Rabu, 30 Agustus 2017

Pembantaian Rawagede Disusun Oleh: Kelompok 3 XI IPS 1 SMA Xaverius 1 Palembang

Disusun Oleh:
Kelompok 3 XI IPS 1 SMA Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota:
1.Hendra Salim (16)
2.Middellia C.A.D. (28)
3.Nadyn Stevany S (30)
4.Shelina Saputri (33)
5.Wendarta Darmawan (37)



Pembantaian Rawagede adalah peristiwa pembantaian penduduk Kampung Rawagede (sekarang terletak di Desa Balongsari, Rawamerta, Karawang), di antara Karawang dan Bekasi, oleh tentara Belanda pada tanggal 9 Desember 1947 sewaktu melancarkan agresi militer pertama. Sejumlah 431 penduduk menjadi korban pembantaian ini.Ketika tentara Belanda menyerbu Bekasi, ribuan rakyat mengungsi ke arah Karawang. Pertempuran kemudian berkobar di daerah antara Karawang dan Bekasi, mengakibatkan jatuhnya ratusan korban jiwa dari kalangan sipil. Pada tanggal 4 Oktober 1948, tentara Belanda melancarkan pembersihan. Dalam peristiwa ini 35 orang penduduk Rawagede dibunuh tanpa alasan jelas. Peristiwa dikira menjadi inspirasi dari sajak terkenal Chairil Anwar berjudul Antara Karawang dan Bekasi, namun ternyata dugaan tersebut tidak terbukti.Pada 14 September 2011, Pengadilan Den Haag menyatakan pemerintah Belanda harus bertanggung jawab dan membayar kompensasi bagi korban dan keluarganya.
Di Jawa Barat, sebelum Perjanjian Renville ditandatangani, tentara Belanda dari Divisi 1 yang juga dikenal sebagai Divisi 7 Desember melancarkan pembersihan unit pasukan TNI dan laskar-laskar Indonesia yang masih mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Pasukan Belanda yang ikut ambil bagian dalam operasi di daerah Karawang adalah Detasemen 3-9 RI, pasukan para (1e para compagnie) dan 12 Genie veld compagnie, yaitu brigade cadangan dari pasukan para dan DST (Depot Speciaale Troepen).
Pemimpin tentara Belanda kemudian memerintahkan untuk menembak mati semua penduduk laki-laki, termasuk para remaja belasan tahun. Beberapa orang berhasil melarikan diri ke hutan, walaupun terluka kena tembakan. Saih, kini berusia 83 tahun menuturkan bahwa dia bersama ayah dan para tetangganya sekitar 20 orang jumlahnya disuruh berdiri berjejer. Ketika tentara Belanda memberondong dengan senapan mesin –istilah penduduk setempat: "didrèdèt"- ayahnya yang berdiri di sampingnya tewas kena tembakan, dia juga jatuh kena tembak di tangan, namun dia pura-pura mati. Ketika ada kesempatan, dia segera melarikan diri.Hari itu tentara Belanda membantai 431 penduduk Rawagede. Pasca proklamasi para pejuang republik makin bersemangat melakukan perlawanan terhadap Belanda.Di wilayah Jawa Barat,ada Kapten Lukas Kustarjo yang dikenal sangat berani melakukan penyergapan terhadap pos dan patroli tentara belanda.Karena keberaniannya Kapten Lukas dijuluki "Begundal Karawang" tentara Belanda berusaha menangkapnya hidup atau mati.9 Desember 1947,pasukan Belanda pimpinan Mayor Alphons Jean Henri Wijnen menyerbu desa Rawagede,larena desa ini menjadi salah satu basis gerilya Kapten Lukas Kustarjo.Dalam penyerbuan itu Belanda tidak menemukan buruannya.Mereka memaksa warga memberitahukan persembunyian Kapten Lukas.Karena warga tutup mulut Belanda membalas dengan tembakan.Seperti di Sulawesi Selatan, tentara Belanda di Rawagede juga melakukan eksekusi di tempat (standrechtelijke excecuties), sebuah tindakan yang jelas merupakan kejahatan perang. Diperkirakan korban pembantaian lebih dari 431 jiwa, karena banyak yang hanyut dibawa sungai yang banjir karena hujan deras.


Opini dan Tanggapan,Analisi,Solusi dari Setiap Anggota:

1.Hendra:Pembantaian Rawagede adalah pembantaian yang dilakukan oleh tentara Belanda pada tanggal 9 Desember 1947 sewaktu melancarkan agresi militer pertama.Sesungguhnya ini tidak manusiawi dikarnakan pembunuhan besar-besaran yang menewaskan 431 jiwa,pembersihan yang dilakukan Belanda ini untuk menguasai daerah itu,hendaknya di ungkit kembali dalam kancah Internasional sebagai tindak perdata agar Belanda mendapat balasan yang setimpal.

2.Middellia:Menurut saya,peristiwa pembantaian Rawagede ini ialah tindakan yang sadis,tidak bermoral&tidak berperikemanusiaan serta melanggar HAM.Sebaiknya sesame manusia tidak boleh membunuh manusia lainnya,karena setiap manusia memiliki hak untuk hidup.Apalagi apa yang kita lihat,peristiwa ini telah mengakibatkan/menghasilkan banyak korban jiwa yang alas an kematiannya karena bungkam mulut untuk tidak memberitahukan keberadaan Lukas Kustarjo.Sebenarnya rakyat itu terlibat sebagai pejuang.Jadi,mereka yang mati karena pembantaian ini tidak boleh dianggap sekedar mati konyol.Hal ini justru menunjukan rakyat disekitar situ ialah patriot sebenarnya.

3.Nadyn:Peristiwa ini sangat melanggar HAM karena orang yang tidak salah dibunuh secara keji oleh tentara Belanda.Tentara Belanda bertindak semaunya tanpa memikirkan hak para warga sipil yang mereka bunuh itu.Pemerintah Belanda harus bertanggung jawab atas kejadian yang telah terjadi dan mengganti semua kerusakan yang terjadi.

4.Shelina:Rawagede harusnya menjadi peringatan bagi rakyat Indonesia bahwa kemerdekaan yang susah payah diraih sampai harus mengorbankan begitu banyak rakyat di Indonesia,hendaknya jangan digunakan untuk memerdekakan para koruptor dan orang-orang yang sengaja merugikan Negara dan bangsa Indonesia hendaknya mereka perlu ditindak tegas. 

5.Wendarta:Menurut pendapat saya,peristiwa pembantaian Rawagede ini merupakan salah satu pelanggaran HAM yang sangat berat karena bukan hanya 1 atau 2 orang saja yang terbunuh melainkan 431 jiwa yang terbunuh dalam kasus pembantaian di Rawagede ini.Selain banyak yang terbunuh,peristiwa ini terjadi hanya karena masyarakat Rawagede tidak mau memberitahu dimana lokasi dari Kapten Lukas Kustarjo,dan hal ini menurut saya terlalu kejam hanya untuk masalah itu.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar