Senin, 14 Agustus 2017

KASUS PEMBANTAIAN PKI DISUSUN OLEH KELOMPOK 1 XI IPS 3 SMA XAVERIUS 1 PALEMBANG

Disusun Oleh
Kelompok 1XI IPS 3 SMA XAVERIUS 1 PALEMBANG
Chelsy Susilo(4)
Cindy(6)
Elia Dibelisa(8)
Geraldus Julius(11)
Thomas Lianto(33)

Latar Belakang Kejadian Pembantaian PKI
HAM atau sering kita sebut sebagai Hak asasi manusia yang mana secara mutlak telah dimiliki oleh seseorang dari kecil tanpa harus melakukan suatu kewajiban,sehingga Negara berani untuk menjamin dan melindungi HAM yang dimilik oleh penduduknya yang juga tertulis dalam UUD 1945 yang mana menjadi landasan atau substansi HAM.Akan tetapi dahulu ada orang yang Hak yang dimilikinya telah dirampas orang lain untuk memuaskan dirinya sendiri agar golongan yang ia yakini dapat berkuasa,sehingga mereka tidak segan segan untuk membunuh,mendeskriminasi golongan lain.
Latar Belakang Kejadian Pembantaian PKI
Pada tahun 1965 terjadi pembantaian terhadap PKI yang mengakibatkan banyak korban jiwa.Partai Komunis Indonesia(PKI) merupakan partai komunis terbesar ketiga di dunia. Tragedi kemanusiaan ini berawal dari konflik internal dalam tubuh Angkatan Darat yang muncul sebagai akibat kesenjangan perikehidupan antara tentara prajurit dengan tentara perwira. Konflik laten dalam tubuh Angkatan Darat yang sudah dimulai sejak 17 tahun sebelumnya, kemudian mendapatkan jalan manifestasinya ketika muncul isu tentang rencana Kudeta terhadap kekuasaan Soekarno yang akan dilancarkan oleh Dewan Jenderal. Perwira-perwira Angkatan Darat yang mendukung kebijakan Sosialisme Soekarno kemudian memutuskan untuk melakukan manuver (aksi) polisionil dengan menghadapkan tujuh orang Jendral yang diduga mengetahui tentang Dewan Jendral ini ke hadapan Soekarno. Target operasi adalah menghadapkan hidup-hidup ketujuh orang Jendral tersebut. Fakta yang terjadi kemudian adalah tiga dari tujuh orang Jendral yang dijemput paksa tersebut, sudah dalam keadaan anumerta.
Soeharto yang paling awal menuduh PKI menjadi dalang dari peristiwa pagi hari Jumat tanggal 01 Oktober 1965 tersebut. Tanpa periksa dan penyelidikan yang memadai, Soeharto mengambil kesimpulan PKI sebagai dalang hanya karena Kolonel Untung —yang mengaku menjadi pimpinan Dewan Revolusi (kelompok tandingan untuk Dewan jendral)— memiliki kedekatan pribadi dengan tokoh-tokoh utama Biro Chusus Partai Komunis Indonesia. Hasil akhirnya adalah Komunisme dibersihkan dari kehidupan politik, sosial, dan militer, dan PKI dinyatakan sebagai partai terlarang.
Pembersihan/Pembaantaian PKI
Pembersihan dimulai pada Oktober 1965 di Jakarta, yang selanjutnya menyebar ke Jawa Tengah dan Timur, dan Bali. Pembantaian dalam skala kecil dilancarkan di sebagian daerah di pulau-pulau lainnya, terutama Sumatera. Pembantaian terburuk meletus di Jawa Tengah dan Timur.Korban jiwa juga dilaporkan berjatuhan di Sumatera utara dan Bali.Petinggi-petinggi PKI diburu dan ditangkap: petinggi PKI,Njoto, ditembak pada tanggal 6 November, ketua PKI Dipa Nusantara Aidit pada 22 November, dan Wakil Ketua PKI M.H. Lukman segera sesudahnya. Kebencian terhadap komunis dikobarkan oleh angkatan darat, sehingga banyak penduduk Indonesia yang ikut serta dalam pembantaian ini. Peran angkatan darat dalam peristiwa ini tidak pernah diterangkan secara jelas. Di beberapa tempat, angkatan bersenjata melatih dan menyediakan senjata kepada milisi-milisi lokal. Di tempat lain, para vigilante mendahului angkatan bersenjata, meskipun pada umumnya pembantaian tidak berlangsung sebelum tentara mengenakan sanksi kekerasan.
 Di beberapa tempat, milisi tahu tempat bermukimnya komunis dan simpatisannya, sementara di tempat lain tentara meminta daftar tokoh komunis dari kepala desa. Keanggotaan PKI tidak disembunyikan dan mereka mudah ditemukan dalam masyarakat. Kedutaan BesarAmerika Serikat di Jakarta menyediakan daftar 5.000 orang yang diduga komunis kepada angkatan bersenjata Indonesia.
Beberapa cabang PKI melancarkan perlawanan dan pembunuhan balasan, tetapi sebagian besar sama sekali tidak mampu melawan. Tidak semua korban merupakan anggota PKI. Seringkali cap "PKI" diterapkan pada tokoh-tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI) yang beraliran kiri. Dalam kasus-kasus lainnya, para korban merupakan orang-orang yang hanya dituduh atau diduga komunis.
Warga keturunan Tionghoa juga turut menjadi korban. Beberapa dari mereka dibunuh, dan harta benda mereka dijarah. Di Kalimantan Barat, sekitar delapan belas bulan setelah pembantaian di Jawa, orang-orang Dayak mengusir 45.000 warga keturunan Tionghoa dari wilayah pedesaan. Ratusan hingga ribuan di antara mereka tewas dibantai.
Metode pembantaian meliputi penembakan atau pemenggalan dengan menggunakan pedang samurai Jepang. Mayat-mayat dilempar ke sungai, hingga pejabat-pejabat mengeluh karena sungai yang mengalir ke Surabaya tersumbat oleh jenazah. Di wilayah seperti Kediri,Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama menyuruh orang-orang komunis berbaris. Mereka lalu menggorok leher orang-orang tersebut, lalu jenazah korban dibuang ke sungai. Pembantaian ini mengosongkan beberapa bagian desa, dan rumah-rumah korban dijarah atau diserahkan ke angkatan bersenjata
Pembantaian telah mereda pada Maret 1966, meskipun beberapa pembersihan kecil masih berlangsung hingga tahun 1969.Penduduk Solo menyatakan bahwa meluapnya sungai Bengawan Solo yang tidak biasa pada Maret 1966 menandai berakhirnya pembantaian.Pembantaian yang terburuk di Indonesia berbasis diJawa Tengah,Jawa Timur,Bali,dan Sumatera Utara.
Dalam waktu 20 tahun pertama setelah pembantaian, muncul tiga puluh sembilan perkiraan serius mengenai jumlah korban.Sebelum pembantaian selesai, angkatan bersenjata memperkirakan sekitar 78.500 telah meninggal sedangkan menurut orang-orang komunis yang trauma, perkiraan awalnya mencapai 2 juta korban jiwa. Di kemudian hari, angkatan bersenjata memperkirakan jumlah yang dibantai dapat mencapai sekitar 1 juta orang.Pada 1966, Benedict Anderson memperkirakan jumlah korban meninggal sekitar 200.000 orang dan pada 1985 mengajukan perkiraan mulai dari 500,000 sampai 1 juta orang.Sebagian besar sejarawan sepakat bahwa setidaknya setengah juta orang dibantai, lebih banyak dari peristiwa manapun dalam sejarah Indonesia. Suatu komando keamanan angkatan bersenjata memperkirakan antara 450.000 sampai 500.000 jiwa dibantai.
Sampai sekarang belum tahu pasti berapa jumlah korban akibat pembantain tersebut, mulai dari yang paling kecil 78.000 jiwa, hingga yang sedang antara 500.000-600.000 jiwa, dan yang tertinggi mencapai angka tiga juta jiwa.
Sumber:
Pendapat Kelompok :
Elia      : Saya merasa sangat perhatin terhadap apa yang telah terjadi pada kejadian pembantaian pki yang caranya bisa dikatakan sadis.Bahkan mereka di bantai tanpa.Bayangkan saja korban yang ditimbulkan dari pembantaian jumlahnya tak sedikit.Mereka yang dibantai juga belum tentu melakukan kesalahan yang dituduhkan kepada mereka hanya untuk memuaskan kepentingan kelompok yang lain.Kita manusia semuanya sama di mata Dia yang ada di atas,kita juga pernah melakukan kesalahan tetapi apakah berhak kah kita mengambil nyawa orang lain?saya merasa tidak sebab Dia yang ada di atas yang memiliki kehidupan hanya Dia yang berhak melakukan itu ,apalagi yang dibantai itu berjumlah sangat banyak.Saya berharap di dunia manapun kasus ini jangan sampai terulang.
Thomas Lianto : menurut pendapat saya, seharusnya orang" yang komunis tidaklah pantas di bunuh dengan semena mena, seharusny mereka di arahkan dan di ajarkan agama agar mereka memiliki kepercayaan kepada tuhan.
Chelsy Susilo : Menurut pendapat saya , seharus nya para terdakwa yaitu mastarakat yg komunis tidakharus di perlakukan seperti itu . Karena mereka punya hak untuk mengeluarkan pendapat dan bebas memilih agama . Harus ny mereka diberi pengarahan tentang penting nya agama untuk kehidupan bukan malah d siksa seperti itu .
Julius Juanda : menurut pendapat saya, orang komunis yang ada di indonesia tidak harus dibunuh karena melanggar ham walaupun mereka adalah komunis tetapi mereka tetap memiliki ham dan harusnya mereka di bimbing untuk lebih baik dan meninggalkan ajaran komunis agar kehidupan mereka dapat diterima oleh masyarakat bangsa indonesia.
Cindy : menurut pendapat saya, kaum komunis seharusnya tidak di bunuh hingga secara paksa karena setiap manusia memiliki ham walaupun manusia tersebut seorang komunis, pemerintah harusnya memberikan edukasi kepada kaum komunis sehingga mereka paham  yang seharusnya di pilih dan mereka dapat diterima masyarakat maupun negara.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar