Selasa, 15 Agustus 2017

“PETRUS” PENEMBAK MISTERIUS Disusun Oleh Kelompok 5 XI MIPA 5 SMA Xaverius 1 Palembang

             Disusun Oleh  
Kelompok 5 XI MIPA 5 SMA Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota: 
1. Benedikto Bona B.S 
2. Fatimah Khairunnisa L. 
3. Fernando Saputra 
4. Natasya 
5. Selfianti Yaparto

(Link video) youtube:  https://youtu.be/vCoHLuF4QxM
Penembakan misterius atau sering disingkat Petrus adalah suatu operasi rahasia dari Pemerintahan Suharto pada tahun 1980-an untuk menanggulangi tingkat kejahatan yang begitu tinggi pada saat itu. Operasi ini secara umum adalah operasi penangkapan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap mengganggu keamanan dan ketentraman masyarakat khususnya di Jakarta dan Jawa Tengah. Pelakunya tak jelas dan tak pernah tertangkap, karena itu muncul istilah "petrus" (penembak misterius).
Petrus berawal dari operasi pe­nang­gulangan kejahatan di Jakarta. Pada tahun 1982, Soeharto memberikan peng­har­gaan kepada Kapolda Metro Jaya, Mayjen Pol Anton Soedjarwoatas keber­ha­silan membongkar perampokan yang meresahkan masyarakat. Pada Maret tahun yang sama, Soehar­to meminta polisi dan ABRI mengambil lang­kah pemberantasan yang efektif me­ne­kan angka kriminalitas. Hal yang sama diulangi Soeharto dalam pidatonya tanggal 16 Agustus 1982. Permintaannya ini disambut oleh Pang­­­opkamtib Laksamana Soedomo da­lam rapat koordinasi dengan Pangdam Ja­ya, KapolriKapolda Metro Jaya dan Wagub DKI Jakarta di Markas Kodam Metro Ja­ya tanggal 19 Januari 1983. Dalam rapat itu diputuskan untuk melakukan Operasi Clurit di Jakarta, langkah ini kemudian diikuti oleh kepolisian dan ABRI di ma­sing-masing kota dan provinsi lainnya.
Akibatnya, pada tahun 1983 tercatat 532 orang tewas, 367 orang di antaranya tewas akibat luka tembakan. Pada Tahun 1984 ada 107 orang tewas, di an­­taranya 15 orang tewas ditembak. Ta­hun 1985 tercatat 74 orang tewas, 28 di an­taranya tewas ditembak. Para korban Pe­trus sendiri saat ditemukan masyarakat da­lam kondisi tangan dan lehernya te­ri­kat. Kebanyakan korban juga dimasukkan ke dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, la­ut, hutan dan kebun.
Sumber:
 1. Benedikto Bona B.S.
Kasus pelanggaran HAM adalah kasus yang melanggar hak dasar manusia, dalam hal ini kasus penembakan misterius yang terjadi pada masa pemerintahan soeharto adalah salah satu kasus pelanggarang HAM yang hingga kini tidak ditemukan titik terang penyelesaian. Dalam kasus ini banyak orang ditembak hingga mati secara diam-diam, dan dalam kurun waktu kurang lebih 5 tahun dari tahun 1980-1985 kurang lebih ada 10.000 orang kehilangan nyawanya karena operasi ini.Hal ini tentu saja bukanlah hal yang manusiawi, apalagi terdengar kabar bahwa target dari operasi ini adalah para preman/gali ataupun orang yang memiliki hubungan dengan gali tersebut. Parahnya lagi para korban hanya dibiarkan begitu saja tergeletak di pinggir sungai,pinggir jalan,dll. Yang awalnya hanya berupa operasi memberantas pengganggu keamanan seketika berubah menjadi kasus pelanggaran HAM karena peraturan-peraturan yang ketat dalam operasi tersebut. Kedepannya tentu kita berharap kejadian ini tidak terulang kembali, dan jika ingin menegakkan keamanan gunakanlah cara yang manusiawi dan tidak bertentangan dengan perundang-undangan tentang HAM.


2. Fatimah Khairunnisa L.
Tidak ada seorang-pun yang memiliki hak dan kewajiban untuk menentukan batas hidup sebuah jiwa. Sekalipun sebuah jiwa itu adalah miliknya sendiri. Karena Tuhan-lah yang memiliki segala kuasa atas hidup dan mati seluruh makhluk ciptaan-nya.
Kasus ini merupakan pelanggaran HAM yang sangat-sangat berat bagi saya pribadi. Dimana dalam 4 tahun (1982-1985), tercatat lebih dari 10 ribu jiwa yang menjadi korban PETRUS (Pada saat itu, jumlah penduduk Indonesia kurang-lebih mencapai 150 juta jiwa).
Menurut saya, pemerintah Indonesia pada era Orde Baru, sangat tidak bijaksana dan tidak pantas untuk menjadi sebuah sejarah. Seperti yang telah saya katakan, tidak ada seorangpun yang memiliki hak dan kewajiban untuk menghabisi jiwa orang lain. Apapun alasannya.
Seperti pada kasus PETRUS ini. Dikarenakan mereka seorang gali/pereman yang meresahkan masyarakat, bukan berarti Presiden Soeharto dapat memerintah bawahannya untuk menyelesaikan masalah dengan menyiksa dan membunuh mereka.
Pasti ada cara lain, yang lebih baik, yang dapat merubah keadaan menjadi seperti yang diharapkan masyarakat.
Saya sebagai rakyat Indonesia merasa sangat kecewa akan kasus pelanggaran HAM yang berat ini. Saya berharap semoga dunia tidak akan mengulang sejarah kelabu ini kembali.
3. Fernando Saputra
Saya sangat tidak setuju dengan apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia pada masa itu. Operasi Petrus ini sebenarnya bertujuan untuk menanggulangi tingkat kejahatan yang sangat tinggi di masa itu, tetapi operasi ini dijalankan dengan sangat tidak manusiawi. Peristiwa operasi yang telah membunuh jumlah korban yang banyak ini telah banyak melanggar hak asasi manusia terutama hak untuk hidup. Pelaku yang tak diketahui identitasnya ini dengan mudahnya menembak mati banyak orang tanpa memikirkan lagi martabat dan hak yang mereka miliki. Menurut saya, hidup dan mati hanya ada di tangan Tuhan, mereka tidak pantas menyabut nyawa orang orang dengan mudahnya. Tindakan yang sangat tercela ini seharusnya diberi sanksi yang tegas dan harus ditindak lanjuti oleh pemerintah Indonesia agar kasus-kasus seperti ini tidak terjadi kembali.
4. Natasya
Menurut saya, memang operasi "Petrus" Penembak Misterius ini bertujuan agar negara kita Indonesia menjadi aman dan tentram karena sasaran dari operasi ini adalah orang yang dianggap mengganggu keamanan dan ketertiban negara. Akan tetapi, alangkah baiknya jika operasi tersebut tidak terjadi lagi pada masa sekarang ini. Semua orang termasuk orang-orang yang terbunuh tersebut memiliki Hak Asasi Manusia untuk hidup. Jadi, kita tidak boleh asal main hakim dan membunuh atau menembak orang yang bersalah. Semua masalah dapat diselesaikan secara hukum karena kita merupakan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai Hak Asasi Manusia.
5. Selfianti Yaparto
Menurut saya, apa yang dilakukan Pemerintahan Indonesia pada saat itu sangat kejam dan tidak berprikemanusiaan walaupun tujuannya baik. Penembakan Misterius ini merupakan pelanggaran HAM yang berat karena melanggar beberapa hak yaitu, hak diperlakukan sama di muka umum, hak bebas dari kekerasan dan hak untuk hidup. Pada kasus ini, dapat kita lihat bahwa apa yang pemerintah lakukan saat itu telah melanggar hak-hak yang dimiliki warga negara untuk mendapatkan perlakuan yang sama di muka umum. Hal ini terbukti dari orang-orang yang dituduh gali (anak liar) atau melakukan kejahatan langsung diculik dan dibunuh bahkan sebelum dibunuh beberapa ada yang disiksa terlebih dahulu lalu dibuang ke pinggir jalanan ramai untuk menjadi ancaman bagi masyakarat banyak agar tidak melakukan kejahatan.
Untuk kedepannya pemerintah dan Komnas HAM sebaiknya mengusut kasus ini secepatnya agar dapat diketahui penembak yang masih misterius. Gunakanlah hukum untuk mengadili seseorang jika hukum tidak dipakai buat apa hukum dibuat.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar