Jumat, 18 Agustus 2017

PEMBUNUHAN ENGELINE Disusun Oleh Kelompok 6 XI MIPA 8 SMA XAVERIUS 1 Palembang

Disusun Oleh
Kelompok 6 XI MIPA 8 SMA Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota:
Dona Flora A.                        (09)
Illovine Hadassa E.                (16)
K. M. Rezi Mirza T.              (20)
Monica Gabriella A. F.         (26)
Steena Cassandra S.             (36)


Link Video:Youtube: https://youtu.be/AzvwXUlsHQE

PembunuhanEngeline Megawe merupakanperistiwa kekerasan terhadap anakperempuan berusia delapan tahun yang terjadi di Kota Denpasar, Bali pada tanggal 16 Mei2015. Peristiwa ini menjadi populer dalam berbagai mediadi Indonesia diawali dengan pengumuman kehilangan anak tersebut (semula disebutAngeline) dari keluarga angkatnya melalui sebuah laman di facebook berjudul "Find Angeline-Bali's Missing Child"
    Latar Belakang
Engeline lahir pada tanggal 19 Mei2007 di sebuah klinik di daerah Canggu sebagai puteri dari seorang ibu bernama Hamidah dan ayah bernama Achmad Rosyidi. Ia adalah puteri kedua dari tiga bersaudara.
Ketika melahirkan Engeline, Hamidah tidak sanggup melunasi biaya persalinannya ke klinik. Saat sedang mengalami kesulitan demikian, seseorang mempertemukan dan memperkenalkannya dengan Margriet Christina Megawe yang menawarkan bantuan untuk melunasi biaya tersebut sekaligus bermaksud untuk mengadopsi bayinya. Waktu itu, Margriet datang ditemani suaminya yang bernama Douglas Scarborough. Untuk keperluan tersebut, Margriet mengeluarkan biaya sebesar Rp 1,8 juta, dengan rincian biaya persalinan Rp 800 ribu dan biaya perawatan Hamidah Rp 1 juta. Maka tiga hari setelah lahir, Engeline langsung dibawa oleh Margriet dan tidak pernah bertemu lagi dengan kedua orangtuanya. Saat itu, anak tersebut belum diberi nama oleh Hamidah. Nama "Engeline" diberikan oleh Margriet, mengikuti nama depan ibunya (nenek angkat Engeline), Engelina Sumilat. Dalam proses adopsi ini, Douglas ternyata tidak ikut campur. Sehingga pihak yang tercantum dalam surat perjanjian pengadopsian tersebut hanya Margriet saja.
Engeline diterima di keluarga angkatnya dan diperlakukan sebagaimana anak kandung Margriet lainnya. Namun kemudian Douglas meninggal dunia pada tanggal 17 September2008. Margriet tampak terpukul dengan kematian suami keduanya tersebut.
Dalam pengasuhan Margriet sebagai orangtua tunggal, pada tahun-tahun terakhirnya diduga Engeline mengalami banyak kekerasan baik secara fisik maupun mental.Diketahui bahwa ibu angkatnya tersebut menjadi seorang yang temperamental. Dari foto-foto yang ada dan kesaksian dari guru di sekolahnyatampak bahwa pada tahun terakhir kehidupannya ia mengalami penurunan berat badan. Engeline juga tinggal di rumah yang tidak layak huni, karena dikelilingi oleh kandang ayam dan berbau tidak sedap walaupun mereka adalah keluarga yang secara ekonomi berkecukupan.
Setiap hari Engeline diberi tugas untuk mencuci baju, mengepel lantai, membersihkan rumah, serta memberi makan binatang-binatang peliharaan ibu angkatnya berupa ayam, anjing, dan kucing.

B.     Kronologi Hilangnya Engeline
Kasus yang menimpa Engeline pertama kali mengemuka dengan beredarnya kabar tentang hilangnya anak tersebut. Kabar tersebut tersebar luas antara lain akibat dibuatnya sebuah laman di jejaring sosial facebook berjudul "Find Angeline-Bali's Missing Child". Laman tersebut dibuat oleh salah satu kakak angkat Engeline yang sedang kuliah di Amerika Serikat, yaitu Christine, pada tanggal 16 Mei 2015 sekitar pukul 17.00 WITA. Sementara Yvonne membuat selebaran mengenai hilangnya Engeline.
Keesokan harinya berbagai media massa turut memberitakan kehilangan tersebut. Berdasarkan informasi dari Yvonne, dikabarkan bahwa adiknya hilang saat mereka bermain di depan rumah sekitar pukul 15.00 WITA. Setelah tidak juga ditemukan sampai pukul 18.00, maka kemudian Yvonne melaporkannya ke polisi. Tim pencari anak hilang dari kepolisian lantas mencarinya dari Denpasar sampai ke Banyuwangi, tampat lahir orang tua kandungnya. Berbagai upaya dilakukan oleh polisi, seperti mengamati CCTV di sekitar lokasi, menganalisis telepon seluler orang tua kandung dan orang tua angkatnya, serta menggunakan anjing pelacak. Namun anjing tersebut tidak menemukan jejak Engeline dan hanya berputar-putar di sekitar rumah saja. Keluarga Engeline yang berasal dari luar Bali pun berdatangan ke kediaman Engeline untuk membantu mencari anak tersebut.
Kasus kehilangan anak ini juga menarik perhatian Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sehingga ketuanya, Arist Merdeka Sirait, beserta dua anggota timnya datang ke Bali untuk melakukan dialog dengan Polresta Denpasar dan Polda Bali. Mereka juga kemudian berkunjung dan menemui Margriet di rumahnya. Saat itu, Margriet memperkenankan mereka untuk melihat kamar dan ruangan dalam rumah. Dari hasil kunjungan itu, Arist berkesimpulan bahwa selama ini Engeline tinggal di rumah yang kondisinya sangat buruk dan tidak layak huni dengan halaman dipenuhi kandang ayam berjumlah sekitar seratus ayam sehingga akan membuat anak tidak bisa berkembang dengan baik.KPAI juga menyatakan maksudnya akan mengambil alih sementara hak asuh Margriet atas Engeline, sehingga membuat Margriet menangis histeris. Dia mengaku tidak terima, bahkan mengancam akan membunuh siapa pun yang akan mengambil anaknya itu karena dia menyayangi Engeline dan Engeline pun menyayanginya.
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi, dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise. Namun Margriet menolak menemui keduanya dan kedua menteri itu tidak diperbolehkan memasuki rumahnya.
Hilangnya Engeline juga dibantu penanganannya oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar, yang merupakan perpanjangan tangan Pemerintah Kota Denpasar yang menangani perempuan dan anak. Mereka sudah memiliki kekhawatiran bahwa hilangnya Angeline bukan karena diculik atau melarikan diri, tapi justru dibunuh. Hal ini dinyatakan oleh pendamping hukum P2TP2A, Siti Sapurah tanpa mencurigai siapa pun termasuk ibu angkatnya.Hal tersebut didasari minimnya indikasi yang mereka temukan bahwa Engeline hilang di sekitar rumah atau diambil seseorang. Sehingga mereka menduga bahwa Engeline dihilangkan, dikubur atau dibunuh. Apalagi saat polisi melakukan pemeriksaan Margriet tidak koperatif dan ada ruang di rumah Margriet yang tidak boleh dimasuki orang lain kecuali orang terdekatnya dia. Ditambah lagi karena mantan pembantu Margriet, yaitu Agus Tay Hamba May, pernah mengatakan bahwa satu hari sebelum dilaporkan hilang, hidung Engeline berdarah karena dipukul ibunya.
Pencarian Engeline terhenti setelah ia ditemukan dalam keadaan tewas terkubur di halaman belakang rumahnya pada hari Rabu, 10 Juni 2015. Jasadnya dalam kondisi membusuk di bawah pohon pisang, ditutup sampah, terkubur bersama bonekanya. Otopsi segera dilakukan di Instalasi Forensik di RSUP Sanglah pimpinan dr Ida Bagus Putu Alit, DMF, SpF. Dari hasil otopsi, Engeline diketahui meninggal sejak tiga minggu sebelumnya. Di tubuh jenazah ditemukan luka-luka kekerasan berupa memar pada wajah, leher, serta anggota gerak atas dan bawah. Di punggung kanan jenazah ditemukan luka sundutan rokok. Selain itu, ditemukan juga luka lilitan dari tali plastik sebanyak empat lilitan. Sebab kematiannya dipastikan karena kekerasan benda tumpul pada wajah dan kepala yang mengakibatkan pendarahan pada otak.Jasad Engeline kemudian dimakamkan di Dusun Wadung Pal, Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi yang merupakan kampung halaman dari ibu kandungnya.
    Penanganan Kasus
Setelah ditemukannya jasad Engeline pada tanggal 10 Juni 2015, Kepolisian Resor Kota Denpasar segera mengadakan pemeriksaan terhadap tujuh orang, yaitu Margriet (ibu angkat), Yvonne dan Christina (kakak angkat), Agus Tay (pembantu), dua penghuni indekos (suami istri Rahmat Handono dan Susiani), dan petugas keamanan (satpam, Dewa Ketut Raka), yang disewa khusus oleh Margriet untuk menjaga rumah itu setelah ramainya pemberitaan terkait Angeline. Dari hasil pemeriksaan awal tersebut, polisi menetapkan Agus Tay Hamba May sebagai tersangka pembunuh Engelineyang mengakui telah membunuh dan memperkosa Engeline pada tanggal 16 Mei 2015 sekitar pukul 13.00 WITA, tepat pada hari hilangnya anak tersebut, dan kemudian menguburkan jasadnya di belakang rumah majikannya itu pada pukul 20.00 WITA.
Sidang perdana kasus pembuhunan Engeline digelar pada tanggal 22 Oktober2015, pada sidang tersebut jaksa menyebutkan jika Margriet menyuruh Agus Tay untuk menguburkan jasad Engeline dengan iming-iming uang, Margriet pula yang menyuruh Agus untuk menyalakan rokok dan menyundutkannya ke tubuh Engeline, dan hal tersebut sesuai dengan hasil visum RSUP Sanglah Denpasar.Dalam persidangan tersebut jaksa mengungkapkan bahwa tanggaal 16 Mei 2015, Margriet memukuli Engeline berkali kali pada bagian wajah dengan tangan kosong hingga hidung dan telinga Engeline mengeluarkan darah. Pembunuhan Engeline kemudian direncanakan dengan maksud untuk menghilangkan jejak. Sementara dalam persidangan tersebut Margriet menolak tuduhan jaksa yang menyatakan bahwa dirinya yang telah membunuh Engeline, margriet menyatakan bahwa dirinya menyayangi Engeline sebagaimana layaknya anaknya.
Kuat dugaan pembunuhan Angeline dilakukan atas persekongkolan jahat antara pelaku dan pihak terlibat. Beberapa kalangan telah menyebut ada motif ingin menguasai harta warisan. Konon, Angeline telah mendapat warisan dari ayah angkatnya sebelum meninggal, yang jumlahnya miliaran rupiah. Juru Bicara sekaligus Pendamping Hukum P2TP2A, Siti Sapurah mengatakan bahwa motif pembunuhan Angeline itu jelas karena harta warisan. Berdasarkan akta warisan menyebutkan bahwa Angeline akan mendapatkan warisan sekitar 40 persen. Namun karena Angeline meninggal, maka warisan buat Angeline akan jatuh pada ibu asuhnya, Margriet. Sedangkan Margriet sendiri mendapat jatah 20 persen.Indikasi itu makin terungkap dengan munculnya pengakuan dari pembunuh Angeline. Dalam keterangannya, Agus mengaku dijanjikan akan mendapat upah Rp 2 miliar untuk membunuh Angeline. Keterangan Agus ini menunjukkan kasus pembunuhan Angeline sudah terencana.
Majelis Hakim Pengadilan Negeri Denpasar, Bali memvonis terdakwa Margriet Megawe dengan hukuman seumur hidup. Margriet dinyatakan bersalah melakukan pembunuhan Angeline, bocah berusia delapan tahun.  "Terdakwa terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan berencana, exploitasi anak secara ekonomi, memperlakukan anak secara diskriminatif," kata Ketua Mejelis Hakim Edward Harris Sinaga, di Denpasar seperti dilaporkan Antara.
Dalam sidang tersebut, Hakim menjerat terdakwa dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, Pasal 76 I jo Pasal 88 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak atas perubahan perubahan UU Nomor 23 tahun 2002.
Kemudian, Pasal76 B jo Pasal 77 B Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014, Pasal 76 A huruf a joPasal 77 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak.Vonis hakim yang diberikan kepada terdakwa tersebut, sama dengan tuntutan yangdiajukan tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang sebelumnya. Hal yangmemberatkan hukuman terdakwa karena, perbuatan terdakwa sadis pada anak yangmengakibatkan anak mati.

Sumber:                                                               
    https://id.wikipedia.org/wiki/Pembunuhan_Engeline
    https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160229142054-12-114271/terdakwa-kasus-angeline-margriet-dihukum-seumur-hidup/
    http://www.sinarharapan.co/news/read/150615104/motif-harta-di-balik-pembunuhan-angeline
    https://www.merdeka.com/peristiwa/cerita-lengkap-pembunuhan-angeline-diduga-bermotif-harta-warisan-splitnews-5.html



Tanggapan:
    Dona Flora A.                   
Saya sangat perihatin dan merasa kecewa akan adanya kasus pelanggaran ini karena anak-anak yang seharusnya menjadi penerus bangsa dan yang seharusnya diberi perhatian juga kasih sayang malah disiksa dan dianiaya hanya demi uang warisan. Padahal sudah jelas hukum tersebut dibuat di UUD 1945 pasal 28I ayat (1)  yang terdapat kalimat "Hak untuk tidak disiksa" tetapi masih saja terjadi dimasyarakat.
    Illovine  Hadassa  E.                     
Seperti yang kita ketahui bahwa setiap warga negara Indonesia, berapapun usianya atau apapun kondisinya memiliki hak yang sama dalam HAM sebagaimana tertera dalam UUD 1945 pasal 28, 28A-J. Saya turut prihatin akan persoalan yang meinmpa bocah perempuan berusia 8 tahun tersebut, disaat dirinya masih membutuhkan kasih sayang penuh dari kedua orangtuanya, ia malah kehilangan kasih sayang tersebut dan sebaliknya ia mendapatkan  perilaku yang tidak pantas. Menurut saya, kasus tersebut sudah pasti termasuk kedalam pelanggaran HAM, dimana dari kasus tersebut, pelaku telah melakukan tindakan penyiksaan dan pembunuhan terhadap korban yang jelas melanggar HAM yang tertera dalam UUD 1945 pasal 28, antara lain; hak untuk hidup (28A), hak kelangsungan hidup, perlingdungan dari kekerasan dan diskriminasi (28B ayat 2), serta hak untuk hidup sejahtera lahir dan batin (28 H ayat 1). Kasus pembunuhan Engeline ini menunjukkan bahwa HAM masih belum dapat ditegakkan secara penuh di negara kita. Untuk mengatasi masalah ini, sebaiknya pemerintah dapat lebih tegas dalam pemberian sanksi bagi para pelanggar HAM. Dan sudah tugas kita sebagai generasi muda untuk lebih menghargai dan memperjuangkan tegaknya HAM di Indonesia.
    K. M. Rezi Mirza T.          
Sebagai murid saya merasa prihatin terhadap kasus ini,saya rasa kasus ini tidak perlu terjadi, karena seharusnya orang tua itu harus menyayangi dan mengasihi anak bukan malah membunuh dan menyiksa anaknya sendiri. Itu merupakan tindakan yang tidak manusiawi, karena anak merupakan pemberian terbaik Tuhan untuk orang tua. orang tua mesti menjaga dan menyayangi pemberian Tuhan tersebut.
    Monica Gabriella A. F.      
Saya merasa perihatin dengan kasus ini, seharusnya orang tua menyayangi anak sekalipun anak angkatnya karena anak merupakan anugrah dari Tuhan yang seharusnya disayangi dan dijaga, bukan disiksa dan dianiaya  demi uang warisan yang banyak.
    Steena Cassandra S.                      
    Menurut pendapat saya kasus pelanggaran HAM mengenai pembunuhan Engeline ini merupakan kasus pelanggaran HAM yang berat karena pada kasus ini terjadinya pembunuhan /adanya perenggutan nyawa sesorang. Kasus ini tidak hanya melanggar HAM pasal 28A yaitu hak untuk hidup. Tetapi juga melanggar HAM pasal 28 H yaitu hak untuk hidup sejahtera lahir dan batin dan mendapatkan lingkungan yang hidup yang sehat, karena seperti yang kita tahu bahwa Engeline bertempat tinggal ditempat kondisinya buruk atau tidak layak huni karena dikelilingi oleh kandang ayam sehingga Engeline mengalami pasti mengalami kesulitan dalam berkembang dengan kondisi yang tidak baik itu.namun bukan hanya itu saja, Engeline juga diperbudak oleh ibunya dimana, ia disuruh menyuci baju, memberi makan hewan dan lain-lain sehingga kasus ini juga melanggar HAM pasal 28 I yaitu hak untuk tidak diperbudak. Kemudian Engeline juga mengalami penyiksaan yang dilakukan oleh Margariet dan Agus Tay dimana bisa kita lihat dari hasil otopsinya bahwa Engeline mengalami banyak luka memar-memar ditubuhnya dan adanya sudutan rokok di punggungnya sehingga kasus ini juga melanggar HAM pasal 28 G yaitu, hak untuk bebas dari penyiksaan. Setelah itu, pada kasus ini Engeline diangkat belum sah secara hukum maka dari itu untuk menghindari terulangnya kasus ini, pemerintah seharusnya lebih tegas lagi dalam menegakkan hukum. Dan kita juga semestinya lebih peduli terhadap sesama, maka jika melihat terjadinya kekerasan / pelanggaran bisa dicegah atau dilaporkan agar tidak berkepanjangan.






Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar