Selasa, 15 Agustus 2017

KASUS PEMBUNUHAN ENGELINE DISUSUN OLEH KELOMPOK 3 XI MIPA 5 SMA XAVERIUS 1

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 3 XI MIPA 5 SMA XAVERIUS 1
Palembang
Nama Anggota :
1. Agung Rizky Saputro/ 01
2. Elsa Sundari M. S. / 09
3. Farrel Theodore K. N. / 10
4. Karen Stephanus/ 17
5. Marvelin Ang/25
6. Steven Hartanto/36



(link Video) Youtube :https://youtu.be/6SjTX0bPDnU
            Kasus pembunuhan Engeline Margriet Megawe (Engeline) di Bali menyita perhatian masyarakat dalam dan luar negeri. Pembunuhan yang berlangsung sangat sadis ini, akhirnya berakhir di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar. 
            Untuk mengulang kembali jalannya peristiwa sadis itu, berikut akan dipaparkan rentetan peristiwa hilangnya Engeline sampai ditemukan tewas di dekat kandang ayam rumah Margriet Christina Megawe (Margareta). 

Semasa Hidup 
            Engeline merupakan putri dari pasangan Rosidik dan Hamidah. Dia diadopsi oleh keluarga Margareta sejak bayi. Orangtua Engeline menyerahkan anaknya kepada Margareta lantaran tidak memiliki uang untuk menebus biaya klinik.
            Saat Engeline lahir, penghasilan Rosidik waktu itu hanya Rp30 ribu perhari. Warga Banyuwangi ini hanya bekerja sebagai kuli. Sementara biaya bersalin Hamidah saat itu mencapai Rp600 ribu.
            Ketika dalam kondisi sulit itulah orangtua Engeline diperkenalkan oleh Margareta melalui tetangga kosnya. Saat itu, Margareta berjanji akan menjaga, serta merawat Engeline dengan baik dan mereka percaya.
            Setelah dipertemukan dengan Margareta di sebuah klinik di daerah Canggu, Kuta, Badung, dia mengaku diajak ke notaris membuat perjanjian hitam di atas putih. Rosidik lalu diberi uang Rp1,8 juta oleh Margareta.

Bersama Margareta

            Janji Margareta untuk merawat Engeline dengan baik ternyata diingkarinya. Selama di rumah Margareta, Engeline diperlakukan seperti budak kecil. Dia harus memberi makan ratusan ayam ternak milik Margareta.
            Sebelum selesai memberi makan ayam, Engeline dilarang makan dan berangkat sekolah. Kegiatan ini dilakukan Engeline setiap hari sebelum berangkat sekolah. Untuk itu, Engeline harus bangun sejak subuh.
            Bahkan, ketika makanan dan minuman ayam kurang Engeline selalu diteriaki dan dimarahi oleh Margareta. Dengan nada menghina tanpa belas kasihan, Margareta menyebut Engeline sebagai anak yang tidak tahu diri.
            Tidak jarang, Engeline menjadi korban penganiayaan Margareta jika telat memberi makan ayam. Pernah suatu ketika ada anak ayam Margareta yang hilang satu ekor dan tidak ketemu. Kesal anak ayamnya hilang, Margareta lalu memukuli Engeline. Margareta juga kerap menjambak rambut Engeline yang panjang. Tindakan kasar ini diterima Engeline hampir setiap hari.
            Wali Kelas II SDN 12 Sanur Putu Sri Wijayanti mengatakan, setiap hari Engeline terlihat kusut, pakaiannya kotor, rambutnya berantakan dan bau kotoran ayam. Karena itu, sering kali dia yang mengkramasinya.
           
Dia juga mengaku sering melihat luka lebam pada tubuh Engeline. Pernah suatu hari, Margareta menemuinya dan mengatakan terim kasih telah memberikan perhatian kepada anaknya. Namun begitu, dia tidak menanyakan sebabnya karena takut.

Engeline Hilang
           
Sebelum ditemukan tewas dibunuh ibu angkatnya sendiri, Engeline (8) dikabarkan menghilang dari rumah, kawasan Denpasar, Bali. Kabar menghilangnya Engeline mulai diberitakan, pada Sabtu 16 Mei 2015.
            Saat menghilang, bocah cilik berparas cantik ini mengenakan daster panjang warna biru muda, sandal jepit warna kuning, rambut dikuncir dan berbadan kurus. Engeline terakhir kelihatan saat tengah bermain di halaman depan rumahnya, di Jalan Sedap Malam. Pihak keluarga Margareta awalnya membangun opini Angelina hilang dibawa lari orang yang tidak dikenal.
            Kabar menghilangnya Engeline juga sempat disebar ke jejaring sosial Facebook. Namun saat wartawan mengonfirmasi hal ini kepada Kapolsek Denpasar Selatan Kompol Nanang Prihasmoko, kabar hilangnya Engeline dibantah.

Ditemukan Tewas

            Setelah kabar hilangnya Engeline tersebar luas, perhatian masyarakat langsung tertuju kepada pencarian bocah malang ini. Petugas kepolisian pun didesak untuk lebih keras mencari keberadaan Engeline.
            Upaya petugas akhirnya membuahkan hasil. Engeline ditemukan pada Rabu 10 Juni 2015. Saat ditemukan, Engeline sudah tidak bernyawa. Mayatnya ternyata terkubur bersama boneka berbie di rumah Margareta, Jalan Sedap Malam, Sanur, Denpasar.
            Mayat Engeline ditemukan oleh Tim Gabungan Polda Bali yang terdiri dari Polsek Denpasar Timur dan Polresta Denpasar di belakang kandang ayam, tepatnya dekat pohon pisang yang di depannya ada tumpukan sampah.

Pembunuhan Sadis
            Penemuan Engeline sempat menggemparkan warga Bali. Bocah yang tadinya dikabarkan hilang dan diculik, ternyata tewas dihabisi oleh Margareta, ibu angkatnya sendiri.
            Menurut polisi yang mengangkat jenazah Engeline, pada lehernya ditemukan luka goresan-goresan bekas jeratan. Diduga, Engeline dijerat dengan tali. Polisi juga menemukan banyak luka memar di tubuh siswi kelas II SDN 12 Sanur itu.
Tidak hanya itu, kepala Engeline juga dibenturkan ke lantai dan tembok. Benturan keras inilah yang diduga menyebabkan Engeline meninggal dunia. Setelah tewas, mayat Engeline bahkan dilecehkan.


Pelaku Pembunuhan
            Ditemukannya mayat Engeline disusul dengan penetapan tersangka pembunuhan. Tersangka pertama yang ditetapkan polisi sebagai tersangka adalah pembantu rumah tangga Margareta, Agus Tae Hamda May.
Saat pembunuhan terjadi, Agus baru satu minggu bekerja dengan Margareta. Penetapan tersangka ini baru diketahui pada Rabu 10 Juni 2015. Dalam prarekonstruksi kejadian, terungkap Agus membunuh Engeline.
            Agus membunuh Engeline pada adegan ke-7 dengan cara membenturkan kepala Engeline ke tembok dan lantai berkali-kali. Agus juga mencekik leher Engeline dengan tangannya hingga tubuh bocah malang itu lemas.
            Saat Engeline tidak berdaya, Agus sempat diminta untuk memperkosa Engeline. Namun Agus menolaknya. Setelah Engeline tewas, dia langsung menguburnya bersama boneka berbie kesayangan Engeline.
            Kepada polisi, Agus mengaku melakukan pembunuhan keji itu tidak sendiri. Dia disuruh majikannya, yakni Margereta. Keterangan Agus dijadikan dasar untuk menjadikan Margareta sebagai tersangka kedua.
            Pada awalnya, Margareta ditetapkan sebagai pelaku penganiayaan Engeline. Baru kemudian menjadi tersangka pembunuhan Engeline. Dalam sidang, terungkap bahwa Margareta adalah pelaku utama pembunuhan itu.

Vonis Pengadilan

            Sidang kasus pembunuhan Engeline berjalan sangat alot hingga berlangsung empat bulan. Selain karena adanya dugaan praktik kecurangan pada majelis hakim, juga adanya permainan di kepolisian.
            Sidang yang awalnya dipimpin Hakim Ketua I Gede Ketut Wanugraha, Made Sukreni, dan Ahmad Paten Silly dipindakan ke Ambon. Penyebabnya karena sidang berlangsung langsung lambat dan berlarut-larut.
            Pada pihak kepolisian, kecugiaan akan adanya permainan terjadi saat video pemeriksaan Agus berhasil diperoleh Tim Pengacara Margareta. Video itu merupakan dokumentasi Polri yang sifatnya rahasia.
            Setelah melewati proses yang melelahkan, pengadilan akhirnya menjatuhkan vonis 10 tahun penjara terhadap Agus dan penjara seumur hidup terhadap Margareta. 

Sumber :
1.     
2.    

Opini :
1.    Farrel
Menurut saya, Margriet melakukan hal yang sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang orang tua. Ia rela menyiksa dan membunuh Engeline demi harta kekayaan dan menyia-nyiakan kepercayaan dari orang tua kandung Engeline, dimana semua itu hanya merugikan dirinya sendiri. Margriet telah mengambil beberapa hak asasi dari Engeline di antaranya hak untuk hidup (UUD 1945 PASAL 28A), hak anak untuk hidup serta mendapat perlindungan dari kekerasan (UUD 1945 PASAL 28B), hak untuk bebas dari penyiksaan (UUD 1945 PASAL 28G), dan hak untuk mendapatkan kehidupan yang baik dan layak (UUD 1945 PASAL 28H). Menurut saya, hukuman penjara seumur hidup sudah cukup tepat untuk Margriet atas apa yang telah dilakukannya terhadap Engeline.
2.     Marvelin
Menurut saya ibu angkat Engeline (Margriet) seharusnya menyayangi Engeline layaknya anak-anak lain karena Margriet sendiri bersedia untuk mengangkat engeline menjadi anaknya. Margriet telah melakukan beberapa pelanggaran terhadap pasal-pasal UUD 1945, yang pertama pasal 28 A, yaitu hak untuk hidup. sedangkan Margriet malah membunuh Engeline. Yang kedua, pasal 28B ayat 2, yaitu hak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Sedangkan Margriet sebagai orangtua angkat Engeline, malah membunuh Engeline bukan melindungi Engeline dari kekerasan.
3.    Agung
Menurut saya ibu tiri nya Angeline telah berbuat kasus kejahatan yang melanggar HAM yaitu hak untuk hidup yang melanggar dasar hukum UU no 5 tahun 1945 Pasal 21 ayat 1 dan ayat 3, Pasal 36 ayat 1, Pasal 28A dan 28B ayat 2 tentang hidup dan berkembang serta hak untuk dilindungi dari kekerasan serta diskriminasi dan UUD tentang perlindungan terhadap anak. Seharusnya apabila sang ibu ingin mengangkat angeline sebagai anak angkat ia harusnya melindungi Angeline dengan sebaik-baikny bukan malah menghilang kan nyawa nya.
4.    Karen
Saya percaya bahwa setiap orang tua mengasihi anak-anaknya, tidak terkecuali orang tua Engeline asli dan orang tua angkatnya. Orang tua Engeline tidak mampu membayar biaya persalin ibunya sehingga akhirnya Engeline diangkat oleh Margriet dan Douglas. Mulanya, Margriet dan Douglas mengasihi Engeline sepenuh hati. Namun, setelah Douglas meninggal dunia, Margriet mulai memperlakukan Engeline berbeda. Hal ini disebabkan oleh warisan yang diterima Engeline. Warisan yang diterimanya berjumlah 40% atau sekitar 19M Rupiah. Karena harta, ibu angkatnya, Margriet, rela menyiksa Engeline bahkan membunuhnya. Menurut saya, kekayaan yang diinginkannya tidak sebanding dengan nyawa Engeline. Engeline baru berusia 8 tahun, perjalanan hidupnya masih panjang. Tuhan memiliki rencana dalam hidup setiap manusia. Manusia tidak berhak untuk berlaku keji seperti mengakhiri hidup atau membunuh manusia. Indonesia menegakkan dan melindungi Hak Asasi Manusia (HAM). Setiap orang memiliki HAM sejak orang itu berada dalam kandungan. Setiap orang berhak untuk hidup (Pasal 28A), hidup dan berkembang serta hak untuk dilindungi dari kekerasan dan diskriminasi (Pasal 2B ayat 2). Ibu angkat Engeline telah melanggar pasal-pasal tersebut mengenai HAM.
5.    Steven
Menurut saya, ibu tiri angeline tidak memiliki rasa kemanusiaan , sebagaimana kita menjadi manusia harus saling mengasi satu sama lain , apa lagi ia seorang ibu yg membunuh anaknya , itu terlalu kejam !
6.    Elsa
Menurut saya, kasus pembunuhan Engeline merupakan kasus pelanggaran HAM yang berat. Margriet, selaku ibu tirinya telah membunuh anaknya dengan melakukan tidak kekerasan, seperti membenturkan kepala Engeline ke tembok dan ke lantai berkali-kali. Dengan hal tersebut, ibu tiri Engeline telah melanggar Pasal 28B, Engeline yang berhak atas perlindungan dari kekerasan. Dan Margriet juga melanggar Pasal 28I ayat 1 yang telah menghilangkan hak Engeline untuk hidup dan tidak disiksa. Dan hukuman yang setimpal dengan pelaku yang melakukan pembunuhan dengan memberi hukuman penjara seumur hidup. Dan menurut saya, perbuatan seperti ibu tiri Engeline mungkin banyak terjadi di Indonesia, maka dari itu pelaku yang melakukan pembunuhan harus mendapatkan hukuman yang setimpal.



Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar