Jumat, 18 Agustus 2017

Kasus Munir disusun oleh Kelompok 2 Kelas XI MIPA 8 SMA Xaverius I Palembang

Disusun oleh
 Kelompok 2 Kelas XI MIPA 8 SMA Xaverius I Palembang
Nama anggota :
1.     Bagas Yoga Wiranata (02)
2.     Daniel Wilyam P.B. (06)
3.     Eric Saputra (10)
4.     Jeremy Timoshenko (18)
5.     Miranda Carolina (25)
6.     Saskia Marcella (34)




Pendahuluan dan Kronologi Kejadian

Munir Said Thalib atau yang akrab kita sebut sebagai Munir memang tidak asing lagi di telinga kita. Ia adalah seorang aktivis HAM yang aktif menangani berbagai kasus HAM besar seperti kasus pembunuhan Marsinah (seorang aktivis dan buruh pabrik) pada 1994, penghilangan orang pada masa transisi 1997-1998, serta kasus penculikan oleh tim Mawar dari Kopasus, sampai pada kasus kekerasan pada DOM Timor-Timur, Aceh, dan Papua.

Keberaniannya dalam mengusut kasus-kasus HAM yang dinilai berbahaya, penuh intrik, dan yang harus membuat nyawanya menjadi taruhan ini membuat namanya hidup ditengah-tengah dunia walau ia sudah tak lagi di tengah dunia. Ia bahkan mendapatkan penghargaan "The Leaders for The Millenium" dari majalah Asia Week tahun 2000. Nahasnya, keberanian yang dikagumi semua orang ini membuatnya dan orang-orang yang mencintainya harus merelakan nyawanya. Walau kematiannya tidak berakhir sia-sia, membawa perubahan besar dalam dunia perlindungan HAM, dan membuka mata ribuan orang di dunia untuk menyadari pentingnya HAM, tetap saja kematiannya merupakan suatu tragedi besar dan penuh penyesalan orang-orang yang tak mampu mencegah tragedi ini.



Munir lahir di Malang, Jawa Timur pada 8 Desember 1965 sebagai anak ke-6 dari 7 bersaudara. Ia merupakan seorang aktivis HAM Indonesia, keturunan Arab-Indonesia. Semasa hidup, ia dikenal baik sebagai seorang yang menjunjung tinggi tolerasi, nilai-nilai kemanusiaan, anti kekerasan, serta keadilan. Ia berjuang tanpa henti dalam melawan praktik-praktik otoritarian serta militeristik, dan membela hak-hak mereka yang tertindas. Ia hidup dengan penuh kesederhanaan dan kerendahan hati, tidak menjadi hamba uang, jabatan, dan kekuasaan sehingga membuatnya menjadi sosok yang sangat amat dibenci pihak-pihak yang sering berbuat curang dan jahat.

Ia berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya dan menjadi aktivis kampus yang sangat gesit. Ia juga pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya pada tahun 1989, Koordinator Wilayah IV Asosiasi Mahasiswa Hukum Indonesia pada 1989, anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial, dan masih banyak lagi jabatan di masa mudanya.

Munir meninggal pada 7 September 2004 dalam pesawat Garuda GA-974 jurusan ke Amsterdam. Perjalanan itu dilakukan unruk melanjutkan study nya ke Universitas Utrecht. Tiga jam setelah pesawat take off dari Singapura, awak kabin melapor pada pilot Pantun Matondang, bahwa Munir yang duduk di kursi 40 G sedang sakit dan terus-menerus ke toilet. Pilot lalu meminta awak kabin untuk terus memonitor kondisi Munir. Akhirnya Munir dipindahkan di sebelah seorang penumpang yang berprofesi sebagai dokter dan bersedia berusaha membantunya. Sebelumnya, Munir sudah terlebih dahulu berkenalan dan berbincang dengan dokter tersebut. Penerbangan itu membutuhkan waktu 12 jam sebelum mendarat di Amsterdam. Selama itu, Munir terus merasa sakit dan beberapa kali ke toilet. Namun di pesawat  itu tidak ada infus atau obat-obatan lain yang dinilai bisa memenuhi kebutuhannya, sehingga akhirnya dokter tersebut memberi pertolongan sebisanya sesuai dengan yang dapat dilakukan dalam penerbangan tersebut. Sayangnya, 2 jam sebelum pesawat mendarat, Munir dinyatakan meninggal dunia. Hal ini menimbulkan kebingungan karena kematiannya dinilai sangat janggal.

Pada tanggal 12 November 2004, dikeluarkan kabar bahwa Institut Forensik Belanda menemukan jejak senyawa Arsenikum setelah otopsi, yang segera dikonfirmasi oleh kepolisian Indonesia. Saat itu, Munir diduga diracun, walau pembunuhnya belum dapat dipastikan, mengingat begitu banyak pihak yang merasa terancam karena sikap Munir yang terus mencari otak dibalik pelanggaran-pelanggaran HAM yang terjadi.

Pada 20 Desember 2005, Pollycarpus Budihari Priyanto divonis hukuman 20 tahun penjara dan mantan Direktur Utama PT. Garuda Indonesia, Indra Setiawan, divonis 1 tahun penjara atas pembunuhan terhadap Munir. Hakim menyatakan bahwa Pollycarpus, seorang pilot Garuda yang sedang cuti, membuat surat tugas palsu dan menaruh arsenik di makanan Munir, dengan motif ingin mendiamkan pengkritik pemerintah tersebut. Hakim, Cicut Sutiarso menyatakan bahwa sebelum membunuh Munir, Pollycarpus menerima beberapa panggilan telepon dari sebuah telepon yang terdaftar oleh agen intelijen senior, namun tidak menjelaskan lebih lanjut. Selain itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga membentuk tim investigasi independen, namun hasil penyelidikan itu tak pernah dikemukakan pada publik.

Pada 2004, di Mabes Polri terjadi pertemuan antara Kepolisian, Kejaksaan Agung, Dephuk dan HAM, serta aktivis HAM untuk membahas tindak lanjut tim independen kasus Munir. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lalu mengesahkan Tim Pencari Fakta untuk kasus Munir yang anggotanya melibatkan kalangan masyarakat sipil untuk membantu Polri meyelidiki kasus Munir.

Pada 19 Juni 2008, Mayjen (Purn) Muchdi Pr, yang kebetulan adalah orang dekat Prabowo Subianto dan wakil ketua umum partai Gerindra, ditangkap karena dugaan kuat bahwa ia terlibat dalam pembunuhan terencana Munir. Beragam bukti kuat dan kesaksian mengarah padanya, namun pada 31 Desember 2008, ia divonis bebas. Vonis ini sangat kontroversial dan menimbulkan kecurigaan besar dalam masyarakat. Kabarnya, kasus ini tengah ditinjau ulang dan 3 hakim yang memvonisnya bebas kini tengah diperiksa.

Munir meninggalkan seorang istri bernama Suciwati dan dua orang anak. Ia meninggalkan dunia dengan cara yang tragis, oleh orang-orang yang berupaya membungkam mulutnya yang terus menerus tanpa lelah menyuarakan keadilan dan kebenaran. Ia memang sudah meninggal, namun jasa, keberanian, dan kebenaran yang terus dipegangnya erat sampai akhir hayatnya akan selalu dikenang, dan akan selalu menjadi inspirasi bagi banyak orang.



Sumber :

1.http://www.academia.edu/16593062/KASUS_PEMBUNUHAN_MUNIR_SEBAGAI_BUKTI_PELANGGARAN_HAK_ASASI_MANUSIA_DI_INDONESIA
2.   https://id.m.wikipedia.org/wiki/Munir_Said_Thalib
3.    http://gitarodianah.blogspot.co.id/2014/09/kasus-munir.html



Opini

Bagas Y.W. : Menurut saya kasus Munir ini merupakan kasus yang sudah jelas tapi diperumit oleh pihak-pihak yang tersembunyi, sudah terlihat jelas bahwa Munir telah dibunuh karena keberaniannya dalam menuntut hak-hak yang dimiliki oleh orang-orang. Oleh karena itu menurut saya kasus Munir ini harus ditindaklanjuti lagi supaya jelas, terlebih lagi sudah ada banyak orang yang mendukung Munir tersebut.

Daniel W.P.B. : Menurut saya Munir adalah seorang pejuang HAM yang hebat karena dia berani untuk mengusut kasus HAM tetapi demi kepentingan sekelompok orang dia diracuni di atas pesawat Garuda. Jiwa seorang Munir patut kita contoh dalam hal keberanian dan kegigihannya di masa sekarang ini.

Eric S. : Kasus tersebut sangat melanggar HAM karena telah menghilangkan nyawa seseorang. Apalagi dengan cara meracuni/memberi senyawa kimia yang berbahaya pada korban, itu sama saja menyiksa danmembuat korban perlahan-lahan tersiksa dan kahirnya meninggal duni. Seharusnya pelaku yang mekanggar HAM tersebut diberi hukuman setimpal sehingga kasus seperti ini tidak terjadi lagi dan semua orang menaati tata tertib,tentram, aman dan tidak ada  lagi kasus pelanggaran HAM.

Jeremy T. : Menurut saya, dalam pembunuhan Munir ini, pelaku sudah melanggar UUD pasal 28. Pembunuhan Munir ini dilakukan dengan terencana. Pelakunya yaitu Pollycarpus Budihari Priyanto, seorang pilot yang sedang cuti namun membuat surat tugas palsu agar dapat mengikuti Munir dan melakukan tujuannya yaitu untuk mendiamkan Munir.

Miranda C. : Menurut saya, kasus Munir ini sangat menyedihkan. Ia seorang yang sangat baik dan penuh rasa keadilan, serta tanpa henti berjuang membela kebenaran. Namun oleh tangan-tangan pihak sombong dan tidak berperikemanusiaan, nyawanya harus diambil. Pembunuhan terencana ini jelas-jelas melanggar HAM yang dimiliki setiap manusia tanpa terkecuali. Munir, yang jelas-jelas orang baik, diambil haknya untuk hidup, sekaligus untuk berpendapat, mengemukakan banyaknya ketidakadilan yang terjadi, melawan politik dan hukum kotor yang merajalela dengan bebas. Namun kematiannya tidak sia-sia. Kematiannya membuka bagi banyak orang  kesempatan untuk lebih berani, serta kesadaran akan betapa pentingnya kehidupan setiap orang. Kematiannya memotivasi banyak orang untuk turut berjuang bersama namanya dan membela keadilan dan kebenaran. Saya berharap kedepannya tidak ada lagi kasus-kasus seperti ini dan semoga dengan kematiannya ini, semakin banyak orang yang sadar akan betapa berharganya keadilan, kebenaran, dan hidup setiap orang, dan mau maju memerangi ketidakadilan-ketidakadilan yang terjadi di sekitar mereka.

Saskia M. : Menurut saya, pembunuhan terhadap Munir Said Thalib telah melanggar hak asasi untuk hidup yang terdapat pada pasal 28 "setiap orang berhak untuk hidup serta berhak untuk mempertahankan kehidupannya." Banyak orang yang terlibat dalam pembunuhan berencana tersebut salah satunya Pollycarpus Budihari Priyanto yang telah menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan berencana ini, dimana pada penerbangan Munir seharusnya Pollycarpus sedang mengambil cuti namun Pollycarpus membuat surat tugas palsu agar dapat mengikuti Munir sampai ke Amsterdam.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar