Jumat, 18 Agustus 2017

Kasus pembunuhan Munir Disusun Oleh Kelompok 2 XI MIPA 6 SMA Xaverius 1 Palembang

Disusun Oleh
Kelompok 2 XI MIPA 6 SMA Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota
1. Aurellia Ellin Kho (02)
2. Dinda (06)
3. Gabriela Miracle (11)
4. Gattan Ibrahim (12)
5. Vincentia Adventy Dea Pramesti (35)
6. Yuliana Oktaviany (38)




(Link Video) Youtube : https://youtu.be/Jk2-ybyCZOQ

(Penjelasan mengenai kasus tersebut 5W+1H)
Munir Said Thalib, (alm) Munir lahir di Malang, Jawa Timur pada 8 Desember 1965 dan meninggal pada 7 September 2004 di pesawat Garuda Jakarta-Amsterdam yang transit di Singapura. Ia meninggal karena terkonsumsi racun arsenikdalam penerbangan menuju Belanda untuk melanjutkan studi masternya di bidang hukum. Pria keturunan Arab lulusan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ini merupakan seorang aktivis dan pejuang HAM Indonesia yang di hormati oleh para aktivis, dan banyak lembaga serta dunia internasional.

Tanggal 16 April 1996, Munir mendiriikan Komosi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS) serta menjadi Koordinator Badan Pekerja di LSM ini. Pada saat inila nama Munir menjadi banyak di kenal orang terutama saat dia melakukan advokasi terhadap para aktifis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus yang dipimpin oleh Prabowo Subianto(Ketum GERINDRA). Setelah Suharto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus (waktu itu) Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota Tim Mawar.

Perjuangan Munir tentunya tak luput dari berbagai macam teror dan berbagai ancaman dari pihak yang tidak menyukai dirinya dalam menjalankan tugasnya. Meskipun demikian ia tidak pernah putus asa dan dia pun memperoleh The Right Livelihood Award di Swedia(2000), sebuah penghargaan prestisius yang disebut sebagai Nobel alternatif dari Yayasan The Right Livelihood Award Jacob von Uexkull, Stockholm, Swedia di bidang pemajuan HAM dan Kontrol Sipil terhadap Militer di Indonesia. Sebelumnya, Majalah Asiaweek (Oktober 1999) menobatkannya menjadi salah seorang dari 20 pemimpin politik muda Asia pada milenium baru dan Man of The Year versi majalah Ummat (1998).

Usai kepengurusannya di Kontras, Munir ikut mendirikan Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia, Imparsial, di mana ia menjabat sebagai Direktur Eksekutif.
Kasus-Kasus Penting yang Pernah ditangani Munir
• Penasehat Hukum masyarakat Nipah, Madura, dalam kasus permintaan pertanggungjawaban militer atas pembunuhan tiga petani Nipah Madura, Jawa Timur; 1993.
• Penasehat Hukum Sri Bintang Pamungkas (Ketua Umum PUDI) dalam kasus subversi dan perkara hukum Administrative Court (PTUN) untuk pemecatannya sebagai dosen, Jakarta; 1997.
• Penasehat Hukum Muchtar Pakpahan (Ketua Umum SBSI) dalam kasus subversi, Jakarta; 1997.
• Penasehat Hukum Dita Indah Sari, Coen Husen Pontoh, Sholeh (Ketua PPBI dan anggota PRD) dalam kasus subversi, Surabaya;1996.
• Penasehat Hukum mahasiswa dan petani di Pasuruan dalam kasus kerusuhan PT. Chief Samsung; 1995.
• Penasehat Hukum bagi 22 pekerja PT. Maspion dalam kasus pemogokan di Sidoarjo, Jawa Timur; 1993.
• Penasehat Hukum DR. George Junus Aditjondro (Dosen Universitas Kristen Satyawacana, Salatiga) dalam kasus penghinaan terhadap pemerintah, Yogyakarta; 1994.
• Penasehat Hukum dalam kasus hilangnya 24 aktifis dan mahasiswa di Jakarta; 1997-1998 –> [Danjen Koppasus].

• Penasehat Hukum dalam kasus pembunuhan besar-besaran terhadap masyarakat sipil di Tanjung Priok 1984; sejak 1998.
• Penasehat Hukum kasus penembakan mahasiswa di Semanggi, Tragedi 1 dan 2; 1998-1999.
• Anggota Komisi Penyelidikan Pelanggaran HAM di Timor Timur; 1999.
• Penggagas Komisi Perdamaian dan Rekonsiliasi di Maluku.
• Penasehat Hukum dan Koordinator Advokat HAM dalam kasus-kasus di Aceh dan Papua (bersama KontraS), dll.

Kronologi Kematian Munir
Tiga jam setelah pesawat GA-974 take off dari Singapura, awak kabin melaporkan kepada pilot Pantun Matondang bahwa seorang penumpang bernama Munir yang duduk di kursi nomor 40 G menderita sakit. Munir bolak balik ke toilet. Pilot meminta awak kabin untuk terus memonitor kondisi Munir. Munir pun dipindahkan duduk di sebelah seorang penumpang yang kebetulan berprofesi dokter yang juga berusaha menolongnya. Penerbangan menuju Amsterdam menempuh waktu 12 jam. Namun dua jam sebelum mendarat 7 September 2004, pukul 08.10 waktu Amsterdam di Bandara Schipol Amsterdam, saat diperiksa, Munir telah meninggal dunia.

Meskipun pada tanggal 12 November 2004 dikeluarkan kabar bahwa polisi Belanda (Institut Forensik Belanda) menemukan jejak-jejak senyawa arsenikum setelah otopsi, namun belum diketahui siapa yang telah meracuni Munir.

Persidangan Pembunuhan Munir

Pada 20 Desember 2005 Pollycarpus Budihari Priyantodijatuhi vonis 14 tahun hukuman penjara atas pembunuhan terhadap Munir. Hakim menyatakan bahwa Pollycarpus, seorang pilot Garuda yang sedang cuti, menaruh arsenikdi makanan Munir, karena dia ingin mendiamkan pengkritik pemerintah tersebut. Hakim Cicut Sutiarso menyatakan bahwa sebelum pembunuhan Pollycarpus menerima beberapa panggilan telepon dari sebuah telepon yang terdaftar oleh agen intelijen senior, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut.

Lalu pada 6 Juni 2008, mantan Komandan Kopassus TNI Angkatan Darat dan juga mantan Deputi BIN, Mayor Jenderal (Purn) Muchdi Purwoprandjono ditangkap oleh polisi sebagai tersangka pembunuhan Munir. Selama beberapa bulan persidangan, akhirnya pada tanggal 31 Desember 2008, majelis hakim PN JakartaSelatan memvonis bebas Muchdi Pr.


Sumber:


Tanggapan anggota kelompok :
1. Aurellia Ellin Kho

 Menurut saya, Kasus pembunuhan munir ini termasuk salah satu kasus pelanggaran ham yg berat di indonesia karena telah menghilangkan nyawa manusia, dengan cara tidak manusiawi yaitu dengan diracun dengan racun arsenik. kasus ini melanggar HAM sesuai dengan pasal 28A yaitu 'setiap orang berhak untuk hidup dan mempertahankan hidup dan kehidupannya'. Dalam kasus ini munir dibunuh saat dia sedang dalam perjalanan menuju Amsterdam dalam pesawat. Diduga bahwa pelakunya adalah sang pilot yang saat itu menerbangkan pesawat yang ditumpanginya. Sebagai manusia dan warga negara yang baik seharusnya kita dapat mendukung mewujudkan keadilan HAM dalam kehidupan kita.

2. Dinda

 Kasus ini termasuk pelanggaran HAM karena Munir terbunuh secara tidak bersalah melalui racun arsenik, padahal Munir sudah menegakkan HAM bagi banyak orang. Dan dengan keadaan tidak bersalah ia di bunuh begitu saja tanpa adanya kejelasan. Selain itu menurut saya kasus munir ini merupakan pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh terdakwa Polycarpus seharusnya terdakwa dihukum berat bukan dengan hukuman ringan yang diberikan 20 tahun karena terdakwa Polycarpus melanggar pasal 28 A yang berisikan "Setiap orang berhak untuk hidup dan mempertahankan hidupnya" dan pembunuhan Munir telah direncanakan yang melanggar KUHP pasal 340 yang berisikan "Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana ( moord ), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun"seharusnya Pollycarpus dihukum mati karena telah membunuh orang disengaja dan menggunakan zat arsenik .

3. Gabriela Miracle

 Menurut Saya kasus Munir ini termasuk kedalam kasus pelanggaran HAM yang berat dimana sesuai definisinya bahwa pelanggaran yang berbahaya dan mengancam jiwa manusia, karena dalam kasus ini Munir terbunuh padahal Munir merupakan pembela HAM di saat itu yang banyak membantu berbagai konflik yang terjadi seperti penculikan ataupun kekerasan. Kemudian kasus ini juga melanggar pasal 28A ayat 1 yang berbunyi bahwa setiap manusia memiliki hak untuk hidup layak, mempertahankan hidup dan kehidupannya. Sedangkan Munir ini tidak bisa mendapatkan hak tersebut buktinya bahwa ia dibunuh secara tidak wajar yaitu melalui racun arsenik yang terdapat di dalam minuman nya, karena ia teracuni tentu saja ia tidak bisa mempertahankan kehidupannya sesuai pasal tersebut. Kemudian kasus ini juga melanggar pasal 28 c ayat 1 dimana bahwa setiap orang berhak mengembangkan diri dan mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan. Saya mengatakan bahwa melanggar pasal tersebut karena Munir pergi ke Amsterdam dengan tujuan untuk meneruskan study nya untuk mengembangkan dirinya menjadi lebih baik tetapi malah terbunuh. Oleh karena itu hendaknya kita mempertahankan agar terlaksananya HAM itu di setiap individu apalagi negara kita sekarang merupakan negara demokratis bukan lagi negara otoriter yang menyebabkan lemahnya penegakan HAM pada saat tersebut.

4. Gattan Ibrahim

 Menurut saya, kasus pembunuhan Munir tidak sesuai dengan HAM yang ditegakkan di Indonesia karena kasus ini merupakan kasus pelanggaran HAM yang berat. Sesuai dengan UUD pasal 28 yaitu 28A yang berbunyi "setiap orang berhak untuk hidup dan berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya." Kasus ini menandakan bahwa hukum di Indonesia kurang tegas pada saat itu, hendaknya hukum Indonesia ditingkatkan apabila terdapat kasus mengenai HAM seseorang. Kasus ini melanggar pasal 28 I yaitu hak untuk hidup dan tidak disiksa, pada kasus ini Munir diracuni oleh seorang pilot yang baru dikenalnya pada hari itu. Pilot tersebut meracuni Munir dengan memasukkan racun arsenik yang diketahui setelah diotopsi oleh petugas di Belanda. Seharusnya setiap orang itu harus menghargai atau menghormati hak-hak yang dimilikinya itu merupakan kewajiban bagi setiap orang yang diatur dalam pasal 28 J ayat 1. Dengan adanya kasus Munir ini, menandakan bahwa toleransi antar sesama sangat kurang, karena HAM itu berasal dari Tuhan yang tidak bisa diwarisi maupun diberikan. Sekarang ini, setiap orang harus menegakkan HAM yang ada di Indonesia, karena kita sudah kehilangan aktivis HAM yang sudah berbuat banyak untuk HAM setiap orang Indonesia.

5. Vincentia Adventy Dea Pramesti

 Menurut saya, Kasus pembunuhan munir merupakan salah satu kasus pelanggaran ham yg berat di indonesia. Hal ini di kategorikan sebagai kasus pelanggaran ham berat karena telah mengancam hidup manusia, yaitu dengan cara memasukkan racun arsenik pada minumannya ketika sedang menuju ke amsterdam. Hal ini juga sudah melanggar hak asasi manusia untuk mempertahankan hidupnya yang sebagaimana tercantum pada pasal 28A yaitu 'setiap orang berhak untuk hidup dan mempertahankan hidup dan kehidupannya'. Dan juga dalam kasus ini munir di bunuh dalam keadaan tidak bersalah, melainkan ia telah berjuang membela orang orang yang hak asasinya  tidak diakui. Oleh karena itu kita sebagai warga yang baik hendaknya dapat mewujudkan keadilan HAM di lingkungan masyarakat sekitar

6. Yuliana Oktaviany

 Menurut saya, seharusnya kasus seperti kasus Munir ini tidak sepatutnya terjadi, karena Munir terbunuh dengan pembunuhan berencana yang dibuktikkan terdapatnya racun arsenik di dalam makanan dan minumannya, serta hasil otopsi pada lambung Munir yang terdapat racun arsenik yang mematikkan. Munir merupakkan seorang aktivis HAM yang menegakkan HAM bagi banyak orang, tetapi ia malah dibunuh tanpa adanya suatu keterangan yang jelas. Hal ini telah melanggar pasal 28 A "hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya." Karena munir tidak dapat mempertahankan kehidupannya .Lalu,peristiwa ini telah juga telah melanggar pasal 28 I "(1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun." Karena munir dibunuh dengan racun arsenik oleh karena ia seorang aktivis ham di indonesia yang memperjuangkkan ham orang lain dengan dilakukannya dengan pendapatnya.Pasal terakhir adalah pasal 28 J "(1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara." Para pelaku seharusnya menghormati hak asasi orang lain. Dengan kasus Munir ini sudah membuktikan bahwa masih minimnya toleransi manusia atau orang-orang terhadap HAM sesama manusia.hak untuk hidup, hak untuk menyatakan pendapat, hak untuk mendapatkan perlindungan dan keamanan yang merupakkan hak setiap orang sebagaimana yang terdapat dalam pasal 28 UUD 1945. HAM di Indonesia harus lebih di tegakkan dan ditegaskan lagi agar kasus Munir dan kasus pelanggaran HAM lain tidak terjadi lagi dan memakan korban lagi. Jika HAM di Indonesia ditegakkan, akan tercipta Indonesia yang lebih baik lagi, hidup masyarakat akan menjadi tentram dan damai, karena terjamin akan HAM nya sebagaimana terdapat dalam pasal 28 UUD 1945.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar