Selasa, 15 Agustus 2017

KASUS PEMBAKARAN MUHAMMAD ALZAHRA HIDUP-HIDUP DISUSUN OLEH KELOMPOK 2 XI MIPA 5 SMA XAVERIUS 1 PALEMBANG

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 2 XI MIPA 5 SMA XAVERIUS 1 PALEMBANG
NAMA ANGGOTA:
1.     Jeany Hanifa                     (16)
2.     Jordan Cornelius               (18)
3.     K.M. Reza Mirza T.        (19)
4.     Leo Vernadesly                 (22)
5.     Marissa Oktaviani P.        (24)
6.     Sya'Baniyah Nurita Sari   (37)


Link Video:

Kasus pelanggaran HAM di Indonesia, sudah menjadi salah satu hal yang sering muncul di trending topik masa kini. Tak lama dari waktu artikel ini dibuat, telah terjadi kasus pelanggaran HAM yang cukup berat yakni adanya pembakaran orang secara hidup" pada Selasa,1 Agustus 2017 di Pasar Muara Bakti, Desa Muara Bakti, Babelan, Kabupaten Bekasi pada 1 Agustus 2017.
Orang yg dibakar ini pun bernama M. Alzahra atau biasa dipanggil Jogya(Zoya) dan selanjutnya akan disebut dengan MA. MA adalah seorang tukang reparasi amplifier untuk menafkai istrinya yang tengah mengandung anak keduanya dan merawat anak pertamanya.
Di kala itu, MA melakukan shallat biasa di Mushala Al -Hidayah, namun penjaga masjid melihat adanya kegiatan yang tidak biasa dilakukan yakni MA masuk ke ruangan tempat amplifier masjid itu berada. Penjaga Mushala berada dalam keadaan curiga kepada MA. Dan ketika MA keluar, penjaga Mushala pun mengejar MA karena kedapatan amplifier di Mushala telah hilang.
Penjaga Mushala pun mulai berteriak ada maling, serontak sekumpulan massa berkumpul dan berhasil menangkap MA yang pergi dengan sepeda motor miliknya. Ketika MA tertangkap, Ia berusaha menjelaskan bahwa Ia bukan pelakunya. Namun jumlah massa yang kontra terhadap dirinya lebih banyak daripada yang mencoba membantunya dari main hukum sendiri yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat.
Oleh keputusan main hakim sendiri oleh masyarakat, MA pun dijatuhi hukuman mati dengan cara dibakar hidup-hidup di tempat Ia tertangkap lebih tepatnya di saluran got. Massa pun serontak berteriak kebahagiaan dan tidak ada seorang pun yang berani menolong MA karena takut memiliki nasib yang sama seperti MA.
Banyak orang yang merekam kejadian ini dan mengupload ke media social namun banyak  pihak yang sengaja menghapusnya dengan alas an agar istri korban tidak mengetahui hal ini namun sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga, kabar ini pun sampai ke istri korban. Padahal istri korban dalam keadaan yang tengah hamil dan merawat anaknya yang masih balita.

Kasus ini pun dengan cepat merembes ke polisi karena para biang kadi harus dibabat tuntas. Dan memang terbukti benar MA itu mencuri apakah memang pantas Ia dibakar hidup-hidup??? Kapolres Kabupaten Bekasi Kombes Asep Adi Saputra mengatakan, kelima pelaku itu memiliki peran yang berbeda-beda. Lima pelaku itu berinisial SU (40), NA (39), AL (18), KR (55) dan SD (27).
"Dua orang yang ditangkap diawal adalah SU, dia mukul punggung dan perut MA. Sedangkan NA memukul bagian perutnya," ujar Asep di Mapolda Metro Jaya, Rabu (9/8/2017). Asep menambahkan, AL berperan menginjak-injak kepala MA. Adapun KR berperan memukuli perut dan punggung korban.
Namun, hingga kini KR belum mengakui perbuatannya. Menurut Asep, berdasarkan keterangan saksi lainnya KR ikut mengeroyok MA."Terakhir SD, dia lah yang beli bensin, nyiram dan bakar MA," kata Asep.Atas perbuatannya kelimanya dijerat Pasal 170 KUHP tentang Pengeroyokan dengan ancaman hukuman penjara maksimal 12 tahun.
Semoga dengan adanya tragedy ini, seluruh masyarakat NKRI akan sadar bahwa main hakim sendiri itu bukanlah hal yang baik dan mencerminkan perilaku manusia yang memiliki martabat.

Sumber:
  1. http://megapolitan.kompas.com/read/2017/08/09/16513961/ini-peran-lima-pelaku-kasus-pembakaran-ma-di-bekasi
  2. http://berita.dreamers.id/article/65360/kronologi-dan-kesaksian-soal-terduga-maling-dibakar-hidup-hidup-di-bekasi-salah-sasaran
  3. https://kumparan.com/taufik-rahadian/titik-terang-kasus-pembakaran-terduga-pencuri-ampli-di-bekasi
  4. https://today.line.me/id/pc/article/Polisi+Periksa+10+Saksi+Kasus+Pria+Dibakar+Hidup-hidup+di+Bekasi-lZkoxL?utm_source=facebook&utm_medium=linetodayhome&utm_campaign=home_a
  5. http://selaluindah.com/kronologi-pembakaran-ma-pencuri-amplifier-musala-di-bekasi/


Opini:
  1. Jeany Hanifa
Masalah ini tidak perlu sampai membakar seorang terduga melainkan dibawa saja ke kantor polisi terdekat. Dan disadari atau tidak siapapun yang terlibat mengejar dan membakar pria ini walau cuma sekedar ikut-ikutan atau bersorak maka mereka sudah menjadi pembunuh berdarah dingin dan melanggar perintah Tuhan.
Keluarga korban memang tidak menuntut karena takut akan habis banyak uang berperkara namun kalau pihak kepolisian berinisiatif harusnya tanpa laporan keluarga kasus seperti ini bisa tetap diproses dan warga yang turut ambil bagian bisa dikenai pidana. Masyarakat Indonesia sangat menjunjung tinggi kehidupan beragama. Tapi ternyata hal ini pun tidak serta merta menjadikan mereka beradab.Selama berpuluh-puluh tahun pendidikan kita banyak berorientasi pada kompetisi nilai dan bukan proses. Yang dilihat adalah hasil akademik dan banyak mengesampingkan nurani dan moralitas.
Jadi, lebih baik diselesaikan dengan kepala dingin atau diserahkan kepada pihak yang berwajib dalam menangani masalah kriminal. Karena dengan hal itu, pihak berwajib pasti akan menggali bukti dan keterangan benar atau salahnya MA menucuri amplifier mushola bukan dengan main hakim sendiri atau membakarnya secara hidup hidup.
  1. Jordan Cornelius
Menurut saya,pada kasus pembakan M.A. secara hidup-hidup merupakan cara yang sangat keji karena dengan melakukan pembakaran itu si korban M.A. mati secara tersiksa,juga masyarakat disana juga main hakim sendiri karena mereka tidak mengusut kasus ini ke meja hijau karena kasus seperti itu harusnya bisa diupayakan dengan usaha hukum seperti yang telah diatur dalam pasal 28D yang mengatur tentang pengakuan dan perlindungan hukum lalu tentang pasal 28I yang mengatur tentang hak untuk hidup dan terhindar dari siksaan padahal belum tentu saudara M.A. merupakan pencuri karena dia sebenarnya seorang mekanik dan saat ingin menjelaskan ia lansung diserang dan dibakar dengan cara membabi buta sehingga menyebabkan ia meninggal ditempat saat itu ia masih punya satu istri yang sedang hamil,padahal dalam pancasila sila ke 2 tertulis manusia yang adil dan beradab namun kelakuannya seperti ini,sama sekali tak mencerminkan manusia yang beradab,dalam kasus ini kita juga sama sekali tak bisa melihat adanya HAM yang padahal sudah jelas jelas telah diatur dalam pasal 28 namun apa yang terjadi?!

Manusia- manusia di Indonesia ini sama sekali tak memperdulikan adanya ham sampai memperlakukan orang sampai begitu,dimanakah letak keadilan HAM di Indonesia ini? Masih adakah HAM di Indonesia kita ini? Apakah HAM di Indonesia ini sudah mati? Semoga saja tidak,saya percaya bahwa kasus serupa seperti ini tak perlu ada lagi karena sekali lagi saya percaya dan yakin bahwa HAM MASIH ADA DI INDONESIA kita tercinta ini.

  1. K.M. Reza T.

Menurut pendapat saya tindakan para warga yang membakar MA secara hidup-jhidup adalah perilaku yang tidak baik. Karena walau MA adalah seorang maling, ia tidak seharusnya dibakar hidup-hidup karean Indonesaia ini sendiri memiliki prosedur-prosedur hokum dalam hal tersebut yang tercantum pada UUD 1945.


  1.  Leo Vernadesly

Menurut pendapat saya terhadap kasus tersebut , keputusan yang diambil warga itu benar-benar tidak sesuai dengan dasar hukum yang berlaku, mereka menggunakan hukum main sendiri dimana yang kuat lah yang menang seperti hal yang sama pada hukum rimba. Padahal hukum rimba hanya berlaku di hutan sedangkan mereka tinggal dalam kehidupan social yang membutuhkan satu sama lain dn era globalisasi yang sangat berkembang.
Dengan saksi yang begitu minim dalam melihat hal tersebut, hanya mihat di luar tanpa melihat di dalam isinya atau maksud dibaliknya adalah kesalahan terbesar pada warga, walau memang benar MA mencuri amplifier tersebut. Bagaimana bisa kita mengetahui secara keseluruhan mengenai isi buku kalau kita hanya melihat bagian covernya saja. Mentang mentang covernya jelek kita mengatakan bahwa isi buku itu pasti jelek, namun kita tidak tahu bahwa buku itu adalah buku lama yang mengandung informasi yang lengkap dan akurat mengenai kebenarannya, sehingga buku tua itu langsung kita buang dan bakar. Namun warga pun tidak memberikan MA KESEMPATAN UNTUK menjelaskan seperti yang tetera pada pasal 28 dan 28 E ayat 3 dimana Ia berhak untuk menyatakan pendapatnya alias menjelaskan mengenai kejadian yang sudah terjadi.
Lalu tindakan warga yang membakar MA hidup-hidup itu tidak benar sama sekali, karean MA ini pun memiliki hak unntuk hiudp dan tidak disiksa seperti yang warga tersebut lakukan. Karena pada UUD 1945 tidak pernah tertera bahwa kita memiliki hak untuk mengakhiri hidup orang lain. Selain itu seperti 5 provokator yang sudah ditangkap polisi, terlihat jelas bahwa sebelum MA dibakar Ia diinjak-injak  martabatnya dan tidak diperbolehkan untuk membela dirinya dari keroyokan massa tersebut padahl Ia mendapatkan kesempatan untuk melindungi dirinya dan tidak direndahkan martbaatnya seperti yang tertera pada pasal 28 G ayat 1 dan 2.
Dan salah satu provokator tersebut baru berusia 18 tahun, hal inilah yang menjadi bibit-bibit busuk yang akan meracuni Negara dengan tindakan dan pikirannya. Bayangkan bagaimana bias seorang yang berusia 18 tahun sudah tercemari akan suatu tindakan yang busuk ini (main hakim sendiri) bahkan para provokator lainnya yang tergolong sudah berumur masih belum bias dengan dewasa menyikapi masalah ini dengan kepala dingin dan bukannya memberikan contoh kepada generasi muda bahwa seharusnya setiap masalah diselesaikan dengan cara damai.

Kemudian bayangkan saja istri korban pun tidak diperbokehkan mengethaui akan berita ini karean takutanya akan terjadi percekcokan padahal istri korban perlu mengetahui akan hal ini yang sudah melanggar pasal 28F yang mengatur tentang kebebasan memeperoleh informasi karena MA adalah pasangan hidupnya dan suaminya serta ayah dari anak-anak mereka yang masih kecil dan sangat membutuhkan kasih saying dari orangtua ditambah lagi istri MA pun tengah hamil dan akan mem,butanya susah mencari uang untuk melakukan persalinann nanti.

Kemudian, dimanakah HUKUM DI INDONESIA INI YANG KATANYA NEGARA HUKUM???? Para KORUPTOR yang sudah banyak mencuri banyak uang rakyat namun hanya dipenjara singkat dan bahkan ditambakan dengan GRASI pula, sedangkan yang hanya maling amplifier ini dibakar hidup-hidup tanpa adanya rasa kemanusiaan. Jangan sampai yang berduit akan aman dan tidak pernah ditindas di Negara kita ini.

Ditambah lagi dimana posisi kedudukan MA di hukum yang tidak mendapat perlakuan yang sama( seperti pada pasal 28 D), malah digunakan hukum rimba bukannya hukum yang diakui di Indonesia yakni UUD 1945 dengan dasar Negara pancasila yang pada sila ke -2 berbunyi "Kemanusiaan yang adil dan beradab.". Apakah tindakan yang diambil warga ini merupakan tindakan yang beradab. TENTU BUKAN, dimana letak kemanusiaan para warga yang tega membakar seseorang hidup-hidup???

Oh sungguh tidak adil dan masih maraknya egoisnya masyarakat di negeriku yang tercinta ini, aku harap ini cepat berakhir. HAM nya ingin diakui namun tidak pernah mau menghoramti HAM orang lain seperti pada pasal 28J karena segala sesuatu yang memiliki hak akan diimbagi oleh sebuah kewajiban yang patut dipatuhi pula. Tidak sepatutnya kita hanya ingin bahwa diri kita diakui tetapi kita tidak mau menghormati orang lain karena pada dasarnya kita adalah makhluk social yang saling membantu sama lain.

Seharusnya ini menjadi pelajaran bagi Negara kita yang tercinta ini dimana kita harus bisa hidup saling toleransi, hilangkan budaya sogok menyogok demi perlakuan yang berbeda-beda, hilangkan hukum rimba atau hukum main sendiri, karena pada dasarnya kita indah dalam hidup perdamaian. Cukup dengan masa lalu kita dipecah oleh adanya penjajah, kita harus bisa saling mendukung dan toleransi antara sesama umat manusia, karena saya yakin PANCASILA DAN HAM TIDAK AKAN PERNAH MATI DI INDONESIA.
                                                                                                      
  1. Marissa Oktaviani P.
Menurut saya, membakar seseorang merupakan tindakan yang tidak terpuji dan itu merupakan pelanggaran HAM yang berat karena walaupun Joya yang mengambil amplifier tersebut, tetapi yang berhak mengadilinya hanyalah kuasa hukum, bukan masyarakat setempat. Seharusnya Joya di interogasi terlebih dahulu dan masyarakat setempat jangan asal main hakim sendiri.
  1. Sya'baniyah Nurita Sari
Menurut saya, tindakan pembakaran M.A secara hidup-hidup merupakan tindakan yang tidak terpuji dan tidak berprikemanusiaan karena M.A. diperlakukan layaknya seorang hewan. Dalam kasus ini kita tidak dapat menghakimi M.A. secara satu pihak, karena Negara Indonesia merupakan Negara yang menganut azas hukum praduga tak bersalah. Azas ini memberlakukan seseorang tidak dapat di hukum sebelum terbukti bersalah di pengadilan. Hal tersebut berkaitan erat dengan pasal 28D yang berisi "Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum". Perlakuan tersubut tidak didapatkan oleh korban karena ia sudah dihukum oleh massa tanpa mendapat kesempatan untuk membela diri. Negara indnesia adalah Negara hukum, jadi pihak yang berwajiblah yang berhak dan memutuskan bahwa M.A bersalah atau tidak, bukan dengan main hakim sendiri.

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar