Selasa, 15 Agustus 2017

Kasus Penembakan Misterius Disusun oleh Kelompok 5 Kelas XI MIPA 6 SMA XAVERIUS 1 PALEMBANG

Disusun oleh :
Kelompok 5 Kelas XI MIPA 6 SMA XAVERIUS 1 PALEMBANG
Nama anggota :
1.      Angela Fredella Nirwanto(01)
2.      Haris Fahrenzo(14)
3.      Kelsey Florensia(18)
4.      Nealson William(26)
5.      Vicky Chen(34)


(Link video) youtube :

Penembakan misterius atau sering disingkat Petrus (operasi clurit) adalah suatu operasi rahasia dari Pemerintahan Suharto pada tahun 1980-an untuk menanggulangi tingkat kejahatan yang begitu tinggi pada saat itu. Operasi ini secara umum adalah operasi penangkapan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap mengganggu keamanan dan ketentraman masyarakat khususnya di Jakarta dan Jawa Tengah. Pelakunya tak jelas dan tak pernah tertangkap, karena itu muncul istilah "petrus" (penembakan misterius).

Petrus berawal dari operasi pe­nang­gulangan kejahatan di Jakarta. Pada tahun 1982, Soeharto memberikan peng­har­gaan kepada Kapolda Metro Jaya, Mayjen Pol Anton Soedjarwo atas keber­ha­silan membongkar perampokan yang meresahkan masyarakat. Pada Maret tahun yang sama, di hadap­an Rapim ABRI, Soehar­to meminta polisi dan ABRI mengambil lang­kah pemberantasan yang efektif me­ne­kan angka kriminalitas. Hal yang sama diulangi Soeharto dalam pidatonya tanggal 16 Agustus 1982. Permintaannya ini disambut oleh Pang­­­opkamtib Laksamana Soedomo da­lam rapat koordinasi dengan Pangdam Ja­ya, Kapolri, Kapolda Metro Jaya dan Wagub DKI Jakarta di Markas Kodam Metro Ja­ya tanggal 19 Januari 1983. Dalam rapat itu diputuskan untuk melakukan Operasi Clurit di Jakarta, langkah ini kemudian diikuti oleh kepolisian dan ABRI di ma­sing-masing kota dan provinsi lainnya.

Pada tahun 1983 tercatat 532 orang tewas, 367 orang di antaranya tewas akibat luka tembakan. Pada Tahun 1984 ada 107 orang tewas, di an­­taranya 15 orang tewas ditembak. Ta­hun 1985 tercatat 74 orang tewas, 28 di an­taranya tewas ditembak. Para korban Pe­trus sendiri saat ditemukan masyarakat da­lam kondisi tangan dan lehernya te­ri­kat. Kebanyakan korban juga dimasukkan ke dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, la­ut, hutan dan kebun. Pola pengambilan pa­ra korban kebanyakan diculik oleh orang tak dikenal dan dijemput aparat ke­amanan. Petrus pertama kali dilancarkan di Yogyakarta dan diakui terus terang M Hasbi yang pada saat itu menjabat sebagai Komandan Kodim 0734 sebagai operasi pembersihan para gali (Kompas, 6 April 1983). Panglima Kowilhan II Jawa-Madura Letjen TNI Yogie S. Memet yang punya rencana mengembangkannya. (Kompas, 30 April 1983). Akhirnya gebrakan itu dilanjutkan di berbagai kota lain, hanya saja dilaksanakan secara tertutup.

Menurut Bhati salah seorang target yang selamat, mereka yang melawan langsung ditembak di tempat.  Di berbagai tempat, orang menemukan mayat dengan luka tembak pada pagi hari—sebagian besar bertato. Ketakutan pun menyebar hingga 1985.

Dari para tentara dan polisi yang ia kenal akrab, Bathi Moelyono tahu ia masuk sasaran tembak. Sejak itu, ia tak lagi tidur di rumah sendiri. Ia menghabiskan malam di langit-langit rumah tetangga. Belakangan, dari kota kediamannya, Semarang, Bathi ke Jakarta, menghadap orang yang ia sebut sebagai "Number One", yakni Ali Moertopo.

Tokoh "Operasi Khusus" ini ketika itu telah menjadi Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung. Bathi menganggap Ali Moertopo "patron" para preman yang ia pimpin. Ali Moertopo memberinya selembar "surat jaminan" tak akan ditembak. Tapi tetap saja Bathi tak merasa aman. "Mungkin penguasa saat itu menganggap tugas saya sudah selesai dan tiba saatnya untuk dihabisi," Bathi mengenang.

Selama sepuluh tahun Bhati berpindah-pindah, awalnya ke lereng Gunung Lawu di wilayah Magetan, Jawa Timur, lalu ke Jakarta, Bogor, dan sejumlah tempat lain. Ia setidaknya tujuh kali berganti nama: Edi, Hari, Budi, Agus, dan berbagai nama pasaran lain.

Bathi lahir di Semarang, 1947, tanpa catatan tanggal dan bulan akibat buruknya administrasi. Ia mandek di kelas dua Sekolah Menengah Pertama Taman Siswa, Semarang. Pada 1968, ia terlibat pembunuhan di Semarang, katanya bukan bermotif perampokan. Bathi diganjar hukuman penjara hingga 1970.

Keluar dari penjara, ia direkrut Golongan Karya menjadi anggota Tim Penggalangan Monoloyalitas Serikat Buruh Terminal dan Parkir Kota Madya Semarang. Ketika itu, Orde Baru gencar melembagakan monoloyalitas pada semua elemen masyarakat. Intinya: setia hanya kepada Golkar.

Dalam tim itu, Bathi bertugas mengajak preman dan wong cilik Semarang memilih Golkar dalam Pemilu 1971. Pada 1975-1980, ia mengetuai serikat buruh terminal dan parkir Semarang, lalu diangkat menjadi kader Golkar Jawa Tengah pada 1976. Pada Pemilu 1977, Bathi kembali menjadi motor penggalang suara preman dan masyarakat jelata agar mencoblos Golkar. "Istilahnya kami bina," katanya. "Kalau tidak mau kami bina… ya kami binasakan."

Sukses menggarap preman Semarang, pada 1981 Bathi mendapat tugas dari orang yang ia sebut "bos besar" untuk mengetuai Yayasan Fajar Menyingsing. Ini adalah organisasi bekas narapidana di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Anggotanya ribuan, semuanya preman. Pada 1982, Golkar bertekad merebut Jakarta—pada Pemilu 1977 kalah dari Partai Persatuan Pembangunan.

Kelompok preman pimpinan Bathi terlibat operasi menghancurkan citra PPP di Jakarta. Pada Pemilu 1982, Bathi mengkoordinasi pengawalan dan pengamanan Badan Pemenangan Pemilu Golkar Jawa Tengah. Tapi ia dan anak buahnya dikirim ke Jakarta untuk memenangkan Golkar. Ketika lautan manusia memenuhi kampanye Golkar di lapangan Banteng, Jakarta, menjelang Pemilu 1982, Bathi dan anak buahnya menyamar sebagai pendukung PPP.

Mereka menyerang pendukung Golkar dan merobohkan panggung sambi berteriak, "Hidup Ka'bah!" Sejumlah kendaraan dibakar. Mereka berangkat naik bus berkaus PPP, tapi terbungkus rapat jaket Golkar. Sesampai di lapangan, mereka melepas jaket sehingga tinggal kaus PPP yang tampak. "Sudah kami siapkan mana mobil yang dibakar, mana yang tidak," kata Bathi. Alhasil, pada Pemilu 1982, suara PPP di Jakarta tumbang oleh Golkar.

Kontras pernah menginvestigasi kasus ini pada 2002 dengan menghadirkan sejumlah saksi dan korban selamat. Setahun kemudian, Komnas HAM meneliti kasus ini, tapi mandek di tengah jalan. Kini tragedi petrus kembali menjadi target Komnas HAM untuk diungkap dengan membentuk tim ad hoc pada akhir Februari lalu.

Tim itu telah mengundang sejumlah keluarga korban. Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim mengatakan petrus adalah kejahatan kemanusiaan. Penjahat pun harus tetap dihormati hak hukumnya. "Mereka tidak boleh asal ditembak,"katanya. Kontras mencatat korban tewas petrus di seluruh Indonesia pada 1983 berjumlah 532 orang, pada 1984 sebanyak 107 orang, dan pada 1985 sebanyak 74 orang.

Sumber :




(Opini tanggapan,analisis,solusi, dll dari setiap anggota kelompok)

1.      Angela : "Menurut saya tindakan ini melanggar HAM karena sudah menyiksa dan mengambil nyawa seseorang. Kasus ini melanggar HAM dalam pasal 28A dan 28I ayat 1 yaitu  setiap orang berhak untuk hidup dan mempertahankan hidup nya, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum serta hak untuk tidak disiksa. Walaupun mereka adalah penjahat namun mereka juga manusia dan memiliki hak yang sama dengan manusia lainnya yaitu berhak untuk mendapat keadilan. Dan walaupun yang menembak adalah petugas negara tetapi hal ini tetap bertentangan dengan prinsip keadilan.Saya berharap kasus ini tidak akan terjadi lagi dan diharapkan aparat keamanan lebih memperketat penjagaan agar dapat menurunkan tingkat kejahatan."



2.      Haris : "menurut saya kasus ini mestinya dikendalikan degan lebih efektif dan teliti. Pembunuhan misterius seperti ini yang melanggarkan HAM bisa saja di hindari jika diberikan waktu dan sumber daya tertentu."



3.      Kelsey : "Menurut saya kasus petrus adalah pelanggaran HAM yang berat.Tindakan petrus ini telah melanggar hak untuk hidup yang dimiliki oleh target,walaupun mereka penjahat mereka tetap berhak untuk hidup kecuali hal yang di lakukan adalah hal yang sudah tidak dapat di toleransi lagi.Namun dalam kasus petrus ini orang ditembak tanpa diketahui kejahatan jenis apa yang mereka lakukan.Bahkan,orang yang bertato dapat menjadi target penembakan misterius ini.Kasus petrus ini melanggar UUD 1945 pasal 28G yang isinya:(1) setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, harta benda dibawah kekuasaannya,serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. (2) setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat dan martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain.Mengapa melanggar pasal 28G?karena orang orang yang menjadi target tidak bisa mendapatkan perlindungan untuk diri dan adanya pembunuhan dan penyiksaan terhadap korban.Selain itu,tindakan petrus ini juga melanggar UUD 1945 pasal 28I ayat 1 yang isinya:hak untuk hidup,hak untuk tidak disiksa,hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani,hak beragama,hak untuk tidak diperbudak,hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.Mengapa?karena korban banyak yang disiksa dan dibunuh pada kasus petrus ini.Saya berharap tindakan petrus tidak akan pernah terjadi lagi di Indonesia dan pemerintah tidak melakukan tindakan yang semena-mena kepada masyarakatnya."



4.      Nealson : " Menurut saya tindakan ini tentunya melanggar HAM karena telah mengambil nyawa seseorang secara semena-mena. Kasus ini melanggar pasal 28 A yaitu setiap orang berhak untuk hidup serta mempertahankan hidup dan kehidupannya. Walaupun korbannya berupa preman, mereka tetap berhak untuk hidup karena mereka adalah manusia . Kasus ini menelan banyak sekali korban ada sekitar 734 orang yang terbunuh, kasus ini juga bisa memalukan nama bangsa Indonesia karena amnesti internasional sampai mengirimkan surat untuk menanyakan dimanakah kebijakan pemerintah Indonesia ini."



5.      Vicky:" Pembunuhan misterius ini menurut saya merupakan tindakan yang tidak berprikemanusiaan sebab membunuh banyak korban jiwa dan dibunuh secara penyiksaan dan penyekapan.pembunuhan seperti ini merupakan pelanggaran dan termasuk ham yang berat. Mungkin beberapa orang mengangggap bahwa pembunuhan seperti ini tidak masalah karena membunuh preman-preman yang sudah melakukan kejahatan yang besar. Walaupun preman sudah melakukan hal hal yang buruk seperti mencuri , membunuh orang juga yang termasuk pelanggaran ham tetapi mereka mempunyai hak untuk hidup dan untuk tidak disiksa. Pembunuhan misterius ini merupakan peristiwa aneh yang masih banyak dipertanyakan sebab pembunuhan misterius ini hilang dengan sendirinya saat pergantian order baru dan sampai sekarang dalang dalam pembunuhan misterius ini masih belum terpecahkan dan tidak ada tersangka yang dihukum dalam kasus ini . Menurut saya dalam mengurangi meningginya tingkat kejahatan seperti dihukum penjara dan juga sebaiknya diambil tindakan yang tegas sesuai dengan UUD yang berlaku karena melakukan pembunuhan seperti ini sudah melanggar hukum dan UU pasal 28A dan 28I ayat 1"


Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar