Rabu, 30 Agustus 2017

PEMBANTAIAN BANYU WANGI TAHUN 1998 Disusun oleh: Kelompok 4 XI IPS 1 SMA XAVERIUS 1 Palembang

Disusun oleh:
Kelompok 4 XI IPS 1 SMA XAVERIUS 1 Palembang
1. Abraham H T Sianipar(1)
2. Christina Natalia(7)
3. Maria Magdalena Charista E(25)
4. Natasya Angelia Andeskar(31)
5. Veren Fiani Anjelika(36)



Pembantaian Banyuwangi 1998 adalah peristiwa pembantaian terhadap orang yang diduga melakukan praktik ilmu hitam (santet atau tenung) yang terjadi di Banyuwangi ,Jawa Timur pada kurun waktu Februari hingga September 1998. Namun hingga saat ini motif pasti dari peristiwa ini masih belum jelas.
Adapun yang terlibat dari pejabat. Soal keterlibatan sejumlah pejabat setempat dalam pembunuhan berantai tersebut. Yang disebut-sebut dalam laporan Tim Investigasi NU itu antara lain tiga pejabat Banyuwangi: Bupati T. Purnomo Sidik, Komandan Komando Distrik Militer Letnan Kolonel Subiraharjo. dan Kepala Kepolisian Resor Letnan Kolonel Edy Moerdiono.
Salah satu bukti kuat yang ditemukan adalah kopi radiogram Pak Bupati yang ditujukan kepada para kepala desa, lewat camat-camat di wilayahnya, tertanggal 10 Februari 1998, bernomor 300/70/439.0131/ 1998. Instruksinya: mendata orang-orang yang diduga berpraktik sebagai dukun santet.
Tapi, menurut pengakuan Bupati Purnomo Sidik, radiogram itu dikeluarkannya 16 September 1998, saat ramai-ramainya pembantaian "dukun santet". Tujuannya, kata Sidik, menyelamatkan para dukun santet itu dari amukan massa. Hasilnya, 118 orang tercatat dalam daftar dukun santet. Nah, dari jumlah itu, yang jadi korban amukan massa hanya delapan orang, itu pun karena tak mengindahkan anjuran aparat keamanan.
Tapi, bagi Tim Investigasi NU, daftar-yang entah mengapa jatuh ke tangan khala yak umum–itu justru merupakan pemicu gelombang pembantaian. Sebab, ada yang menafsirkan catatan itu sebagai "daftar target" pembunuhan. Yang jelas, "Setelah (data dan foto) itu beredar di masyarakat, korban baru bertambah banyak," kata sumber D&R di NU Cabang Banyuwangi. Kebetulan atau tidak, hampir 70 persen korban pernbunuhan cocok dengan nama-nama yang ada di daftar tadi.
Adapun juga keterlibatan warga dengan cara menyewa algojo atau yang bisa di sebut dengan ninja, tetapi si algojo harus meminta suara untuk melakukan pembunuhan dengan suara 50 warga terhadap korban dan alagojo langsung membunuh korban. Tapi, sejak Juli, dalam setiap aksi pembantaian muncul kelompok provakator yang tak dikenali warga setempat. Belakangan, Tim Investigasi NU berhasil mengidentifikasi para provokator itu, yang dimotori gerombolan preman dan bromocorah. Salah seorang yang pernah dituding Choirul Anam adalah Agus Indriawan, preman yang sehari-harinya berprofesi sebagai calo pengujian kendaraan bermotor di Kantor Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Banyuwangi.
Konon, Agus inilah yang bertugas merekrut para algojo–yang berasal tidak hanya dari Banyuwangi, tapi juga Surabaya dan sekitarnya. Kepada anak buahnya, Agus selalu menegaskan agar tak usah khawatir soal sepak-terjang mereka karena dijamin oleh seorang beking yang berdinas di Kesatuan Intelijen Pengamanan Politik Kepolisian Resor Banyuwangi.
Laporan Tim Investigasi NU menyebutkan rekrutmen komplotan Agus dilakukan secara terencana dan rahasia. Di Banyuwangi, misalnya, order pembunuhan diberikan seorang pengendara motor dalam sebuah amplop tertutup. Di dalam amplop sudah tertulis nama dan alamat lengkap calon korban, lengkap dengan uang senilai Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Di Jember, untuk memudahkan para algojo itu melaksanakan tugasnya, komplotan itu memberikan rambu khusus di sekitar rumah calon korban. Bila ada tanda panah merah, sang korban harus dibunuh.


(Opini tanggapan,analisis,solusi, dll dari setiap anggota kelompok)
1.Abraham H T Sianipar
Menurut saya kasus ini sangat tidak manusiawi, walaupun seorang dukun santet itu melakukan pratek kejahatan tapi mereka tetap manusia dam mereka tidak bisa dihukum dengan cara dibantai secara brutal dan pembantaian ini pasti membuat rasa takut kepada dukun santet yang lain karena merasa jadi target selanjutnya, dan seharusnya jika seorang dukun santet di perkirakan melakukan praktik kegelapan seharusnya di berikan kepada pihak yang berwajib dan tidak main hakim sendiri secara tidak langsung si pelaku telah melanggar pasal 28 I dimana tercantum hak untuk hidup
2.Christina Natalia
Fenomena sosial tsb sangat tidak patut untung diteladani, sebab hal ini tidak mencerminkan nilai" sosial pada pancasila.
Seperti halnya membacok, mengkeroyok, membakar, dll, itu semua sangatlah kejam. Bagaimana bila itu terjadi pada orang terdekatmu? Pasti kalian akan merasa sangat terpukul begitu pula dengan mereka yang menjadi korban kasus pembantaian banyuwangi.
Ditambah lagi dengan cara mereka menghukum orang yang memang bersalah, meskipun dukun santet itu salah tetapi masyarakat pula tidak boleh bermain hakim sendiri.
3.Natasya Angelia Andeskar
Menurrut saya kasus itu membuat warga resah tapi seharusnya warga sekitar itu tidak main hakim sendiri dan juga lebih baik diserahkan pada pihak berwajib agar dapat di tindak lanjuti lagi, diharapkan agar kejadian ini tidak terulang lagi
4.Veren Fiani Anjelika
Menurut saya, kasus pembantaian dukun santet di banyuwangi merupakan kasus yang cukup aneh  karena target pembunuhannya hanyalah dukun santet dan pembunuhnya belum jelas diketahui identitasnya. Walaupun sudah terdapat tersangka, tetapi tersangka tersebut belum tentu pelaku karena sekedar dugaan saja dan tidak ada bukti yang kuat untuk menuduh agus sebagai pelaku yang sesungguhnya.
5.M.M.Charista E
Menurut saya kasus ini tidak masuk akal karena hanya dukun santet yang menjadi targetnya. Hukuman yang diberikan kepada dukun santet tersebut pun tidak manusiawi karena dilakukannya pembacokan bahkan dibakar.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar