Minggu, 13 Agustus 2017

KASUS ENGELINE Disusun oleh Kelompok 2 XI MIPA 3 SMA Xaverius 1 Palembang

Kasus Engeline
Disusun oleh
Kelompok 2 XI MIPA 3 SMA Xaverius 1 Palembang
Nama anggota:
1.Femmy Shabina
2.Ketherine
3.Mardiana Safirah
4.Nathaniele Amin
5.Rafsanjani Yudha
6.Rizki

Penjelasan Kasus Angeline
Angeline yang bernama panggilan Angie adalah anak berumur 8 tahun asal Denpasar, Bali yang merupakan korban pelanggaran HAM terhadap anak. Siswi kelas II SDN 12 Sanur Denpasar ini, ditemulan jasadnya tewas terkubur dengan berbalutkan kain putih rumahnya N0. 26 di Jalan Sedap Malam, Sanur, Denpasar tepatnya di belakang kandang ayam dekat pohon pisang pada Sabtu 16 Mei 2015 malam.
Penyidikan
Setelah ditemukannya jasad Engeline pada tanggal 10 Juni 2015, Kepolisian Resor Kota Denpasar segera mengadakan pemeriksaan terhadap tujuh orang, yaitu Margriet (ibu angkat), Yvonne dan Christina (kakak angkat), Agus Tay (pembantu), dua penghuni indekos (suami istri Rahmat Handono dan Susiani), dan petugas keamanan (satpam, Dewa Ketut Raka), yang disewa khusus oleh Margriet untuk menjaga rumah itu setelah ramainya pemberitaan terkait Angeline. Dari hasil pemeriksaan awal tersebut, polisi menetapkan Agus Tay Hamba May sebagai tersangka pembunuh Engeline yang mengakui telah membunuh dan memperkosa Engeline pada tanggal 16 Mei 2015 sekitar pukul 13.00 WITA, tepat pada hari hilangnya anak tersebut, dan kemudian menguburkan jasadnya di belakang rumah majikannya itu pada pukul 20.00 WITA.Pada tanggal 14 Juni 2015, Kepolisian Daerah Bali menetapkan ibu angkat Angeline, Margriet Megawe, sebagai tersangka dalam kasus dugaan pelantaran anak [38] dan menempatkannya di tahanan Mapolda Bali.Pada tanggal 28 Juni 2015, Margriet ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan berdasarkan tiga alat bukti, yaitu pengakuan Agus, bukti-bukti kedokteran forensik RS Sanglah, dan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) oleh tim forensik Polresta Denpasar, Inafis (Indonesia Automatic Finger Print Identification System) Polda Bali, dengan bantuan Inafis Mabes Polri. Dari bukti-bukti tersebut Margriet diduga menjadi otak pembunuhan, dan Agus hanya membantu menguburkan jasad Engeline. Namun tim pengacara tersangka Margriet mempermasalahkan penetapan tersangka Margriet terkait kasus pembunuhan Engeline dan mendaftarkan gugatan praperadilan di Pengadilan Negeri Denpasar pada tanggal 2 Juli 2015.Pada tanggal 6 Juli 2015, Polresta Denpasar menggelar rekonstruksi pembunuhan Engeline di Tempat Kejadian Perkara di Jalan Sedap Malam 26 Denpasar dihadiri dua tersangka.Tanggal 29 Juli 2015, praperadilan yang diajukan Margriet ditolak oleh Pengadilan Negeri Denpasar. Hakim tunggal Achmad Peten Sili menilai bahwa pihak pemohon, Margriet, melalui kuasa hukumnya, Hotma Sitompoel & Associates, tidak bisa membuktikan dalil-dalil permohonannya bahwa termohon (Polda Bali) dalam menetapkan tersangka (Margriet) tidak didasari adanya alat bukti yang sah adalah argumentasi yang tidak beralasan.Pada tanggal 7 September 2015, berkas perkara tentang pembunuhan Engeline dinyatakan sudah lengkap (P21) dan diserahkan ke Kejaksaan Negeri Denpasar bersama dengan dua tersangkanya untuk segera dilimpahkan ke pengadilan. Dalam berkas tersebut, tertera sejumlah pasal yang disangkakan kepada Margriet yaitu pasal pembunuhan berencana, pembunuhan, penganiayaan mengakibatkan korban meninggal, dan penelantaran anak.
Hilangnya Angeline
Kasus yang menimpa Engeline pertama kali mengemuka dengan beredarnya kabar tentang hilangnya anak tersebut. Kabar tersebut tersebar luas antara lain akibat dibuatnya sebuah laman di jejaring sosial facebook berjudul "Find Angeline-Bali's Missing Child". Laman tersebut dibuat oleh salah satu kakak angkat Engeline yang sedang kuliah di Amerika Serikat, yaitu Christine, pada tanggal 16 Mei 2015 sekitar pukul 17.00 WITA.[31] Sementara Yvonne membuat selebaran mengenai hilangnya Engeline. Keesokan harinya berbagai media massa turut memberitakan kehilangan tersebut.[1][33][34] Berdasarkan informasi dari Yvonne, dikabarkan bahwa adiknya hilang saat mereka bermain di depan rumah sekitar pukul 15.00 WITA.[1] Setelah tidak juga ditemukan sampai pukul 18.00, maka kemudian Yvonne melaporkannya ke polisi. Tim pencari anak hilang dari kepolisian lantas mencarinya dari Denpasar sampai ke Banyuwangi, tampat lahir orang tua kandungnya. Berbagai upaya dilakukan oleh polisi, seperti mengamati CCTV di sekitar lokasi, menganalisis telepon seluler orang tua kandung dan orang tua angkatnya, serta menggunakan anjing pelacak. Namun anjing tersebut tidak menemukan jejak Engeline dan hanya berputar-putar di sekitar rumah saja. Keluarga Engeline yang berasal dari luar Bali pun berdatangan ke kediaman Engeline untuk membantu mencari anak tersebut.Kasus kehilangan anak ini juga menarik perhatian Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sehingga ketuanya, Arist Merdeka Sirait, beserta dua anggota timnya datang ke Bali untuk melakukan dialog dengan Polresta Denpasar dan Polda Bali. Mereka juga kemudian berkunjung dan menemui Margriet di rumahnya. Saat itu, Margriet memperkenankan mereka untuk melihat kamar dan ruangan dalam rumah. Dari hasil kunjungan itu, Arist berkesimpulan bahwa selama ini Engeline tinggal di rumah yang kondisinya sangat buruk dan tidak layak huni dengan halaman dipenuhi kandang ayam berjumlah sekitar seratus ayam sehingga akan membuat anak tidak bisa berkembang dengan baik.[4] KPAI juga menyatakan maksudnya akan mengambil alih sementara hak asuh Margriet atas Engeline, sehingga membuat Margriet menangis histeris. Dia mengaku tidak terima, bahkan mengancam akan membunuh siapa pun yang akan mengambil anaknya itu karena dia menyayangi Engeline dan Engeline pun menyayanginya.[29]Selain oleh KPAI, rumah Margriet juga didatangi oleh dua menteri Kabinet Kerja, yaitu Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi, dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise. Namun Margriet menolak menemui keduanya dan kedua menteri itu tidak diperbolehkan memasuki rumahnya.Hilangnya Engeline juga dibantu penanganannya oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar, yang merupakan perpanjangan tangan Pemerintah Kota Denpasar yang menangani perempuan dan anak. Mereka sudah memiliki kekhawatiran bahwa hilangnya Angeline bukan karena diculik atau melarikan diri, tapi justru dibunuh. Hal ini dinyatakan oleh pendamping hukum P2TP2A, Siti Sapurah tanpa mencurigai siapa pun termasuk ibu angkatnya.[9] Hal tersebut didasari minimnya indikasi yang mereka temukan bahwa Engeline hilang di sekitar rumah atau diambil seseorang. Sehingga mereka menduga bahwa Engeline dihilangkan, dikubur atau dibunuh. Apalagi saat polisi melakukan pemeriksaan Margriet tidak koperatif dan ada ruang di rumah Margriet yang tidak boleh dimasuki orang lain kecuali orang terdekatnya dia. Ditambah lagi karena mantan pembantu Margriet, yaitu Agus Tay Hamba May, pernah mengatakan bahwa satu hari sebelum dilaporkan hilang, hidung Engeline berdarah karena dipukul ibunya.
Pencarian Engeline terhenti setelah ia ditemukan dalam keadaan tewas terkubur di halaman belakang rumahnya pada hari Rabu, 10 Juni 2015. Jasadnya dalam kondisi membusuk di bawah pohon pisang, ditutup sampah, terkubur bersama bonekanya. Otopsi segera dilakukan di Instalasi Forensik di RSUP Sanglah pimpinan dr Ida Bagus Putu Alit, DMF, SpF. Dari hasil otopsi, Engeline diketahui meninggal sejak tiga minggu sebelumnya. Di tubuh jenazah ditemukan luka-luka kekerasan berupa memar pada wajah, leher, serta anggota gerak atas dan bawah. Di punggung kanan jenazah ditemukan luka sundutan rokok. Selain itu, ditemukan juga luka lilitan dari tali plastik sebanyak empat lilitan. Sebab kematiannya dipastikan karena kekerasan benda tumpul pada wajah dan kepala yang mengakibatkan pendarahan pada otak.[35] Jasad Engeline kemudian dimakamkan di Dusun Wadung Pal, Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi yang merupakan kampung halaman dari ibu kandungnya.
Kesimpulan kasus
Pembunuhan berencana merupakan salah satu perbuatan yang diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama 20 tahun. Pelaku pembunuhan berencana akan diancam dengan hukuman mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama 20 tahun.
Sumber

Tanggapan anggota kelompok
Femmy Shabina : 
Menurut saya, semua manusia yang telah di lahirkan ke dunia memiliki hak terutama hak untuk hidup. Perlakuan ibu tiri Angeline tidak pantas untuk dilakukan sebagai manusia. Angeline masih kecil dan belum memiliki dosa, tidak pantas di perlakukan seperti itu. Jangan kan angeline, semua orang termasuk pelakunya pun tidak ingin di bunuh dan di siksa seperti dia. Manusia diajarkan Tuhan untuk menghormati dan menyanyangi sesama, walaupun tidak ada hubungan keluarga kandung sekalipun. Sebaiknya, dari awal tidak ada pengadopsian oleh ibu tiri nya tersebut. Dan sebagai ibu kandungnya, miskin ataupun kaya harusnya tetap membiayai, menjaga dan merawat anaknya sendiri. Bagaimana pun juga, Angeline adalah anak kandungnya dan tanggung jawabnya. Jangan terlalu mempercayakan dan melepaskan anak kandungnya kepada orang lain.
Katherine:
Menurut saya, kasus Angeline sangatlah bertentagan dengan HAM. Terutama melanggar pasal 28A yaitu hak untuk hidup. Sebagaimana Angeline yang pada hakikatnya adalah gadis kecil dan juga manusia biasa, disiksa, dianiaya, dan juga dibunuh dengan perencanaan yang keji. Tetapi, ibu angkatnya sendiri yang membunuhnya untuk kepentingan pribadi. Hal ini mengundang keprihatinan bagi seluruh masyarakat, terutama saya. Saya berharap kasus pelanggaran ini tidak akan terjadi lagi kedepannya dan diharapkan pemerintah semakin  tegas akan pentingnya HAM terutama HAM bagi anak-anak.
Mardiana Safirah: Menurut saya, kasus pelanggaran HAM yang dialami bocah yang berusia 8 tahun ini (angeline) sangat tidak berperikemanusiaan, anak kecik dibawah umur yang tidak mendapatkan penghidupan yang layak, tidak mendapatkan perlindungan dr negara, tidak mendapatkan hidup yang tentram dan nyaman. Anak kecil yg seharusnya mendapatkan bnyk ksh sayang dan cinta dr orang tuany pada seusia itu disiksa, direndahkan harkat dan martabat sebagai manusia (pelecehan seksual), dan kemudian dibunuh oleh orang tuanya sendiri. Seharusnya dengan adanya HAM di indonesia, hal seperti ini tidak akan pernah terjadi di indonesia. Ada dan berlakunya uu di indonesia seharusnya membuat seluruh masyarakat indonesia terutama orang tua memahami dan melaksanakan peraturan tetang perlakuan terhadap anak dng baik dan tertib sehingga kasus seperti ini tidak akan terjadi. KPAI (komisi nasional perlindungan anak) yang telah terbentuk sejak 2002 di indonesia ini seharusnya juga lebih tegas dalam melaksanakan tugasnya agar anak" di indonesia tidak pernah akan ad lg yg mengalami kasus seperti angeline, bahkan jika sebelumny KPAI ini sdh tegas dalam melaksanakan tugasny, kasus pelanggaran HAM terhadap angeline mungkin tidak akan pernah terjadi, selain itu KPAI seharusnya jg mengadakan gerakan" tentang perlindungan anak. Pemerintah jg memiliki peran penting dlm kasus pelanggaran ham ini. Pemerintah harus melaksanakan hukum yang berlaku dng tegas, memberikan sanksi yg adil (sesuai dng kasus yg dilakukan) kepada pelaku agar tidak ada / berkurangnya pelaku" baru di indonesia yang akan melakukan pelanggaran ham terhadap anak"
Nathaniele Amin:
Saya sangat kasihan dengan nasib angeline yang masih anak-anak tetapi telah kehilangan nyawanya karena orang tuanya hanya mementingkan harta dibandingkan anaknya yang titipan dari Tuhan.

Rafsanjani Yudha :
Menurut saya, Pembunuhan angeline sangat keji, diawali dengan kekerasan kepada anak sampai pembunuhan adalah pelanggaran HAM yang sangat berat, menyembunyikan barang bukti di lingkungan dekat pelaku adalah tindakan yang bodoh, Dan motif pembunuhan karena warisan adalah motif yang terlalu kuno.
Rizki:
Menurut saya , perlakuan ketidakmanusiawian yang dialami Angeline membuat setiap orang yang mendengarnya merasa prihatin, termasuk saya. Kasus penyiksaan,penganiayaan ,dan pembunuhan anak oleh ibunda tiri Angeline dengan motif ketidakrelaan Ibunda Angeline(Margriet Christina Megaw) terhadap pemilik tunggal harta warisan pernikahannya dengan Douglas Scarbrough merupakan tindakan yang tidak pantas. Seharusnya orang tua Angeline tidak tergiur dengan harta warisan tersebut. Seorang anak seharusnya disayangi,dimengerti,dirawat dan dilindungi bukan diperlakukan sebaliknya. Selain itu dalam kasus ini perbuatan yang dilakukan ibunda Angeline telah melanggar HAM . Terutama undang undang terkait HAM pasal 28A dimana setiap manusia yang dilahirkan didunia ini berhak untuk hidup dan 28B berkaitan dengan keluarga yang terbebas dari kekerasan dan deskriminasi yang menimpa anak. Sangat miris sekali melihat anak kecil yang tidak berdosa diperlakukan tidak pentas sampai dibunuh sebegitu kejinya. Menurut saya  yang terpenting sekarang adalah bagaimana pencegahan agar tidak ada lagi anak-anak yang bernasib seperti angeline dan hukum di indonesia harus lebih ditegakkan terutama bagaimana proses hukum itu diteggakan(law Enforcement). Saya berharap kasus tragis seperti ini tidak terulang lagi dan hukum di Indonesia lebih baik agar semua orang saling menghargai dan menghormati Hak Asasi Manusia yang dimiliki orang lain.

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar