Selasa, 15 Agustus 2017

PEMBANTAIAN RAWAGEDE Disusun oleh Kelompok 4 XI MIPA 7 SMA XAVERIUS 1 PALEMBANG

Disusun oleh
Kelompok 4    XI MIPA 7  SMA XAVERIUS 1 PALEMBANG
Nama Anggota:

1.      Javen Jonathan (16)
2.      Nicolas Maria Andre Gozali (28)
3.      Oliviea (29)
4.      Sherina Jakfar (33)
5.      Vitalia (36)


 



Pembantaian Rawagede adalah peristiwa pembantaian penduduk Kampung rawagede oleh tentara Belanda sewaktu melancarkan agresi militer pertama. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 9 Desember 1947 di Karawang dan bekasi. Tercatat sejumlah 431 penduduk menjadi korban pembantaian ini.

Satu hari sebelum kejadian, tepatnya hari senin tanggal 8 Desember 1947 sekitar pukul 07.00, Kapten Lukas tiba di Rawagede sebelum ia menyerang pos besar Cililitan, tapi gerakan Kapten Lukas Kustaryo terbaca oleh NICA Belanda karena ada laporan dari NEFIS (intelijen Belanda) bahwa Kapten Lukas berada di sebuah desa bernama Rawagede, sebuah desa tak jauh dari stasiun kereta api Karawang.

Kapten Lukas Kustaryo merupakan seorang tentara pemberani dan cekatan. Perwira yang satu ini sering membuat repot serdadu Belanda di sekitar Bekasi, Karawang, dan Cikampek. Wajar jika namanya menjadi kesohor dan selalu menjadi incaran tentara Belanda di daerah Karawang. Sore hari sebelum pembantian, Lukas dan pasukannya sudah bergerak ke arah Desa Sukatani (masih di sekitar Karawang) dan baru mengetahui peristiwa pembantaian satu hari setelahnya. Selain faktor Lukas, Rawagede memang sudah lama jadi incaran Belanda. Sebab, wilayah ini memang banyak berkeliaran berbagai laskar, bukan hanya pejuang Indonesia namun juga gerombolan pengacau dan perampok.

Akhirnya pada pagi hari 9 Desember 1947, Mayor Alphons Wijnen beserta pasukannya datang mengepung dan menggeledah semua rumah di Rawagede. Namun mereka tidak menemukan satupun senjata ataupun tentara Republik. Akhirnya tentara Belanda memaksa seluruh penduduk keluar dari rumah masing-masing dan berkumpul di suatu tempat lapang. Bagi penduduk yang ketahuan mencoba melarikan diri, tidak peduli laki-laki ataupun perempuan, langsung ditembak.

Mereka yang berhasil dikumpulkan ditanya satu per satu mengenai keberadaan Kapten Lukas Kustaryo dan pasukannya. Tetapi tidak satu pun penduduk yang mau memberitahu keberadaan Lukas dan pasukannya, mereka setia pada negaranya, mereka setia pada bangsanya dan lebih jauh lagi mereka setia pada mimpi tentang Indonesia Raya.

Mayor Alphons sangat berang mendapati situasi itu. Ia memerintahkan menembak mati mereka semua. 'Sebagai pelajaran bungkam' karena tidak mau memberi informasi tentang Kapten Lukas Kustaryo, Bandit Van Karawang. Satu persatu mereka ditembaki, para perempuan menangis keras-keras anaknya mati, suaminya mati. Seorang anak kecil berusaha lari tapi ditembak mati juga. Hari itu tanah Rawagede berwarna merah darah, sungai di Rawagede dibanjiri darah merah yang menghitam dan tangis air mata anak-anak yang kehilangan bapaknya. Satu per satu rebah ke tanah, gugur sebagai bunga bangsa. Pembantaian itu berlangsung hingga sore hari dengan memakan korban lebih dari 400 penduduk Rawagede.

Pada tahun 2006, Komite Nasional Pembela Martabat Bangsa Indonesia (KNPMBI) bersama para janda, dan saksi korban pembantaian di Rawagede menuntut permintaan maaf dan kompensasi dari Pemerintah Belanda. Kemudian pada 14 September 2011, Pengadilan Den Haag menyatakan Pemerintah Belanda bersalah, dan harus bertanggung jawab. Pemerintah Belanda diperintahkan membayar kompensasi bagi korban dan keluarganya sebesar 20 ribu euro atau sekitar Rp240 juta.



Sumber :





Opini:

1.      Javen Jonathan

Kejadian di desa rawagede merupakan kejadian yang paling keji di karenakan orang orang di desa rawagede tersebut di siksa dan di bunuh oleh tentara belanda yang pada saat itu tentara belanda mencari seseorang yang bernama lukas kustaryo yang berhasil membuat belanda repot sehingga belanda ingin menangkap lukas sukaryo dalam keadaan hidup atau mati dan belanda juga masih memliki dendam dengan orang indonesia karena indonesia berhasil merdeka dan belanda pun terusir dari indonesia dan kejadian tersebut melanggar pasal 28I karena di dalam pasal tersebut mengandung  makna untuk setiap manusia punya hak untuk tidak di siksa, hak untuk hidup, hak untuk merdeka, hak untuk tidak di perbudak, hak untuk tidak di tuntut atas dasar hukum yang berlaku.



2.      Nicolas Maria Andre Gozali

Saya sangat tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh tentara Belanda kepada rakyat Rawagede. Peristiwa pembunuhan dalam jumlah yang banyak ini telah melanggar hak asasi manusia terutama hak manusia untuk hidup. Tentara Belanda dengan mudahnya menembak mati mereka semua tanpa memikirkan martabat dan hak yang mereka miliki. Pada saat itu Indonesia baru saja merdeka, seharusnya Indonesia tidak dapat dijajah oleh Belanda. Belanda seharusnya menghargai rakyat Indonesia yang baru saja merdeka bukannya malah melakukan pembantaian di wilayah Indonesia. Peristiwa ini sudah sangat jelas melanggar hak asasi manusia yaitu dalam pasal 28I mengenai hak untuk hidup dan hak untuk tidak disiksa. 431 hak manusia tidak dihargai oleh mereka. Rakyat Rawagede disiksa dan ditembak mati semena-mena tanpa memikirkan kehidupan mereka kedepannya yang berharga. Hidup dan mati hanya di tangan Tuhan, mereka tidak berhak untuk mencabut nyawa masyarakat Rawagede. Kemudian, Pembantaian ini juga melanggar hak-hak asasi manusia yang tercantum dalam Undang-Undang yaitu Hak atas perlindungan diri pribadi, kehormatan dan martabat (pasal 28G ayat 1), hak untuk bebas dari penyiksaan (pasal 28G ayat 2), dan hak untuk tidak disiksa (pasal 28I ayat 2). Indonesia juga menjadi kehilangan rakyat-rakyat yang dapat menjadi ideologi baru dan penerus bangsa. Sudah sangat jelas bahwa peristiwa ini sangat-sangat merugikan negara kita. Tindakan yang sangat tercela ini seharusnya diberikan sanksi yang keras atau dibuatnya perjanjian antara Indonesia dan Belanda bahwa tidak akan ada lagi tindakan kekerasan dan kejahatan perang yang terjadi di kedua negara.



3.      Oliviea

Tindakan yang dilakukan Tentara-Tentara Belanda sungguh tidak manusiawi , kompensasi yang mereka berikan pun tidak sebanding dengan nyawa para korban. Tentara Belanda yang mencari pejuang kemerdekaan Lukas Kustario  mengeksekusi warga lelaki di desa itu karena menolak memberi informasi keberadaan Kapten Kustario. Pembataian Rawagede yang dilakukan Belanda merupakan tindakan kriminal yang telah menghilangkan nyawa banyak orang.

Pembantaian Rawagede ini merupakan salah satu contoh pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), setiap orang mempunyai hak untuk hidup, Seseorang tidak berhak untuk  mengakhiri hidup orang lain. Hak Asasi Manusia ( HAM ) merupakan Hak yang dimiliki manusia sejak lahir dan bersifat mutlak.



4.      Sherina Jakfar

Pembantaian Rawagede adalah peristiwa pembantaian penduduk Kampung Rawagede di antara karawang dan bekasi oleh tentara belanda pada tanggal 9 desember 1947. Kira-kira sekitar 431 penduduk menjadi korban kejadian ini.

Menurut saya, peristiwa tersebut termasuk pelanggaran HAM karena mereka membunuh penduduk sipil. HAM tersebut adalah sesuatu yang kita dapatkan sejak kita lahir di dunia ini serta bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Mereka semua dibunuh dengan cara tidak manusiawi. Ada yang ditekan ke dalam air sampai tenggelam; kepala mereka dihantam dengan popor senjata dll. Hal tersebut telah melanggar Hak asasi manusia yang tercantum dalam pasal 28I ayat 1: hak untuk htidup, hak untuk tidak disiksa ;28I ayat 2: bebas dan mendapatkan perlindungan dari perlakuan diskriminatif;28G ayat 1: hak untuk bebas dari penyiksaan.


Banyak laki laki yang ditembak mati dan anak-anak serta perempuan juga ditembak mati. Padahal Belanda merupakan negara yang demokratis. Namun, pengadilan Den Haag pada 14 September 2012 menyatakan pemerintah Belanda bersalah dan harus bertanggung jawab.



5.      Vitalia

Menurut pendapat saya, Pembantaian yang terjadi di desa Rawagede merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat karena menyangkut banyak nyawa manusia. Pembantaian ini mengorbankan beratus-ratus nyawa manusia hanya dalam waktu satu hari. Hanya untuk mengetahui keberadaan seseorang, apakah layak untuk membunuh beratus-ratus nyawa manusia. Menurut saya hal ini sangat berlebihan dan tidak menghargai hak yang dimiliki oleh setiap manusia. Tetapi untunglah Belanda masih menyadari kesalahannya, mau meminta maaf, membayar kompensasi dan membangun gedung-gedung berguna bagi masyarakat Rawagede seperti puskesmas, pasar, koperasi dan sekolah.


Pembantaian Rawagede ini melanggar banyak hak yang dimiliki oleh setiap manusia. Berikut beberapa contohnya:

1. Hak untuk hidup (dalam pasal 28A). Dengan membunuh banyak masyarakat Rawagede, maka Tentara Belanda telah menghilangkan/merenggut banyak nyawa manusia. Tentara Belanda tidak menghargai dan telah menghilangkan hak masyarakat Rawagede untuk hidup.

2. Hak atas perlindungan diri pribadi, kehormatan, martabat (dalam pasal 28G ayat 1). Tentara Belanda tidak menghormati martabat masyarakat rawagede, seolah-olah mereka bermartabat lebih tinggi dan boleh seenaknya membunuh masyarakat Rawagede. Padahal pandangan mereka tersebut ialah salah besar. Masyarakat Rawagede masih memiliki haknya untuk hidup, serta kehormatan martabat mereka.

3. Hak untuk bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif (dalam pasal 28I ayat 2). Masyarakat Rawagede tidak sepatutnya mendapat pelakuan yang bersifat diskriminatif. Mereka tidak dapat dipaksa secara sepihak dan dibunuh seolah-olah mereka bukan manusia.

4. Hak untuk tidak disiksa (dalam pasal 28I ayat 1). Masyarakat Rawagede seharusnya tidak disiksa oleh tentara Belanda karena mereka memiliki hak untuk tidak disiksa. Maka dari itu, tentara Belanda melanggar hak manusia untuk tidak disiksa.
Sebaiknya pembantaian ini dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi kita semua bahwa apa yang dilakukan oleh para tentara belanda ini adalah hal yang salah besar dan tidak patut untuk diulang kembali. Peristiwa ini dapat dijadikan sebagai peristiwa sejarah paling memilukan dan ada baiknya untuk dikenang oleh masyarakat sekarang.


Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar