Senin, 07 Agustus 2017

Tragedi Bom Bali Disusun Oleh Kelompok 4 XI MIPA 1 SMA Xaverius 1 Palembang

Disusun Oleh:
Kelompok 4  XI MIPA 1  SMA Xaverius 1 Palembang

Nama Anggota:
1. Albert Yahya                      (02)
2. Erda Setya Pricillia Pane  (10)
3. Federico Hasan                  (12)
4. Gabriel Lialdo H. Pane     (15)
5. Melvin Darren Ferdinand(27)

Bom Bali merupakan contoh kasus pelanggaran HAM dikarenakan banyak orang yang tidak bersalah turut menjadi korban pengembonan tersebut. Perbuatan tersebut sangat tidak sesuai dengan perikemanusiaan. Alasan mengapa Bali dijadikan sebagai tempat terjadinya pengemboman tersebut "Karena menurut pengakuan para tersangka , Bali dipilih bukan karena masyarakat Bali. Bali dipilih karena di pulau itu banyak terdapat orang asing. Menurut pengakuan mereka, orang asing itulah, terutama warga Amerika, sasaran mereka."

Pada 12 Oktober 2002, Legian Bali menjelma menjadi neraka, ratusan orang meninggal dan luka-luka setelah bom meledak di sana. Peristiwa tersebut merupakan salah satu peristiwa terorisme terburuk dalam sejarah di Indonesia dan menandai rangkaian teror yang terjadi selanjutnya. Dua ledakan pertama terjadi di Paddy's Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali, sedangkan ledakan terakhir terjadi di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat, walaupun jaraknya cukup berjauhan. Rangkaian pengeboman ini merupakan pengeboman pertama yang kemudian disusul oleh pengeboman dalam skala yang jauh lebih kecil yang juga bertempat di Bali pada tahun 2005.

 Tercatat 202 korban jiwa dan 209 orang luka-luka atau cedera, kebanyakan korban merupakan wisatawan asing yang sedang berkunjung ke lokasi yang merupakan tempat wisata tersebut. Korban kewarganegaraan Australia 88, Indonesia 38, Britania Raya 26, Amerika Serikat 7, Swedia 5 ,Belanda 4 ,Perancis 4, Denmark 3 ,Selandia Baru 3, Swiss 3 ,Brasil 2, Kanada 2, Jepang 2, Afrika Selatan 2, Korea Selatan 2, Ekuador 1, Yunani 1, Italia 1,Polandia 1,Portugal 1 Taiwan 1. Terdapat 3 tersangka utama yaitu: 1. Imam Samudra 2. Amrozi 3. Ali Gufron (kakak Amrozi) Serta terdapat beberapa anak buah lainnya dalam membantu penyusunan bom seperti Ali Imron (adik Amrozi), Jimi, Isa, Dr. Azhari, Dulmatin , Abdul Ghoni dan lain lain. Peristiwa ini dianggap sebagai peristiwa terorisme terparah dalam sejarah Indonesia.Tim Investigasi Gabungan Polri dan kepolisian luar negeri yang telah dibentuk untuk menangani kasus ini menyimpulkan, bom yang digunakan berjenis TNT seberat 1 kg dan di depan Sari Club, merupakan bom RDX berbobot antara 50–150 kg. 

Pasca peristiwa memilukan tersebut, banyak duka di Pulau Dewata, ketakutan menyala-nyala, sejumlah negara tetangga mempertanyakan keamanan Indonesia, hari itu Bali menggoreskan luka yang mungkin tak lekang hingga sekarang. Duka keluarga korban, duka bangsa Indonesia, kita tidak lupa. Kini, 12 Oktober 2016, 15 tahun sudah pristiwa itu berlalu. 15 tahun sudah bom laknat itu mengeja banyak cerita, kebanyakan pilu. Dua tahun yang lalu, tepatnya pada 12 Oktober 2015, yang merupakan peringatan ke 13 tragedi bom Bali, sejumlah koran di Australia menaruh perhatian besar terhadap peringatan peristiwa itu. Karena pada saat itu korban terbanyak berasal dari negara Australia. Selain itu, monumen dibangun dan selesai pada tahun 2003 dengan diberi nama "Monumen Panca Benua". Setahun kemudian, monumen ini baru diresmikan yaitu pada tanggal 12 Oktober 2004 oleh Kepala Bupati Kabupaten Badung, Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi dengan diberi nama "Monumen Tragedi Kemanusiaan Peledakan Bom 12 Oktober 2002".
Setelah pengeboman Bali 2002, pada tahun 2005 terjadi lagi teror Bali. Pengeboman Bali 2005 adalah serangkaian pengeboman yang terjadi di Bali pada 1 Oktober 2005. Terjadi tiga pengeboman, satu di Kuta dan dua di Jimbaran dengan sedikitnya 23 orang tewas dan 196 lainnya luka-luka. Bom bunuh diri ini memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap pariwisata di Bali mengingat pada 12 Oktober 2002, serangan bom serupa menewaskan 202 orang. 

Bukti awal menandakan bahwa serangan ini dilakukan oleh paling tidak tiga pengebom bunuh diri dalam model yang mirip dengan pengeboman tahun 2002. Serpihan ransel dan badan yang hancur berlebihan dianggap sebagai bukti pengeboman bunuh diri. Namun ada juga kemungkinan ransel-ransel tersebut disembunyikan di dalam restoran sebelum diledakkan. Komisioner Polisi Federal Australia Mick Keelty mengatakan bahwa jenis bom yang digunakan tampaknya berbeda dari ledakan sebelumnya yang terlihat kebanyakan korban meninggal dan terluka diakibatkan oleh "serpihan tajam" (shrapnel), dan bukan ledakan kimia. Pejabat medis menunjukan hasil sinar-x bahwa ada benda asing yang digambarkan sebagai "pellet" di dalam badan korban dan seorang korban melaporkan bahwa bola bearing masuk ke belakang tubuhnya

Peristiwa kali ini tidak menyebabkan pengaruh sebesar Bom Bali 2002. Pemandangan para wisatawan asing yang langsung eksodus ke negara asalnya sehari setelah kejadian tahun 2002 tidak terlalu terlihat pada peristiwa ini. Mata uang Rupiah sempat melemah pada pembukaan pedagangan sehari setelah kejadian sekitar 100 poin ke kisaran Rp10.400, namun pelemahan ini berkurang pada penutupan perdagangan ke Rp10.305, sehingga total pelemahan adalah 15 poin. Hal yang sama juga terjadi pada IHSG Bursa Efek Jakarta yang mampu pulih dari pengaruh pengeboman di akhir perdagangan sehari setelah peristiwa tersebut. Secara nasional, perekonomian Indonesia juga diperkirakan tak akan banyak terpengaruh Bom Bali. Sektor pariwisata hanya menyumbangkan sekitar 5% dari perekonomian Indonesia, sehingga dampaknya diyakini kecil. Selain itu, dampak tragedi ini juga terdapat pada maskapai penerbangan. Paska musibah ini, Air Paradise bangkrut.


Sumber:




Tanggapan dari setiap anggota kelompok

1. Albert Yahya
Menurut saya kejadian Bom Bali itu sangat tidak berprikemanusiaan karena dilihat dari banyaknya korban dari kejadian tersebut, baik warga dalam negeri dan luar negeri semua tewas akibat kejadian bom tersebut. Selain menewaskan korban kejadian tersebut membuat citra negara kita menjadi buruk di pandangan negara lain sehingga juga dapat merugikan negara dalam perekonomian. Jadi dari peristiwa diatas dapat kita belajar untuk berhati-hati dimanapun kita berada dan sebaiknya pelaku bom tersebut dihukum seberat-beratnya.

2. Erda Setya Pricillia Pane
Menurut saya pengeboman yang dilakukan oleh 26 tersangka tersebut telah melanggar HAM, mereka telah merenggut nyawa dan hak untuk hidup yang telah diberikan oleh Tuhan dari 202 korban, dan melukai sebanyak 209 korban. Tersangka tersebut merupakan orang-orang yang asli berasal dari negara Indonesia, yang secara otomatis telah merusak nama baik negara Indonesia di banyak negara. Seluruh tersangka tersebut juga telah melanggar Undang-Undang Dasar yang mengatur tentang HAM, yaitu pasal 28 A, 28 G ayat 2, 28 H, dan pasal 28 I ayat 1,2, dan 4. Selain merenggut banyak nyawa dan melukai banyak korban, banyak sekali yang di rugikan dalam pengeboman ini, yaitu: keluarga korban kehilangan anggota keluarganya, kerabatnya kehilangan temannya, lingkungan di daerah tersebut banyak yang rusak sehingga mengganggu ekonomi negara Indonesia, menimbulkan trauma pada korban yang luka parah dan warga sekitar, dan secara tidak sadar maupun sadar pengeboman tersebut juga telah merugikan diri mereka sendiri. Tersangka tersebut telah mendapatkan dosa yang besar, membuat diri mereka sendiri dan keluarga mereka menjadi malu, dan pada akhirnya mereka juga kehilangan nyawa mereka, meskipun mereka telah dihukum mati akan tetapi nyawa mereka tersebut tidak dapat menggantikan nyawa dari 202 korban tersebut. Sebagai warga negara Indonesia, hendaklah kita menghargai hak orang lain, dan tetap menaati peraturan yang berlaku di negara Indonesia, agar negara kita dapat dinilai dengan baik dimata dunia dan menimbulkan kesejahteraan bagi bangsa dan negara Indonesia.

3. Federico Hasan
Menurut saya personal pengeboman di Bali merupakan sebuah peristiwa yang sangat menyayangkan yang terjadi di Indonesia, karena menghilangkan nyawa seseorang merupakan suatu pelanggaran HAM yang terberat, hal ini sangat disayangkan melihat jumlah korban yang berjatuhan dan juga kerusakan yang diakibatkan oleh insiden tersebut. Kesalahpahaman yang terjadi dan juga provokator yang memicu insiden tersebut. Maka dari itu kita harus saling menghargai dan tidak meyebar pemikiran negatif sehingga terjadilah kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.

4. Gabriel Lialdo Hamonangan Pane
Menurut saya, tindakan Bom Bali yang terjadi di Bali tersebut sangat melanggar HAM. Dikarenakan bukan hanya kerugian saja, melainkan nyawa, banyak nyawa yang menjadi taruhan banyak orang yang tidak tahu apa masalahnya menjadi korban. Belum lagi banyak korban yang menjadi cacat permanen, dia tidak dapat mengetahui bagaimana rasanya menjadi normal lagi. Betapa berat kehidupan  yang dijalaninya, sehingga HAM menjadi hal yang tidak diperhatikan oleh para teroris itu. Jika sudah terjadi, tidak dapat berbuat apa-apa. Seperti peribahasa "nasi telah menjadi bubur". Dan hal yang telah dilakukan adalah menghukum mati teroris dan beberapa dipenjarakan, akan tetapi itu semua tidak berguna, karena mereka hanyalah korban cuci otak oleh atasan mereka. Jadi yang sebaiknya dilakukan adalah dengan mengadili otak dari pelaku bom tersebut, yaitu dengan menghukum pemimpin teroris itu. Walaupun sulit, tapi keadilan harus ditegakkan, karena apa yang kita perbuat tidaklah sebanding dengan apa yang dialami para korban yang trauma, cacat permanen, atau meninggal.

5. Melvin Darren Ferdinand
Menurut saya, saya sebagai orang yang patuh terhadap HAM menyatakan bahwa hal ini merupakan pelanggaran HAM yang berat karena tidak hanya melukai orang-orang tetapi juga merenggut 200 jiwa, walaupun orang yang melakukan kejahatan yang menyedihkan itu dihukum mati, tetap saja hal ini tidak setimpal dengan apa yang diperbuat mereka. Jadi kesimpulannya hal ini adalah suatu pelanggaran HAM yang sangat berat karena pelanggar-pelanggar tersebut telah merenggut hak yang terpenting, yaitu hak untuk hidup.








Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar