Jumat, 18 Agustus 2017

KASUS PEMBAKARAN ZOYA Disusun Oleh Kelompok 1 XI MIPA 8 SMA Xaverius 1 Palembang

Disusun Oleh
Kelompok 1 XI MIPA 8  SMA Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota:
1.      Cantik Putri D. ( 3 )
2.      Della Angela ( 8 )
3.      Gabriel Natalnael ( 14 )
4.      Luigi Thumbellina A. ( 23 )
5.      Roselin Yosefa ( 33 )
6.      Titi Lestari ( 37 )




(Link video) youtube: https://youtu.be/R_s3l2p4If8

Kasus pelanggaran HAM yang sempat menjadi buah bibir masyarakat Indonesia pada awal bulan Agustus 2017 ini merupakan kasus main hakim sendiri yang dilakukan sekelompok warga terhadap MA (Muhammad Al Zahra) alias Zoya (30) karena dituduh mencuri satu unit amplifier di musala Al Hidayah,Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, pada Selasa (1/8/2017), pukul 16.30 WIB.

Berdasarkan kronologi yang beredar di masyarakat, Rojali, marbut musala Al-Hidayah terkejut akan laporan seorang warga setelah salat Ashar. Mang Haji Zainul melaporkan bahwa amplifier yang terpasang di musala hilang. Pikiran Rojali kemudian mengarah pada kecurigaan terhadap seorang pria dengan inisial MA yang sempat ikut Salat Ashar berjamaah. Setelah 15 menit mencari, Rojali berhasil menemukan pria tersebut sedang mengendarai motor berwarna merah dan membawa amplifier yang mirip dengan amplifier musala. Sontak MA lari ketika Rojali menyambanginya.Namun nahas, motor yang dikendarai MA jatuh dan Ia tertangkap warga ketika berusaha kabur dengan menyeberangi sungai.

Rojali sudah berusaha sekuat tenaga menenangkan massa yang terlanjur emosi.Namun amukan massa begitu besar sehingga Zoya yang tak berdaya itu dianiaya secara sadis. Disaksikan massa dari anak-anak sampai orang dewasa, Zoya dikepruk kepalanya, ditelanjangi, diseret, disiram bensin lalu dibakar hidup-hidup. Tak ada rasa kasihan sedikitpun di antara massa sore itu. Sebagian warga malah asyik mengabadikan momen pembantaian itu dari smartphone.

Dalam video yang beredar, Zoya yang merintih bersimbah darah setelah dikepruk kepalanya, mengiba kepada massa: "Pak, tolong saya pak, kasihan saya pak. Istri saya lagi hamil 6 bulan Pak. Jangan bunuh saya Pak.." Tapi warga makin beringas, kepala Zoya dikepruk pakai balok bata hingga banjir darah dan sekarat. Tak puas, massa meneriakkan yel-yel untuk menyemangati penganiayaan. Mereka berteriak: bakar..!!! bakar..!!! Zoya yang lunglai bersimbah darah tanpa busana pun diseret. Tanpa diadili apapun, Zoya yang baru diduga pencuri ampli itu disiram bensin dan dibakar hidup-hidup. Zoya pun meninggal akibat luka bakar sekitar 80 persen.

Walaupun Kepala Kepolisian Resor Bekasi Kabupaten Komisaris Besar Asep Adisaputra mengatakan, berdasarkan keterangan saksi-saksi, pihaknya menyimpulkan bahwa Zoya terduga kuat pelaku pencurian di Musala-Al-Hidayah. Aksi main hakim sendiri oleh warga sangat tidak dibenarkan dan telah menyimpang dari hukum yang berlaku di Indonesia. Sampai saat ini polisi telah menangkap lima tersangka yang diduga menganiaya Muhammad Aljahra alias Zoya hingga tewas. Satu di antaranya adalah orang yang membakar Zoya hidup-hidup. "Dia terpaksa kami tembak kakinya karena berusaha kabur," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Metro Bekasi Ajun Komisaris Besar Rizal Marito, Kamis, 10 Agustus 2017. Tersangka yang dimaksud itu berinisial SD. Ia dibekuk di Pandeglang, Banten. Rizal mengatakan SD menjadi tersangka utama yang membakar Zoya. SD mengaku membeli satu liter bensin jenis Pertamax seharga Rp 10 ribu dari pedagang eceran, tak jauh dari lokasi kejadian. Bensin tersebut dibawa menggunakan kantong plastik kemudian disiramkan ke tubuh Zoya. Selain SD, polisi telah menetapkan AL, KR, NA, dan SU. Para tersangka dijerat pasal pengeroyokan hingga menyebabkan orang meninggal sesuai Pasal 170 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dengan ancaman hukuman penjara maksimal 12 tahun.

Kepergian Zoya meninggalkan luka yang mendalam bagi istrinya, Siti Zubaidah yang tengah mengandung enam bulan dan keluarga yang telah ditinggalkan. Selain itu,foto-foto dan video brutal saat Zoya dianiaya dan dibakar hidup-hidup pun sempat beredar luas di media sosial menggambarkan sisi kemanusiaan masyarakat yang seakan-akan telah hilang.

Sumber :

1.      https://m.kumparan.com/nadia-riso/polisi-imbau-warga-hapus-video-zoya-dibakar

2.      http://m.suara.com/news/2017/08/06/132232/zoya-dibakar-hidup-hidup-polisi-jangan-lagi-main-hakim-sendiri

3.      http://poskotanews.com/2017/08/10/sebelum-tewas-dibakar-zoya-menderita-selama-1-jam/

4.      https://m.kumparan.com/nadia-riso/polisi-zoya-terbukti-mencuri-tapi-tidak-boleh-dibakar

5.      https://metro.tempo.co/read/news/2017/08/16/064900369/zoya-dibakar-massa-istri-dia-hanya-bawa-obeng-tang-dan-solder.

6.      http://infaqdakwahcenter.com/read/idc/368/tragedi-ampli-berdarah-muhammad-alzahra-zoya-tewas-dibakar-massa-ayo-bantu-keluarga-yatimnya/

7.      https://metro.tempo.co/read/news/2017/08/10/064898850/zoya-dibakar-massa-polisi-tersangka-beli-1-liter-bensin-eceran



Pendapat Kelompok

1.      Cantik Putri D.
Menurut pendapat saya pribadi, kejadian yang dialami sudah menentang diantaranya:
1.         Hak untuk hidup dan mempertahankan hidupnya (28 A) dimana Ia dibakar secara hidup-hidup tanpa pembelaan,
2.         Hak untuk bekerja (28 D) dimana Ia dikekang oleh masyarakat waktu itu (yang menuduhnya) untuk jeri payahnya,
3.         Hak untuk bebas dari penyiksaan (28 G) serta Hak untuk hidup dan tidak disiksa (28 I) dimana Ia langsung disiksa secara mengerikan tanpa basa basi.
Bukan hanya menentang HAM, tetapi juga melewati batas dari apa yang telah diwariskan oleh Tuhan kepada kita umatnya.. seharusnya masyarakat yang menyaksikan bukan hanya merekam dan memprovokator melainkan memberanikan diri untuk membebaskan si korban, Zoya.


2.      Della Angela
Menurut pendapat saya, kasus pembakaran Zoya merupakan dampak perilaku negatif yang kini berkembang di masyarakat, yakni menganggap sesuatu benar apabila dilakukan oleh orang banyak. Tergambar di video brutal pembakaran Zoya, warga yang menganiayanya tampak bertepuk tangan seakan-akan meraih sebuah kemenangan ketika berhasil memukuli dan membakar korban. Ini merupakan perilaku yang berbahaya apabila dibiarkan. Masyarakat akan menganggap bahwa aksi main hakim sendiri merupakan hal yang benar bila dilakukan oleh orang banyak. Kemudian timbul suatu pertanyaan: Mengapa keindahan perilaku yang selama ini diagungkan sebagai identitas asli Indonesia makin pudar?. Bukankah sejak kecil kita telah dikenalkan bahwa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang rukun dan terbuka. Penanda sosial seperti ramah, gotong royong,rukun,toleransi yang tinggi dan saling menghormati antar masyarakat masih melekat sebagai identitas masyarakat kita. Bahkan negara lain menyebut kita sebagai "The Land of Harmony", yang dapat diartikan bahwa Indonesia di mata dunia merupakan negara yang harmonis dan damai. Tapi hal ini berbeda dengan kenyataanya, prinsip yang justru muncul di masyarakat kita adalah "Anda sopan kami segan,Anda kurang ajar kami hajar". Ungkapan itu mencerminkan masyarakat kita sebagai sosok yang sangat arogan. Apalagi penggunaan kata 'kami' menegaskan watak masyarakat Indonesia yang reaktif, destruktif, dan provokatif.  Saya prihatin akan keadaan masyarakat Indonesia saat ini. Layaknya sedang mencari identitas diri agar terlihat paling benar dan dikira sebagai pahlawan, malah menghilangkan nyawa orang lain dengan sadis dan tidak beradab. Mirisnya, sikap keadaban individu masih ada ketika masyarakat hadir secara individu. Namun, bila masyarakat telah berkumpul menjadi kekuatan massa keadaban tersebut pun hilang.

Terlepas dari benar atau salahnya Zoya, apakah kita memiliki hak untuk mengakhiri hidup orang lain?. Telah dituliskan pada UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia bahwa HAM merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng, oleh karena itu harus dilindungi, dihormati, dipertahankan, dan tidak boleh diabaikan, dikurangi atau dirampas oleh siapapun. Hal ini juga bertentangan dengan Pasal 28A yaitu Hak untuk hidup, Pasal 28D yaitu hak atas pengakuan,jaminan perlindungan dan kepastian hukum yang adil dan perlakuan yang sama di depan hukum, serta Pasal 28G yaitu hak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia. Oleh sebab itu,biarlah tragedi yang merobohkan keadaban publik ini menjadi yang terakhir dan menjadi pelajaran bagi kita semua agar tidak mudah terprovokasi oleh khalayak ramai dan bertindak sesuai akal sehat. Tindakan sesuai prosedur hukum bagi pelaku main hakim sendiri juga wajib ditegaskan oleh aparat penegak hukum agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi.

3.      Gabriel Natalnael
Menurut saya 5 tersangka pembakaran Zoya ini sebaiknya dihukum dengan berat karena menuduh Zoya yang masih terduga pencuri amplifier.Sebaiknya mereka memastikan dulu apakah Zoya benar benar diduga mencuri atau tidak. Warga tidak diberi hak untuk main hakim sendiri, maka dari itu sebaiknya kelima tersangka ini menangkap Zoya dan menginterogasinya dulu, karena menurut keterangan kelima tersangka ini langsung menginjak kepala Zoya, memukul pungung dan perut Zoya, dan menyiram dan membakar Zoya. Hal ini udah termasuk pelanggaran HAM yang berkaitan dengan pembunuhan dan warga negara dilarang untuk saling membunuh karena itu merupakan pelanggaran HAM yang berat, maka dari itu kelima tersangka ini menurut saya harus dihukum pasal yang berat.


4.      Luigi Thumbellina Amri
Menurut saya, kasus zoya ini merupakan kasus yang melanggar HAM Pasal 28D ayat (1) yang berbunyi :"Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum". Masyarakat menghakimi zoya sendiri tanpa ada keputusan dari pihak polisi atau melaporkannya. Mereka seharusnya menghormati setiap HAM yang dimiliki oleh setiap manusia sesuai Pasal 28J
ayat (1) yang berbunyi :"Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara". Seharusnya mereka tidak langsung menghakimi zoya sendiri karena sang korban pun memiliki hak untuk menjelaskan sesuai pada Pasal 28G ayat (1) yang berbunyi :"Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi". Saya sangat tidak setuju dengan tindakan masyarakat yang langsung main hakim sendiri sehingga tidak melihat hak orang masing-masing


5.      Roselin Yosefa
Menurut saya, kasus ini merupakan pelanggaran ham karena telah menyebabkan nyawa seorang meninggal, terutama karena disebabkan oleh perlakuan yang tidak adil. Perlakuan tidak adil yang dialami si pelaku tidak pantas untuk ditiru. Seharusnya warga tidak boleh main hakim sendiri dan seenaknya menuduh seseorang hanya karena masalah kecil. Namun sebenarnya kasus ini adalah akibat dari kesalahpaham dan pemikiran warga yang sempit. Saya tidak setuju dengan perlakuan warga sekitar yang saya anggap sebagai pelanggaran ham. Sudah seharusnya masyarakat menyelesaikan masalah dengan musyawarah dengan pihak yang bertanggung jawab ketimbang menyelesaikan masalah sendiri tapi ujungnya merugikan diri sendiri dan orang lain.

6.      Titi Lestari
Menurut pendapat saya Kasus Pembakaran Zoya ini terjadi karena kesalahpahaman yang berakibat fatal.Kasus ini sangatlah melanggar HAM dikarenakan mereka yang membakar Zoya tersebut main hakim sendiri,mereka tidak berfikir terlebih dahulu sebelum melakukan suatu tindakan.Bahkan mereka membakar Zoya secara hidup-hidup tanpa memikirkan bahwa apa yang telah mereka perbuat sangatlah melanggar HAM yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 28  A;hak untuk hidup,serta 28 I ayat 1 ; hak untuk tidak disiksa.

Sebagai seorang siswa saya berpendapat bahwa orang-orang yang membakar serta menganiaya Zoya tidak manusiawi serta tidak memiliki akal sehat ,mereka tidak hanya membakar dan menganiaya saja namun mereka secara tidak langsung juga memfitnah Zoya yang tidak bersalah.Sebagai bangsa Indonesia kita harus berfikir terlebih dahulu sebelum melakukan suatu tindakan serta tidak asal tuduh/memfitnah seseorang tanpa mengetahui kebenarannya.


1 komentar: