Senin, 14 Agustus 2017

PERISTIWA G30S PKI Disusun Oleh KELOMPOK 3 XI MIPA 7 SMA Xaverius 1 Palembang

Disusun Oleh
KELOMPOK 3  XI MIPA 7 SMA Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota:
1. Bela Yulia Sari (03)
2. Jericho (17)
3. Laurencius Pieteurs (21)
4. Marcellin Suciadi.W (23)
5. Meiwa Berena 


                                                 
Kronologi Peristiwa G30S PKI
Gerakan G30S PKI yang juga dikenal dengan nama Gerakan 30 September atau singkatan lainnya berupa Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) dan Gestok (Gerakan Satu Oktober) merupakan salah satu peristiwa yang terjadi ketika Indonesia sudah beberapa tahun merdeka. Sesuai dengan namanya, peristiwa ini terjadi pada tanggal 30 September 1965 malam, hingga esok harinya ada usaha percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia dimana terjadi pembunuhan terhadap tujuh perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya.
Semaoen merupakan tokoh pendiri dan ketua PKI pertama. Awalnya, ia adalah ketua Sarekat Islam cabang Semarang. Dialah yang bersikeras merubah ISDV menjadi PKI. Ketika itu umurnya 21 tahun. Semaoen yang lahir di Mojokerto, Jawa Timur menghabiskan masa kecilnya di Surabaya. Usia 13 tahun, ia masuk Sarekat Islam (SI) pimpinan Tjokroaminoto. Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan partai komunis yang terbesar di seluruh dunia, di luar Tiongkok dan Uni Soviet. Sampai pada tahun 1965 anggotanya berjumlah sekitar 3,5 juta, ditambah 3 juta dari pergerakan pemudanya. PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang mempunyai 3,5 juta anggota dan pergerakan petani Barisan Tani Indonesia yang mempunyai 9 juta anggota. Termasuk pergerakan wanita (Gerwani), organisasi penulis dan artis dan pergerakan sarjananya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung. PKI mulanya singkatan dari Perserikatan Komunist di India. Organisasi ini mengubah nama menjadi Partai Komunis Indonesia saat Kongres II di Jakarta, Juni 1924. Kongres II PKI dilangsungkan di Gedung Alhambra. G30S PKI merupakan gerakan yang tujuan utamanya untuk menurunkan (mengkudeta) presiden RI pertama, Soekarno agar dapat menguasai Indonesia dan mengubah Indonesia menjadi negara komunis. Sebelum mulainya gerakan G30S PKI, awal mula kecurigaan masyarakatnya terjadi pada bulan Juli 1959 ketika parlemen dibubarkan dan Sukarno menetapkan konstitusi di bawah dekrit presiden dengan PKI berdiri di belakang, memberikan dukungan penuh. Soekarno memperkuat tangan angkatan bersenjata dengan mengangkat para jendral militer ke posisi-posisi yang penting. Sukarno menjalankan sistem 'Demokrasi Terpimpin'. Hal ini disambut baik oleh PKI. PKI menganggap bahwa dia mempunyai mandat untuk persekutuan Konsepsi yaitu antara Nasionalis, Agama dan Komunis yang dinamakan NASAKOM. Namun, sangat disayangkan, pada masa demokrasi terpimpin ini sayangnya kolaborasi pemimpin PKI dengan kaum-kaum borju yang ada di Indonesia gagal menekan pergerakan independen dari buruh dan petani. Hal ini membuat banyak masalah yang tidak terselesaikan di bidang politik dan ekonomi. Kekacauan ini memicu adanya gerakan G30S PKI.
Peristiwa G30S/PKI dimulai pada tanggal 1 Oktober dini hari, dimana kelompok pasukan bergerak dari Lapangan Udara Halim Perdana kusuma menuju daerah selatan Jakarta untuk menculik 7 jendral yang semuanya merupakan anggota dari staf tentara. Ketujuh target merupakan jenderal TNI. Ketujuhnya yakni Ahmad Yani, M.T. Haryono, D.I. Panjaitan, Soeprapto, S. Parman, Sutoyo, dan target utamanya adalah Jendral Abdul Harris Nasution. Tiga dari target ketujuh jenderal dibunuh di rumah mereka yaitu jenderal Ahmad Yani, M.T. Haryono, dan D.I. Panjaitan. Namun, nahas bagi Pierre Tendean yang menjadi ajudan pribadi jenderal A.H Nasution, dan anak perempuannya yang berusia lima tahun, Ade Irma Suryani Nasution. Mereka tertembak oleh regu sergap dan tewas pada 6 Oktober. Mayat seluruh yang ditembak oleh regu penculik dan para jenderal yang masih hidup kemudian dibawa ke Lubang Buaya, mereka semua dibunuh serta mayatnya dibuang di sumur dekat markas tersebut.
Pada jam 7 pagi, RRI menyiarkan pesan yang berasal dari Untung Syamsuri, komandan Cakrabiwa, regimen penjaga Presiden, bahwa gerakan 30 September telah berhasil mengambil alih beberapa lokasi strategis di Jakarta dengan bantuan anggota militer lainnya. Para PKI ini bersikeras bahwa gerakan ini didukung oleh Central Intelligence of America (CIA) yang bertujuan untuk menurunkan Soekarno dari posisinya. Namun, perhitungan PKI dalam peristiwa G30S/PKI ini salah. Mereka melewatkan Soeharto yang mereka fikir tak memiliki kekuatana karena bukan tokoh politik pada masa itu. Akhirnya, pasukan Brawijaya masuk kembali ke area markas KOSTRAD serta kemudian menyusul pasukan Diponegoro yang kembali ke Halim. Pemberontakan G30S/PKI baru berakhir sekitar pukul 7 malam. Pasukan yang dipimpin oleh Soeharto berhasil mengambil alih kontrol atas semua fasilitas yang sebelumnya sempat direbut oleh Gerakan 30 September. Sekitar pukul 9 malam, Soeharto bertemu dengan jenderal Abdul Harris Nasution dan ia mengumumkan bahwa mulai sejak itu mengambil alih tentara yang akan menghancurkan pasukan kontra-revolusioner dan menyelamatkan Soekarno. Jasad para jenderal yang terbunuh dalam peristiwa G30S PKI yang dibuang di Lubang Buaya ditemukan pada tanggal 3 Oktober, dan baru dikuburkan secara layak pada tanggal 5 Oktober.
Inilah daftar jenderal yang menjadi korban aksi kekejaman dan kebutralan dalam aksi G 30 S PKI :
1. Letnan Jendral Anumerta Ahmad Yani (Meninggal Dunia di rumahnya, Jakarta Pusat. Rumahnya sekarang menjadi Museum Sasmita Loka Ahmad Yani)
2. Mayor Jendral Mas Tirtodarmo Haryono
3. Mayor Jendral Raden Soeprapto
4. Brigadir Jendral Donald Isaac Panjaitan
5. Mayor Jendral Siswondo Parman
6. Brigadir Polisi Ketua Karel Satsuit Tubun (Meninggal dunia di rumahnya)
7. Brigadir Jendral Sutoyo Siswodiharjo
8. Kolonel Katamso Darmokusumo (Korban G30S/PKI di Yogyakarta)
9. Letnan Kolonel Sugiyono Mangunwiyoto (Korban G30S/PKI di Yogyakarta)
10. Ade Irma Suryani Nasution (Putri Abdul Haris Nasution, meninggal di kejadian ini)
11. Kapten Lettu Pierre Andreas Tendean (Meninggal di kediaman Jendral Abdul Haris Nasution)
Sumber:

Pendapat Penyusun :
1. Bela Yulia Sari
            Menurut pendapat saya peristiwa G30S PKI adalah sebuah peristiwa bersejarah yang sangat tertanam di dalam pikiran rakyat Indonesia. Banyak pembantaian atau pembunuhan yang tidak manusiawi terhadap para jenderal,masyarakat,dan lain-lain dalam peristiwa tersebut. Para jenderal tersebut meninggal demi mempertahankan dan  membela ideologi Pancasila. Mereka bertarung dengan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab dan ingin merubah ideologi Pancasila demi kepentingan mereka sendiri. Kelompok tersebut menculik dan membunuh orang-orang yang tidak ingin bergabung dengan kelompoknya sehingga mereka memilih cara licik untuk melaksanakan tujuannya. Dari semua hal itu pelanggaran HAM yang terjadi yaitu menghilangkan nyawa seseorang dengan cara sengaja dan tidak manusiawi , seperti terdapat dalam pasal 28 I yaitu , Ayat (1) : hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani.
Ayat (2) : setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atau dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.
Ayat (3) : identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban.
Ayat (4) : perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah.
Ayat (5) : untuk menegakkan dan melindungi hak asai manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan.
mereka membatasi hak hidup seseorang yang dimana manusia sendiri memiliki hak untuk hidup yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa sejak dari lahir. Maka dari kasus ini diharapkan tidak akan ada lagi peristiwa seperti ini,dimana hak hidup seseorang tidak dihargai dan tidak dianggap penting. Kita sebagai pelajar hal yang dapat dilakukan adalah senantiasa berbuat baik kepada semua orang tanpa mengharapkan balasan apapun. Bertemanlah dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan. Belajarlah untuk menjadi orang yang jujur dan selalu berada pada jalan kebenaran.
2. Meiwa Berena
Menurut saya G30S PKI masih menjadi misteri sampai sekarang ini. Adanya oknum / organisasi yang pada masa itu melanggar HAM manusia. Sampai sekarang blm diketahui siapa dalang dari peristiwa mengerikan ini. Dimana jenderal-jenderal dibunuh secara tidak wajar. Adanya masalah politik yang mengakibatkan sebagian oknum ingin juga menguasai negara membuat persaingan semakin sengit. Tapi saya rasa, pada kala itu HAM memang belum dijunjung tinggi oleh sebagian orang hanya demi kepentingan mereka sendiri. Mereka akan melakukan apapun yang dapat menyebabkan posisi atau rencana mereka terbongkar. Dan juga pemerintahan masih tidak stabil pada masa itu, rakyat pun semakin tersiksa dengan adanya tekanan dari pemerintah. Sehingga, rakyat mulai memberontak ingin kebebasan. Tapi sekarang negara kita bukanlah negara yang dulu. Demokrasi dijunjung tinggi dan HAM sangat diutamakan demi kesejahteraan rakyat.
3. Jericho
Menurut saya G30S PKI itu sangat kejam dan sangat mencemarkan ideologis indonesia karena melakukan tindakan yang dapat merugikan negara dan dapat membuat negara menjadi hancur atau rusak. G30S PKI melakukan tindakan pembunuhan terhadap jenderal jenderal yang ada di indonesia. Mereka sangat anarki karena mereka menyiksa orang yang tidak berdosa dan membunuhnya. Mereka pun berhasil dikalahkan oleh para anggota kepolisian dan kesatu satuan TNI. 
4. Laurencius P.
            Menurut saya G30S PKI itu adalah perisiwa yang sangat keji. Pembunuhan dilakukan dimanapun tanpa memperhatikan dampak baik dan buruknya. Mereka oknum yang melakukan semuanya demi kepentingan mereka sendiri. Mereka mengambil hak-hak semua orang itu dan menindas mereka dengan semena-mena. Mereka telah banyak melakukan pelanggaran HAM. Serta semua itu adalah hal yang tidak dapat dimaafkan dan seharusnya dalang dibalik semua kejadian ini harus ditemukan.
5. Marcellin Suciadi Wijaya
            Menurut analisa saya , G30S/PKI merupakan peristiwa pengkhianatan terhadap bangsa Indonesia terbesar yang pernah terjadi. Peristiwa ini telah menewaskan banyak  korban terutama tokoh-tokoh pejuang Indonesia. Dalam hal ini , pelaku peristiwa G30S telah melewati batas dan melanggar HAM , mereka menculik dan membunuh para tokoh dan masyarakat secara keji . Seperti bunyi pasal 28A "Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya." 
 Tetapi peristiwa G30S/PKI ini melakukan pelanggaran terhadap HAM yang pasalnya lebih mengarah ke pasal 28I yang berbunyi
Ayat (1) : hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani.
Ayat (2) : setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atau dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.
Ayat (3) : identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban.
Ayat (4) : perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah.
Ayat (5) : untuk menegakkan dan melindungi hak asai manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan.
 Namun bukan hanya melanggar HAM saja , G30S/PKI ini juga berusaha merubah ideologi negara Indonesia yaitu Pancasila menjadi ideologi Komunis, maka dari itu mereka berusaha membunuh orang-orang yang tidak mau mendukung mereka secara kejam. Tetapi ada alasan lain juga yang melatarbelakangi terjadinya G30S/PKI ini. Dari kejadian hingga sekarang masih belum diketahui siapa "dalang" sebenarnya dari peristiwa G30S/PKI, menurut saya PKI juga merupakan dalang namun mereka hanya digunakan sebagai alat oleh oknum yang sebenarnya menyebabkan peristiwa G30S/PKI. Pesan yang saya dapatkan dari kasus ini adalah dalam kehidupan ini kita harus senantiasa membiasakan diri untuk berperilaku adil, sabar , dan bijak dalam mengambil keputusan serta menaati dasar hukum yang tertera, bukan malah main hukum sendiri. Saya juga berharap oknum sebenarnya dari peristiwa G30S/PKI ini segera terkuak.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar