Sabtu, 19 Agustus 2017

Kasus Pelanggaran Munir Disusun Oleh Kelompok 7 XI Mipa 3 SMA Xaverius 1 Palembang

Disusun Oleh
Kelompok 7 XI Mipa 3 SMA Xaverius 1 Palembang
Antonia Serrin (3)
Chika Nathania (6)
Pranava Govindra (28)
Rio Oktavianes (30)
Vannesco Christolim(35)



Link Video Youtube: https://youtu.be/MRrZkAIvKqY
(Penjelasan mengenai kasus tersebut 5w+1H)
Biodata :
Munir Said Thalib (lahir di Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965 – meninggal di Jakarta di dalam pesawat jurusan ke Amsterdam, 7 September 2004 pada umur 38 tahun) adalah seorang aktivis HAM Indonesia keturunan Arab-Indonesia. Jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial.

Penyebab:
Beberapa tahun silam, tepatnya pada 2004, Indonesia dikejutkan oleh meninggalnya seorang aktivis HAM, Munir Saib Thalib. Kematianya menimbulkan kegaduhan politik yang menyeret Badan Intelijen Negara (BIN) dan instituti militer negeri ini. Berdasarkan hasil autopsi, diketahui bahwa penyebab kematian sang aktivis yang terkesan mendadak adalah karena adanya kandungan arsenik yang berlebihan di dalam tubuhnya. Munir meninggal ketika melakukan perjalanan menuju Belanda. Ia berencana melanjutkan studi S2 Hukum di Universitas Utrecht, Belanda, pada 7 September 2004. Dia menghemtbuskan nafas terakhirnya ketika pesawat sedang mengudara di langi Rumania.

Kronologi :
Pada 6 September 2004 Munir menuju Amsterdam untuk melanjutkan studi program master (S2) di Universitas Utrecth Belanda. Munir naik pesawat Garuda Indonesia GA-974 pada pukul 21.55 WIB menuju Singapura untuk kemudian transit di Singapura dan terbang kembali ke Amsterdam.

Tiba di Singapura pada pukul 00.40 waktu Singapura. Kemudian pukul 01.50 waktu Singapura Munir kembali terbang dan menuju Amsterdam.Tiga jam setelah pesawat GA-974 take off dariSingapura, awak kabin melaporkan kepada pilot Pantun Matondang bahwa seorang penumpang bernama Munir yang dudukdikursi nomor40G menderitasakit. Munir bolak balik ke toilet. Pilot meminta awak kabin untuk terus memonitor kondisi Munir. Munir pun dipindahkan duduk di sebelah seorang penumpang yang kebetulan berprofesi dokter yang juga berusaha menolongnya penerbangan menempuh waktu 12 jam.
       
Namun dua jam sebelum mendarat 7 September 2004, pukul 08.10 waktu Amsterdam di bandara Schipol Amsterdam, saat diperiksa, Munir telah meninggal dunia. Pada tanggal 12 November 2004 dikeluarkan kabar bahwa polisi Belanda (Institut Forensik Belanda) menemukan jejak-jejak senyawa arsenikum setelah otopsi.  Hal ini juga dikonfirmasi oleh polisi Indonesia. Belum diketahui siapa yang telah meracuni Munir, meskipun ada yang menduga bahwa oknum-oknum tertentu memang ingin menyingkirkannya. Salah satunya adalah kebencian para penguasa orde baru terhadap gerakan "human right‟ Munir . Mereka "penguasa" yang telah semena-mena menindas,membunuh, dan membantai rakyat kecil mendapat perlawanan keras dari Munir. Munir tanpa lelah terus mencari fakta dan realita untuk mengungkap kasus-kasus pembantaian orang dan rakyat yang tidak berdosa. Meskipun dirinya dan keluarganya menerima berbagai ancaman pembunuhan, Munir tetap melangkahkan perjuangannya dengan darah jadi taruhannya. Orang pertama yang menjadi tersangka pertama pembunuhan Munir (dan akhirnya terpidana) adalah Pollycarpus Budihari Priyanto. Selama persidangan ,terungkap bahwa pada 7 September 2004, seharusnya Pollycarpus sedang cuti. Lalu ia membuat surat tugas palsu dan mengikuti penerbangan Munir ke Amsterdam.

Aksi pembunuhan Munir semakin terkuat tatkala Pollycarpus 'meminta' Munir agar berpindah tempat duduk dengannya. Sebelum pembunuhan Munir, Pollycarpus menerima beberapa panggilan telepon dari sebuah telepon yang terdaftar oleh agen intelijen senior.
Dan pada akhirnya, 20 Desember 2005 Pollycarpus BP dijatuhi vonis 20 tahun hukuman penjara. Meskipun sampai saat ini, Pollycarpus tidak mengakui dirinya sebagai pembunuh Munir, berbagai alat bukti dan skenario pemalsuan surat tugas dan hal-hal yang janggal.     

HAK YANG DI LANGGAR
Hak yang di langgar dalam kasus munir yaitu karena telah menghilangkan nyawa dengan sengaja atau sudah melanggar hak untuk hidup dalam Pasal 28  "Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankanhidupdankehidupannya".
Banyak orang yang terlibat dalam kejadian itu. Orang pertama yang menjadi tersangka pertama pembunuhan Munir (dan akhirnya terpidana) adalah Pollycarpus Budihari Priyanto. Selama persidangan, terungkap bahwa pada 7 September 2004, seharusnya Pollycarpus sedang cuti. Lalu ia membuat surat tugas palsu dan mengikuti penerbangan Munir ke Amsterdam
Dan Pembunuhan berencana dalam KUHP diatur dalam pasal 340 adalah " Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana ( moord ), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun".

Sumber:

OPINI

Antonia Serrin
Menurut saya, kasus ini perlu diselidiki kembali. Karena pembunuhan yang terjadi pada Alm. Munir belum terselesaikan dan menjadi bayang-bayang buruk bagi keluarga Munir. Kemudian, tidak adanya keadilan bagi Munir. Walaupun pembunuh, Polycarpus, keluar dari penjara, tetapi kita masih membutuhkan bukti lebih jelas dan penyelidikan lebih jelas. Kesalahannya adalah kita kurang tegas terhadap penyelidikan kasus. Seharusnya penyelidikan ini bisa langsung diselesaikan.

Chika Nathania
Kasus pembunuhan munir menurut saya memang pelanggaran ham karena pihak" yg merencanakan dan yg melakukan diibaratkan mengambil hak orang lain untuk hidup, dan hal ini termasuk pembunuhan berencana

Pranava Govindra
Menurut saya kasus munir adalah pelanggaran ham  yang sangat berat , munir merupakan aktifis ham yang mengatasi masalah ham, dia memiliki hak untuk hidup dan berpendatan namun hilang seketika karena di racuni. Harusnya pembunuh munir harus mendapat hukuman yang setimpal  dengan apa yang dia perbuat dengan munir. Pelanggaran ham ini merupakan pelanggaran ham yang berat karena munir harus kehilangan hak hidup dan berpendapat.

Rio Oktavianes
Menurut saya kasus munir merupakan pelanggaran HAM yang berat dikarenakan telah melakukan pembunuhan berencana. Hal ini sangat disayangkan karena Munir yang merupakan aktifis ham menjadi korban. Kasus ini menjadi tersamar karena bnyk kepentingan keamanan hingga kepentingan politik disana. Sehingga munir yang merupakan pejuang ham menjadi korban dari kepentingan-kepentingan tersebut.
Penegakan hukum di kasus ini menurut saya belum ditegakan dikarenakan Pollycarpus hanyalah menjadi korban atas misteri ini. Dikarenakan bukti-bukti yang seharusnya tidak menjurus ke pollycarpus malah diimpaskan ke pollocarpus yang menjadi korban dari suatu kepentingan kelompok.

Vannesco Christolim
Kasus pembunuhan munir , menurut saya adalah kasus pelanggaran ham yang masih menjadi suatu misteri sampai sekarang karena tidak ditemukan bukti yang kuat kenapa munir dibunuh dan kasus munir menurut saya adalah pembunuhan yang telah direncanakan secara matang.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar