Jumat, 18 Agustus 2017

Kasus Pelanggaran Ham Berat terhadap Marsinah Seorang Buruh Pabrik Disusun oleh : Kelompok 4 XI MIPA 8 Sma Xaverius 1 Palembang

Disusun oleh  :
Kelompok 4 XI MIPA 8 Sma Xaverius 1 Palembang
Citra Rentama (5)
Fransisca Christina(13)
Muhammad Farhan (27)
Maria Angelica N. (24)
Sindy Suntami Effendy (35)



Link video youtube : https://youtu.be/u7LJw2WylSU

       Kasus pelanggaran HAM yang dikuak ialah kasus pembunuhan Marsinah. Marsinah adalah seorang yang lugu, cerdas, setia kawan dan pemberani. Namun karena perekonomian yang rendah, ia tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Dan memutuskan pindah ke kota untuk bekerja lebih layak meski sebagai buruh pabrik di PT. Catur Putra Surya Sidoarjo. Pada pertengahan April 1993, para buruh PT. CPS (Catur Putra Surya), resah karena menerima Surat Edaran Gubernur Jawa Timur. Memuat himbauan pada para pengusaha untuk menaikkan upah buruh sebesar 20% dari upah pokok.
      Keresahan tersebut akhirnya berbuah perjuangan. Pada tanggal 3 Mei 1993  buruh bergerombol dan mengajak teman-teman mereka untuk tidak masuk kerja. Hari itu juga, Marsinah pergi ke kantor Depnaker Surabaya untuk mencari data tentang daftar upah pokok minimum regional. Data inilah yang ingin Marsinah perlihatkan kepada pihak pengusaha sebagai penguat tuntutan pekerja yang hendak mogok. Marsinah memimpin aksi pekerja PT Catur Putra Surya untuk mendapatkan kenaikan gaji dari Rp 1.700 menjadi Rp 2.250 per hari.
      Tanggal 4 Mei 1993 pukul 07.00 para buruh PT. CPS melakukan unjuk rasa dengan mengajukan 12 tuntutan. Lalu diadakanlah perundingan, disaat itu Marsinah menyuarakan dengan semangat tuntutan tersebut. Perundingan yang panas membuahkan kesepakatan kenaikan upah. Namun kasus belum selesai, aparat kodim memanggil 13 buruh yang aktif terlibat aksi demo tersebut. Melalui paksaan dan tekanan fisik dan psikologis, mereka dipaksa untuk menandatangani surat PHK tanpa alasan. Bahkan 8 buruh lainnya menyusul dipanggil dan diperlakukan sama. Mengenaskan sekali, bahkan senapan tentara yang menyiksa mereka. Marsinah merasakan adanya ketidakberesan yang tersembunyi dakam lapisan masyaraka kita. Marsinah tidak menerima siksaan yang telah dilimpahkan pada teman-temannya. Hingga kemarahannya memuncak, segera Marsinah menarik sebuah kertas surat panggilan milik temannya dan berencana melaporkan hal ini ke jaksa di Surabaya dengan gursak. Apakah yang terjadi setelahnya? Marsinah menghilang tanpa seorang pun tahu.
    5 hari kemudian, mayatnya ditemukan di gubuk petani dekat Hutan Wilangan, Nganjuk tanggal 9 Mei 1993. Ia yang tidak lagi bernyawa ditemukan tergeletak. Kedua pergelangan lecet, diduga diseret dalam keadaan terikat. Tulang panggulnya hancur karena pukulan benda keras. Di sela pahanya ada bercak-bercak darah, diduga pukulan benda tumpul. Bahkan anak-anak desa saksi pertama melihat kondisinya.
    Kematian Marsinah berbuntut panjang. Aparat menangkap 8 orang petinggi PT CPS. Penangkapan ini dinilai menyalahi prosedur hukum. Tak ada yang tahu kalau mereka dibawa ke markas TNI. Mereka disiksa untuk mengaku telah membuat skenario membunuh Marsinah. Muncul tuduhan bahwa penyelidikan kasus ini adalah direkayasa. Bahkan adanya ungkapan aparat merekayasa pelaku pembunuh Marsinah. Hingga kini, kasus ini masih belum tuntas siapa pelaku sebenarnya. Mungkinkah aparat kodim, namun kenapa bahkan aparat hukum.

Sumber:  
https://googleweblight.com/?lite_url=https://fprsatumei.wordpress.com/2008/04/27/marsinah-tragedi-seorang-buruh/&ei=3Ye8roni&lc=id-ID&s=1&m=102&host=www.google.co.id&ts=1503050465&sig=ALNZjWk-8RHZihxcAz1biR9yNPNfryamZw

Opini
1. Citra Rentama (5)
Tragedi Marsinah, kita juga bisa mengambil titik fokus pada rekan buruhnya. Merupakan kasus pelanggaran HAM berat kejahatan genosida, dimana telah terjadi penganiayaan bahkan pembunuhan oleh seorang atau sekelompok yaitu aparat kodim pada Marsinah dan rekan-rekannya. Sebagaimana telah melanggar pasal 28 I ayat 1: hak untuk hidup dan tidak disiksa. Mengakhiri hidup Marsinah yang bukan dalam konteks hukuman dikarenakan tindak kriminal, melainkan tengah berjuang dan mengedepankan diri demi membersihkan ketidakadilan juga telah melanggar pasal 28C ayat 2: hak untuk memajukan diri dalam memperjuangkan hak diri dan pasal 28H ayat 2: hak untuk mendapat kemudahan dalam keadilan.
Berdasar pada HAM, bahwa manusia memiliki hak untuk diperlakukan sama tanpa memandang latar belakang, yang wajib diakui setiap orang. Namun retaklah sudah apabila ketidakadilan marak terjadi. Bahkan pihak yang dipercaya menaungi masyarakat dalam hukum yang merupakan pelaku terduga, yaitu aparat kodim. Bahkan tersangka berani merekayasa petinggi PT. CPS sebagai pelaku pembunuh Marsinah. Hingga 24 tahun sudah, kasus ini belum menyentuh titik temu mengenai "real aktor" dan "motif".
Mari tanamkan makna tragedi ini. Keadilan dibutuhkan abadi di dunia, dimanapun Anda berpijak dan siapapun Anda, bahkan seluas apapun kekuasaan Anda. Jangan sampai negara kita disebut sebagai unwillingness state atau negara yang tidak punya kemauan menegakkan HAM.

2. Fransisca Christina(13)
Menurut saya, kasus Marsinah adalah salah satu dari sekian banyak pelanggaran HAM di Indonesia. Kenapa disebut pelanggaran HAM? Telah kita ketahui bahwa HAM menurut UU No. 39 Thn 1999 adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikatnya dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.
Pada kasus ini, Marsinah dibunuh serta dianiaya padahal dia hanya meminta keadilan agar dinaikkan upah atas pekerjaannya. Tetapi karena atasannya tidak menepati janjinya, ia pun melakukan demo bersama para buruh lainnya yang mengalami hal yang sama dengannya.
Oleh karena itu, pada kasus Marsinah ini terjadi pelanggaran HAM yang menyangkut hak hidup dan juga hak dalam mengeluarkan pendapat
(Bab 10A Pasal 28, 28A, 28D, 28G, serta 28I)

3. Maria Angelica N. (24)
Menurut saya, kasus ini adalah pelanggaran HAM karena telah melanggar pasal 28 I yaitu hak untuk hidup. Marsinah telah dibunuh walaupun ia tidak bersalah. Marsinah dibunuh oleh pihak polisi pada saat peristiwa demo buruh. Marsinah adalah seorang aktivis dan buruh pabrik Jaman Pemerintahan Orde Baru, berkerja pada PT. Catur Putra Surya Porong, Sidoarjo, Jawa Timur yang diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga hari.

4. Muhammad Farhan (27)
Menurut saya, kasus Marsinah merupakan salah satu pelanggaran HAM, dimana hak orang untuk hidup diambil oleh orang lain secara sangat tidak hormat melalui penganiayaan dan pembunuhan seseorang yang tidak pantas mendapatkannya.

5. Sindy Suntami Effendy (35)
Marsinah adalah pahlawan buruh yang tangguh karena ia berani menentang penguasa Orde Baru saat itu untuk menuntut kenaikan upah hingga berujung pada kematiannya yang hingga hari ini belum juga menemukan titik terang. Saat ini sudah 24 tahun kasusnya terabaikan oleh pemerintah, penyelidikan kasusnya berakhir begitu saja tanpa kejelasan. Selama kurun waktu tersebut dalang dibalik terbunuhnya Marsinah belum juga terungkap. Kasus Marsinah ini tentu adalah sesuatu yang direkayasa sehingga sampai saat ini kasusnya tidak pernah menemui titik terang. Menurut Saya, sangat disayangkan bahwa kenyataannya kasus pembunuhan Marsinah ini pemecahan masalahnya sampai sekarang belum ditindaklanjuti kembali, padahal kasus ini termasuk pelanggaran HAM yg berat karena melibatkan nyawa seseorang didalamnya termasuk hak untuk hidup dan hak untuk bebas dari tindakan diskriminatif. Sangat tidak adil bahwa diketahui sampai saat ini pelaku tindakan kekerasan ini masih dibiarkan bebas berkeliaran. Pemerintah harus berani membuka ulang kasus Marsinah atas nama demokrasi dan HAM. Perjuangan Marsinah ini juga apa yang kaum buruh perjuangkan hingga hari ini. Kematiannya itu hendaknya menjadi semangat bagi kaum buruh di Indonesia untuk tidak lelah berjuang menuntut apa yang telah menjadi hak mereka.

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar