Senin, 21 Agustus 2017

INSIDEN DILI Disusun Oleh Kelompok 6 XI MIPA 6 SMA Xaverius 1 Palembang

INSIDEN DILI
Disusun Oleh
Kelompok 6 XI MIPA 6 SMA Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota:
1. Difany (05)
2. Jefferson Grantsco (15)
3. Reyhan (28)
4. Sheren Renika (31)
5. Willy (36)



(Link video) youtube: https://youtu.be/MCoTKUDQ9kU

Latar belakang
Pada bulan Oktober 1991, sebuah delegasi yang terdiri dari anggota parlemen Portugal dan 12 orang wartawan dijadwalkan akan mengunjungi Timor Timur. Para mahasiswa telah bersiap-siap menyambut kedatangan delegasi ini. Namun rencana ini dibatalkan setelah pemerintah Indonesia mengajukan keberatan atas rencana kehadiran Jill Joleffe sebagai anggota delegasi itu. Joleffe adalah seorang wartawan Australia yang dipandang mendukung gerakan kemerdekaan Fretilin.
Pembatalan ini menyebabkan kekecewaan mahasiswa pro-kemerdekaan yang berusaha mengangkat isu-isu perjuangan di Timor Timur. Kekecewaan ini menyebabkan situasi memanas antara pihak pemerintah Indonesia dan para mahasiswa. Puncaknya pada tanggal 28 Oktober, pecah konfrontasi antara aktivis pro-integrasi dan kelompok pro-kemerdekaan yang pada saat itu tengah melakukan pertemuan di gereja Motael Dili. Pada akhirnya, Afonso Henriques dari kelompok pro-integrasi tewas dalam perkelahian dan seorang aktivis pro-kemerdekaan, Sebastião Gomes yang ditembak mati oleh tentara Indonesia.
Peristiwa pembantaian
Pada tanggal 12 November 1991, para demonstran yang terdiri dari mahasiswa dan pemuda mengadakan aksi protes mereka terhadap pemerintahan Indonesia pada prosesi penguburan rekan mereka, Sebastião Gomes. Dalam prosesi pemakaman, para mahasiswa menggelar spanduk untuk meminta penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan, menampilkan gambar pemimpin pro-kemerdekaan Xanana Gusmao.
Pada saat prosesi tersebut memasuki kuburan, pasukan Indonesia mulai menembak. Dari orang-orang yang berdemonstrasi di kuburan, 271 tewas, 382 terluka, dan 250 menghilang. Salah satu yang meninggal adalah seorang warga Selandia BaruKamal Bamadhaj, seorang pelajar ilmu politik dan aktivis HAM berbasis di Australia.
Pembantaian ini disaksikan oleh dua jurnalis Amerika SerikatAmy Goodman dan Allan Nairn; dan terekam dalam pita video oleh Max Stahl, yang diam-diam membuat rekaman untuk Yorkshire Television di Britania Raya. Para juru kamera berhasil menyelundupkan pita video tersebut ke Australia. Mereka memberikannya kepada seorang wanita Belandauntuk menghindari penangkapan dan penyitaan oleh pihak berwenang Australia, yang telah diinformasikan oleh pihak Indonesia dan melakukan penggeledahan bugil terhadap para juru kamera itu ketika mereka tiba di Darwin. Video tersebut digunakan dalam dokumenter First Tuesday berjudul In Cold Blood: The Massacre of East Timor, ditayangkan di ITV di Britania pada Januari 1992.
Tayangan tersebut kemudian disiarkan ke seluruh dunia, hingga sangat mempermalukan permerintahan Indonesia. Di Portugal dan Australia, yang keduanya memiliki komunitas Timor Timur yang cukup besar, terjadi protes keras.
Banyak rakyat Portugal yang menyesali keputusan pemerintah mereka yang praktis telah meninggalkan bekas koloni mereka pada 1975. Mereka terharu oleh siaran yang melukiskan orang-orang yang berseru-seru dan berdoa dalam bahasa Portugis. Demikian pula, banyak orang Australia yang merasa malu karena dukungan pemerintah mereka terhadap rezim Soeharto yang menindas di Indonesia, dan apa yang mereka lihat sebagai pengkhianatan bagi bangsa Timor Timur yang pernah berjuang bersama pasukan Australia melawan Jepang pada Perang Dunia II.
Meskipun hal ini menyebabkan pemerintah Portugal meningkatkan kampanye diplomatik mereka, bagi pemerintah Australia, pembunuhan ini, dalam kata-kata menteri luar negeri Gareth Evans, 'suatu penyimpangan'.
Kejadian ini kini diperingati sebagai Hari Pemuda oleh negara Timor Leste yang merdeka. Tragedi 12 November ini dikenang oleh bangsa Timor Leste sebagai salah satu hari yang paling berdarah dalam sejarah mereka, yang memberikan perhatian internasional bagi perjuangan mereka untuk merebut kemerdekaan.

Sumber:
(Opini tanggapan,analisis,solusi, dll dari setiap anggota kelompok)

  1. Reyhan
Menurut saya pelanggaran ini telah mempermalukan pemerintahan Indonesia dan telah melanggar pasal 28A yang berisi setiap orang berhak untuk hidup dan mempertahankannya dan melanggar pasal 30 bab XII yang berisi tentang TNIbertugas untuk mempertahankan, melindungi, dan memelihara keutuhan kedaulatan negara.

  1. Willy
Menurut saya. Insiden ini merupakan kasus pelanggaran HAM yang sangat berat karena sudah menghilangkan nyawa banyak orang secara sadis dan melanggar hukum sesuai dengan pasal 28A yaitu, "Setiap orang berhak untuk hidup serta mempertahankan hidup dan kehidupannya". Dan BAB XII pasal 30 (3) yaitu, "TNI terdiri atas Angkatan Darat. Angkatan Laut, dan Angkatan Udara sebagai alat negara bertugas mempertahankan, melindungi, dan memelihara keutuhan dan kedaulatan negara". Dalam insiden ini seharusnya aparat TNI dan kepolisian tidak sembarangan bertindak dan berlaku adil serta menjaga kedamaian
.
  1. Sheren
Menurut saya dari kasus tersebut terpampang jelas terjadi perlanggaran HAM yang sangat berat. Menghilangkan nyawa seseorang bukanlah suatu hal yang patut untuk dibenarkan, dan terjadi pelanggaran terhadap hukum negara sesuai dengan pasal 28 dan bab XII pasal 20. Untuk penyelesaiannya menurut saya, pihak internasional dan Timor Lester yang sudah merdeka sekarang harus memberikan desakan kepada pemerintah Indonesia untuk menyelidiki secara tuntas siapa dalang atau pencetus penembakan tersebut dan memberikan hukuman yang pantas atas perbuatannya.

  1. Jefferson
Kasus Santa Cruz ini benar-benar kasus yang membuat malu nama baik Bangsa Indonesia sebab sebagai negara hukum Bangsa Indonesia sendiri telah melanggar hukum meski berkuasa Indonesia tidak boleh semena-mena dengan tindakannya hal ini sebenarnya bukan karena Indonesia namun prinsipnya pada saat era Presiden Soeharto tentu tidak hanya oleh Soeharto namun, kaki tangannya juga. Seharusnya sebagai manusia mereka layaknya budak, hati nurani mereka tidak ada apa apanya oleh sebab itu mereka layak dihukum karena telah melanggar psal 28A, 28I, dll.

  1. Difany
Menurut pendapat saya, kejadian dili tersebut banyak sekali menelan korban. Banyak sekali menelan nyawa orang-orang yang tidak bersalah. Pelanggaran HAM sangat terlihat dalam pembantaian tersebut. Orang yang main hakim sendiri langsung membunuh orang yang tidak berdosa patut untuk mendapat hukuman yang setimpal.


Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar