Sabtu, 12 Agustus 2017

KASUS PEMBUNUHAN MUNIR Disusun Oleh Kelompok 2 Kelas XI IPS 2 SMA Xaverius 1 Palembang

Disusun Oleh 
Kelompok 2 Kelas XI IPS 2 SMA Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota:
1. Keven Mandari Onggo (19)
2. Kevin Jayadi Lim (20)
3. Melisa Cristien Yamin (24)
4. Safira Deliatama (30)
5. Veren Veronica (34)

(Link referensi untuk video) youtube : https://www.youtube.com/watch?v=CB0r9ml-Uc4

(Penjelasan mengenai Kasus Pembunuhan Munir) 

Kronologi Pembunuhan Munir

Tiga jam setelah pesawat GA-974 take off dari Singapura, awak kabin melaporkan kepada pilot Pantun Matondang bahwa seorang penumpang bernama Munir yang duduk di kursi nomor 40 G menderita sakit. Munir bolak balik ke toilet. Pilot meminta awak kabin untuk terus memonitor kondisi Munir. Munir pun dipindahkan duduk di sebelah seorang penumpang yang kebetulan berprofesi dokter yang juga berusaha menolongnya pada saat itu. Penerbangan menuju Amsterdam menempuh waktu 12 jam. Namun dua jam sebelum mendarat 7 September 2004, pukul 08.10 waktu Amsterdam di bandara Schipol Amsterdam, saat diperiksa, Munir telah meninggal dunia.
Pada tanggal 12 November 2004 dikeluarkan kabar bahwa polisi Belanda (Institut Forensik Belanda) menemukan jejak-jejak senyawa arsenikum setelah otopsi. Hal ini juga dikonfirmasi oleh polisi Indonesia. Belum diketahui siapa yang telah meracuni Munir, meskipun ada yang menduga bahwa oknum-oknum tertentu memang ingin menyingkirkannya.
Pada 20 Desember 2005 Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi vonis 14 tahun hukuman penjara atas pembunuhan terhadap Munir. Hakim menyatakan bahwa Pollycarpus, seorang pilot Garuda yang sedang cuti, menaruh arsenik di makanan Munir, karena dia ingin mendiamkan pengkritik pemerintah tersebut. Hakim Cicut Sutiarso menyatakan bahwa sebelum pembunuhan Pollycarpus menerima beberapa panggilan telepon dari sebuah telepon yang terdaftar oleh agen intelijen senior, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut. Selain itu Presiden Susilo juga membentuk tim investigasi independen, namun hasil penyelidikan tim tersebut tidak pernah diterbitkan ke publik.
Jenazahnya dimakamkan di taman makam umum kota Batu. Ia meninggalkan seorang istri bernama Suciwati dan dua orang anak, yaitu Sultan Alif Allende dan Diva. Sejak tahun 2005, tanggal kematian Munir, 7 September, oleh para aktivis HAM dicanangkan sebagai Hari Pembela HAM Indonesia.

Proses pengadilan bagi pihak terlibat

Pada 20 Desember 2005, Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi vonis 14 tahun hukuman penjara atas pembunuhan terhadap Munir. Hakim menyatakan bahwa Pollycarpus, seorang pilot Garuda yang sedang cuti, menaruh arsenik di makanan Munir, karena dia ingin mendiamkan pengkritik pemerintah tersebut. Hakim Cicut Sutiarso menyatakan bahwa sebelum pembunuhan Pollycarpus menerima beberapa panggilan telepon dari sebuah telepon yang terdaftar oleh agen intelijen senior, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut. Selain itu Presiden Susilo juga membentuk tim investigasi independen, namun hasil penyelidikan tim tersebut tidak pernah diterbitkan ke publik.
Pada 19 Juni 2008, Mayjen (purn) Muchdi Pr, yang kebetulan juga orang dekat Prabowo Subianto dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, ditangkap dengan dugaan kuat bahwa dia adalah otak pembunuhan Munir. Beragam bukti kuat dan kesaksian mengarah padanya.Namun, pada 31 Desember 2008, Muchdi divonis bebas. Vonis ini sangat kontroversial dan kasus ini tengah ditinjau ulang, serta 3 hakim yang memvonisnya bebas kini tengah diperiksa.
Sumber:

(Opini Tanggapan,Analisis,Solusi)
1. Keven Mandari Onggo
Menurut saya, perbuatan pembunuhan tersebut sangatlah keji, pembunuh telah merebut hak Munir untuk mempertahankan hidupnya yang terdapat pada pasal 28A. Selain itu, pembunuhan tersebut ternyata sudah direncanakan sehingga pembunuhan tersebut berlangsung sesuai dengan rencana. Seharusnya, tokoh-tokoh pembelaan HAM di Indonesia selalu dikenang sepanjang masa.  TOLAK LUPA MUNIR!

2. Kevin Jayadi Lim
Kasus pembunuhan Munir memang telah lama terjadi, tapi kasus pembunuhan Munir ini setelah dibaca-baca memang merupakan kasus pelanggaran yang berat. Dengan terbunuhnya, seorang aktivis HAM Indonesia pada saat itu, memberikan luka yang membekas bagi masyarakat luas hingga sekarang.
Saya memiliki opini bahwa sebenarnya, kasus pembunuhan Munir adalah kasus pelanggaran HAM yang berat. Karena, pembunuhnya telah melanggar HAM yang berdasarkan kepada 28A(Hak untuk hidup). Menurut saya, kasus pembunuhan Munir harus ditindaklanjuti lebih mendalam lagi sampai ke akar-akar permasalahannya. Dan sebaiknya, pelaku harus dihukum dengan sepadan sesuai apa yang telah ia perbuat. Terciduk dari sumber detiknews.com bahwa pelakunya, Pollycarpus Budihari Priyanto, mendapat hukuman penjara 20 tahun dan berubah pada tahun 2013 menjadi 14 tahun. Sebenarnya berdasarkan pandangan saya, keputusan ini kurang tepat karena di sisi lain, kasus Munir merupakan kasus yang termasuk dalam kategori berat. Tapi, saya menyetujui keputusan Presiden  Jokowi pada tahun 2016,  untuk menyusuti lagi kasus pembunuhan Munir. Semoga kasus ini cepat terselesaikan sampai tuntas! TOLAK LUPA MUNIR!

3. Melisa Cristien Yamin
Menurut pendapat saya, kasus pelanggaran HAM yang dialami oleh Munir, sangatlah tidak pantas, karena Munir hanya mengemukakan pendapatnya tentang HAM. Tapi, Munir malah dibunuh di atas pesawat, padahal beliau telah membela HAM di Negara Indonesia. Sebaiknya, tersangka yang bernama Pollycarpus Budihari Priyanto dihukum dengan hukuman yang seberat-beratnya. TOLAK LUPA MUNIR!

4. Safira Deliatama
Kasus ini sangat penting untuk diselesaikan, karena Munir merupakan seorang tokoh yang sangat penting untuk pembelaan HAM di Indonesia, yang HAM-nya telah diganggu dengan cara dibunuh. Dengan penindakan dalam kasus ini, semoga pelaku mendapat hukuman yang berat dari pemerintah. Semoga, semua orang menjadi ragu-ragu untuk mengganggu hak-hak orang lain. TOLAK LUPA MUNIR!

5. Veren Veronica
Menurut pendapat saya, pembunuhan Munir sangatlah kejam dan tidak memiliki keperimanusiaan. Sebaiknya, pemerintahan Indonesia lebih menyusuti lagi tentang kasus pembunuhan Munir dan pelakunya dapat dihukum dengan seberat-beratnya. Patutnya, Munir diberikan penghargaan atas pembelaan-pembelaannya atas negara Indonesia.
Banyak sekali, orang-orang yang masih mengingat jasa-jasa beliau di Indonesia. Ia rela berkorban demi pembelaan HAM di Indonesia. TOLAK LUPA MUNIR!

KAMI TOLAK LUPA MUNIR!!!
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar