Selasa, 15 Agustus 2017

KASUS SALIM KANCIL DISUSUN OLEH Kelompok 6 XI MIPA 7 SMA XAVERIUS 1 Palembang

DISUSUN OLEH
Kelompok 6 XI MIPA 7 SMA XAVERIUS 1 Palembang
1.    Damian Catur P (7)
2.    Mocca Pratama  (22)
3.    Michael Cahyadi (26)
4.    Yehezkiel (37)
5.   Yessy A.    (38)






Kasus pelanggaran ham yakni penganiayaan dan pembunuhan Salim Kancil merupakan bentuk kasus pelanggaran HAM. Peristiwa pada tahun 2015 berawal mula dari penambangan pasir Pantai Watu Pecak ilegal, aktivis mencoba menghentikan penambangan tersebut. Namun, beberapa gerombolan mengikat tangan Salim dan membawanya ke Balai Desa selok Awar – Awar yang berjarak 2 km dari rumahnya dengan cara diseret.

Menurut kabar yang beredar. Jaksa penuntut umum Dodi Gozali Emil menuntut bekas Kepala Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Haryono dengan hukuman seumur hidup. Tuntutan itu dibacakan dalam sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis, 19 Mei 2016. Jaksa menilai Haryono sebagai aktor intelektual pembunuhan aktivis antitambang pasir, Salim alias Kancil pada September tahun lalu. Selain Haryono, tututan seumur hidup juga dijatuhkan pada Mad Dasir. Menurut jaksa, Haryono terbukti melakukan perencanaan pembunuhan Salim Kancil. Keterangan saksi yang diajukan dalam persidangan menurut, kata jaksa, sangat kuat untuk menuntut hukuman sumur hidup bagi Haryono. "Menyatakan terdakwa Haryono dan Mad Dasir dituntut seumur hidup," kata Dodi.

Sebelumnya, Haryono didakwa dengan dakwaan primer
Pasal 340 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, dakwaan subsider Pasal 338 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, dan Lebih Subsider Pasal 170 ayat (2) ke-3 KUHP. Serta, ditambah dengan dakwaan sesuai UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, serta UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Selain dituntut seumur hidup, Haryono juga dituntut enam tahun penjara atas dakwaan Penambangan Ilgal dan Tindak Pidana Pencucian Uang. Haryono terbukti mengalirkan dana dari penambangan pasir illegal di Pantai Watu Pecak ke beberapa pihak. "Saya tidak membunuh, saya tidak ikut merencanakan," ucap Haryono usai sidang.


Jaksa membacakan tuntutan 13 berkas terdakwa pembunuhan Salim Kancil dan penganiayaan Tosan secara bersamaan dan dibagi secara berkelompok. Sebanyak 34 tersangka mendengarkan tuntutannya secara bergantian. Hanya Mad Dasir dan Haryono yang dituntut seumur hidup. "Perbedaan itu didasarkan pada tindak pidana yang dilakukan," kata jaksa.

Adapun yang lain, dalam perkara penambangan ilegal, jaksa menuntut Madasir, Harmoko, Khusnul Rafiq, dan kawan-kawan 4 tahun penjara. Adapun dalam kasus pembunuhan Salim Kancil dan penganiayaan Tosan dibagi tiga jenis tuntutan.

Untuk kasus pembunuhan dan penganiayaan, terdakwa Tinarlap, Widianto dkk dituntut 17 tahun penjara. Pembunuhan Salim Kancil, Timartin dkk dituntut 14 tahun penjara. Dan terahir penganiayaan Tosan, Suparman dkk dituntut 8 tahun penjara. Penasehat hukum terdakwa enggan berkomentar terhadap tuntutan jaksa.

 Tosan dan 20 warga Selok Awar-awar hadir menonton sidang. Dia menggunakan kemeja putih dan celana cocelat. "Kurang berat itu tuntutannya (pada Haryono). Seharusnya dihukum mati, karena sudah rusuh di kampung," kata Tosan.

 Polres lumajang saat ini telah mengamankan 22 orang terduga pelaku penggeroyokan. Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono Kabid Humas Polda Jatim mengatakan, dari 22 terduga pelaku ini 19 diantaranya sudah ditahan. "Dua tersangka lainnya tidak ditahan karena masuk kategori di bawah umur yakni 16 tahun.

Pegiat lingkungan yang tergabung dalam Tunggal Roso melakukan aksi solidaritas terhadap pembunuhan petani penolak tambang pasir Lumajang bernama Salim Kancil di depan Balaikota Malang, Jawa Timur, Senin (28/9). Mereka menuntut kepolisian mengusut tuntas serta menangkap aktor intelektual dibalik kasus pembunuhan tersebut sesuai temuan Kontras dan Walhi.  Ari Bowo Sucipto /ANTARAFOTO

Pembunuhan warga Desa Selok Awar-Awar, Lumajang, Jawa Timur Samsul alias Salim Kancil (46) memicu kemarahan banyak pihak. Salim menjadi korban aksi kekerasan dan penganiayaan sekelompok orang secara brutal.

Aktivitas Salim Kancil menolak tambang Galian C di desanya, diduga menjadi latar aksi kekerasan ini. Awal terjadinya penolakan aktivitas penambangan pasir oleh masyarakat Desa Selok Awar-Awar dimulai sekitar Januari 2015.

Beberapa forum ini melakukan beberapa gerakan advokasi protes tentang penambangan pasir yang menyebabkan rusaknya lingkungan di desa mereka.


Berikut beberapa gerakan advokasi mereka:

1.     8 Februari 2015, Tosan mengaku menghadiri pertemuan di kantor Kecamatan Pasirian. Pertemuan itu juga dihadiri Kepala Kepolisian Sektor Pasirian, Komandan Koramil Pasirian, dan Haryono. Pertemuan itu membahas permintaan Tosan dan kawan-kawan agar kegiatan penambangan pasir di Pantai Watu Pecak dihentikan. Keesokan harinya, Tosan mendapatkan surat dari Haryono yang menyatakan penambangan pasir ditutup.

2.    Juni 2015. Forum warga menyurati Bupati Lumajang untuk meminta audiensi tentang penolakan tambang pasir. Surat tersebut tidak direspons oleh Bupati Lumajang.

3.    9 September 2015. Forum warga melakukan aksi damai penghentian aktivitas penambangan pasir dan truk muatan pasir di Balai Desa Selok Awar-Awar.

4.    10 September 2015. Muncul ancaman pembunuhan yang diduga dilakukan oleh sekelompok preman yang dibentuk oleh Kepala Desa Selok Awar-Awar kepada Tosan. Kelompok preman tersebut diketuai oleh Desir.

5.    11 September 2015. Forum melaporkan tindak pidana pengancaman ke Polres Lumajang yang diterima langsung oleh Kasat Reskrim Lumajang, Heri. Saat itu Kasat menjamin akan merespons pengaduan tersebut.

6.    15 September 2015. Haryono dan Madasir kembali membuka penambangan pasir yang selama ini ilegal. Menyikapi hal itu, Tosan mengajak Salim Kancil menggelar unjuk rasa menolak pembukaan tambang tersebut.

7.    19 September 2015. Forum menerima surat pemberitahuan dari Polres Lumajang terkait nama-nama penyidik Polres yang menangani kasus pengancaman tersebut.

8.    21 September 2015. Forum mengirim surat pengaduan terkait penambangan ilegal yang dilakukan oleh oknum aparat Desa Selok Awar-Awar di daerah hutan lindung Perhutani.

9.    25 September 2015. Forum mengadakan koordinasi dan konsolidasi dengan masyarakat luas tentang rencana aksi penolakan tambang pasir dikarenakan aktivitas penambangan tetap berlangsung. Aksi ini rencananya digelar 26 September 2015 pukul 07.30 WIB.

10. 26 September 2015. Sekitar pukul 08.00 WIB, terjadi penjemputan paksa dan penganiayaan terhadap dua orang anggota forum yaitu Tosan dan Salim Kancil.


Kejadian penganiayaan Tosan

Sekitar pukul 07.00 WIB, Tosan sedang menyebarkan selebaran di depan rumahnya bersama Imam.

Sekitar pukul 07.30 WIB, sekelompok preman berjumlah sekitar 40 orang dengan sepeda motor mendatangi Tosan dan mengeroyoknya. Sebelum diminta melarikan diri oleh Tosan, Imam sempat melerai penganiayaan tersebut.

Tosan dianiaya dengan menggunakan kayu, batu dan celurit.Tosan mencoba lari dengan menggunakan sepeda angin, namun gerombolan tersebut berhasil mengejar. Di Lapangan Persil, korban terjatuh, dan kemudian dianiaya kembali dengan pentungan kayu, pacul, batu dan celurit, bahkan sempat ditindas dengan sepeda motor.

Tak lama, Ridwan, rekan satu forum Tosan, datang dan melerai. Preman kabur. Ridwan membawa Tosan ke RSUD Lumajang.

Kejadian penganiayaan Salim Kancil

Setelah menganiaya Tosan, gerombolan preman tersebut kuat diduga menuju rumah Salim Kancil. Salim, yang saat itu sedang menggendong cucunya yang berusia 5 tahun, langsung meletakkan cucunya di lantai ketika gerombolan tersebut datang dan menjemput paksa.
Gerombolan mengikat tangan Salim dan membawanya ke Balai Desa Selok Awar-Awar yang berjarak 2 km dari rumahnya dengan cara diseret. Selain dipukuli, digergaji lehernya, Salim juga diestrum. Kejadian terjadi kurang lebih setengah jam, hingga menimbulkan kegaduhan yang pada saat itu sedang berlangsung proses belajar mengajar di sebuah sekolah Paud.

Kebal dengan penganiayaan tersebut, Salim kemudian diseret kembali ke sebuah daerah pemakaman. Salim akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya ketika dihujani pukulan batu di kepalanya dalam posisi tertelungkup dengan tangan terikat.

Tubuh, terutama kepala korban penuh luka benda tumpul, di dekatnya banyak batu dan kayu berserakan.


Tersangka

Dari kesaksian Ridwan dan Imam yang telah dimintai keterangan oleh pihak penyidik Polres Lumajang, ada 19 nama yang diduga pelaku penganiayaan dan pembunuhan kepada Tosan dan Salim Kancil, antara lain Desir, Eksan, Tomin, Tinarlap, Siari, Tejo, Eli, Budi, Sio, Besri, Suket, Siaman, Jumunam, Satuwi, Timar, Buri, Miso, Parman dan Satrum.

Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono Kabid Humas Polda Jatim mengatakan, dari 22 terduga pelaku ini 19 diantaranya sudah ditahan. "Dua tersangka lainnya tidak ditahan karena masuk kategori di bawah umur yakni 16 tahun," kata dia pada Radio Suara Surabaya. Kedua terduga pelaku di bawah umur ini, lanjut dia, juga ikut dalam aksi pengeroyokan pada korban.

Sumber



Analisis dan Opini:

1.      Mocca

Dalam pasal 28 a setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.
Makna:. Maksud isi tersebut adalah bahwa setiap manusia terutama warga negara indonesia, sejak ia lahir mempunyai hak yang sama dalam hal hak untuk hidup dan mempertahankan kehidupannya. Tidak ada satu orang pun yang bisa membeli nyawa orang lain atau menghilangkan nyawa orang lain dengan alasan apa pun. Jika ada yang menghilangkan nyawa orang lain dengan atau apa lagi tanpa alasan, terutama dalam kasus Salim yang hanya mementingkan salah satu pihak kepentingan pribadinya saja, maka orang tersebut harus menanggung hukuman sesuai dengan hukum yang berlaku agar kasus ini tidak terulang kembali di indonesia, dan tiap bangsa menjadi aman, tentram dn sejahtera tanpa ada kekerasan fisik atau lainnya.

2.      Yessy

Nyawa manusia tidak dapat digantikan dengan apapun juga. Menganiaya dan menghilangkan nyawa orang lain berarti menodai kodrat dasar yang dimiliki oleh manusia, yaitu hak untuk hidup. Kasus Salim Kancil dan Tosan telah menjadi bukti penodaan terhadap kodrat dasar manusia. Kasus ini membuat saya prihatin. Bagaimana mungkin arogansi dan keserakahan manusia membuat mereka tega mengilangkan nyawa orang lain yang berbuat benar ? Salim Kancil yang peduli terhadap kondisi lingkungannya dengan melakukan aksi demonstrasi terbuka terhadap penambangan illegal di daerahnya justru dianiaya, disiksa, dan dibunuh.  Padahal, UUD 1945 pasal 28 menyatakan "Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang", hal ini berarti setiap orang mempunyanyi kebebasan untuk mengeluarkan pikiran, salah satunya dengan melakukan aksi demonstrasi. Keadilan harus ditegakan ! Para pembunuh dan dalang di balik kasus pembunuhan ini sudah sepantasnya mendapatkan hukuman dan sanksi yang setimpal. Kita harus mengingat bahwa puluhan preman yang menganiaya Salim Kancil dan Tosan tidak beroprasi sendiri untuk tujuan-tujuan sentimental yang bersifat pribadi. Kasus ini telah melanggar UUD 1945 pasal 28 A, yaitu "Setiap orang berhak untuk hidup dan mempertahankan kehidupannya." ,dan melanggar pasal 28 I ayat (1) yaitu "Hak untuk hidup dan Hak untuk tidak disikasa." Kedua korban dianiaya karena melakukan protes terhadap kegiatan penambangan di wilayahnya. Orang yang tega membunuh nyawa orang lain karena orang tersebut berbuat sesuatu yang benar tidak pantas menerima pengampunan dan kesempatan hidup. Sebab, mereka para pelaku telah mengabaikan dan melanggar pasal 28 J ayat (1), yaitu "Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara." Hukum mereka dengan tegas dan buatlah mereka sadar untuk bisa menghargai nyawa manusia dan tidak berbuat seenaknya terhadap nyawa manusia yang tidak bisa mereka ciptakan maupun kembalikan.


3.      Damian

Menurut saya, akar permasalahan ini tidak terlalu besar/sulit, melainkan hanya tersangka yang menyuruh pembunuh bayaran untuk membunuh korban dengan keji dan sadis.
 kasus seperti ini telah melanggar ham pasal 28 yaitu hak setiap orang untuk hidup dan mempertahankan kehidupannya.
Sebab Hukum itu harus adil, tidak boleh pandang bulu, pihak berwajib harus cepat unuk menyelesaikan kasus seperti ini agar kasus seperti ini tidak terjadi lagi di indonesia.  Buatlah Indonesia menjadi negara yang baik dan adil.

4.      Michael

Saya sangat tidak setuju dengan apa yang terjadi pada Bapak Salim. Menurut saya, para pelaku yang telah membunuh Salim harus mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya itu karena sangat tidak masuk akal melakukan pembunuhan terhadap Pak Salim yang berusaha melakukan hal yang baik, tetapi justru dibunuh.  Mereka harus dihukum agar mereka tidak akan pernah lagi mengulangi apa yang pernah mereka perbuat. Hukum di Indonesia harus dijunjung tinggi, siapa yang bersalah harus dihukum dan dibuat menyesali perbuatannya, agar Indonesia menjadi negara yang lebih baik lagi dan adil dalam hal hukum. Terutama dalam pelanggaran tentang hak hidup dan kebebasan berpendapat. Hal yang benar harus dibela dan diperjuangkan, sebagaimana pandangan masyarakat terhadap hal tersebut, yang penting hal yang dilakukan itu adalah yang benar.


5.      Yehezkiel

Kasus Salim Kancil adalah salah satu contoh nyata dari akibat ketamakan dan keserakahan seseorang. Demi meluruskan kepentingannya, kepala desa tega membunuh warganya sendiri. Salim Kancil dan temannya, Tosan, tidak bersalah. Benar bahwa mereka ingin melindungi kepentingan bersama, para warga. Toh, bukanlah kebebasan berpendapat itu dilindungi oleh UUD?  Bukankah kebebasan berpendapat itu adalah hak tiap manusia, yang diakui hampir seluruh dunia? Mereka hanya mencoba menyampaikan aspirasi mereka. Pemerintah kabupaten pun mendukung upaya mereka. Tapi, kenapa hal ini sampai terjadi? Kenapa Salim Kancil dan Tosan harus dianiaya dengan cara yang tidak manusiawi? Kenapa Salim Kancil harus diseret hampir 2 km, digergaji lehernya, disetrum, dan dilempari batu? Semua ini kembali lagi pada keserakahan. Si kepala desa juga terlalu 'bernafsu' dan tidak lagi memperdulikan kepentingan masyarakatnya. Semua yang menghalangi harus 'dilenyapkan' agar keinginannya terwujud, demi tumpukan rupiah yang siap masuk ke kantongnya. Kepentingan individu atau kelompok dan kekuasaan kerap kali 'membutakan' seseorang dan membuatnya 'sampai hati' untuk melenyapkan dan membungkam kubu oposisi, sekalipun harus melanggar hak kodrat mereka sebagai manusia. Kasus Salim Kancil hanya sebagian kecil dari beragam kasus pelanggaran kebebasan berpendapat di negeri ini, yang sejak era Orde Baru hingga era Reformasi ini masih terus terjadi. Perlu kesadaran dari tiap manusia agar tidak menjadi tamak dan serakah, dan mengabaikan kepentingan masyarakat demi keuntungan dirinya.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar