Senin, 21 Agustus 2017

G30S/PKI Disusun Oleh: Kelompok 4 XI MIPA 6 SMA XAVERIUS 1 PALEMBANG

Disusun Oleh:
Kelompok 4 XI MIPA 6 SMA XAVERIUS 1 PALEMBANG
Nama Anggota:
1.Felicia Yang/9
2.Kelly Aditya Jap/17
3.Kelvin/19
4.Leonardo Stevanus /20
5.Suryanto Guna Mitta/32  

(Link video) youtube: https://youtu.be/0gZb81zcE2g

UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28A-28J telah menegaskan dengan jelas bagaimana Negara yang berpegang teguh berdasarkan pada ketuhanan sangat menjunjung tinggi HAM. Tetapi pada faktanya tidak sedikit kasus-kasus pelanggaran dimana terdapat orang orang yang bertindak sewenang wenag atas diri manusia lain hanya untuk kepentingan sendiri maupun golongan , seperti membunuh,mendiskriminasi,danlainlain.
Peristiwa 1965 merupakan salah satu kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia.
Peristiwa ini terjadi pada tanggal 30 September 1965 malam, hingga esok harinya dimana ada pembunuhan tujuh perwira tinggi militer dalam sebuah kudeta. Usaha yang akhirnya gagal kemudian dijatuhkan kepada anggota dari Partai Komunis Indonesia yang saat itu sedang dalam kondisi kuat karena mereka dinilai amat dekat dengan Presiden Indonesia pertama pada masa itu. Benar atau tidaknya Partai Komunis Indonesia yang bertanggung jawab penuh dalam kejadian . Tiga dari seluruh korban yang direncanakan, mereka bunuh di rumah mereka yaitu Ahmad Yani, M.T. Haryono, dan D.I. Panjaitan. Ketiga target lain yaitu Soeprapto, S. Parman, dan Sutoyo ditangkap hidup-hidup, sementara target utama mereka, Jendral Abdul Harris Nasution berhasil kabur setelah melompati dinding yang berbatasan dengan taman di kedutaan besar Iraq. Meski begitu, Pierre Tendean yang menjadi ajudan pribadinya ditangkap, dan anak gadisnya yang berusia lima tahun, Ade Irma Suryani Nasution, tertembak oleh regu sergap dan tewas pada 6 Oktober. Korban tewas bertambah ketika regu penculik menembak dan membunuh seorang polisi yang menjadi penjaga rumah tetangga Nasution, Karel Satsuit Tubun. Korban tewas terakhir adalah Albert Naiborhu, keponakan dari Pandjaitan, yang tewas saat menyerang rumah jendral tersebut. Mayat dan jenderal yang masih hidup kemudian dibawa ke Lubang Buaya, dan semua dibunuh serta mayatnya dibuang di sumur dekat markas tersebut.Dalam pembantaian 1965-66, yang menjadi korban adalah orang-orang yang menjadi bagian dari PKI serta orang-orang yang dituduh sebagai komunis. 
Soeharto diduga kuat sebagai dalang di balik pembantaian 1965-1966.
Pembantaian di Indonesia 1965–1966  adalah peristiwa pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh komunis di Indonesia pada masa setelah terjadinya Gerakan 30 September (G30S/PKI) di Indonesia. Diperkirakan lebih dari setengah juta orang dibantai dan lebih dari satu juta orang dipenjara dalam peristiwa tersebut. Pembersihan ini merupakan peristiwa penting dalam masa transisi ke Orde Baru: Partai Komunis Indonesia (PKI) dihancurkan, pergolakan mengakibatkan jatuhnya presiden Soekarno, dan kekuasaan selanjutnya diserahkan kepada Soeharto.
Tragedi kemanusiaan ini berawal dari konflik internal dalam tubuh Angkatan Darat yang muncul sebagai akibat kesenjangan kehidupan antara tentara prajurit dengan tentara perwira kemudian mendapatkan jalan manifestasinya ketika muncul isu tentang rencana Kudeta terhadap kekuasaan Soekarno yang akan dilancarkan oleh Dewan Jenderal. Perwira-perwira Angkatan Darat yang mendukung kebijakan Sosialisme Soekarno kemudian memutuskan untuk melakukan aksi polisionil dengan menghadapkan tujuh orang Jendral ke hadapan Soekarno.Fakta yang terjadi kemudian adalah tiga dari tujuh orang Jendral yang dijemput paksa tersebut, sudah dalam keadaan anumerta.
Pembantaian dimulai pada Januari 1966 seiring dengan maraknya aksi demonstrasi mahasiswa yang digerakkan oleh Angkatan Darat melalui Jendral Syarif Thayeb . Mulai dari yang paling kecil 78.000 jiwa, hingga yang sedang antara 500.000-600.000 jiwa, dan yang tertinggi mencapai angka tiga juta jiwa. Korban pembunuhan massal ini jauh lebih besar dari jumlah penduduk Hiroshima dan Nagasaki yang tewas terkena serangan bom atom Amerika Serikat (AS), dan perang Vietnam yang terjadi bertahun-tahun. Pada Maret 1967, Soekarno dicopot dari kekuasaannya oleh Parlemen Sementara,dan memuncak selama kuartal kedua tahun 1966 sebelum akhirnya mereda pada awal tahun 1967 (menjelang pelantikan Jendral Soeharto sebagai Pejabat Presiden). Pembersihan dimulai dari ibu kota Jakarta, yang kemudian menyebar ke Jawa Tengah dan Timur, lalu Bali. Ribuan vigilante (orang yang menegakkan hukum dengan caranya sendiri) dan tentara angkatan darat menangkap dan membunuh orang-orang yang dituduh sebagai anggota PKI. Mereka datang dengan gerobak yang ditarik oleh sapi,tangan mereka diikat dengan tali. Mereka kemudian ditembak dari belakang oleh tentara dan menendangnya ke sebuah lubang . Meskipun pembantaian terjadi di seluruh Indonesia, namun pembantaian terburuk terjadi di basis-basis PKI di Jawa Tengah, Timur, Bali, dan Sumatera Utara.
Usaha Soekarno yang ingin menyeimbangkan nasionalisme, agama, dan komunisme melalui Nasakom telah usai. Pilar pendukung utamanya, PKI, telah secara efektif dilenyapkan oleh dua pilar lainnya-militer dan Islam politis dan militer berada pada jalan menuju kekuasaan. Pada Maret 1967, Soekarno dicopot dari kekuasaannya oleh Parlemen Sementara, dan Soeharto menjadi Pejabat Presiden. Pada Maret 1968 Soeharto secara resmi ditetapkan menjadi Presiden oleh MPRS yang diketuai oleh Jendral Abdul Harris Nasution (yang memang sengaja Soeharto tempatkan setelah menangkap dan memenjarakan seluruh pimpinan MPRS yang notabene adalah tokoh-tokoh PKI dan tokoh-tokoh Soekarnois).
Pembantaian ini hampir tidak pernah disebutkan dalam buku sejarah Indonesia, dan hanya memperoleh sedikit perhatian dari orang Indonesia maupun warga internasional. Penjelasan memuaskan untuk kekejamannya telah menarik perhatian para ahli dari berbagai prespektif ideologis. Kemungkinan adanya pergolakan serupa dianggap sebagai faktor dalam konservatisme politik "Orde Baru" dan kontrol ketat terhadap sistem politik. Kewaspadaan terhadap ancaman komunis menjadi ciri dari masa kepresidenan Soeharto.

Sumber:

Pendapat Anggota:

Felicia Yang :
Peristiwa G 30S/PKI yang lebih dikenal dengan peristiwa pemberontakan yang dilakukan PKI , bertujuan untuk menyebarkan paham komunis di Indonesia . Pemberontakan ini menimbulkan banyak korban dan banyak korban berasal dari para jendral AD. Gerakan PKI ini menjadi isu politik untuk menolak pertanggungjawaban Presiden Soekarno kepada MPRS . Dengan ditolaknya laporan Presiden Soekarno ini maka Indonesia kembali ke pemeritahan yang barazazkan kapada Pancasila dan UUD 1945 . Peristiwa G 30S/PKI ynag terjadi diIndonesia telah memberikan dampak negative dalam kehidupan social dan politik masyarakat Indonesia yaitu dampaK Politik dan dampak Ekonomi. 

Kelly Aditya:
Menurut saya , tragedi ini sangat melanggar HAM karena tindakan mengambil nyawa orang lain apalagi menyiksa sampai bertindak sewenang-wenang terhadap pribadi manusia ini tidak sesuai dengan teori UUD yang telah ada sejak tahun 1945 mengenai HAM  apalagi seperti yang kita tahu bahwa Indonesia sangat berpegang teguh terhadap Ketuhanan . Dalam hal ini menunjukkan tidak ada rasa menghargai hak manusia sebagai kodrat Allah untuk hidup dari sejak lahir yaitu pasal 28A yang berbunyi setiap orang berhak untuk hidup serta mempertahankan hidup dan kehidupannya. Dan 28 D :Setiap orang berhak atas pengakuan , jaminan , perlindungan, dan kepastian hukum yang adil , pada kasus diatas pembantaian yang dilakukan semena-mena oleh satu golongan, dan tidak ditindaklanjuti oleh hukum pada saat itu sehingga banyak rakyat yang sengsara  dan  mati sia-sia. Hal ini membuktikan bahwa kurangnya rasa solidaritas, keterbukaan antar bangsa . Persatuan dan kesatuan kurang dan rasa individual yang tinggi sehingga terdapat golongan yang diperjuangkan hanya untuk kepentingan sendiri , perebutan kekuasaan secara kacau  (pembunuhan jendral dan perwira TNI )terjadi pemaksaan kehendak oleh paham komunis PKI terhadap bangsa Indonesia  . Oleh karena itu , situasi ini sudah seharusnya menjadi pelajaran bagi pemimpin untuk terbuka , jujur, dan beusaha keras untuk membangun bangsa agar mereka merasa nyaman, maju,dan  hidup berkecukupan , bukan malah pemimpin yang terus melakukan korupsi,menjalin hubungan dengan paham komunis  dan mengsengsarakan rakyat . Oleh karena itu, kita harus menjaga persatuan dan kesatuan untuk menghindari pertentangan paham komunis dan isu yang tidak jelas  tersebut. 

Leonardo:
Persistiwa G30S/PKI merupakan sejarah bagi bangsa Indonesia yang tidak dapat terlupakan,paham komunis yang disebarkan oleh PKI membuat masyarakat resah sehingga terjadinya pembunuhan anggota PKI secara missal ini merupakan kejadian yang sangat ironis sebeb karena kejadian ini menimbulkan banyak korban baik bagi warga sipil maupun banyak tentara AD.Ini jelas merupakan pelanggaran HAM yang berat karena telah mencabut nyawa oranglain dan tidak sesuai dengan  undang-undag mengenai HAM yaitu pasal 28 A yang berbunyi "setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya". Menurut saya hal ini seharusnya tidak terjadi karena HAM merupaka hak setiap orang yang wajib untuk dihormati dan tidak ada yang dapat mencabutnya/mengambil HAM itu sendiri.

Suryanto Guna Mitta : 
G30S/PKI merupakan gerakan pemberontakan terhadap Indonesia yang ingin merubah Indonesia menjadi Negara komunis . PKI merupakan penghianat bangsa yang tidak mematuhi Pancasila dan norma-norma kemanusiaan seperti yang terkandung dalam pasal 28A-28J. PKI melakukan pelanggaran HAM berat dengan membunuh dan menyiksa para jendralIndonesia serta perwiwa TNI. 

Kelvin: 
G30SPKI Merupakan salah satu pemberontak terbesar yang ada di Indonesia. PKI bertujuan untuk mengunah ideologi negara /bangsa Indonesia yang semula berideologi Pancasila menjadi Negara komunis . Kejadian ini dimula dengan disebarkannya paham komunis oleh PKI lalu masyarakat tidak setuju dengan PKI dan melakukan penyerangan serta pembunuhan terhadap anggota PKI . Pelanggaran HAM ini termasuk pelanggaran HAM berat, karena dengan membunuh dan menyiksa para jendral Indonesia serta perwira TNI. Karena seluruh anggota memiliki hak untuk mempertahankan kehidupannya yaitu terdapat di dalam pasal 28A. 


















Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar