Selasa, 15 Agustus 2017

Kasus Penculikan dan Pembunuhan Marsinah Disusun Oleh Kelompok 1 XI MIPA 6 SMA Xaverius 1 Palembang

Disusun Oleh
Kelompok 1  XI MIPA 6  SMA Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota:
1.     Elviendo Johanda Pratama (07)
2.     Mgs. Ayatullah Fayruz (23)
3.     Michael (24)
4.     Muhamad Aldiaz Batasa (25)
5.     Sharleen Oletha Astono (30)
6.     Theresia Widiastuti (33)




Penjelasan mengenai kasus Marsinah :
Seorang perempuan yang bernama Marsinah, berasal dari desa Nglundo, Sukomoro, lahir pada tanggal 10 April 1969, ia berasal dari kalangan buruh tani yang kemudian dipaksa mencari pekerjaan di kota akibat lahan pertanian yang semakin sempit dan kemiskinan masyrakat pedesaan. Ia kemudian memperoleh pekerjaan sebagai buruh di sebuah pabrik arloji, PT Catur Putra Surya di Desa Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Awal tahun 1993, Gubernur Jawa Timur mengeluarkan surat edaran No. 50/Th. 1992 kenaikan upah dari Rp.1.700 per hari menjadi Rp.2.250. Namun pabrik tempat ia bekerja enggan menuruti imbuan kenaikan gaji 20% bagi karyawannya.

Pada tanggal 3 Mei, kenaikan upah yang sudah ditetapkan pemerintah tak kunjung dipenuhi oleh perusahaan. Unjuk rasa oleh para buruh PT CPS, tak terhindarkan.  Ada sekitar 500 buruh melakukan aksi protes.  Dengan sigap, Koramil setempat menghalangi aksi tersebut. Tetapi, semangat para buruh tetap tak surut. Hingga tanggal 4 Mei aksi mogok total terus dilakukan dengan 12 tuntutan antara lain kenaikan upah, tunjangan dan pembubaran Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Marsinah adalah salah seorang buruh yang aktif dalam perlawanan tersebut, setiap kali melakukan aksi marsinah selalu berada di garis depan dan menyampaikan orasinya.

Namun pada siang hari tanggal 5 Mei, 13 orang buruh, yang juga merupakan rekan marsinah dibawa ke kodim. Mereka diinterogasi dengan tuduhan melakukan rapat gelap dan penghasutan. Kemudian mereka dipaksa untuk menandatangani pernyataan mengundurkan diri dari perusahaan. Demi mengetahui hal yang dinilainya janggal ini, Marsinah mendatangi markas Kodim seorang diri untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya.

Sepulangnya dari Kodim, keberadaan Marsinah tidak diketahui selama 3 hari hingga akhirnya ditemukan tidak bernyawa pada tanggal 8 Mei 1993, pada saat itu usianya 24 tahun. Kematiannya menyedot perhatian masyarakat luas, bahkan di tahun yang sama pula, ia memperoleh penghargaan Yap Thiam Hiem. Mayatnya ditemukan di hutan Dusun Jegong, Desa Wlangan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Tubuh marsinah ditemukan dalam keadaan penuh luka, pergelangan tangan lecet bekas ikatan, tulang selangkangan dan vagina hancur. Dibawah sorotan masyarakat, pada tanggal 30 September 1993, sebuah tim penyidik dibentuk oleh pemerintah Jawa Timur. Hasilnya, 10 orang tersangka, yang salah satunya adalah anggota TNI, ditangkap dan diadili hingga tingkat kasasi Mahkamah Agung dan kemudian divonis tidak bersalah dan dibebaskan. Pada proses peradilan ini pun menyimpan banyak kejanggalan, misalnya saja penangkapan 8 petinggi PT Catur Putra Surya yang misterius dan pengalihan alibi menjadi pembunuhan dan pemerkosaan.

Di proses peradilan disebutkan bahwa Marsinah mengalami perkosaan, namun yang tidak pernah diungkap ke pengadilan saat itu adalah bahwa tidak ditemukan bukti-bukti kerusakan pada tubuh Marsinah yang mengarah kepada tindak pemerkosaan. Pada saat tubuhnya diotopsi ulang, hasil forensik menyatakan bahwa tulang panggul dan leher Marsinah hancur dan bukan disebabkan oleh pukulan benda tumpul. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan dari berbagai kalangan dan menganggap ada rekayasa dalam kasus pembunuhan Marsinah dan proses peradilannya.

Kasus Marsinah sudah pernah berusaha diangkat kembali oleh berbagai kalangan, namun tidak juga menunjukkan titik terang, hal ini menunjukkan betapa terpinggirnya posisi buruh dan rakyat kecil di dalam proses peradilan Indonesia. Sementara itu, rekan-rekan Marsinah di PT. Catur Putra Surya melanjutkan perjuangan dan membentuk Serikat Buruh Kerakyatan yang berafiliasi kepada Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (Konfederasi KASBI). Dan sampai sekarang kasus kematian Marsinah belum terungkap siapa dalang dan pelaku dibalik kematiaannya.

Sumber :

https://www.merdeka.com/peristiwa/ini-kronologi-hilangnya-marsinah-hingga-ditemukan-tewas.html

http://alouisha-web.blogspot.co.id/2013/02/sejarah-marsinah.html \



Tanggapan anggota kelompok

·         Elviendo Johanda Pratama :

Ø  Menurut pendapat saya, kasus Marsinah ini merupakan kasus pelanggaran HAM yang terdapat pada pasal 28D ayat 1 yang berbunyi "setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum" dan dari kasus tersebut membuat orang pada saat itu merasa tidak nyaman karena mereka tidak mendapatkan keadilan dan hak yang seharusnya mereka dapatkan. Dengan Kasus Marsinah ini sudah membuktikan bahwa masih minimnya toleransi manusia atau orang-orang terhadap HAM sesama manusia. HAK untuk hidup, HAK untuk menyatakan pendapat, HAk untuk mendapatkan perlindungan dan keamanan, dsb Seharusnya HAM di Indonesia harus lebih di tegakkan dan ditegaskan lagi agar Kasus Marsinah dan kasus pelanggaran HAM lain tidak terjadi lagi dan memakan korban lagi. Dari kasus tersebut juga kita seharusnya dapat belajar untuk tidak menggambil hak orang lain dan dapat memberikan keadilan bagi orang lain dengan begitu kita tidak akan membuat masalah yang dapat menimbulkan kerugian atau masalah untuk orang lain.

·         Mgs. Ayatullah Fayruz :

Ø  Pendapat saya atas kejadian pembunuhan Marsinah merupakan suatu ketidakadilan yang terjadi di Indonesia, hal ini sangat bertolak belakang dengan ideologi Pancasila kita di sila ke-5 yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Marsinah sangat memperjuangkan hak-hak miliknya dan kawan-kawannya sebagai buruh tetapi mereka tidak pernah ditanggapi oleh pemerintah, tetapi hal tersebut tidak membuat Marsinah dan kawan-kawannya putus asa, hal itu patut dicontoh walaupun nyawa adalah taruhannya.

·         Michael :

Ø  menurut saya haruslah hak yang kita dapatkan itu sesuai dalam arti jangan lah berbuat korupsi dalam hal memberikan hak kepada seseorang maupun orang banyak. Tegakkan lah Hak Asasi Manusia kepada semua orang tanpa melihat latar belakang, suku, ras, golongan maupun agama. Dalam kasus marsinah ini terlihat bahwa ketidakadilan tampak pada pemberian gaji oleh kepala PT. Hal ini membuat marsinah dan rekan rekan nya marah dan melakukan demonstrasi atas ketidak adilan.

·         Muhamad Aldiaz Batasa :

Ø  Berdasarkan kasus pelanggaran ham Marsinah,dapat di simpulkan bahwa hukum indonesia bisa di katakan belum sempurna.diharap kan untuk yang akan datang hukum indonesia bisa lebih tegas.khusus nya terhadap kasus pelanggaran ham berat.

·         Sharleen Oletha Astono :

Ø  Menurut pendapat saya, kasus mengenai Marsinah ini sangat menunjukkan bahwa ham tidak terlalu diperhatikan di indonesia pada saat itu. Bahkan sampai saat ini dalang dibalik pembunuhan marsinah belum ditemukan. Menurut saya, seharusnya kasus ini ditindaklanjuti lagi agar terdapat keadilan bagi kaum buruh. Mereka harusnya mendapatkan apa yang menjadi hak mereka, bukannya malah kehilangan nyawa karena menuntut hak tersebut.

·         Theresia Widiastuti :

Ø  Menurut saya, kasus pelanggaran HAM yang dialami oleh Marsinah merupakan kasus yang amat menodai sejarah bangsa Indonesia dalam menghormati dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Kasus itu bukan lagi termasuk kasus yang dapat dianggap sepele. Pasalnya, kasus Marsinah ini menyangkut tentang penculikan, pembunuhan, dan penganiayaan  terhadap Marsinah yang telah berani untuk memperjuangkan haknya dan hak karyawan lain yang bekerja di tempat yang sama dengan dirinya yaitu di PT. CPS (Catur Putera Surya). Bukan hanya itu saja, kasus ini hendak menunjukkan kepada kita bahwa pada masa itu setiap orang tidak diberikan kebebasan untuk mengeluarkan pendapatnya, buktinya Marsinah yang sudah rela mewakili rekan-rekannya untuk mengeluarkan aspirasi mereka dengan melakukan demonstrasi bagi kenaikkan gaji mereka malah diculik dan dianiaya sampai tewas, kemudian jasadnya diletakkan di hutan tiga hari setelah ia dikabarkan menghilang. Maka dari itu, dapat kita lihat bahwa kasus ini merupakan salah satu kasus pelanggaran HAM yang amat berat di Indonesia karena telah menghabisi nyawa seseorang yang telah memberanikan dirinya menjadi pemimpin atas demonstrasi yang telah ia dan rekan-rekannya lakukan untuk mendapatkan hak yang seharusnya mereka dapatkan. Kita semua patut mencontoh keberanian yang telah Marsinah lakukan, ia rela menjadi aktivis HAM yang berarti rela memperjuangkan hak-hak seseorang yang terkekang padahal semestinya didapatkan.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar