Kamis, 17 Agustus 2017

Peristiwa Penembakan Misterius(Petrus) Disusun oleh kelompok 6 XI IPS4 SMA XAVERIUS 1 PALEMBANG


Disusun oleh 
kelompok 6 XI IPS4 SMA XAVERIUS 1 PALEMBANG
Nama Anggota:
1.       Felicia Vina Anggreani(07)
2.       Helen Sabrina Sitompul(12)
3.       Keren Agustien Martina Umboh(18)
4.       Melisa Permata Sari(25)
5.       Teddy Ardyansa S(34)

Kasus pelanggaran HAM yakni peristiwa Penembakan Misterius(Petrus)
Penembakan misterius atau sering disingkat Petrus adalah suatu operasi rahasia dari Pemerintahan Suharto  pada tahun 1980-an untuk menanggulangi tingkat kejahatan yang begitu tinggi pada saat itu. Operasi ini secara umum adalah operasi penangkapan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap mengganggu keamanan dan ketentraman masyarakat khususnya di Jakarta dan Jawa Tengah. Pelakunya tak jelas dan tak pernah tertangkap, karena itu muncul istilah "petrus" (penembak misterius).
Petrus berawal dari operasi pe­nang­gulangan kejahatan di Jakarta. Pada tahun 1982, Soeharto memberikan peng­har­gaan kepada Kapolda Metro Jaya, Mayjen Pol Anton Soedjarwoatas keber­ha­silan membongkar perampokan yang meresahkan masyarakat. Pada Maret tahun yang sama, di hadap­an Rapim ABRI, Soehar­to meminta polisi dan ABRI mengambil lang­kah pemberantasan yang efektif me­ne­kan angka kriminalitas. Hal yang sama diulangi Soeharto dalam pidatonya tanggal 16 Agustus 1982. Permintaannya ini disambut oleh Pang­­­opkamtib Laksamana Soedomo da­lam rapat koordinasi dengan Pangdam Ja­ya, Kapolri, Kapolda Metro Jaya dan Wagub DKI Jakarta di Markas Kodam Metro Ja­ya tanggal 19 Januari 1983. Dalam rapat itu diputuskan untuk melakukan Operasi Clurit di Jakarta, langkah ini kemudian diikuti oleh kepolisian dan ABRI di ma­sing-masing kota dan provinsi lainnya.



Pada tahun 1983 tercatat 532 orang tewas, 367 orang di antaranya tewas akibat luka tembakan. Pada Tahun 1984 ada 107 orang tewas, di an­­taranya 15 orang tewas ditembak. Ta­hun 1985 tercatat 74 orang tewas, 28 di an­taranya tewas ditembak. Para korban Pe­trus sendiri saat ditemukan masyarakat da­lam kondisi tangan dan lehernya te­ri­kat. Kebanyakan korban juga dimasukkan ke dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, la­ut, hutan dan kebun. Pola pengambilan pa­ra korban kebanyakan diculik oleh orang tak dikenal dan dijemput aparat ke­amanan. Petrus pertama kali dilancarkan di Yogyakarta dan diakui terus terang M Hasbi yang pada saat itu menjabat sebagai Komandan Kodim 0734 sebagai operasi pembersihan para gali (Kompas, 6 April 1983). Panglima Kowilhan II Jawa-Madura Letjen TNI Yogie S.Memet yang punya rencana mengembangkannya. (Kompas, 30 April 1983). Akhirnya gebrakan itu dilanjutkan di berbagai kota lain, hanya saja dilaksanakan secara tertutup.
 Tahun 1984 korban Petrus (Penembak Misterius) yang tewas sebanyak 107 orang, tapi hanya 15 orang yang tewas oleh tembakan.
Sementara tahun 1985, tercatat 74 korban Petrus (Penembak Misterius) tewas dan 28 di antaranya tewas karena tembakan. Secara umum para korban Petrus saat ditemukan dalam kondisi tangan dan leher terikat. Kebanyakan korban dimasukkan ke dalam karung dan ditinggal di tepi jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, hutan-hutan, dan kebun.
 Tahun 1984 korban Petrus (Penembak Misterius) yang tewas sebanyak 107 orang, tapi hanya 15 orang yang tewas oleh tembakan.
Yang pasti pelaku Petrus terkesan tidak mau bersusah-susah membuang korbannya karena bila mudah ditemukan efek shock therapy yang disampaikan akan lebih efektif. Sedangkan pola pengambilan para korban kebanyakan diculik oleh orang tak dikenal atau dijemput aparat keamanan.
Akibat berita yang demikian gencar mengenai Petrus yang berhasil membereskan ratusan penjahat, para petinggi negara pun akhirnya berkomentar. Ketika berita serupa hampir tiap hari muncul di seantero Jakarta dan massa mulai membicarakan masalah penembakan misterius, Benny Moerdani sebagai Panglima Kopkamtib seusai menghadap Presiden Soeharto lalu memberi pernyataan kepada pers bahwa penembakan gelap yang terjadi mungkin timbul akibat perkelahian antar geng bandit.
"Sejauh ini belum pernah ada perintah tembak di tempat bagi penjahat yang ditangkap" komentar Benny. Dan tak ada seorang pun wartawan yang saat itu berani melanjutkan pertanyaan kepada jenderal yang dikenal sangat tegas dan garang itu.
Kepala BAKIN saat itu, Yoga Soegama juga memberikan pernyataan yang bernada enteng bahwa masyarakat tak perlu mempersoalkan para penjahat yang mati secara misterius. Tapi pernyataan yang dilontarkan mantan Wapres H. Adam Malik justru bertolak belakang sehingga membuat kasus penembakan misterius tetap merupakan peristiwa serius dan harus diperhatikan oleh pemerintah RI yang selalu menjunjung tinggi hukum.
"Jangan mentang-mentang penjahat dekil langsung ditembak, bila perlu diadili hari ini langsung besoknya dieksekusi mati. Jadi syarat sebagai negara hukum sudah terpenuhi," kecam Adam Malik sambil menekankan, "Setiap usaha yang bertentangan dengan hukum akan membawa negara ini pada kehancuran."
Tindakan tegas para Penembak Misterius (Petrus) pada akhirnya memang menyulut pro dan kontra. Pendapat yang pro, Petrus pantas diterapkan kepada target yang memang jelas-jelas penjahat. Sebaliknya pendapat yang kontra menyatakan keberatannya jika sasaran Petrus hanya penjahat kelas teri atau mereka yang hanya memiliki tato tapi bukan penjahat benaran.
Bahkan bisa jadi pembunuhan biasa akan meniru ala Petrus dan masyarakat hingga aparat juga akan menganggap pembunuhan yang sebenarnya menjadi di "Petrusinasi", sangat berbahaya, dan pembunuhan-pembunuhan kriminal asli berikutnya justru akan tak terkontrol.
Pendapat atau komentar yang cukup kontroversial adalah yang dikemukakan oleh Menteri Luar Negeri Belanda, Hans van den Broek, yang secara kebetulan sedang berkunjung ke Jakarta pada awal Januari tahun 1984. Setelah bertemu dengan Menlu Mochtar Kusumaatmadja, Broek secara mengejutkan berharap bahwa pembunuhan yang telah memakan korban jiwa sebanyak 3.000 orang itu pada waktu mendatang di akhiri dan Indonesia juga diharapkan dapat melaksanakan konstitusi dengan tertib hukum.
Menlu Mochtar sendiri menjawab bahwa peristiwa pembunuhan misterius itu terjadi akibat meningkatnya angka kejahatan yang mendekati tingkat terorisme sehingga masyarakat merasa tidak aman dan main hakim sendiri.
Atas pernyataan Menlu Belanda itu, Benny yang merasa kebakaran jenggot sekali lagi harus tampil untuk meluruskan tuduhan tadi. Ia kembali menegaskan dengan cara mengelak bahwa pembunuhan yang terjadi karena perkelahian antar geng.
"Ada orang-orang yang mati dengan luka peluru, tetapi itu akibat melawan petugas. Yang berbuat itu bukan pemerintah. Pembunuhan itu bukan kebijaksanaan pemerintah," tegasnya. Namun persoalan penembakan itu akhirnya tidak lagi misterius meskipun para pelakunya hingga saat ini tetap misterius dan tidak terungkap.
Beberapa tahun kemudian Presiden Soeharto justru memberikan uraian tentang latar belakang permasalahannya dimana ia mengatakan tindakan keamanan tersebut memang terpaksa dilakukan sesudah aksi kejahatan yang terjadi di kota-kota besar Indonesia semakin brutal dan makin meluas.

Seperti tertulis dalam bukunya (Benny Moerdani hal 512-513) Pak Harto berujar :
"Dengan sendirinya kita harus mengadakan treatment therapy, tindakan yang tegas. Tindakan tegas bagaimana? Ya harus dengan kekerasan. Tetapi kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan, dor-dor! Begitu saja. Bukan! Tetapi yang melawan, ya mau tidak mau harus ditembak. Karena melawan, maka mereka ditembak. Lalu ada yang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Itu untuk shock therapy, terapi goncangan. Supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya. Tindakan itu dilakukan supaya bisa menumpas semua kejahatan yang sudah melampui batas perikemanusiaan. Maka kemudian redalah kejahatan-kejahatan yang menjijikkan itu"
Namun jika para petinggi militer maupun presiden sendiri menyatakan bahwa penembakan terhadap para preman karena melawan saat hendak ditangkap, bagaimana Moerdani menjelaskan para korban Penembakan Misterius yang ditemukan dalam goni-goni dengan tangan terikat atau yang dihanyutkan di sungai? atas kordinasi siapakah para Penembak Misterius itu menjalankan perintah?

Sumber:
1.    http://sejarah-kelam-indonesia.blogspot.co.id/2015/01/misteri-kaus-penembak-misterius-petrus-1982-1985.html
2.    https://id.wikipedia.org/wiki/Penembakan_misterius

( Opini tanggapan,Analisis,solusi,dll dari setiap anggota kelompok)
1.    Felicia vina anggreani
Menurut pendapat saya,kasus tersebut harus ditelusuri dengan serius,pelaku tindakan tersebut harus dikenai sanksi yang tertimpal. Pembunuhan secara misterius tersebut memiliki dampak yang sangat buruk seperti orang orang  menjadi ketakutan untuk berkeliaran di lingkungan sekitar karena adanya kejadian pembunuhan misterius tersebut,bahkan orang orang bisa sampai terkena gangguan jiwa karena ketakutan.

2.    Helen Sabrina Sitompul
Menurut pendapat saya,penembakan misterius atau yang disebut petrus merupakan sebuah kasus yang terjadi pada orde baru atau era soeharto berkuasa. Kasus ini tergolong sebagai kasus yang melanggar hak asasi manusia,karena mengadili seseorang tanpa melalui proses hukum dengan cara dibunuh. Alangkah baiknya bagi para aparat keamanan untuk menerapkan hukum secara tegas dan sesuai dengan hukum yang berlaku. Dan juga para pelaku harus ditelusuri lebih lanjut karena hal hal yang mereka perbuat sangat berdampak buruk bagi masyarakat.

3.    Keren agustien martina umboh
Menurut saya tragedi petrus sangat misterius dan menimbulkan banyak spekulasi yang terarah ke pemerintahan orde baru. Banyak orang yang di tembak mati dengan cara di tembak dengan sadis,korban para preman itu seperti pesan dari pemerintahan untuk tidak macam macam lagi.

4.    Melisa permata sari
Menurut pendapat saya,seharusnya pelaku penembakan misterius tersebut tersebut dicari dan ditelusuri lebih serius dan lebih detail. Penembak tersebut seharusnya tidak menembak korban tersebut karena pelaku telah merebut hak nya yaitu hak unutk hidup yang terdapat di pasal 28A

5.    Teddy ardyansa s
Menurut saya peristiwa petrus ini benar benar sangat tidak berperikemanusian,mengapa? Sebab pelaku melakukan tindakan yang sudah melanggar ham manusia. Pelaku menghabisi nyawa nyawa manusia yang dapat di perlakukan secara hukum tidak dengan di tembak mati seperti ini. Peristiwa petrus ini telah melanggar pasal 28 I, dimana pelaku telah menghabisi nyawa banyak orang.

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar