Minggu, 13 Agustus 2017

KASUS PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA PERISTIWA GERAKAN G30S PKI Disusun Oleh Kelompok 7 Kelas XI IPS 2 SMA Xaverius 1 Palembang

Disusun Oleh 
Kelompok 7 Kelas XI IPS 2 SMA Xaverius 1 Palembang 
Nama Anggota: 
1. Alvin Putra Halit (02) 
2. Calvin Ompusunggu (07) 
3. Fanny Trisepta Sianturi (11) 
4. Muhammad Geraldy Alvinsyah (27) 
5. Tamara Tresya Surbakti (33).


Penjelasan mengenai Kasus G30S PKI
Kasus pelanggaran HAM yakni peristiwa G30S PKI atau biasa disebut dengan Gerakan 30 September 1965. Peristiwa G30S PKI merupakan salah satu pemberontakan komunis yang terjadi di Indonesia pada bulan september sesudah Indonesia merdeka tahun 1945. Perisiwa ini dimulai dengan kasus penculikan 7 jenderal yang terdiri dari anggota staf tentara oleh pasukan yang bergerak dari lapangan udara menuju Jakarta daerah selatan. Tiga dari tujuh jenderal tersebut telah dibunuh di rumah mereka masing- masing, yakni Ahmad Yani, M.T. Haryono dan D.I Panjaitan. Sementara tiga target lainnya yaitu Soepranto, S. Parman dan Sutoyo ditangkap hidup- hidup. Salah satu target dari pembantaian ini adalah Abdul Harris Nasution yang berhasil kabur setelah berusaha melompati dinding batas kedubes Irak. Meskipun begitu, Pierre Tendean beserta anak gadisnya, Ade Irma .S. Nasution pun tewas setalah ditangkap dan ditembak pada 6 oktober oleh regu sergap. Tak sedikit mayat jenderal yang dibunuh lalu dibuang di Lubang Buaya. Ketujuh jasad orang yang terbunuh dan terbuang di Lubang Buaya pada tanggal 3 oktober berhasil ditemukan dan dikuburkan secara layak pada tanggal 5 oktober.
Pada saat-saat yang genting sekitar bulan September 1965 muncul isu adanya Dewan Jenderal yang mengungkapkan adanya beberapa petinggi Angkatan Darat yang tidak puas terhadap Soekarno dan berniat untuk menggulingkannya. Menanggapi isu ini, Soekarno disebut-sebut memerintahkan pasukan Cakrabirawa untuk menangkap dan membawa mereka untuk diadili oleh Soekarno. Namun yang tidak diduga-duga, dalam operasi penangkapan jenderal-jenderal tersebut, terjadi tindakan beberapa oknum yang termakan emosi dan membunuh Letjen Ahmad Yani, Panjaitan, dan Harjono.
Peristiwa G30S PKI sejatinya tidak lepas dari kejadian penculikan petinggi – petinggi TNI AD saat itu. Mereka diasingkan dan dibantai tanpa belas kasihan di Monumen Lubang Buaya. Dahulu, lubang buaya dijadikan pusat pelatihan oleh Partai Komunis Indonesia. Kini, kondisinya telah berubah menjadi Monumen Pancasila, di dalamnya ada sebuah museum atau diorama yang menceritakan peristiwa G30S PKI. Sumur tempat korban dibuang juga dipamerkan serta terdapat pula sebuah ruangan khusus yang berisi relik dan terdapat patung ketujuh jenderal yang meninggal. Jenderal yang meninggal pun dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi. Hingga saat ini masih belum jelas siapa yang menjadi dalang atas kejadian G30S PKI ini yang menjadi kasus pelanggaran HAM berat.
Sumber:
1.      https://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_30_September. (t.t) . "Gerakan 30 September" (Diunggah di https://id.wikipedia.org/wiki/ dan diunduh pada tanggal 11 Agustus 2017).
2.      http://wizamisasi.com/peristiwa-g-30-s-pki/.(t.t). "Rangkuman Peristiwa G30S PKI Terlengkap" (Diunggah di http://wizamisasi.com/peristiwa-g-30-s-pki/ dan diunduh pada tanggal 11 Agustus 2017).


(Opini, tanggapan dan saran)
1.      Alvin Putra Halit (02)
Menurut saya, kasus peristiwa G30S PKI ini telah melanggar HAM karena setiap orang memiliki hak untuk hidup dan hak untuk tidak disiksa seperti dalam pasal 28 i UUD 1945. Tetapi dalam kasus ini dengan sadis-nya mereka membunuh dan menyiksa orang yang tidak bersalah hanya untuk merebut jabatan kekuasaan. Meskipun, negara Indonesia telah merdeka tapi masih ada saja beberapa oknum yang ingin berkuasa sendiri oleh karena itu saya sebagai anak muda Indonesia yang akan menjadi pemimpin Bangsa Indonesia dikemudian hari berharap masyarakat Indonesia dapat menjadi satu dan tidak terpecah belah. 

2.      Calvin Ompusunggu (07)
            Menurut saya, kasus tentang G30S PKI adalah kejadian yang melanggar hak asasi karena dalam peristiwa G30S PKI ini terdapat pembunuhan para jenderal. Sebelum mereka dibunuh mereka disiksa dan bahkan tidak dikebumikan dengan layak. Mayat para jenderal yang tewas di buang ke dalam sumur atau yang sekarang dikenal dengan lubang buaya. Peristiwa ini juga telah melanggar UUD 1945 mengenai HAM pasal 28 I yang berisi " Hak untuk hidup, hak untuk disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk di tuntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikuranggi dalam keadaan apapun." Solusi dan harapan saya, semoga masyarakat Indonesia dapat menjalankan Pancasila dengan baik dan juga UUD 1945 sebagai dasar hukumnya sehingga tidak akan terjadi perpecahan melainkan persatuan.

3.      Fanny Trisepta Sianturi (11)
            Menurut pendapat saya, kasus tentang peristiwa G30S PKI adalah kasus pelanggaran HAM yang berat karena peristiwa ini telah merenggut nyawa seorang manusia lebih dari satu, bahkan sebelum meninggal korban dianiaya sampai meninggal setelah meninggal pun harus dibuang ke lubang buaya. Tindakan ini benar- benar tidak memiliki perasaan kemanusian sehingga dapat dikatakan sebagai tindakan yang keji. Peristiwa G30S PKI ini telah menciderai Pasal 28 I UUD 1945 yang isinya berbunyi: "Hak untuk hidup, hak untuk disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum, dan hak untuk dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun." Saya sebagai generasi muda berharap Bangsa Indonesia yang tercinta ini tidak lagi mementingkan kepentingan pribadi tetapi mengutamakan kepentingan bersama agar tidak terjadi perpecahan dan tidak membentuk sebuah organisasi yang dapat memecahkan persatuan dan kesatuan kita  karena, bila kita tidak saling menghormati dan bertoleransi kita tidak bisa menjadi satu. Melainkan kita harus seperti semboyan kebanggan kita Bhineka Tunggal Ika.

4.      Muhammad Geraldy Alvinsyah (27)
            Menurut saya, peristiwa G30S PKI sangat melanggar HAM yang berlaku di Indonesia. Mereka orang – orang yang yang tergabung dalam partai komunis itu dengan beraninya menyiksa dan membunuh banyak orang yang tidak bersalah dan juga membunuh para jenderal TNI hanya untuk merebut kekuasaan. Cara yang mereka lakukan adalah pelanggaran HAM yang berat karena setiap orang memiliki hak untuk hidup dan juga hak untuk tidak disiksa oleh karena itu peristiwa ini menjadi peristiwa yang sangat tragis meski sampai saat ini belum ada kabar siapa yang menjadi dalang di belakang peristiwa G30SPKI ini tapi saya sebagai generasi penerus Bangsa Indonesia berharap kejadian ini tidak akan terulang lagi dan hanya akan menjadi sejarah bagi Bangsa Indonesia.

5.      Tamara Tresya Surbakti (33)
            Menurut pendapat saya, Peristiwa G30S PKI ini telah melanggar Hak Asasi Manusia yang dimana banyak isu yang beredar mengenai dewan jenderal yang entah benar atau tidaknya isu terserbut dan juga mereka melakukan tindakan yang tidak bemoral dengan menyiksa, membunuh bahkan membuang jasad para korban serta para jenderal yang mereka bunuh dengan sadis. Tetapi di balik peristiwa ini para jenderal yang tewas akibat pembantaian dari Partai Komunis Indonesia ini diberikan gelar Pahlwan Revolusi karena atas jasa mereka yang tidak mau atau menolak untuk menghianati Indonesia mereka pun rela untuk disiksa dan juga di bunuh. Menyikapi peristiwa yang telah melanggar HAM ini karena telah dengan sengaja menyiksa serta menghilangkan nyawa seseorang yang tidak bersalah telah menjadi kasus yang berat tetapi ini semua telah menjadi masa lalu yang kelam. Semoga di kemudian hari masa lalu ini tidak akan pernah terulang lagi dan pelaku atau dalang dari kejadian ini dapat terungkap.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar