Senin, 07 Agustus 2017

Pembullyan Siswi SD di Thamrin City Disusun Oleh Kelompok 8 Kelas XI MIPA 1 SMA Xaverius 1 Palembang

Pembullyan Siswi SD di Thamrin City

Disusun Oleh:
Kelompok 8 Kelas XI MIPA 1 SMA Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota:
1.     Alexandra Vanesa Limber
2.     Jansen Halim
3.     Misael Christian
4.     Richard Rivaldo
5.     Yohannes Devijn


Video informasi dapat diakses dari:
https://www.youtube.com/watch?v=OCw__vHAw3A


            Kasus Bullying sudah menjamur di perinstitusian pendidikan di berbagai belahan dunia. Akhir-akhir ini, Bullying makin marak dan mulai mendarah daging di dalam perilaku pelajar.
            Baru-baru ini terdengar berita yang masih hangat dalam kasus Bullying. Kasus ini menjadi sorotan pengguna media sosial dan media massa yang tentunya prihatin terhadap dengan keadaan pendidikan Indonesia yang mulai tidak stabil.
            Adalah kasus 'Pembullyan Siswi SMP di Thamrin City' yang kali ini telah membuat pendidikan Indonesia gempar. Berikut ini ulasan mengenai insiden ini.
            Korban dari insiden ini adalah SW (12), siswi kelas VI SDN Kebon Kacang 003, Tanah Abang. Meneliti jauh ke latar belakang korban, SW dikenal sebagai siswi yang ceria dan mudah bergaul.
"Kalau kesehariannya dia biasa saja, wajar seperti anak yang lain tidak kelihatan berbeda. Kategori siswa yang ceria, ya itu memang dia kalau dilihat ceria, bisa bergaul dengan yang lain, tidak pendiam, satu kelas temannya dia, berbaur semua. Jadi nggak memilih-memilih dan tidak bergerombol," ujar Wali Kelas SW, Alex.
Dikabarkan bahwa HR (13), pelaku pembullyan ini merupakan teman satu sekolah SW dulu, tetapi sekarang tidak lagi. Lalu bagaimana kasus pembullyan antarteman ini bisa terjadi?
Rupanya, SW dan HR mempunyai sebuah grup, yang dinamakan dengan BOS atau panjangnya 'Brather of Santay'. HR juga dikatakan telah mempunyai geng sejak dari SD.
"Dia hanya teman main dan teman sekolah saja, dan juga teman Facebook, kebanyakan tetanggaan aja dan satu grup di BOS (Brother of Santay)," kata Kanit Reskrim Polsek Metro Tanah Abang, Kompol Mustakim, Selasa (18/7/2017).

Adapun perselisihan disebut bermula dari komunikasi antara korban dengan pelaku berinisial F. Pada Selasa (11/7/2017), keduanya sempat akan berduel di salah satu sekolah namun batal.
Tidak berhenti di sana, HR merasa kesal atas komentar yang dilontarkan oleh SW di halaman Facebook-nya.
"Dia mengatai saya cengeng, lalu, saya jawab kita buktikan siapa yang cengeng," kata dia, Senin (17/7/2017).
Beberapa hari kemudian, tepatnya pada hari Jumat (14/7/2017) kejadian perundungan itu mulai dilaksanakan oleh HR dan kawan-kawannya. Salah satu pelaku menantang korban untuk datang ke lantai 3 pusat perbelanjaan Thamrin City.
"Korban cekcok mulut sama salah satu terduga pelaku yang cewek. Besoknya, korban dihadang di dekat sekolah dan disuruh datang ke Thamrin City," ujar Mustakim saat dihubungi, Senin (17/7/2017).
Sesampai di pusat perbelanjaan yang berada di wilayah Jakarta Pusat itu, sejumlah orang sudah menunggu korban. Seorang diri, korban dianiaya sejumlah orang.
"Setelah pulang sekolah itu dihadang sama teman-temannya, ayo ke Thamrin City. Dibanting, ditendang ditonjok, dan diinjak," kata Mustakim.
Setelah itu terjadilah perundungan di lantai 3A Thamrin City, tepatnya di sudut blok G. Berbeda dengan lantai dasar yang dibanjiri pembeli, pada waktu itu lantai 3 masih sangat sepi dan tidak banyak dikunjungi sehingga tempat ini cocok untuk lokasi pembullyan.
Setelah dikerumuni oleh kawanan HR, rambut SW mulai dijambaki oleh HR sampai ia terduduk di lantai dan kesakitan. Tidak berhenti di sana, rambut SW ditarik lagi oleh beberapa siswa yang merupakan teman dari HR. Para pelaku yang lain hanya menyaksikan dan mengabadikan kejadian tersebut dalam bentuk foto dan video.
Kemudian, SW yang menggunakan seragam putih dipaksa untuk mencium tangan kedua pelaku perundungan tersebut. SW diolok-olok dan mulai tampak senyum kemenangan pada muka HR ketika ia dan temannya bergantian mengambil pose dengan SW mencium tangan mereka berdua. Semakin parah lagi, SW dipaksa oleh kawanan tersebut untuk berlutut dan mencium kaki HR.
Sesudah dari insiden tersebut, SW didampingi keluarga korban melaporkan kejadian ini kepada Mapolsek Metro Tanah Abang. SW pun kemudian langsung dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk divisum.
Selain menganiaya, pelaku juga menyebarluaskan video tersebut ke media sosial. Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Metro Tanah Abang, Komisaris Polisi Mustakim, mengatakan para pelaku merasa bangga telah melakukan perbuatan tidak terpuji tersebut.
"Pelaku yang menganiaya itu merekam dan memasukkan ke medsos. Dia bangga. Masalah cuma cekcok mulut, kata-kataan namanya anak-anak sekolah," ujar Mustakim, Senin (17/7/2017).


Mustakim menyebut sembilan terduga pelaku bullying itu adalah AS (SMPN 273), HR (SMP Muhammadiyah 6), RA (SD Muhamadiyah 56), RZ (SDN Kebon Melati 03), RN (SDN Kebon Melati 02), SA (SDN Kebon Kacang 01), AA (SDN Kebon Kacang 03), SN (SDN Kebon Kacang 01), dan F (SDN Kebon Kacang 01).
Orang tua siswi SDN 03 Kebon Kacang, Tanah Abang, yang menjadi korban perundungan (bullying), mencabut laporannya di Polsek Tanah Abang. Keputusan itu dilakukan keluarga korban setelah melakukan pertemuan dengan kepala sekolah dan pelaku bullying atas undangan Suku Dinas Pendidikan Wilayah I Jakarta Pusat.
"Orang tua korban dari SW peserta didik SDN 03 Kebon Kacang menyatakan akan mencabut laporannya di Tanah Abang," ujar Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah I Jakarta Pusat, Sujadiyono.

Sumber:



            Opini, Tanggapan, Solusi, dan Hal-hal lain terkait kasus pelanggaran HAM di atas:
1)      Alexandra Vanesa Limber
Menurut saya, pembullyan seorang siswi di Thamrin itu sangatlah tidak patut, tindakan yang dilakukan para pelajar itu sangat melanggar HAM serta tidak berperikemanusiaan. Seharusnya mereka tidak pantas melakukan itu ke teman mereka apalagi usia mereka yang masih seumuran anak SMP malah sudah melakukan pembullyan/diskriminasi , tidak terbayangkan apa yang akan terjadi dengan negara kita apabila generasi muda jaman sekarang ini saja sudah bertindak seperti itu.
Para pelajar itu harus mendapatkan hukuman yang pantas atas apa yang telah mereka perbuat , mereka harus meminta maaf kepada siswi yg sudah mereka bully itu dan harus menerima hukumannya. Dan bagi kita para pelajar generasi muda ini, kita harus dapat mengambil pelajaran dari peristiwa ini, hargailah teman teman di sekitarmu dan maafkanlah mereka jika terbukti melakukan kesalahan meskipun itu sangat menyakiti hati kita semua, bicaralah baik-baik dengannya dan tidak memakai cara kekerasan atau diskriminasi adalah cara yang tepat untuk menyelesaikannya.
2)      Jansen Halim
Menurut Saya pembullyan tersebut tidak seharusnya terjadi karena sudah jelas kejadian tersebut melanggar HAM, kejadian tersebut juga menggambarkan bahwa anak muda zaman sekarang sudah banyak yang terpengaruh kejahatan,kejadian tersebut juga sangat tercela karena perbuatan yang dilakukan sangatlah merendahkan dan membuat mental anak yang dibully tersebut menjadi turun. Orang tua adalah faktor utama seorang anak,seorang anak akan meniru apa yang orang tua lakukan,oleh karena itu para orang tua harus mengajarkan hal-hal dan kebiasaan yang baik pada anak-anaknya agar kejadian ini dapat berkurang.
3)      Misael Christian
Pendidikan saat ini seharusnya menitikberatkan pada pendidikan moral dan akhlak sehingga tindakan pembullyan, pelecehan, dan tawuran serta kejahatan lainnya tidak terjadi. Pendidikan itu bermula dari keluarga dan berlanjut di sekolah.
4)      Richard Rivaldo
Pembullyan adalah suatu tindakan kejahatan yang dilakukan secara fisik dan juga mental. Bullying adalah salah satu contoh pelanggaran HAM yang sering dilakukan. Perilaku bullying ini jelas tidak senonoh karena akibatnya sangat berdampak pada berbagai aspek kehidupan korban bully.
Menurut pendapat saya, bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa lainnya terlalu menganggap remeh kasus ini hanya dengan sebelah mata saja. Mengapa demikian? Kasus  ini sudah mulai menjaring di berbagai sekolah tanpa terkecuali namun masih belum terdengar sama sekali kebijakan-kebijakan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, yang tepat dan dilaksanakan secara ketat dalam rangka melindungi Hak Asasi Manusia yang terbully.

Tidak sampai di situ saja, attitude dan etika yang terdapat pada  para pemuda, khususnya Indonesia yang dikenal dengan negara yang ramah, sudah mulai pudar dan rusak. Contoh konkretnya saja bisa dilihat dari kasus di atas. Siswa-siswi hanya diam menyaksikan seorang siswi yang usianya lebih mudah ditindas, bahkan ada yang menertawai dan mendokumentasikannya.
Menelisik dari sudut pandang hukum, kejadian perundungan ini termasuk ke dalam pelanggaran hukum yang cukup berat. Pelaku pembullyan bisa dikenakan banyak sanksi, misalnya kekerasan, pelanggaran hukum perlindungan anak, pelanggaran uundang-undang HAM, dan lain-lain.
Dari segi HAM, tentunya banyak hak-hak yang hilang dari korban perundungan ini. Hak-hak tersebut, contohnya hak untuk hidup bebas, hak untuk mendapat keamanan dan perlindungan hukum, hak untuk mendapatkan kesejajaran di hadapan hukum (bagi korban yang tidak diadili secara benar), hak untuk dihormati dan dihargai, dan hak untuk mendapatkan perlindungan dari diskriminasi serta sebagainya.
Dari sudut pandang Pancasila, bullying telah mencederai sila ke-2 'Kemanusiaan yang adil dan beradab'. Perilaku ini tidak manusiawi dan tidak beradab karena merendahkan martabat dan harga diri manusia hanya demi kepuasan individu semata.
Demi mencegah kasus ini terulang lagi, pemerintah dan aparat penegak hukum harus memperketat kebijakan yang ada. Komnas HAM juga harus membantu dalam upaya penegakkan HAM di Indonesia. Selain itu, dari dalam diri pemuda sendiri harus ada kesadaran tentang hak orang lain. Semboyan 'Bhinneka Tunggal Ika' dan Pancasila bisa membangun karakter baik dalam diri pemuda Indonesia. Melalui artikel ini kami mengajak anda untuk membantu dalam upaya penegakkan HAM, khususnya bagi pemuda Indonesia karena pemuda adalah masa depan negara. Dengan demikian, jika HAM ditegakkan maka kehidupan berbangsa dan bernegara akan menjadi lebih tertib.
5)      Yohannes Devijn
Menurut saya pembullyan itu sangat tidak patut dan melanggar HAM, karena bukan hanya mentalnya yang terganggu tetapi dia juga mendapat kekerasan fisik. Hal tersebut sangat tidak patut dilakukan apalagi oleh pelajar yang masih SMP. Dan jika kita membully seseorang selain merasa terganggu orang tersebut dapat berpotensi untuk melakukan pembullyan terhadap orang lain. Beberapa orang mungkin saat menjadi korban pembullyan akan langsung melaporkan kepada orang tua/guru, tetapi tidak sedikit juga yang hanya diam karena takut dan diancam oleh kawan yang membullynya. Hal ini akan berdampak pada mental korban dan jika sangat terpuruk dapatmelakukan hal-hal di luar dugaan termasuk bunuh diri. Jadi jika kita sedang dibully, berbicaralah kepada orang tua atau guru agar dapat segera diatasi dan menghindari hal yang tidak diinginkan.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar