. Tiba-tiba seorang pria tidak dikenal yang mengenakan kaus dan celana hitam melemparkan bom molotov. Bom itu langsung meledak sebanyak tiga kali. Para jemaat pun berhambur ke luar ruangan untuk melihat situasi. Empat korban yang kesemuanya anak-anak tergeletak tak berdaya dengan kondisi luka bakar. Para korban langsung dievakuasi ke RSUD IA Moeis. Empat unit sepeda motor yang diparkir di depan gereja dilaporkan ikut terbakar.
Pelaku pelemparan bom molotov ke Gereja Oikumene diketahui bernama Juhanda alias Jo, mantan narapidana kasus teror bom buku di Tangerang Selatan. Juhanda berasal dari Kuningan namun ber-KTP Bogor, Jawa Barat. Juhanda pernah menjalani hukuman pidana pada 4 Mei 2011 selama 3 tahun 6 bulan. Dia sempat menjadi terduga pelaku yang dinyatakan bebas bersyarat setelah mendapatkan remisi Idul Fitri pada 28 Juli 2014. Setelah bebas dari Lapas Kelas I Tangerang pada 2014, dia pergi ke Parepare, Sulawesi Selatan. Setelah itu, dia pindah ke Samarinda atas ajakan AP, sesama pelaku teror yang menghuni Lapas Tangerang.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan Juhanda merupakan bagian dari jaringan kelompok Pepi Fernando yang diduga bergabung dengan Jamaah Ansharut Daulah JAD.
Pepi Fernando adalah orang yang membuat bom roket di Aceh, serta pernah dipenjara terkait kasus bom di Puspitek Tangerang dan bom buku yang meledak di Utan Kayu pada 2011 lalu.

Sesaat setelah bom meledak pelaku langsung melarikan diri dengan terjun ke Sungai Mahakam di seberang Gereja Oikumene. Warga sekitar gereja menangkap serta memukuli pelaku sebelum diserahkan ke Polsek Samarinda Seberang.
Sementara itu, pelaku pelemparan bom langsung melarikan diri ke arah Sungai Mahakam dan menceburkan diri. Warga yang melihat pelaku langsung melakukan pengejaran dan pelaku akhirnya berhasil ditangkap saat berada di tengah Sungai Mahakam, kemudian dinaikkan ke atas perahu pengangkut pasir dan kemudian diserahkan ke polisi.
Sementara itu, kobaran api yang berasal dari bom tersebut belum padam. Sejumlah relawan dan petugas pemadam kebakaran langsung ke lokasi kejadian untuk menjinakkan si jago merah yang mulai membakar kendaraan. Agar kobaran api tak merambah ke rumah ibadah tersebut, bagian depan bangunan gereja juga disiram. Tak berselang lama, aparat dari Polresta Samarinda, Brimob Detasemen B Pelopor serta jajaran Intel Kodim 0901/SMD pun langsung tiba di lokasi kejadian. Puluhan warga yang sebelumnya memenuhi tempat kejadian diminta keluar untuk kepentingan penyelidikan.
Masyarakat dari berbagai kalangan melakukan aksi penyalaan seribu lilin dan doa bersama sebagai wujud belasungkawa atas meninggalnya Intan. Selain di Samarinda, aksi penyalaan seribu lilin juga dilakukan di berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Medan, Yogyakarta, Surabaya, Kupang, Pontianak, Palangka Raya, Manado, Berau, dan Kutai Barat.

Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Bom_Samarinda_2016
https://nasional.tempo.co/read/news/2016/11/13/058819852/gereja-dibom-di-samarinda-begini-kronologinya


Pendapat Penyusun:
1. David Taslim
     Menurut saya, kasus bom samarinda tidaklah semestinya terjadi sebab kasus tersebut melanggar HAM seperti pada pasal 28I yang berisi hak untuk hidup dan juga pasal 28E yakni untuk beribadat sesuai agama masing-masing. Dan pelaku tersebut tidaklah etis untuk melakukan pengeboman karena itu masih termasuk dalam lingkungan tempat ibadah.

2.Haykel Septian
     Menurut saya,tragedi bom Samarinda ini termasuk kedalam kasus pelanggaran HAM.Kenapa?Karena menurut saya,kasus tersebut melanggar Undang-Undang dalam pasal 28 E,dan pasal 28G.Pasal 28E  terutama ayat ke - 1 menjelaskan hak tiap warga negara untuk beribadat sesuai agama masing-masing,namun dalam kasus tersebut nyatanya masih saja ada orang yang menganggu orang lain untuk menjalankan ibadahanya.Pasal 28G ayat ke -1 menjelaskan tentang hak atas perlindungan diri, merasa aman dan perlindungan dari ancaman,dalam kasus tersebut nyatanya masih saja ada orang-orang yang menganggu ketenangan orang lain dengan cara mengebom tempat-tempat tertentu.Jadi,kita sebaiknya sebagai warga negara saling menghormati dan menghargai hak asasi kita masing-masing.Karena dengan begitulah negri kita terkasih,tempat lahir beta,tempat berlindung di hari tua sampai akhir menutup mata ini dapat berkembang.

3. Kayleen Mirabel
     Menurut saya, kasus pengeboman ini melanggar hak untuk menjalankan ibadat sesuai dengan agamanya masing" yang terdapat pada pasal 28E dan kasus ini juga melanggar pasal 28G yaitu hak atas merasa aman dan perlindungan dari ancaman. Pengeboman ini melanggar HAM karena jemaat yang sedang beribadat merasa terancam dan beberapa orang menjadi luka".

4.Mario Fredo
     Menurut saya kasus pengeboman ini melanggar pasal 28E yaitu bebas beribadat sesuai agamanya dan juga melanggar 28I yaitu hak untuk hidup. Bagi saya peristiwa ini tidaklah adil bagi korban yang terkena peristiwa ini karena pelaku hanya di penjara.

5.Richel Laverne
    Menurut pendapat saya,kasus pelanggaran ham di indonesia penuntasannya amatlah sangat mengecewakan,dikarenakan banyak sekali kasus demi kasus yang terus bergulir tiap tahunnya yang ada beberapa kasus ditutupi,dalam kasus yang kami bahasa ini adalah bom samarinda juga merupakan kasus pelanggaran yang masih belum jelas kebenarannya dan masih ditutupi,kami berharap untuk seluruh kasus" pelanggaran ham yang terjadi di indonesia penyelesaiannnya jangan ditutupi dan harus dilakukan penyelidikan secara bersih dan transparan serta jelas penyelesaiannnya.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar