Rabu, 16 Agustus 2017

Kasus Ambon Disusun Oleh Kelompok 2 Kelas XI MIPA 7 SMA XAVERIUS 1 PALEMBANG

Disusun Oleh :
Kelompok 2 Kelas XI MIPA 7 SMA XAVERIUS 1 PALEMBANG
Nama Anggota:
1.    Erick Martin Adi/
2.    Florencia Edrin/
3.    Franseda Ricardo/
4.    Julyo/ 18
5.    Marsella Laurencia/
6.    Rico Nathanael S/




Penjelasan mengenai Kasus Ambon:

Kasus pelanggaran HAM yakni Kasus Ambon merupakan bentuk kasus pelanggaran HAM kepada khususnya masyarakat yang tinggal di Desa Wailete, Desa Dobo, dan Desa Air Bak.
          Bermula dari seorang tukang ojek yang bernama Darmin, mengalami kecelakaan lalulintas dan meninggal saat akan dilarikan kerumahsakit. Tempat dimana Darmin mengalami kecelakaan tersebut adalah daerah Gunung Nona, kuda mati yang dikenal dengan daerah orang" Nasrani. Menyebarlah kabar bahwa Darmin dipukul oleh orang-orang disana dan kemudian menginggal saat akan dibawa kerumah sakit Orang orang yang tidak setuju berkumpul, kemudian menyerang kedaerah Gunung Nona sehingga terciptalah kerusuhan. Polisi berupaya untuk melerai kedua belahpihak, tetapi kerusuhan tetap berlanjut di daerah sekitarnya.

Rumah rumah dan masjid dibakar, sebuah pesantren pun ikut terbakar pada kejadian tersebut. Termasuk kendaraan yang berada di dekat daerah bentrokan juga ikut terbakar. Total ada 2 mobildan 5 motor yang dibakar.



Kerusuhan terus berlanjut hingga memakan korban jiwa kurang lebih ada 4 orang yang meninggal dalam kejadian tersebut dan puluhan orang luka luka.

Serangan massa dari orang-orang Kristen ke Desa Wailete. Ratusan massa dari orang-orang Kristen melakukan penyerbuan ke Desa Wailete dengan cara melempari batu dan membakar mobil-mobil yang ada di jalanan.

Karena orang-orang Kristen itu masih belum puas dengan melakukan penyerbuannya dengan melempari batu saja maka mereka mulai melakukan pembakaran kepada rumah-rumah di Desa Wailete itu. Mereka juga melakukan pembantaian dengan cara membunuh/menghabisi semua orang yang mereka temui.

 pembakaran yang mereka lakukan dengan cara membakar habis seluruh rumah tanpa mempedulikan orang yang masih ada di dalam rumah itu, ada juga sebagian penghuni yang melarikan diri hanya dengan baju yang mereka pakai saja. Bangunan yang dibakar habis oleh mereka adalah 4 rumah dan 1 kios Orang Bugis.

Pada tanggal 27 Desember 1998, Desa Air Bak yang berpenduduk kurang lebih 8 keluarga yang beragama Islam, diserang oleh warga dari Desa Tawiri yang kebanyakan warganya bergama Kristen. Peristiwa ini terjadi karena Babi peliharaan warga Tawiri masuk ke perkebunan warga Desa Air Bak, peristiwa ini sebenarnya bisa terjadi. Dengan melempar batu babi akan keluar dari kebun. Akan tetapi, kejadian ini digunakan sebagai masalah oleh warga Kristen Tawiri. Warga Muslim dilempar batu. Tidak ada penyelesaian pada kasus ini, malahan Warga Muslim yang ditahan oleh polisi.

Sumber:


pendapat/ opini tentang kasus ambon:

1. Florencia Edrin

Menurut saya, kasus diatas terjadi karena masyarakat yang tidak berpikir 2 kali. Mereka langsung bertindak tanpa mengetahui kejadian yang sebenarnya terjadi. masyarakat disana lebih berpikir negative dibandingkan berpikir positif. Masyarakat harus sadar bahwa mereka telah menghina manusia lain dan merenggut banyak nyawa Seperti yang tertulis pada pasal 28I ayat 1, hak yang mereka renggut adalah hak untuk hidup dan hak untuk tidak disiksa, dan pasal 28 G ayat 2 pun telat menuliskan bahwa setiap orang bebas atau tindakan yang merendahkan martabat derajat manusia.
Masyarak harus menyadari bahwa dalam 28I ayat 5 pun telah menyebutkan Bahwa HAM setiap orang telah diatur, dijamin dalam UU no.39 tahun 1999. Pemerintah Indonesia sebaiknya lebih memperhatikan hal seperti ini dikarenakan banyak sekali orang orang yang HAM nya direbut atau di ambil oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

2. Erick Martin

Menurut saya kasus ini tidak sepantasnya terjadi mengingat indonesia sudah menjadi satu sejak merdeka. Orang orang tersebut hanya mementingkan harga diri golongan mereka masing" dan akan langsung menyerang apabila diganggu tanpa berpikir terlebih dahulu. Seperti yang bisa kita lihat, kasus Tragedi Ambon yang berujung pelanggaran HAM ini terjadi karena kesalahpahaman semata, para pelaku merupakan orang orang yang ikut termakan omongan para pengadu domba, sehingga terjadilah aksi saling serang dan berujung pembunuhan. Seperti yang tertera pada pasal 28 A dimana semua orang berhak untuk hidup dan mempertahankan kehidupannya, tidak seharusnya pembunuhan menjadi ujung dari emosi semata. Setiap orang berhak untuk memeluk agama masing" tanpa harus berselisih dengan orang yang berbeda agama karena setiap orang memiliki hak untuk memeluk agama dan beribadah menurut agamanya sesuai dengan pasal 28 E. Pelanggaran ini juga berdampak kepada masyarakat dimana hak untuk mendapatkan rasa aman dan perlindungan dari ancaman (pasal 28 G) justru tidak didapatkan oleh masyarakat. Seharusnya agama-agama itu ada untuk hidup berdampingan, bukan  sebagai alasan untuk saling menyerang dan Menjatuhkan.

3.  Julyo

Menurut saya kasus tersebut sangat tidak manusiawi karena  orang-orang tersebut hanya bertindak semena-mena dan melakukan apa yang menurut mereka benar saja tanpa mempedulikan nasib orang lain dimana hal ini telah melanggar pasal 28 I ayat 2 yang berbunyi "setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dab berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu" , selain itu yang lebih parah lagi orang-orang di desa wailete orang-orang tersebut hanya bertindak semena-mena tanpa ada sebab yang jelas, mereka menghancurkan dan membakar habis seluruh rumah dan membunuh secara keji orang-orang yang mereka temui hal ini telah melanggar pasal 28a ayat 1 yang berbunyi "setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahanlan hidup dan kehidupannya", selain itu juga orang-orang itu bersifat rasis karena hanya masalah sepele dibuat menjadi masalah yang sangat rumit hanya karena pertentangan 1orang dengan orang yang lain yang dikaitkan dengan agama, padahal sebenarnya semua agama tidak pernah mengajarkan kekerasan, melainkan semua agama mengajarkan kepada semua orang untuk bersikap lebih baik.

4. Rico Nathan

Saya berpendapat bahwa kasus seperti ini tidak boleh terjadi di Indonesia. Mengapa? Karena indonesia membebaskan setiap orang untuk memeluk agama mereka sendiri, dan sudah diatur pada pasal 28E ayat 1. Setiap orang juga mendapat perlindungan dari perlakuan diskriminatif sebagaimana yang terdapat pada pasal 28 I ayat 2. Kasus kerusuhan yang terjadi di Ambon ini sungguh memprihatinkan bagi Indonesia. Mengapa tidak? Indonesia dikenal dengan banyaknya suku dan agama, yang hidup secara berdampingan. Mereka dapat hidup rukun 1 sama lain. Tetapi mengapa kasus ini dapat terjadi? Fanatisme dan ego kelompok atau individu tertentulah yang membuat hal ini dapat terjadi. Pada kasus Ambon ini,  ada beberapa kelompok yang mencari kesalahan kecil untuk menyulut emosi dan menebar kebencian terhadap yang lain. Entah mereka tidak senang dengan kelompok tertentu, atau mereka memiliki niat jahat yang tersembunyi, mereka terlihat melakukan kekerasan, tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Banyak korban jiwa berjatuhan pada kerusuhan ini. Kebanyakan dari mereka bahkan tidak tahu tentang apa yang mereka lakukan,  sehingga mereka menjadi pelampiasan dari kebencian mereka. Maka dari itu, kita sebagai orang yabg berpendidikan dan memiliki pengetahuan tentang HAM, sudah seharusnya kita membuat hubungan antar agama dan suku semakin erat, suapaya hal menyedihkan seperti ini,  tidak terjadi lagi.

5. Marcella Laurensia

Hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada diri manusia sejak manusia lahir yang tidak dapat diganggu gugat dan bersifat tetap. Semua orang memiliki hak untuk menjalankan kehidupan dan apa yang dikendakinya selama tidak melanggar norma dan tata nilai dalam masyarakat. HAM telah diatur dalam Undang Undang Dasar 1945 pasal 27 sampai 34.
Menurut saya, jaminan HAM yang paling sering dilanggar oleh masyarakat Indonesia adalah pasal nomor 28E ayat (1), yang berbunyi, "Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadah menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya serta berhak kembali". Hal ini terlihat dari banyaknya kasus kekerasan dan kericuhan di Indonesia yang latar belakang masalahnya berbau keagamaan Salah satu contoh yang paling terkenal adalah kasus kerusuhan Ambon pada tahun 1999.
Kasus ini berawal ketika seorang warga beragama Kristen berkelahi dengan warga Ambon lainnya yang beragama Islam. Kemudian warga Muslim tersebut berkata bahwa ia akan dibunuh oleh orang Kristen. Pernyataan itu sontak membuat Ambon terpecah menjadi dua, kubu orang Muslim dan kubu orang Kristen. Dalam beberapa menit saja kerusuhan sudah merebak ke mana-mana. Berbagai tempat dan desa-desa di sekitar tempat kejadian turut memanas-manasi konflik. Belasan gereja dan masjid terbakar akibat kerusuhan ini.
Kejadian ini mengakibatkan timbulnya fanatisme agama yang sangat kuat di daerah Ambon. Warga Islam di beberapa daerah kembali menyerang dan membunuh pendeta-pendeta Kristen. Warga Kristen juga tidak ingin kalah, mereka menangkap orang-orang Islam dan dibantai lalu dibakar.
kita harus saling menghormati agama lain dan memberikan hak untuk bebas beragama kepada orang yang tidak satu keyakinan dengan kita. Pasal 28E ayat (1) juga merupakan cerminan dari sila pertama dan kedua Pancasila, yang menjelaskan bahwa setiap manusia harus diperlakukan dengan adil dan beradab.
Saran yang saya usulkan tidaklah sulit, karena semua orang bisa melakukannya. Caranya adalah dengan saling menghormati dan memahami agama satu dengan yang lainnya.
Menghormati agama lain bisa dilakukan dengan cara mempersilakan penganut agama lain untuk melaksanakan ibadah mereka masing-masing, tidak berkata-kata jelek atau rasis kepada penganut agama lain, tidak menjauhkan diri dari penganut agama tertentu, serta tidak membanding-bandingkan agama satu dengan yang lainnya. Indonesia adalah negara yang memiliki banyak suku, budaya, bahasa, dan agama. Namun, Indonesia tetap dapat disatukan. Dan salah satu caranya adalah dengan saling menghormati dan memahami antar agama.

6. Franseda R

Menurut saya, konflik dan penyelesaiannya tidak harus dengan kekerasan. Kita sebagai warga Indonesia yang memiliki beragam agama harus hidup rukun dan saling menerima satu sama lain tanpa membedakan yang lain. Walaupun tidak memiliki masalah, harusnya diselesaikan secara musyawarah atau secara agama ataupun secara hukum.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar