Kamis, 17 Agustus 2017

KASUS TRISAKTI 1998 Disusun Oleh Kelompok 4 XI MIPA 3 SMA Xaverius 1 Palembang

Disusun Oleh
Kelompok 4 XI MIPA 3 SMA  Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota:
1. Bunga Anyelir(05)
2. Christine Giovanni H.(07)
3. M. Solaahuddin T.(20)
4. Nigel Arnoldi(27)
5. Veren Patricia(36)


Tragedi Trisakti adalah peristiwa penembakan, pada tanggal 12 Mei 1998, terhadap mahasiswa pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Kejadian ini menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta,Indonesia serta puluhan lainnya luka.
Mereka yang tewas adalah Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977 -1998), Hafidin Royan (1976 - 1998), dan Hendriawan Sie (1975 - 1998). Mereka tewas tertembak di dalam kampus, terkena peluru tajam di tempat-tempat vital seperti kepala, tenggorokan, dan dada.
10.30 -10.45
Aksi damai civitas akademika Universitas Trisakti yang bertempat di pelataran parkir depan gedung M (Gedung Syarif Thayeb) dimulai dengan pengumpulan segenap civitas Trisakti yang terdiri dari mahasiswa, dosen, pejabat fakultas dan universitas serta karyawan. Berjumlah sekitar 6000 orang di depan mimbar.
10.45-11.00
Aksi mimbar bebas dimulai dengan diawali acara penurunan bendera setengah tiang yang diiringi lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan bersama oleh peserta mimbar bebas, kemudian dilanjutkan mengheningkan cipta sejenak sebagai tanda keprihatinan terhadap kondisi bangsa dan rakyat Indonesia sekarang ini.
11.00-12.25
Aksi orasi serta mimbar bebas dilaksanakan dengan para pembicara baik dari dosen, karyawan maupun mahasiswa. Aksi/acara tersebut terus berjalan dengan baik dan lancar.
12.25-12.30
Massa mulai memanas yang dipicu oleh kehadiran beberapa anggota aparat keamanan tepat di atas lokasi mimbar bebas (jalan layang) dan menuntut untuk turun (long march) ke jalan dengan tujuan menyampaikan aspirasinya ke anggota MPR/DPR. Kemudian massa menuju ke pintu gerbang arah Jl. Jend. S. Parman.


12.30-12.40
Satgas mulai siaga penuh (berkonsentrasi dan melapis barisan depan pintu gerbang) dan mengatur massa untuk tertib dan berbaris serta memberikan himbauan untuk tetap tertib pada saat turun ke jalan.
12.40-12.50
Pintu gerbang dibuka dan massa mulai berjalan keluar secara perlahan menuju Gedung MPR/DPR melewati kampusUntar.
12.50-13.00
Long march mahasiswa terhadang tepat di depan pintu masuk kantor Wali Kota Jakarta Barat oleh barikade aparat dari kepolisian dengan tameng dan pentungan yang terdiri dua lapis barisan.
13.00-13.20
Barisan satgas terdepan menahan massa, sementara beberapa wakil mahasiswa (Senat Mahasiswa Universitas Trisakti) melakukan negoisasi dengan pimpinan komando aparat
13.20-13.30
long march tidak diperbolehkan, Mahasiswa kecewa karena mereka merasa aksinya tersebut merupakan aksi damai. Massa terus mendesak untuk maju. Di lain pihak pada saat yang hampir bersamaan datang tambahan aparat Pengendalian Massa (Dal-Mas) sejumlah 4 truk.
13.30-14.00
Massa duduk. Lalu dilakukan aksi mimbar bebas spontan di jalan. Aksi damai mahasiswa berlangsung di depan bekas kantor Wali Kota Jakbar.
14.00-16.45
Negoisasi terus dilanjutkan dengan komandan (Dandim dan Kapolres) dengan pula dicari terobosan untuk menghubungi MPR/DPR. Sementara mimbar terus berjalan dengan diselingi pula teriakan yel-yel maupun nyanyian-nyanyian.
16.45-16.55
Wakil mahasiswa mengumumkan hasil negoisasi di mana hasil kesepakatan adalah baik aparat dan mahasiswa sama-sama mundur. Awalnya massa menolak tetapi setelah dibujuk oleh Bapak Dekan FE dan Dekan FH Usakti, Adi Andojo SH, serta ketua SMUT massa mau bergerak mundur.
16.55-17.00
Diadakan pembicaraan dengan aparat yang mengusulkan mahasiswa agar kembali ke dalam kampus. Mahasiswa bergerak masuk kampus dengan tenang.
Mahasiswa bergerak mundur secara perlahan demikian pula aparat. Namun tiba-tiba seorang oknum yang bernamaMashud yang mengaku sebagai alumni (sebenarnya tidak tamat) berteriak dengan mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor ke arah massa. Hal ini memancing massa untuk bergerak karena oknum tersebut dikira salah seorang anggota aparat yang menyamar.
17.00-17.05
Oknum tersebut dikejar massa dan lari menuju barisan aparat sehingga massa mengejar ke barisan aparat tersebut. Hal ini menimbulkan ketegangan antara aparat dan massa mahasiswa. Pada saat petugas satgas, ketua SMUT serta Kepala kamtibpus Trisakti menahan massa dan meminta massa untuk mundur dan massa dapat dikendalikan untuk tenang. Kemudian Kepala Kamtibpus mengadakan negoisasi kembali dengan Dandim serta Kapolres agar masing-masing baik massa mahasiswa maupun aparat untuk sama-sama mundur.
17.05-18.30
Ketika massa bergerak untuk mundur kembali ke dalam kampus, di antara barisan aparat ada yang meledek dan mentertawakan serta mengucapkan kata-kata kotor pada mahasiswa sehingga sebagian massa mahasiswa kembali berbalik arah. Tiga orang mahasiswa sempat terpancing dan bermaksud menyerang aparat keamanan.
Pada saat yang bersamaan barisan dari aparat langsung menyerang massa mahasiswa dengan tembakan dan pelemparan gas air mata sehingga massa mahasiswa panik dan berlarian menuju kampus. Kemudian datang pasukan bermotor dengan memakai perlengkapan rompi yang bertuliskan URC mengejar mahasiswa sampai ke pintu gerbang kampus dan sebagian naik ke jembatan layang Grogol.
Lalu sebagian aparat yang ada di bawah menyerbu dan merapat ke pintu gerbang dan membuat formasi siap menembak dua baris (jongkok dan berdiri) lalu menembak ke arah mahasiswa yang ada di dalam kampus. Dengan tembakan yang terarah tersebut mengakibatkan jatuhnya korban baik luka maupun meninggal dunia
18.30-19.00
Tembakan dari aparat mulai mereda, rekan-rekan mahasiswa mulai membantu mengevakuasi korban yang ditempatkan di beberapa tempat yang berbeda-beda menuju RS.
19.00-19.30
Mahasiswa berlarian kembali ke dalam ruang kuliah maupun ruang ormawa ataupun tempat-tempat yang dirasa aman seperti musholla dan dengan segera memadamkan lampu untuk sembunyi.
19.30-20.00
Terjadi negoisasi antara Dekan FE dengan Kol.Pol.Arthur Damanik, yang hasilnya bahwa mahasiswa dapat pulang dengan syarat pulang dengan cara keluar secara sedikit demi sedikit (per 5 orang). Mahasiswa dijamin akan pulang dengan aman.
20.00-23.25


Opini Anggota Kelompok:
1. Bunga Anyelir
Tragedi di trisakti terjadi pada tahun 12 mei 1998 empat mahasiswa di tembak hingga mati  empat mahasiswa bernama elang,her,hafidin,dan hendriawan mereka tewas tertembak di dalam kampuss kejadian ini karena masyakat mau menurunkan soeharto dari kedudukan presidennya yang berjabat selama 38 tahun

2. Christine Giovanni H.
Menurut pendapat saya, tragedi Trisakti merusak stabilitas negara karena sangat merugikan negara Indonesia, khususnya mahasiswa yang tewas menjadi korban peristiwa tersebut. Adapun mereka yang tewas adalah Elang Mulia Lesmana (Fakultas Arsitektur 1996), Heri Hertanto (Fakultas Teknik Industri 1995), Hafidin Royan (Fakultas Teknik Sipil 1995) dan Hendriawan Sie (Fakultas Ekonomi 1996). Peristiwa yang terjadi pada tanggal 12 Mei 1998 ini termasuk dalam kasus pelanggaran HAM yang berat karena jaminan hak asasi manusia telah dilanggar yaitu jaminan hak untuk hidup yang tercantum pada UUD 1945 pasal 28A. Dalam pasal 28A dijelaskan dan tertera bahwa pasal tersebut menjamin hak seseorang untuk hidup tetapi justru pada peristiwa ini para anggota polisi yang berjaga mengambil hak hidup mahasiswa dengan cara menembak dan memukuli sehingga terdapat 4 mahasiswa yang tewas dan sementara mahasiswa yang lainnya mengalami luka-luka. Tragedi Trisakti ini menunjukkan bagaimana aparat mengesampingkan rasa kemanusiannya demi tugas sehingga pelanggaran HAM dilakukan untuk mencapai tujuannya. Beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kasus Trisakti yaitu dengan menggerakkan komnas HAM untuk menyelidiki dengan teliti siapa saja yang terlibat dalam masalah ini. Pemerintah juga harus menegakkan hukum yang berlaku secara tegas khususnya HAM & memberi sanksi berat bagi yang melanggarnya dan yang terakhir agar peristiwa ini tidak kembali terjadi, hak kebebasan berpendapat setiap warga negara Indonesia harus benar-benar ditegakkan.

3. M. Solaahuddin T.
     Tragedi trisakti ini melanggar UU No. 39 Tahun 1999 Pasal 28A,28B ayat 2, 28G ayat 2, dan 28I ayat 1. Dalam Undang-Undang tersebut dijelaskan bahwa setiap warga Negara memiliki hak untuk hidup dan mempertahankan kehidupan, hak perlindungan dari kekerasan, hak perlindungan dari penyiksaan, dan perlindungan dari ancaman. Peristiwa ini melanggar undang-undang tersebut karena terjadi penyiksaan, pelecehan seksual, dan pembunuhan para peserta demkonstrasi oleh aparat keamanan. Tanggapan saya mengenai peristiwa ini adalah kasus ini merupakan pelanggaran HAM yang berat, karena mentebabkan hilangnya nyawa seseorang. seharusnya aksi demonstrasi yang melibatkan 6000 mahasiswa, dosen, dan pejabat kampus ini dilakukan secara damai. pihak demonstran harus tetao tertib dalam menyampaikan pendapat dan protes, agar tidak menggangu kenyamanan masuarakat sekitardan tidak menimbulkan kericuhan. Aparat keamanan seharusnya menertibkan jalannya deminstrasi dan tidak terpancing emosi dari orasi demonstran. apalagi dengan menyiksa, melecehkan, bahkan membunuh demonstran.Sebenarnya demonstrasi bertujuan baik, yaitu agar pendapat masyarakat dapat didengar dan dipenuhi, tetapi demonstrasi harus dilakkan dengan damai agar kejadian serupa tidak terjadi lagi dewasa ini.

4. Nigel Arnoldi(27)
     Peristiwa trisakti tahun 1998 bagi saya merupakan salah satu pelanggaran HAM yang sangat tidak berperikemanusiaan di karenakan hanya masalah penuntutan agar Presiden Soeharto turun dari jabatannya. Untuk apa korban jiwa untuk masalah ini? Seharusnya sebagai warga negara di lindungi oleh negara malah jadi korban.Dan mereka yang menjadi korban hanyalah warga negara yang ingin menyampaikan pikiranny dalam bentuk demonstrasi.

5. Veren Patricia(36)
Menurut saya kasus trisakti ini merupakan kasus yang parah karena sangat bertentangan dengan UUD dan Hukum. karena pada saat itu sedang terjadi krisis ekonomi yang dipimpin oleh Soeharto. saat itu walaupun ditentang oleh mahasiswa dan sebagian masyarakat tetap menetapkan Soeharto sebagaiPresiden. tentu saja ini membuat mahasiswa terpanggil untuk menyelamatkan bangsa ini dari krisis dengan menolak terpilihnya kembali Soeharto sebagai Presiden. Cuma ada jalan demonstrasi supaya suara mereka didengarkan , tetapi kenyataannya dengan demokrasi ini nyawa mereka direnggut. Ini merupakan pelanggaran hak asasi ,tercantum pada UUD 1945 Pasal 28A.
Sesuai dengan UUD 1945 Pasal 28A yang berbunyi: "Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya." Dalam pasal 28A tersebut jelas diterangkan bahwa pasal tersebut menjamin hak seseorang untuk hidup. Tetapi, dalam kasus Tragedi Trisakti 1998, para anggota polisi dan militer/TNI yang terlibat dalam kasus itu telah merenggut hak hidup mahasiswa Universitas Trisakti dengan cara menginjak, memukuli, dan menembak mahasiswa secara brutal
Tragedi Trisakti 1998 yang sulit untuk dipecahkan. Kasus Trisakti ini sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu, tetapi para pelaku tidak pernah terungkap secara jelas atau detail. Salah satu alasan sulitnya memecahkan kasus ini adalah keterlibatan orang-orang penting (berkuasa) pada saat itu atau bahkan sampai saat ini. Sehingga terdapat banyak hal-hal yang menghambat terpecahkannya kasus tersebut. 
Sebenarnya ada beberapa solusi yang dapat mengatasi kasus Trisakti khususnya kasus yang berkaitan tentang pelanggaran hak asasi manusia untuk hidup. Pertama, pemerintah melalui Komnas HAM, harus menyelidiki dengan seksama tentang apa yang terjadi pada saat itu, penyebab timbulnya masalah, dan siapa saja pelaku yang berperan serta dalam masalah itu. Kedua, jika ternyata Komnas HAM dan pemerintah tidak sanggup melakukan penegakan hak asasi manusia di Indonesia, maka kita harus meminta lembaga yang lebih tinggi, yaitu PBB. Hal ini bertujuan untuk mengambil alih kasus ini sebelum kasus ini kadaluarsa dan ditutup. 
Ketiga, menghargai hak-hak asasi dari warga negara Indonesia, dengan mengusahakan secara maksimal agar hak kita untuk hidup dijunjung tinggi, begitu pula hak asasi lain seperti hak kita untuk memperoleh penghidupan yang layak, perekonomian yang baik, kebebasan mengemukakan pendapat, perlakuan yang sama dihadapan hukum, dan lain sebagainya. Keempat, pemerintah yang berwenang harus menegakkan/menegaskan hukum yang berlaku yang berkaitan dengan jaminan hak asasi manusia di Indonesia, serta memberikan sanksi yang berat dan tegas bagi pelaku pelanggaran hak asasi manusia. Saya berharap, dengan beberapa solusi tadi dapat mengurangi kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia khususnya pelanggaran hak hidup.



Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar