Rabu, 30 Agustus 2017

AMPLIFIER DIGANTI DENGAN NYAWA Disusun oleh Kelompok 7 Xl IPS 1 SMA XAVERIUS 1 PALEMBANG


Disusun oleh
Kelompok 7 Xl IPS 1 SMA XAVERIUS 1 PALEMBANG
Nama Anggota :
1.         Angel Valencia (04)
2.         Fayola Faye (11)
3.         Felicya Chandra (12)
4.         Thalia Patricia (34)
5.         Valentinus I Made A (36)

Link Video : https://youtu.be/NXJy_Pf3EOc

KRONOLOGI KEJADIAN
Kasus pelanggaran HAM yakni pembakaran seseorang secara hidup-hidup merupakan kasus bentuk pelanggaran HAM khususnya kepada seseorang yang dibakar hidup-hidup hingga meninggal tersebut. Ia tewas mengenaskan setelah dihajar warga lalu dibakar karena dituduh mencuri tiga unit amplifier di Kampung Muara Bakti RT 12 RW 07, Desa Muara Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Selasa (2/8) petang. Namun, tudingan warga itu ditepis tetangga MA.

MA tercatat sebagai warga Kampung Harapan Baru, RT 1 RW 3, Desa Cikarang Kota, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Sehari-hari MA bekerja sebagai penyedia jasa service elektronik. Pria berusia 30 tahun itu merupakan seorang teknisi peralatan elektronik yang tinggal di Kampung Jati RT 4 RW 5, Desa Cikarang Kota, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Dia tewas dikeroyok massa, dan dibakar karena dituduh mencuri amplifier di musala. Di rumahnya banyak orang yang menggunakan jasanya ketika perlengkapan elektronik rusak agar diperbaiki, termasuk amplifier. Ia suka berkeliling mencari barang rongsokan agar bisa ia perbaiki dan dijual lagi untuk mendapatkan uang.


Saat menunaikan salat Ashar, Zoya memarkirkan motornya di halaman rumahnya. Rojali pun tidak mengetahui secara pasti dari arah mana korban datang ke Musala.Musala berwarna biru itu hanya dilintasi satu jalan saja. Sebelah kanannya, terdapat jalan yang mengarah ke sebuah kampung bernama Desa Pondok. Desa itu adalah pemukiman warga paling pojok, sebelum mendapati pangkalan minyak milik PT Pertamina dan laut. Sedangkan, sebelah kiri Musala jalan yang sama menuju tempat Zoya diamuk dan dibakar warga di Pasar Muara Bakti. Jalan itu merupakan jalan yang pasti dilewati Zoya, ketika hendak pulang ke rumahnya di Cikarang Utara Kehebohan terjadi di Pasar Muara, Desa Muara Bakti, Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa 1 Agustus lalu. Pengendara berhenti. Warga berkerumun. Semua mata tertuju pada sebuah objek yang terbakar. Sungguh tak diduga, objek terbakar itu adalah tubuh manusia yang dituduh sebagai pelaku pencurian alat pengatur suara musala. Sebelum dibakar, dia dianiaya beramai-ramai hingga tewas mengenaskan.

Tak lama, polisi menangkap sejumlah pelaku. Lima orang dibekuk dengan perannya yang berbeda-beda. Mulai dari penganiaya hingga penyiram bensin dan membakar Mohammad Azzahra. Emosi menjadi alasan para pelaku main hakim sendiri. Sebuah tragedi pengadilan jalanan yang jelas tak dapat dibenarkan.Setelah menjadi viral di media sosial, polisi bergerak cepat mengusut kasus ini. Makam Mohammad Azzahra yang biasa dipanggil Zoya pun dibongkar. Proses autopsi yang berlangsung tertutup di tengah makam itu menyedot perhatian warga. Polisi ingin mengungkap penyebab pasti kematian Zoya.

Di tengah proses autopsi, ayah Zoya menangis tak menyangka anaknya tewas hanya akibat tuduhan yang dianggap salah sasaran. Sementara itu, aksi simpatik terus berdatangan untuk Zoya. Ratusan warga membubuhkan tanda tangan di atas kain putih sepanjang lima meter. Tidak hanya dukungan moril, tapi juga sejumlah dana untuk membantu menghidupi istri dan anak Zoya. Bahkan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin datang langsung ke rumah Zoya. Lukman berharap kejadian ini menjadi pelajaran bersama agar jangan sampai terulang kembali.Belakangan, berdasarkan hasil gelar perkara dan keterangan saksi serta bukti yang didapat, polisi juga menyimpulkan jika Zoya diduga kuat sebagai pelaku pencurian alat pengeras suara di Musala Al Hidayah Babelan. Tapi apapun alasannya, tentu tidak serta-merta meringankan hukuman bagi para pelaku pengadilan jalanan.


Kasus ini telah melanggar hak asasi korban yang terdapat dalam pasal 28A ayat 1 yaitu setiap orang berhak untuk hidup sertak mempertahankan hidup dan kehidupannya, pasal 28I ayat 1 yaitu hak untuk tidak disiksa.



Sumber :



Opini, Tanggapan, Saran

1.         Angel

Menurut saya kasus ini telah menentang Hak Asasi Manusia karena warga setempat langsung main hakim sendiri tanpa kepastian yang menunjukkan bahwa korban tersebut merupakan pelakunya. Dengan hal ini juga dapat merugikan korban dan warga yang melakukan perbuatan yang melanggar HAM tersebut. Sehingga seharusnya warga setempat tidak langsung mengambil keputusan sendiri dan langsung menuduh serta memukul korban. Jika korban memang tersangka telah melakukan pencurian juga sebaiknya ditindaklanjuti oleh pihak yang berwenang sehingga tidak terjadi perbuatan-perbuatan yang tidak kita inginkan yang dapat merugikan diri kita sendiri.

2.         Fayola

Menurut saya kasus ini merupakan kasus tantang pelanggaran HAM karena melanggar hak seseorang untuk mempertahankan hidupnya. Seberat-beratnya kesalahan atau perbuatan buruk yang telah dilakukannya seharusnya tidak langsung membunuhnya dengan cara membakarnya secara hidup-hidup melainkan melapor kepada pihak yang berwajib agar tidak terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Lalu, seharusnya mengkonfirmasi terlebih dahulu kejadian yang sebenernya kepada orang yang bersangkutan dan jangan main hakim dengan sendirinya yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.

3.         Felicya

Menurut saya, seharusnya masyarakat tidak main hakim sendiri. Sebaiknya diserahkan ke pihak yang berwajib dan berwenang menangani kasus korban ini, karena hal ini telah melanggar hak asasi korban karena penganiayaan yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Selain itu, tuduhan yang diberikan warga setempat kepada korban juga belum diketahui kebenarannya, apakah korban telah melakukan pencurian amplifier atau tidak. Maka semestinya kasus ini dijadikan pelajaran kepada masyarakat lainnya untuk tidak main hakim sendiri. Ada baiknya dilakukan mediasi diantara pihak yang berwajib, korban, dan perwakilan musala, serta dilakukan pembicaraan dengan kepala dingin. Kasus ini juga telah melanggar hak asasi manusia korban mengenai hak mempertahankan hidup dan kehidupan, dan juga hak untuk tidak disiksa.

4.         Thalia

Menurut saya, kasus ini merupakan kasus pelanggaran HAM yang sangat berat hingga menyebabkan hilangnya nyawa seseorang secara tragis tanpa sebab yang pasti. Pembakaran hidup-hidup seorang yang diduga pencuri amplifier mushalla Muhammad Al-Zahra alias Zoya merupakan tindakan yang sangat tidak dibenarkan. Pencuri atau bukan perilaku main hakim sendiri seperti halnya mengeroyok dan membakar orang itu merupakan tindakan yang tidak memiliki rasa kemanusiaan. Para warga secara membabibuta menghakimi Zoya yang pada dasarnya bukanlah pencuri amplifier musholla, ia merupakan korban dari kesalahpahaman warga. Namun, Warga yang tidak ingin menghakimi Zoya pun kalah jumlah dengan warga yang sudah tersulut emosi. Kasus ini jelas melanggar UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 1999 TENTANG HAK ASASI MANUSIA

Pasal 33 ayat (1)

(1) yang berbunyi :"Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan, penghukuman, atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, merendahkan derajat dan martabat kemanusiaannya."

Pasal 33 ayat (2)

(2) yang berbunyi :"Setiap orang berhak untuk bebas dari penghilangan paksa dan penghilangan nyawa."

Dengan kejadian ini hendaknya menjadi pelajaran bagi kita semua untuk selalu menghargai hak asasi setiap manusia agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali.

5.         Valentinus

Menurut saya kasus pencurian yang sempat menghebohkan di Indonesia ini sangat tragis, warga di sekitar masjid langsung memukuli korban dan membakar korban tanpa alasan yang jelas. Hal ini membuat kasus Zoya cepat menyebar ke seluruh Indonesia. Tetapi, memang dasarnya Zoya adalah seorang tukang service amplifier, ia mengambil amplifier untuk di service. Warga menemukan Zoya tengah memegang amplifier tersebut. Warga mengira Zoya adalah maling lantas warga berteriak dan langsung memukuli Zoya dan membakarnya saat ia masih sadar. Kasus Zoya ini adalah contoh kasus pelanggaran HAK ASASI MANUSIA lain. Sebaiknya kita sebagai warga Negara yang patuh hokum mengikuti aturan yang berlaku di Indonesia dengan menyerahkannya kepada pihak yang berwenang, apalagi zoya belum tentu bersalah karena ia hanya ingin memperbaiki amplifier tersebut bukan mencurinya.


Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar