Jumat, 11 Agustus 2017

PERISTIWA G30S PKI Disusun oleh Kelompok 3 XI MIPA 1 SMA XAVERIUS 1 PALEMBANG



Disusun oleh
Kelompok 3 XI MIPA 1 SMA XAVERIUS 1 PALEMBANG
Nama Anggota :
Jennifer Belen (17)
Kurniadi (23)
M.Ghazi Al Ghifari
Shellen Natasya (33)
Virginia E.S (39)
(Link video) youtube: https://youtu.be/QQI4sh53UfI
·         Penjelasan mengenai kasus :
            Sebelum terjadinya peristiwa G30S/PKI, Partai Komunis Indonesia (PKI) tercatat sebagai Partai Komunis yang paling besar di dunia tanpa menghitung partai komunis yang ada di Uni Soviet maupun Tiongkok. Ketika dilakukan audit pada tahun 1965, tercatat bahwa anggota aktif dari partai ini melebihi angka 3,5 juta, belum termasuk 3 juta jiwa yang menjadi anggota pergerakan pemuda. Selain itu, PKI juga memiliki kontrol penuh akan pergerakan buruh, menambahkan 3,5 juta orang lagi dibawah pengaruhnya. Hal tersebut belum berhenti, karena masih ada 9 juta anggota dari pergerakan petani, serta beberapa gerakan lain seperti pergerakan wanita, organisasi penulis, dan pergerakan sarjana yang membuat total anggota PKI mencapai angka 20 juta anggota termasuk pendukung-pendukungnya.
            Yang membuat masyarakat mencurigai bahwa PKI adalah dalang dibalik terjadinya gerakan 30 September dimulai dengan kejadian di bulan Juli 1959, dimana pada saat itu parlemen dibubarkan, dan Soekarno menetapkan bahwa konstitusi ada di bawah dekrit presiden, dengan PKI berdiri di belakang, memberikan dukungan penuh. PKI juga menyambut gembira sistem baru yang diperkenalkan oleh Soekarno, yaitu Demokrasi Terpimpin yang menurut PKI mampu menciptakan persekutuan konsepsi NASAKOM (Nasionalis, Agama, dan Komunis). Pada masa demokrasi terpimpin ini sayangnya kolaborasi pemimpin PKI dengan kaum-kaum borju yang ada di Indonesia gagal menekan pergerakan independen dari buruh dan petani, menyebabkan banyak masalah yang tidak terselesaikan di bidang politik dan ekonomi.
            Peristiwa G30S/PKI baru dimulai pada tanggal 1 Oktober pagi, dimana kelompok pasukan bergerak dari Lapangan Udara Halim Perdana kusuma menuju daerah selatan Jakarta untuk menculik 7 jendral yang semuanya merupakan anggota dari staf tentara. Tiga dari seluruh korban yang direncanakan, mereka bunuh di rumah mereka yaitu Ahmad Yani, M.T. Haryono, dan D.I. Panjaitan. Ketiga target lain yaitu Soeprapto, S. Parman, dan Sutoyo ditangkap hidup-hidup, sementara target utama mereka, Jendral Abdul Harris Nasution berhasil kabur setelah melompati dinding yang berbatasan dengan taman di kedutaan besar Iraq. Meski begitu, Pierre Tendean yang menjadi ajudan pribadinya ditangkap, dan anak gadisnya yang berusia lima tahun, Ade Irma Suryani Nasution, tertembak oleh regu sergap dan tewas pada 6 Oktober. Korban tewas bertambah ketika regu penculik menembak dan membunuh seorang polisi yang menjadi penjaga rumah tetangga Nasution, Karel Satsuit Tubun. Korban tewas terakhir adalah Albert Naiborhu, keponakan dari Pandjaitan, yang tewas saat menyerang rumah jendral tersebut. Mayat dan jenderal yang masih hidup kemudian dibawa ke Lubang Buaya, dan semua dibunuh serta mayatnya dibuang di sumur dekat markas tersebut.
            Ketika matahari mulai terbit, sekitar 2.000 pasukan diturunkan untuk menduduki tempat yang sekarang dikenal sebagai Lapangan Merdeka, sebuah taman yang ada di Monas. Meski begitu, mereka tidak berhasil menundukkan bagian timur dari area ini, karena pada saat itu merupakan daerah markas KOSTRAD yang dipimpin oleh Soeharto. Pada jam 7 pagi, RRI menyiarkan pesan yang berasal dari Untung Syamsuri, komandan Cakrabiwa, regimen penjaga Presiden, bahwa gerakan 30 September telah berhasil mengambil alih beberapa lokasi strategis di Jakarta dengan bantuan anggota militer lainnya. Mereka berkeras bahwa gerakan ini didukung oleh Central Intelligence of America (CIA) yang bertujuan untuk menurunkan Soekarno dari posisinya.
            Yang menuliskan tinta kegagalan dalam sejarah peristiwa G30S/PKI kemungkinan besar adalah karena mereka melewatkan Soeharto yang mereka kira diam dan bukan tokoh politik pada masa itu. Soeharto diberitahu oleh tetangganya tentang hilangnya para jendral dan penembakan yang terjadi pada pukul 5:30 pagi, dan karena ini ia segera bergerak ke markas KOSTRAD dan berusaha menghubungi anggota angkatan laut dan polisi, namun tidak berhasil melakukan kontak dengan angkatan udara. Ia kemudian mengambil alih komando angkatan darat. Kudeta ini juga gagal karena perencanaan yang amat tidak matang dan menyebabkan para tentara yang ada di Lapangan Merdeka menjadi kehausan dibawah impresi bahwa mereka melindungi presiden di Istana. Soeharto juga berhasil membujuk kedua batalion pasukan kudeta untuk menyerah dimulai dari pasukan Brawijaya yang masuk ke area markas KOSTRAD dan kemudian pasukan Diponegoro yang kabur kembali ke Halim.
            G30S/PKI baru berakhir ketika pada pukul 7 malam, pasukan yang dipimpin oleh Soeharto berhasil mengambil kembali kontrol atas semua fasilitas yang sebelumnya direbut oleh Gerakan 30 September. Ketika sudah berkumpul bersama Nasution, pada pukul 9 malam Soeharto mengumumkan bahwa ia sekarang mengambil alih tentara dan akan berusaha menghancurkan pasukan kontra-revolusioner dan menyelamatkan Soekarno. Ia kemudian melayangkan ultimatum lagi yang kali ini ditujukan kepada pasukan yang berada di Halim. Tidak berapa lama, Soekarno meninggalkan Halim dan tiba di istana presiden lainnya yang berada di Bogor. Untuk jasad ke-7 orang yang terbunuh dan dibuang di Lubang Buaya sendiri baru ditemukan pada tanggal 3 Oktober, dan dikuburkan secara layak pada tanggal 5 Oktober.
Sumber:
1)https://www.portalsejarah.com/sejarah-peristiwa-g30spki.html
Pendapat penyusun :
1. M.Ghazi Al - Ghifari
            Menurut pendapat saya kasus pelanggaran ham ini merupakan kasus pelanggaran ham yang berat yang tidak sebanding dengan perjuangan para pahlawan yg rela berkorban atau mempertaruhkan nyawa demi merebut kemerdekaan bangsa Indonesia, dan menurut undang undang yang berlaku hal tersebut sangatlah  bertentangan dengan UUD 1945 pasal 28 yang membahas tentang Hak Asasi Manusia. Oleh karena itu, ada baiknya kita sebagai pelajar yang merupakan generasi penerus bangsa seharusnya menuntut ilu dengan bersungguh sungguh agar kelak apabila kita nanti terjun ke dunia masyarakat dapat menegakkan keadilan HAM yang sebagaimana mestinya.
2. Jennifer Belen
            Menurut saya, kejadian G30S-PKI merupakan sebuah pengkhiantan yang besar terhadap 7 jenderal besar Indonesia pada saat itu, mereka tetap rela dibunuh demi mempertahankan ideologi bangsa Indonesia yaitu pancasila yang ingin di ubah oleh sekelompok oknum yang ingin di ubah menjadi ideologi komunis yang bersifat fatal karena sangat tidak sesuai dengan ideologi yang telah dibuat yaitu Pancasila.Kejadian G30S-PKI ini banyak memakan korban yang dilakukan dengan cara penyiksaan dan penganiayaan Peristiwa ini menunjukkan bahwa kejadian tersebut merupakan pelanggaran HAM yang sangat berat karena berhubungan dengan hilangnya nyawa seseorang yang dibunuh,disiksa dan dianiaya pada ristiwa tersebut. Pada pasal 28 A dituliskan bahwa adanya hak untuk hidup yang berarti bahwa setiap orang berhak untuk hidup tetapi pada peristiwa tersebut malah terjadi sebaliknya.
            Peristiwa G30S-PKI dalam penghilangan nyawa orang banyak tersebut, sebelumnya dilakukan penculikan 7 Jendral yang dibunuh lalu dimasukkan ke lubang buaya yang sampai saat ini tidak jelas kepastiannya.Sebaiknya dari peristia tersebut memberikan kita peljaran bahwa kita tidak boleh mengambil hak hiduo orang lain dalam motif apapun karena hal tersebut merupakan pelanggaran yang sangat besar yang dapat melnggar norma-norma dan juga menurut agama itu merupakan suatu kesalahan besar.
3. Virginia E.S
            Gerakan 30 September 1965 adalah realisasi tindakan yang telah mereka rencanakan. Gerakan ini terorganisasi sistematis, melalui struktur organisasi sebagai comite basis.Pelanggaran HAM berat dilakukan dalam beberapa bentuk.
            Penghilangan nyawa, yang didahului penculikan dan penyiksaan tanpa proses hukum.
Ini terjadi pada kasus, antara lain, pembunuhan enam jenderal TNI AD, seorang perwira, dua perwira TNI AD di Yogyakarta, serta penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan  para kiai, pemuka masyarakat, dan warga tak berdosa di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.Pembunuhan dengan sasaran orang-orang berpengaruh di masyarakat.Contoh nyata adalah peristiwa Lubang Buaya Jakarta dan beberapa peristiwa di Jawa Timur. Ini menunjukkan adanya target politik tingkat tinggi dan teror mental yang berdampak psikologis luar biasa di masyarakat. Akibat aksi itu adalah timbulnya keresahan sosial yang meluas. Jelas ini merupakan pelanggaran HAM.Penggerebekan disertai teror.Di antara contohnya adalah pada peristiwa Kanigoro.Penyiksaan sebelum pembunuhan juga terjadi terhadap sejumlah orang di Solo pada 1965.Hal ini juga terjadi di Manisrenggo dan Jatinom, Klaten, pada 1948 dan 1965 dengan sasaran penduduk sipil. Ini tentu saja merupakan kejahatan kemanusiaan dan  melanggar HAM.Penghilangan secara paksa dengan penculikan terhadap lawan politik atau orang yang dianggap lawan politik PKI.Ini terjadi pada peristiwa Lubang Buaya serta penculikan para kiai di Madiun, demikian pula penyekapan dan pembunuhan di Ngawi.
4. Kurniadi
            Menurut saya sendiri peristiwa G30spki benar benar melanggar HAM yg dimiliki setiap manusia seperti halny para jendral yg diculik lalu dipaksa untuk berbuat sesuatu yg menguntungkan bagi pihak lain mereka bahkan sampai dilempar ke lubang buaya untuk diterkam oleh buaya hidup hidup . Kelakuan tersebut sudah melebihi batas bahkan HAM tidak diperhitungkan lagi oleh mereka . Juga seperti para petani yang ingin memperluas lahan mereka dgn mengambil tanah , mereka di provokasikan oleh pihak PKI untuk mengambil lahan yg merupakan hak milik orang lain .Tindakan ini benar benar tidak layak untuk seorang manusia atas perlakuan terhadap sesamanya. Seharusnya kita menyadari bahwa kita itu diciptakan Tuhan YME itu sama tidak ada bedanya satu dgn yang lainnya . Tidak menindas orang dengan menganggap diri kita lebih baik dari orang lain . Mereka telah menindas orang orang secara sadis dan tidak layak .
5.Shellen Natasya
            Menurut saya, peristiwa G30 S/PKI ini termasuk kedalam pelanggran Ham yang berat karena telah melenyapkan bukan hanya satu nyawa melainkan banyak nyawa sekaligus yang menjadi korban. Tindakan mereka ini melanggar  HAM dan juga norma agama, karena telah menghilangkan nyawa orang lain. Adapun tujuan mereka yang lain yaitu juga ingin mengubah  paham indonesia yang sebelumnya adalah ideologi pancasila menjadi paham komunis. Mereka juga mebunuh para korban dengan cara yang sadis seperti di siksa lalu di kurung dan akhirnya ketika mereka telah meninggal mereka di buang ke sumur dengan sebutan lubang buaya.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar