Kamis, 31 Agustus 2017

Kasus pembunuhan Angeline Disusun oleh Kelompok 4 XI MIPA 2 SMA XAVERIUS 1 Palembang

Disusun oleh :
Kelompok 4 XI MIPA 2 SMA XAVERIUS 1 Palembang
Nama anggota :
Akbar Tordy 03
Billy Gunawan 04
Irenia Paulin 18
Jefriyanto 19
Jodie Handoko 21




Kronologis
1. 16 Mei 2015
Angeline terakhir terlihat di halaman rumahnya di Jalan Sedap Malam, Denpasar, Bali. Investigasi Komnas Anak menyatakan tetangga melihat pintu pagar rumah Angeline terkunci saat itu. "Artinya, hanya orang rumah yang tahu keberadaan terakhir Angeline. Dia tidak keluar," kata Arist.
2. 17 Mei 2015
Kakak angkat Angeline, Christina dan Ivon, mengumumkan hilangnya Angeline pada laman Facebook berjudul "Find Angeline-Bali's Missing Child". Mereka memasang sejumlah foto bocah yang senyumnya tampak ceria itu. Keduanya juga mengajak masyarakat ikut mencari Angeline. Masyarakat, dari artis hingga pejabat, geger ikut membantu pencarian bocah malang tersebut.
3. 18 Mei 2015
Tiga hari setelah menghilang, keluarga melapor ke Kepolisian Sektor Denpasar Timur. Polisi memeriksa sejumlah saksi, yaitu Margareth (ibu angkat Angeline), Antonius (pembantu sekaligus penjaga rumah), dan seorang penghuni kontrakan milik Margareth bernama Susianna.

Polda Bali memperluas pencarian di seluruh perbatasan Bali, Banyuwangi, dan Nusa Tenggara Barat. Mereka juga memeriksa rumah Margareth tiga kali. Pemeriksaan pertama dan kedua selalu dihalangi pemilik rumah.
4. 24 Mei 2015
Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengunjungi rumah Margareth pada malam hari. Arist menengok kamar tidur Margareth yang juga sering dipakai Angeline. Menurut Arist, rumah itu tak layak huni karena acak-acakan, kotor, dan bau kotoran hewan. Margareth memelihara puluhan anjing dan ayam di rumahnya.
Di kamar tidur, Arist mencium bau anyir yang berbeda dengan bau kotoran hewan. "Tidak ada seprei terpasang dan ruangannya bau anyir," ujar Arist. Kecurigaan itu segera dilaporkan kepada polisi.
5. 5-6 Juni 2015
Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise mengunjungi rumah Margareth dalam kesempatan berbeda. Namun kedatangan keduanya ditolak keluarga Angeline.
6. 9 Juni 2015
Guru SD Negeri 12 Sanur Bali, tempat Angeline sekolah, menggelar sembahyang di depan Pura Penyimpangan Batu Bolong, di depan rumah Angeline. Persembahyangan digelar untuk meminta petunjuk paranormal. Mereka mengaku mendengar suara Angeline.
7. 10 Juni 2015
Polisi menemukan jasad Angeline di pekarangan rumah Margareth. Angeline ditemukan dikubur pada kedalaman setengah meter, dengan pakaian lengkap dan tangan memeluk boneka. Tubuhnya dililit seprei dan tali.

Sumber :
https://m.tempo.co/read/news/2015/06/10/063673848/kasus-angeline-kronologi-dari-hilang-hingga-meninggal
https://www.merdeka.com/peristiwa/ini-kronologi-lengkap-hilangnya-angeline-hingga-ditemukan-tewas.html


Opini :
Jodie Handoko
Menurut pendapat saya perlakuan terhadap Angeline adalah tindakan yang tidak mulia. Karena hak untuk hidup adalah hak yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Sama seperti pada UU Pasal 28A. Pasal 28A: Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Maksud isi tersebut adalah bahwa setiap manusia terutama warga negara indonesia, sejak ia lahir mempunyai hak yang sama dalam hal hak untuk hidup dan mempertahankan kehidupannya. Tidak ada satu orang pun yang bisa membeli nyawa orang lain atau menghilangkan nyawa orang lain dengan alasan apa pun. Jika ada yang menghilangkan nyawa orang lain dengan atau apa lagi tanpa alasan, maka orang tersebut harus menanggung hukuman sesuai dengan hukum yang berlaku.

Irenia Paulin
Menurut saya perbuatan yang dilakukan terhadap engeline adalah perbuatan yang keji, karena pelaku telah melakukan pembunuhan, penyiksaan, penelantaran anak, dan pembunuhan berencana. Hal tersebut telah melanggar aturan HAM yang berlaku. Pelaku juga telah merebut hak engeline yaitu mendapatkan warisan yang diberikan ayah angkatnya. Hal tersebt merupakan motif utama pelaku untuk melakukan pembunuhan.  Walaupun ada rasa kecemburuan falam diri kita, kita sebagai manusia yang memiliki hak kita juga seharusnya dpat menghormati hak yang di miliki oleh orang lain.

Akbar Tordy Anugrah
Menurut saya undang undang HAM yang paling sering dilanggar ialah UUD 1945 pasal 28I ayat (1)  yang berbunyi sebagai berikut " Hak untuk hidup, Hak untuk tidak disiksa, hak untuk kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tisak dapat dikurangi dalam keadaan apapun". Sekali lagi saya tegaskan bahwa ini hanya pendapat saya dan tidak menutup kemungkinan untuk salah.Mengapa saya memilih pasal tersebut ? Karena saya merasakan sendiri dari pelanggaran tersebut, untuk mencari kasusnya pun tidak susah cukup melihat tayangan berita di TV. Tanpa disadari setiap hari selalu muncul kasus kasus baru yang berkaitan dengan pasal 28I ayat (1).  Salah satu contoh kasus besar yang pernah terjadi di Indonesia yaitu kasus semanggi yang terjadi pada peristiwa Angeline pada peristiwa di Bali, yang menyebabkan kematian Angeline. Sekali lagi saya tegaskan bahwa ini hanya pendapat saya dan tidak menutup kemungkinan untuk salah.
Menurut saya UUD 1945 pasal 28 ayat (1) adalah pasal yang paling sering dilanggar baik berupa dalam bentuk penyiksaaan bahkan pembunuhan. Menurut saya pula bahwa pasal tersebut paling penting untuk dijamin perlindungan, pemajuan, penegakkan, dan pemenuhannya. Karena apabila pasal tersebut pelaksanaannya tidak ada yang melanggar maka angka kematian di Indonesia akan berkurang dan penduduk Indonesia akan lebih merasa aman dan nyaman hidup di Indonesia ini. Sekali lagi saya tegaskan bahwa ini hanya pendapat saya dan tidak menutup kemungkinan untuk salah. Selain itu kasus ini juga melanggar sila pancasila yaitu "keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia"

Jefriyanto
Kasus Angelline adalah kasus pelanggaran HAM yang amat gila. Seorang ibu angkat lebih mementingkan harta dan kepentingan diri sendiri daripada seorang anak yang adalah anugerah Tuhan dan manusia yang memiliki HAM. Harusnya ibu angkat sudah bertanggungjawab karena ia sudah mengangkat seorang anak. Pelanggaran HAM ini terutama dalam UU No 28A dimana manusia memiliki hak untuk hidup dan mempertahankan kehidupannya. Selain itu kasus ini juga melanggar sila ke-2 pada Pancasila yaitu "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab", yang mana setiap manusia memiliki hak yang sama terutama Angelline sebagai seorang anak harusnya berhak mendapatkan perhatian dari orangtua, apalagi ia sendiri tidak berbuat salah apapun dalam kasus ini. Bagi saya Indonesia harus lebih tegas dalam menyikapi persoalan seperti ini, sehingga kasus-kasus seperti Angelline tidak terjadi lagi. Jadi harusnya pemerintah lebih memantau dan bersifat lebih peduli kepada kasus pelanggaran HAM, sehingga jangan sampai pemerintah hanya mengetahui setelah kasus tersebut terkuak.

Billy Gunawan
Menurut saya,tindakan tersebut merupakan salah satu bukti bahwa penerapan HAM yang kurang dipedulikan di Indonesia.Melenyapkan nyawa tanpa rasa kasihan merupakan tindakan di luar batas akal dan logika dan sangat bertentangan dari UUD1945 pasal 28 ayat 1.Dan juga tanpa memperhatikan keselamatan sesama manusia,hal ini telah bertentangan dengan pancasila sila ke 2 yaitu "Kemanusiaan yang adil dan beradab".Harusnya kasus seperti ini harus lebih dianggap serius dan diberi pendidikan tentang pentingnya menghargai hak sesama di lingkungan masyarakat

Rabu, 30 Agustus 2017

PERISTIWA BOM BALI KELOMPOK 7 XI MIPA 2 SMA XAVERIUS 1 PALEMBANG


 Disusun Oleh:
Kelompok 7 XI MIPA 2 SMA XAVERIUS 1 PALEMBANG
Nama Anggota :
Delfina Patricia (10)
Mikael Christian (30)
Ni Kadek Ayu (31)
Rhea Elka (33)
Sheren Ovilia (35)


Bom Bali 2002 (disebut juga Bom Bali I) adalah rangkaian tiga peristiwa pengeboman yang terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002. Dua ledakan pertama terjadi di Paddy's Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali, sedangkan ledakan terakhir terjadi di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat, walaupun jaraknya cukup berjauhan. Rangkaian pengeboman ini merupakan pengeboman pertama yang kemudian disusul oleh pengeboman dalam skala yang jauh lebih kecil yang juga bertempat di Bali pada tahun 2005. Tercatat 202 korban jiwa dan 209 orang luka-luka atau cedera, kebanyakan korban merupakan wisatawan asing yang sedang berkunjung ke lokasi yang merupakan tempat wisata tersebut. Peristiwa ini dianggap sebagai peristiwa terorisme terparah dalam sejarah Indonesia.

Tersangka dalam kasus pengeboman ini antara lain:
1. Abdul Gani, didakwa seumur hidup
2. Abdul Hamid (kelompok Solo)
3. Abdul Rauf (kelompok Serang)
4. Imam Samudra alias Abdul Aziz, terpidana mati
5. Achmad Roichan
6. Ali Ghufron alias Mukhlas, terpidana mati
7. Ali Imron alias Alik, didakwa seumur hidup[2]
8. Amrozi bin Nurhasyim alias Amrozi, terpidana mati
9. Andi Hidayat (kelompok Serang)
10. Andi Oktavia (kelompok Serang)
11. Arnasan alias Jimi, tewas
12. Bambang Setiono (kelompok Solo)
13. Budi Wibowo (kelompok Solo)
14. Azahari Husin alias Dr. Azahari alias Alan (tewas dalam penyergapan oleh polisi di Kota Batu tanggal 9 November 2005)
15. Dulmatin (tewas tanggal 9 Maret 2010)
16. Feri alias Isa, meninggal dunia
17. Herlambang (kelompok Solo)
18. Hernianto (kelompok Solo)
19. Idris alias Johni Hendrawan
20. Junaedi (kelompok Serang)
21. Makmuri (kelompok Solo)
22. Mohammad Musafak (kelompok Solo)
23. Mohammad Najib Nawawi (kelompok Solo)
24. Umar Patek alias Umar Kecil (tertangkap di Pakistan)
25. Mubarok alias Utomo Pamungkas, didakwa seumur hidup
26. Zulkarnaen

Abu Bakar Ba'asyir, yang diduga oleh beberapa pihak sebagai salah seorang yang terlibat dalam pengeboman ini, dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan yang diajukan oleh jaksa penuntut umum atas dugaan konspirasi pada Maret 2005, dan hanya divonis atas pelanggaran keimigrasian.

Urutan kejadian Pengeboman Bom Bali 2002 adalah sebagai berikut.
Kejadian bermula pada pukul 20.45 Wita. Salah satu pelaku, Ali Imron menyiapkan satu bom kotak dengan berat sekitar 6 kilogram yang telah dipasang sistem remote ponsel, di rumah kontrakan. Artinya bom itu diledakkan dari jarak jauh menggunakan ponsel.
Bom tersebut dibawa Ali Imron menggunakan sepeda motor Yamaha, dan diletakkan di trotoar sebelah kanan kantor Konsulat Amerika Serikat. Selanjutnya, dia pergi menuju Sari Club dan Paddy's Pub untuk memantau situasi serta lalu lintas di sekitar. Ali selanjutnya kembali ke rumah kontrakan.
Sekitar pukul 22.30 Wita, Ali Imron bersama dua pelaku bom bunuh diri, yakni Jimi dan Iqbal pergi menuju Legian dengan menggunakan mobil Mitshubishi L 300. Idris, pelaku lain, mengikuti mereka dengan menggunakan motor Yamaha.
Sesampainya di Legian, Ali Imron mengintruksikan Jimi untuk menggabungkan kabel-kabel dari detonator ke kotak switch bom mobil L 300. Jimi akan melancarkan bom bunuh diri menggunakan mobil L 300 di Sari Club.
Pada saat yang bersamaan, Ali Imron menyuruh Iqbal untuk memakai bom rompi. Iqbal juga akan beraksi sebagai 'pengantin' (sebutan untuk pelaku bom bunuh diri) di Paddy's Pub.
Setelah persiapan rampung, Iqbal turun dari mobil dan masuk ke dalam Paddy's Pub. Duar! Bom meledak dari restoran tempat nongkrong tersebut.
Sementara itu, Ali Imron turun dari mobil L 300 kemudian dijemput Idris untuk menuju Jalan Imam Bonjol. Sedangkan Jimi langsung memacu mobil menuju Sari Club, lalu meledakkan bom di dalam mobil yang ia kendarai. Bom kedua pun meledak dari mobil tersebut. Ratusan orang tewas akibat dua bom tersebut.
Di tengah perjalanan, Ali Imron menekan tombol remote control yang sudah dipasang pada ponselnya. Duar! Bom kotak meledak yang telah ia taruh sebelumnya meledak di depan konsulat Amerika Serikat. Ini merupakan bom yang ketiga dan tak mengakibatkan korban jiwa.
Sejak itu, eksodus besar-besaran terjadi di Pulau Dewata. Bandara Ngurah Rai sesak didatangi banyak warga asing, terutama tim investigasi dari Biro Investigasi Amerika Serikat (FBI).
Setelah melewati proses penyelidikan, Polri berhasil menangkap para pelaku yang dinyatakan terlibat, di antaranya Amrozi, Ali Imron, Imam Samudra, dan Ali Gufron.
Ali Imron divonis hukuman seumur hidup. Hukuman untuk Ali Imron yang menjadi "sutradara" pengeboman itu lebih ringan dari tiga tersangka lainnya yang divonis hukuman mati. Ini lantaran Ali Imron dinilai kooperatif dan membantu polisi mengungkap tabir otak terorisme di Indonesia.
Tim Investigasi Gabungan Polri dan kepolisian luar negeri yang telah dibentuk untuk menangani kasus ini menyimpulkan, bom yang digunakan berjenis TNT seberat 1 kg dan bom RDX berbobot antara 50-150 kg.
Penyebab terjadinya Bom Bali:
"Bom bunuh diri akan lebih memberikan rasa ketakutan, kalau hanya bom kurang serem," ungkap Ali Imron dalam persidangan di PN Jakarta Barat, Kamis (22/3/2012).
Ali Imron yang menjadi saksi untuk Umar patek dalam kasus bom Bali I 2002, mengungkapkan pula kenapa harus Bali yang dijadikan tempat pengeboman.
"Bali merupakan simbol internasional, di negara manapun pasti mengerti Bali, sehingga efeknya akan lebih mendunia dibanding tempat lain," ungkapnya.
Sebenarnya, aksi pembonan di Bali merupakan efek dari peristiwa Poso dan Ambon. Menurut Ali Imron, bom Bali merupakan balas dendam kaena banyak umat muslim yang terbunuh akibat konflik di Poso dan Ambon.Sehingga, sasaran yang dipilihnya tempat-tempat yang banyak dikunjungi orang-orang asing.

Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Bom_Bali_2002
http://news.liputan6.com/read/2117622/12-10-2002-bom-bali-i-renggut-202-nyawa
http://www.tribunnews.com/nasional/2012/03/23/ini-alasan-teroris-melakukan-bom-bunuh-diri

Pendapat para penyusun:
1. Delfina Patricia

Menurut saya peristiwa pengeboman yang terjadi di bali pada tanggal 12 oktober 2002 merupakan peristiwa terparah yang terjadi di Indonesia karena banyak orang yang meninggal ataupun luka-luka akibat peristiwa tersebut baik warga negara asing maupun warga negara indonesia. Seharusnya para warga yang terlibat tidak melakukan hal tersebut karena hal tersebut sudah melanggar hak asasi manusia, pelanggaran yang terjadi di dalam peristiwa ini adalah penghilangan hak untuk hidup dan penghilangan hak untuk mendapatkan perlindungan dari kekerasan, hak untuk tidak disiksa

2. Mikael Christian

Menurut pendapat saya Bahwa peristiwa yang terjadi pada tanggal 12 oktober 2002 bom Bali terjadi di bali dan  banyak memakan korban yang tidak bersalah dan sekitar kurang lebih 200 orang meninggal yang menjadi korban      Dan 200 orang lagi luka luka dan tindakan terosisme telah diatur dalam perpu no 1 tahun 2002 tentang pemberantasan tindak terorisme 

3. Ni Kadek Ayu

Menurut pendapat saya peristiwa Boom bali yang terjadi pada tanggal 12 oktober 2002 merupakan peristiwa yang menyedihkan, karena pada saat itu mereka para orang tua, orang muda, para warga indonesia, warga asing sekalipun  tewas terkena ledakan tersebut. Mereka yang tidak bersalah sekali p. Dalam kasus ini dapat dilihat bahwa adanya pelanggaran HAM yang terjadi diantaranya adalah penghilangan hak untuk hidup, dimana mereka semua terbunuh . Penghilangan Hak untuk mendapatkan perlindungan dari kekerasan,hak untuk tidak disiksa, hak untuk memiliki kemerdekaan pikiran dan hati nurani. Hak-hak tersebut yang seharusnya mereka dapat malah sama sekali tidak di dapatkannya, mereka malah tewas terbunuh. Selain itu karena tragedi boom tersebut mereka yang memilik tempat usaha di sekitar tempat kejadian juga dirugikan karena tragedi tersebut.

4. Rhea Elka Pandumpi
Tindakan pengeboman itu adalah pelanggaran HAM yang amatlah berat. Pelaku tega melanggar hak manusia lain untuk hidup, bahkan manusia yang tidak dikenalnya sama sekali. Pelaku yang melakukan bom bunuh diri pun, melanggar haknya sendiri untuk hidup dan dengan demikian menyia-nyiakan pemberian Tuhan. Apalagi, hak yang diserang pada kasus ini adalah hak untuk hidup. Apabila hak untuk hidup saja sudah tidak dimiliki, maka hak-hak lain juga tak dapat dimiliki oleh orang lain karena nyawanya sudah tidak ada lagi. Contohnya: bila tidak tewas karena pengeboman, para korban mungkin saja dapat membentuk keluarga atau ikut andil dalam pemerintahan, dan mendapatkan hak-haknya secara maksimal. Tapi bagaimana hak itu dapat diperoleh, jika hak untuk hidup saja sudah dilanggar?  Cukup mencengangkan bahwa salah satu motif dari pengeboman ini adalah guna membuat rasa takut pada masyarakat. Yang artinya pelaku berusaha mencari kepuasannya sendiri dengan ketakutan orang lain, alasan yang amatlah sepele untuk melayangkan nyawa orang.

5. Sheren Ovilia

Menurut saya, tindakan yang dilakukan orang-orang Indonesia tersebut merupakan tindakan yang melanggar HAM karena setiap orang memiliki hak untuk hidup. Pelaku pengeboman tersebut seharusnya tidak melakukan pengeboman itu apalagi di negara sendiri karena dapat merugikan pendapatan negara melalui menurunnya jumlah wisatawan, kemudian keamanan di Indonesia juga harus ditingkatkan lagi sehingga tidak terjadi peristiwa kriminal di Indonesia baik yang dilakukan oleh warga negara asing maupun warga negara Indonesia sendiri.


Pembantaian Rawagede Disusun Oleh: Kelompok 3 XI IPS 1 SMA Xaverius 1 Palembang

Disusun Oleh:
Kelompok 3 XI IPS 1 SMA Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota:
1.Hendra Salim (16)
2.Middellia C.A.D. (28)
3.Nadyn Stevany S (30)
4.Shelina Saputri (33)
5.Wendarta Darmawan (37)



Pembantaian Rawagede adalah peristiwa pembantaian penduduk Kampung Rawagede (sekarang terletak di Desa Balongsari, Rawamerta, Karawang), di antara Karawang dan Bekasi, oleh tentara Belanda pada tanggal 9 Desember 1947 sewaktu melancarkan agresi militer pertama. Sejumlah 431 penduduk menjadi korban pembantaian ini.Ketika tentara Belanda menyerbu Bekasi, ribuan rakyat mengungsi ke arah Karawang. Pertempuran kemudian berkobar di daerah antara Karawang dan Bekasi, mengakibatkan jatuhnya ratusan korban jiwa dari kalangan sipil. Pada tanggal 4 Oktober 1948, tentara Belanda melancarkan pembersihan. Dalam peristiwa ini 35 orang penduduk Rawagede dibunuh tanpa alasan jelas. Peristiwa dikira menjadi inspirasi dari sajak terkenal Chairil Anwar berjudul Antara Karawang dan Bekasi, namun ternyata dugaan tersebut tidak terbukti.Pada 14 September 2011, Pengadilan Den Haag menyatakan pemerintah Belanda harus bertanggung jawab dan membayar kompensasi bagi korban dan keluarganya.
Di Jawa Barat, sebelum Perjanjian Renville ditandatangani, tentara Belanda dari Divisi 1 yang juga dikenal sebagai Divisi 7 Desember melancarkan pembersihan unit pasukan TNI dan laskar-laskar Indonesia yang masih mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Pasukan Belanda yang ikut ambil bagian dalam operasi di daerah Karawang adalah Detasemen 3-9 RI, pasukan para (1e para compagnie) dan 12 Genie veld compagnie, yaitu brigade cadangan dari pasukan para dan DST (Depot Speciaale Troepen).
Pemimpin tentara Belanda kemudian memerintahkan untuk menembak mati semua penduduk laki-laki, termasuk para remaja belasan tahun. Beberapa orang berhasil melarikan diri ke hutan, walaupun terluka kena tembakan. Saih, kini berusia 83 tahun menuturkan bahwa dia bersama ayah dan para tetangganya sekitar 20 orang jumlahnya disuruh berdiri berjejer. Ketika tentara Belanda memberondong dengan senapan mesin –istilah penduduk setempat: "didrèdèt"- ayahnya yang berdiri di sampingnya tewas kena tembakan, dia juga jatuh kena tembak di tangan, namun dia pura-pura mati. Ketika ada kesempatan, dia segera melarikan diri.Hari itu tentara Belanda membantai 431 penduduk Rawagede. Pasca proklamasi para pejuang republik makin bersemangat melakukan perlawanan terhadap Belanda.Di wilayah Jawa Barat,ada Kapten Lukas Kustarjo yang dikenal sangat berani melakukan penyergapan terhadap pos dan patroli tentara belanda.Karena keberaniannya Kapten Lukas dijuluki "Begundal Karawang" tentara Belanda berusaha menangkapnya hidup atau mati.9 Desember 1947,pasukan Belanda pimpinan Mayor Alphons Jean Henri Wijnen menyerbu desa Rawagede,larena desa ini menjadi salah satu basis gerilya Kapten Lukas Kustarjo.Dalam penyerbuan itu Belanda tidak menemukan buruannya.Mereka memaksa warga memberitahukan persembunyian Kapten Lukas.Karena warga tutup mulut Belanda membalas dengan tembakan.Seperti di Sulawesi Selatan, tentara Belanda di Rawagede juga melakukan eksekusi di tempat (standrechtelijke excecuties), sebuah tindakan yang jelas merupakan kejahatan perang. Diperkirakan korban pembantaian lebih dari 431 jiwa, karena banyak yang hanyut dibawa sungai yang banjir karena hujan deras.


Opini dan Tanggapan,Analisi,Solusi dari Setiap Anggota:

1.Hendra:Pembantaian Rawagede adalah pembantaian yang dilakukan oleh tentara Belanda pada tanggal 9 Desember 1947 sewaktu melancarkan agresi militer pertama.Sesungguhnya ini tidak manusiawi dikarnakan pembunuhan besar-besaran yang menewaskan 431 jiwa,pembersihan yang dilakukan Belanda ini untuk menguasai daerah itu,hendaknya di ungkit kembali dalam kancah Internasional sebagai tindak perdata agar Belanda mendapat balasan yang setimpal.

2.Middellia:Menurut saya,peristiwa pembantaian Rawagede ini ialah tindakan yang sadis,tidak bermoral&tidak berperikemanusiaan serta melanggar HAM.Sebaiknya sesame manusia tidak boleh membunuh manusia lainnya,karena setiap manusia memiliki hak untuk hidup.Apalagi apa yang kita lihat,peristiwa ini telah mengakibatkan/menghasilkan banyak korban jiwa yang alas an kematiannya karena bungkam mulut untuk tidak memberitahukan keberadaan Lukas Kustarjo.Sebenarnya rakyat itu terlibat sebagai pejuang.Jadi,mereka yang mati karena pembantaian ini tidak boleh dianggap sekedar mati konyol.Hal ini justru menunjukan rakyat disekitar situ ialah patriot sebenarnya.

3.Nadyn:Peristiwa ini sangat melanggar HAM karena orang yang tidak salah dibunuh secara keji oleh tentara Belanda.Tentara Belanda bertindak semaunya tanpa memikirkan hak para warga sipil yang mereka bunuh itu.Pemerintah Belanda harus bertanggung jawab atas kejadian yang telah terjadi dan mengganti semua kerusakan yang terjadi.

4.Shelina:Rawagede harusnya menjadi peringatan bagi rakyat Indonesia bahwa kemerdekaan yang susah payah diraih sampai harus mengorbankan begitu banyak rakyat di Indonesia,hendaknya jangan digunakan untuk memerdekakan para koruptor dan orang-orang yang sengaja merugikan Negara dan bangsa Indonesia hendaknya mereka perlu ditindak tegas. 

5.Wendarta:Menurut pendapat saya,peristiwa pembantaian Rawagede ini merupakan salah satu pelanggaran HAM yang sangat berat karena bukan hanya 1 atau 2 orang saja yang terbunuh melainkan 431 jiwa yang terbunuh dalam kasus pembantaian di Rawagede ini.Selain banyak yang terbunuh,peristiwa ini terjadi hanya karena masyarakat Rawagede tidak mau memberitahu dimana lokasi dari Kapten Lukas Kustarjo,dan hal ini menurut saya terlalu kejam hanya untuk masalah itu.

PEMBANTAIAN BANYU WANGI TAHUN 1998 Disusun oleh: Kelompok 4 XI IPS 1 SMA XAVERIUS 1 Palembang

Disusun oleh:
Kelompok 4 XI IPS 1 SMA XAVERIUS 1 Palembang
1. Abraham H T Sianipar(1)
2. Christina Natalia(7)
3. Maria Magdalena Charista E(25)
4. Natasya Angelia Andeskar(31)
5. Veren Fiani Anjelika(36)



Pembantaian Banyuwangi 1998 adalah peristiwa pembantaian terhadap orang yang diduga melakukan praktik ilmu hitam (santet atau tenung) yang terjadi di Banyuwangi ,Jawa Timur pada kurun waktu Februari hingga September 1998. Namun hingga saat ini motif pasti dari peristiwa ini masih belum jelas.
Adapun yang terlibat dari pejabat. Soal keterlibatan sejumlah pejabat setempat dalam pembunuhan berantai tersebut. Yang disebut-sebut dalam laporan Tim Investigasi NU itu antara lain tiga pejabat Banyuwangi: Bupati T. Purnomo Sidik, Komandan Komando Distrik Militer Letnan Kolonel Subiraharjo. dan Kepala Kepolisian Resor Letnan Kolonel Edy Moerdiono.
Salah satu bukti kuat yang ditemukan adalah kopi radiogram Pak Bupati yang ditujukan kepada para kepala desa, lewat camat-camat di wilayahnya, tertanggal 10 Februari 1998, bernomor 300/70/439.0131/ 1998. Instruksinya: mendata orang-orang yang diduga berpraktik sebagai dukun santet.
Tapi, menurut pengakuan Bupati Purnomo Sidik, radiogram itu dikeluarkannya 16 September 1998, saat ramai-ramainya pembantaian "dukun santet". Tujuannya, kata Sidik, menyelamatkan para dukun santet itu dari amukan massa. Hasilnya, 118 orang tercatat dalam daftar dukun santet. Nah, dari jumlah itu, yang jadi korban amukan massa hanya delapan orang, itu pun karena tak mengindahkan anjuran aparat keamanan.
Tapi, bagi Tim Investigasi NU, daftar-yang entah mengapa jatuh ke tangan khala yak umum–itu justru merupakan pemicu gelombang pembantaian. Sebab, ada yang menafsirkan catatan itu sebagai "daftar target" pembunuhan. Yang jelas, "Setelah (data dan foto) itu beredar di masyarakat, korban baru bertambah banyak," kata sumber D&R di NU Cabang Banyuwangi. Kebetulan atau tidak, hampir 70 persen korban pernbunuhan cocok dengan nama-nama yang ada di daftar tadi.
Adapun juga keterlibatan warga dengan cara menyewa algojo atau yang bisa di sebut dengan ninja, tetapi si algojo harus meminta suara untuk melakukan pembunuhan dengan suara 50 warga terhadap korban dan alagojo langsung membunuh korban. Tapi, sejak Juli, dalam setiap aksi pembantaian muncul kelompok provakator yang tak dikenali warga setempat. Belakangan, Tim Investigasi NU berhasil mengidentifikasi para provokator itu, yang dimotori gerombolan preman dan bromocorah. Salah seorang yang pernah dituding Choirul Anam adalah Agus Indriawan, preman yang sehari-harinya berprofesi sebagai calo pengujian kendaraan bermotor di Kantor Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Banyuwangi.
Konon, Agus inilah yang bertugas merekrut para algojo–yang berasal tidak hanya dari Banyuwangi, tapi juga Surabaya dan sekitarnya. Kepada anak buahnya, Agus selalu menegaskan agar tak usah khawatir soal sepak-terjang mereka karena dijamin oleh seorang beking yang berdinas di Kesatuan Intelijen Pengamanan Politik Kepolisian Resor Banyuwangi.
Laporan Tim Investigasi NU menyebutkan rekrutmen komplotan Agus dilakukan secara terencana dan rahasia. Di Banyuwangi, misalnya, order pembunuhan diberikan seorang pengendara motor dalam sebuah amplop tertutup. Di dalam amplop sudah tertulis nama dan alamat lengkap calon korban, lengkap dengan uang senilai Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Di Jember, untuk memudahkan para algojo itu melaksanakan tugasnya, komplotan itu memberikan rambu khusus di sekitar rumah calon korban. Bila ada tanda panah merah, sang korban harus dibunuh.


(Opini tanggapan,analisis,solusi, dll dari setiap anggota kelompok)
1.Abraham H T Sianipar
Menurut saya kasus ini sangat tidak manusiawi, walaupun seorang dukun santet itu melakukan pratek kejahatan tapi mereka tetap manusia dam mereka tidak bisa dihukum dengan cara dibantai secara brutal dan pembantaian ini pasti membuat rasa takut kepada dukun santet yang lain karena merasa jadi target selanjutnya, dan seharusnya jika seorang dukun santet di perkirakan melakukan praktik kegelapan seharusnya di berikan kepada pihak yang berwajib dan tidak main hakim sendiri secara tidak langsung si pelaku telah melanggar pasal 28 I dimana tercantum hak untuk hidup
2.Christina Natalia
Fenomena sosial tsb sangat tidak patut untung diteladani, sebab hal ini tidak mencerminkan nilai" sosial pada pancasila.
Seperti halnya membacok, mengkeroyok, membakar, dll, itu semua sangatlah kejam. Bagaimana bila itu terjadi pada orang terdekatmu? Pasti kalian akan merasa sangat terpukul begitu pula dengan mereka yang menjadi korban kasus pembantaian banyuwangi.
Ditambah lagi dengan cara mereka menghukum orang yang memang bersalah, meskipun dukun santet itu salah tetapi masyarakat pula tidak boleh bermain hakim sendiri.
3.Natasya Angelia Andeskar
Menurrut saya kasus itu membuat warga resah tapi seharusnya warga sekitar itu tidak main hakim sendiri dan juga lebih baik diserahkan pada pihak berwajib agar dapat di tindak lanjuti lagi, diharapkan agar kejadian ini tidak terulang lagi
4.Veren Fiani Anjelika
Menurut saya, kasus pembantaian dukun santet di banyuwangi merupakan kasus yang cukup aneh  karena target pembunuhannya hanyalah dukun santet dan pembunuhnya belum jelas diketahui identitasnya. Walaupun sudah terdapat tersangka, tetapi tersangka tersebut belum tentu pelaku karena sekedar dugaan saja dan tidak ada bukti yang kuat untuk menuduh agus sebagai pelaku yang sesungguhnya.
5.M.M.Charista E
Menurut saya kasus ini tidak masuk akal karena hanya dukun santet yang menjadi targetnya. Hukuman yang diberikan kepada dukun santet tersebut pun tidak manusiawi karena dilakukannya pembacokan bahkan dibakar.

TRAGEDI TRISAKTI Disusun Oleh KELOMPOK 5 XI MIPA 2 SMA Xaverius 1 Palembang

Disusun Oleh
KELOMPOK 5 XI MIPA 2 SMA Xaverius 1 Palembang
Nama Anggota:
1. Frankie Burhan (14)
2. Gibson A. M Hutagalung (16)
3. Prabu Jeremia S. R. (32)
4. Theresa Angelica Taslim (36)
5. Venny Wijaya (38)




Tragedi Trisakti merupakan peristiwa penembakan yang terjadi pada tanggal 12 Mei 1998, kepada mahasiswa pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Kejadian ini memakan korban jiwa, yakni empat mahasiswa Universitas Trisakti meninggal dunia serta puluhan lainnya luka.
Latar belakang Tragedi Trisakti :
Awal mula kejadian ini dimulai pada awal 1998. Pada tahun itu perekonomian Indonesia mulai goyah. Hal ini diakibatkan pengaruh krisis finansial Asia sepanjang tahun 1997-1999. Mahasiswa pun akhirnya melakukan aksi demonstrasi besar-besaran ke gedung DPR/MPR, tidak terkecuali mahasiswa Universitas Trisakti.
Para mahasiswa ini melakukan aksi damai dari kampus Trisakti menuju Gedung DPR/MPR RI pada pukul 12.30. Tetapi aksi mereka dihadang oleh blokade polisisi dan pihak aparat lainnya. Saat dihadang, kemudian beberapa perwakilan mahasiswa mencoba bernegosisasi dengan pihak polisi.
Setelah bernegosisasi, akhirnya pada pukul 17.15 para mahasiswa memutuskan untuk mundur. Namun yang ada aparat keamanan malah bergerak maju untuk menyerang dan menembakkan peluru secara babi buta ke arah mahasiswa. Kemudian para mahasiswa panik dan saling berpisah lari ketakutan, sebagian besar mahasiswa berlindung di dalam kampus.
Bukannya mundur ketika mahasiswa lari ketakutan, para aparat keamanan ini malah terus melakukan penembakan. Akhirnya korban pun berjatuhan, dari yang luka-luka sampai yang meninggal dunia. Para korban yang berjatuhan kemudian dilarikan ke RS Sumber Waras.Akhirnya, pada pukul 17.15 sore hari, para mahasiswa bergerak mundur, diikuti bergerak majunya aparat keamanan. Aparat keamanan pun mulai menembakkan peluru ke arah mahasiswa. Para mahasiswa panik dan bercerai berai, sebagian besar berlindung di kampus Universitas Trisakti. Namun aparat keamanan terus melakukan penembakan. Korban pun berjatuhan dan dilarikan ke RS Sumber Waras.
Pada pukul 20.00, dari laporan yang diterima dipastikan empat orang mahasiswa meninggal dunia karena tertembak, sementara satu orang mahasiswa dalam keadaan kritis. Walaupun pihak aparat keamanan membantah tidak menggunakan peluru tajam, namun dari hasil otopsi menunjukkan bahwa kematian tersebut dikarenakan peluru tajam.

Rentang Waktu Tragedi Trisakti :
10.30 -10.45
Aksi damai civitas akademika Universitas Trisakti yang bertempat di pelataran parkir depan gedung M (Gedung Syarif Thayeb) dimulai dengan pengumpulan segenap civitas Trisakti yang terdiri dari mahasiswa, dosen, pejabat fakultas dan universitas serta karyawan. Berjumlah sekitar 6000 orang di depan mimbar.
10.45-11.00
Aksi mimbar bebas dimulai dengan diawali acara penurunan bendera setengah tiang yang diiringi lagu Indonesia Rayayang dikumandangkan bersama oleh peserta mimbar bebas, kemudian dilanjutkan mengheningkan cipta sejenak sebagai tanda keprihatinan terhadap kondisi bangsa dan rakyat Indonesia sekarang ini.
11.00-12.25
Aksi orasi serta mimbar bebas dilaksanakan dengan para pembicara baik dari dosen, karyawan maupun mahasiswa. Aksi/acara tersebut terus berjalan dengan baik dan lancar.
12.25-12.30
Massa mulai memanas yang dipicu oleh kehadiran beberapa anggota aparat keamanan tepat di atas lokasi mimbar bebas (jalan layang) dan menuntut untuk turun (long march) ke jalan dengan tujuan menyampaikan aspirasinya ke anggota MPR/DPR. Kemudian massa menuju ke pintu gerbang arah Jl. Jend. S. Parman.
12.30-12.40
Satgas mulai siaga penuh (berkonsentrasi dan melapis barisan depan pintu gerbang) dan mengatur massa untuk tertib dan berbaris serta memberikan himbauan untuk tetap tertib pada saat turun ke jalan.
12.40-12.50
Pintu gerbang dibuka dan massa mulai berjalan keluar secara perlahan menuju Gedung MPR/DPR melewati kampus Untar.
12.50-13.00
Long march mahasiswa terhadang tepat di depan pintu masuk kantor Wali Kota Jakarta Barat oleh barikade aparat dari kepolisian dengan tameng dan pentungan yang terdiri dua lapis barisan.
13.00-13.20
Barisan satgas terdepan menahan massa, sementara beberapa wakil mahasiswa (Senat Mahasiswa Universitas Trisakti) melakukan negoisasi dengan pimpinan komando aparat (Dandim Jakarta Barat, Letkol (Inf) A Amril, dan Wakapolres Jakarta Barat). Sementara negoisasi berlangsung, massa terus berkeinginan untuk terus maju. Di lain pihak massa yang terus tertahan tak dapat dihadang oleh barisan satgas samping bergerak maju dari jalur sebelah kanan. Selain itu pula masyarakat mulai bergabung di samping long march.
13.20-13.30
Tim negosiasi kembali dan menjelaskan hasil negosiasi di mana long march tidak diperbolehkan dengan alasan kemungkinan terjadinya kemacetan lalu lintas dan dapat menimbulkan kerusakan. Mahasiswa kecewa karena mereka merasa aksinya tersebut merupakan aksi damai. Massa terus mendesak untuk maju. Di lain pihak pada saat yang hampir bersamaan datang tambahan aparat Pengendalian Massa (Dal-Mas) sejumlah 4 truk.
13.30-14.00
Massa duduk. Lalu dilakukan aksi mimbar bebas spontan di jalan. Aksi damai mahasiswa berlangsung di depan bekas kantor Wali Kota Jakbar. Situasi tenang tanpa ketegangan antara aparat dan mahasiswa. Sementara rekan mahasiswi membagikan bunga mawar kepada barisan aparat. Sementara itu pula datang tambahan aparat dari Kodam Jaya dan satuan kepolisian lainnya.
14.00-16.45
Negoisasi terus dilanjutkan dengan komandan (Dandim dan Kapolres) dengan pula dicari terobosan untuk menghubungi MPR/DPR. Sementara mimbar terus berjalan dengan diselingi pula teriakan yel-yel maupun nyanyian-nyanyian. Walaupun hujan turun massa tetap tak bergeming. Yang terjadi akhirnya hanya saling diam dan saling tunggu. Sedikit demi sedikit massa mulai berkurang dan menuju ke kampus.
Polisi memasang police line. Mahasiswa berjarak sekitar 15 meter dari garis tersebut.
16.45-16.55
Wakil mahasiswa mengumumkan hasil negoisasi di mana hasil kesepakatan adalah baik aparat dan mahasiswa sama-sama mundur. Awalnya massa menolak tetapi setelah dibujuk oleh Bapak Dekan FE dan Dekan FH Usakti, Adi Andojo SH, serta ketua SMUT massa mau bergerak mundur.
16.55-17.00
Diadakan pembicaraan dengan aparat yang mengusulkan mahasiswa agar kembali ke dalam kampus. Mahasiswa bergerak masuk kampus dengan tenang. Mahasiswa menuntut agar pasukan yang berdiri berjajar mundur terlebih dahulu. Kapolres dan Dandim Jakbar memenuhi keinginan mahasiswa. Kapolres menyatakan rasa terima kasih karena mahasiswa sudah tertib. Mahasiswa kemudian membubarkan diri secara perlahan-lahan dan tertib ke kampus. Saat itu hujan turun dengan deras.
Mahasiswa bergerak mundur secara perlahan demikian pula aparat. Namun tiba-tiba seorang oknum yang bernama Mashud yang mengaku sebagai alumni(sebenarnya tidak tamat) berteriak dengan mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor ke arah massa. Hal ini memancing massa untuk bergerak karena oknum tersebut dikira salah seorang anggota aparat yang menyamar.
17.00-17.05
Oknum tersebut dikejar massa dan lari menuju barisan aparat sehingga massa mengejar ke barisan aparat tersebut. Hal ini menimbulkan ketegangan antara aparat dan massa mahasiswa. Pada saat petugas satgas, ketua SMUT serta Kepala kamtibpus Trisakti menahan massa dan meminta massa untuk mundur dan massa dapat dikendalikan untuk tenang. Kemudian Kepala Kamtibpus mengadakan negoisasi kembali dengan Dandim serta Kapolres agar masing-masing baik massa mahasiswa maupun aparat untuk sama-sama mundur.
17.05-18.30
Ketika massa bergerak untuk mundur kembali ke dalam kampus, di antara barisan aparat ada yang meledek dan mentertawakan serta mengucapkan kata-kata kotor pada mahasiswa sehingga sebagian massa mahasiswa kembali berbalik arah. Tiga orang mahasiswa sempat terpancing dan bermaksud menyerang aparat keamanan tetapi dapat diredam oleh satgas mahasiswa Usakti.

Pada saat yang bersamaan barisan dari aparat langsung menyerang massa mahasiswa dengan tembakan dan pelemparan gas air mata sehingga massa mahasiswa panik dan berlarian menuju kampus. Pada saat kepanikan tersebut terjadi, aparat melakukan penembakan yang membabi buta, pelemparan gas air mata dihampir setiap sisi jalan, pemukulan dengan pentungan dan popor, penendangan dan penginjakkan, serta pelecehan seksual terhadap para mahasiswi. 
Termasuk Ketua SMUT yang berada di antara aparat dan massa mahasiswa tertembak oleh dua peluru karet dipinggang sebelah kanan.
Kemudian datang pasukan bermotor dengan memakai perlengkapan rompi yang bertuliskan URC mengejar mahasiswa sampai ke pintu gerbang kampus dan sebagian naik ke jembatan layang Grogol

Sementara aparat yang lainnya sambil lari mengejar massa mahasiswa, juga menangkap dan menganiaya beberapa mahasiswa dan mahasiswi lalu membiarkan begitu saja mahasiswa dan mahasiswi tergeletak di tengah jalan. Aksi penyerbuan aparat terus dilakukan dengan melepaskan tembakkan yang terarah ke depan gerbang Trisakti. Sementara aparat yang berada di atas jembatan layang mengarahkan tembakannya ke arah mahasiswa yang berlarian di dalam kampus.

Lalu sebagian aparat yang ada di bawah menyerbu dan merapat ke pintu gerbang dan membuat formasi siap menembak dua baris (jongkok dan berdiri) lalu menembak ke arah mahasiswa yang ada di dalam kampus. Dengan tembakan yang terarah tersebut mengakibatkan jatuhnya korban baik luka maupun meninggal dunia. Yang meninggal dunia seketika di dalam kampus tiga orang dan satu orang lainnya di rumah sakit beberapa orang dalam kondisi kritis. Sementara korban luka-luka dan jatuh akibat tembakan ada lima belas orang. Yang luka tersebut memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.

Aparat terus menembaki dari luar. Puluhan gas air mata juga dilemparkan ke dalam kampus.
18.30-19.00
Tembakan dari aparat mulai mereda, rekan-rekan mahasiswa mulai membantu mengevakuasi korban yang ditempatkan di beberapa tempat yang berbeda-beda menuju RS.
19.00-19.30
Rekan mahasiswa kembali panik karena terlihat ada beberapa aparat berpakaian gelap di sekitar hutan (parkir utama) dan sniper (penembak jitu) di atas gedung yang masih dibangun. 

Mahasiswa berlarian kembali ke dalam ruang kuliah maupun ruang ormawa ataupun tempat-tempat yang dirasa aman seperti musholla dan dengan segera memadamkan lampu untuk sembunyi.
19.30-20.00
Setelah melihat keadaan sedikit aman, mahasiswa mulai berani untuk keluar adari ruangan. Lalu terjadi dialog dengan Dekan FE untuk diminta kepastian pemulangan mereka ke rumah masing- masing. Terjadi negoisasi antara Dekan FE dengan Kol.Pol.Arthur Damanik, yang hasilnya bahwa mahasiswa dapat pulang dengan syarat pulang dengan cara keluar secara sedikit demi sedikit (per 5 orang). Mahasiswa dijamin akan pulang dengan aman.
20.00-23.25
Walau masih dalam keadaan ketakutan dan trauma melihat rekannya yang jatuh korban, mahasiswa berangsur-angsur pulang.
Yang luka-luka berat segera dilarikan ke RS Sumber Waras. Jumpa pers oleh pimpinan universitas. Anggota Komnas HAM datang ke lokasi.
01.30
Jumpa pers Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin di Mapolda Metro Jaya. Hadir dalam jumpa pers itu Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin, Kapolda Mayjen (Pol) Hamami Nata, Rektor Trisakti Prof. Dr. R. Moedanton Moertedjo, dan dua anggota Komnas HAM AA Baramuli dan Bambang W Soeharto.

Sumber:
1) http://panjiades.blogspot.co.id/2016/11/kasus-pelanggaran-ham-tragedi-trisakti.html
2) https://id.wikipedia.org/wiki/Tragedi_Trisakti

Pendapat Anggota Kelompok :
1. Frankie Burhan
Menurut saya, kejadian Trisakti merupakan pelanggaran HAM yang berat karena dalam kejadian itu ada terbunuhnya mahasiswa trisakti yang sedang menyuarakan pendapat mereka yang harusnya dilindungi oleh pemerintah. Tetapi mereka malah ditembak oleh Aparat Pemerintah yang mengakibatkan sejumlah mahasiswa luka-luka dan jatuhnya korban jiwa yang seharusnya dapat dihindari. Kejadian itu melanggar UUD 1945 pada pasal 28A yang berisi : "Setiap orang berhak untuk hidup serta mempertahankan hidup dan kehidupannya." dan pasal 28E yang berisi : "Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat,berkumpul dan mengeluarkan pendapat."
2. Gibson A. M. Hutagalung
Menurut pendapat saya, kejadian Trisakti tersebut diakibatkan karena mengambil keputusan yang terlalu tergesa-gesa. Apabila kita menyelesaikan masalah tersebut dengan hati yang tenang dan pikiran yang dingin, kejadian Trisakti tersebut tidak akan pernah terjadi dan tidak akan ada siswa yang terluka maupun adanya korban jiwa.
3. Prabu Jeremia S. R.
Dari tragedi Trisakti, kita dapat melihat bahwa kejadian tersebut telah menewaskan 4 orang mahasiswa dan puluhan orang yang terluka. Hal tersebut tentu saja membuat hati kita merasa sedih, melihat mahasiswa yang merupakan seorang penerus bangsa dapat meninggal akibat peristiwa tersebut. Dibalik itu kita dapat melihat bahwa terjadi banyak kerusakan juga yg merugikan warga setempat dan pihak pemerintah.
Saya rasa hal tersebut tidak perlu terjadi sebab dapat dilakukan dengan cara damai. Pada akhirnya kita sebagai seorang yang berbudi luhur, baiknya kita juga berprilaku baik sebab yang kita lakukan sekarang akan mempengaruhi perilaku generasi kita selanjutnya. Sebab dari suatu hal yang kecil pasti akan berdampak besar bagi semua orang dan sekitar. Oleh sebab itu, gunakanlah perkataan dan tindakanmu dengan baik agar menghasilkan sesuatu hal yang baik juga.
4. Theresa Angelica T.
Menurut saya, Tragedi Trisakti tersebut merupakan kasus Pelanggaran HAM yang berat. Tragedi tersebut telah menewaskan empat mahasiswa Trisakti, dan hal itu bertentangan dengan Pasal 28A pada UUD 1945, yang berisi tentang Hak untuk Hidup. Pasal 28A berbunyi : "Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya."
Namun bukan hanya pasal 28A saja, namun juga beberapa pasal dibawah ini;
Pasal 28D ayat 1 tentang Hak atas pengakuan, jaminan, dan perlindungan hukum yang berbunyi : "Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum."
Pasal 28E ayat 3 tentang Hak untuk bebas berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat yang berbunyi : "Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat."
Pasal 28I ayat 1 tentang Hak untuk hidup dan tidak disiksa, dan Hak untuk mendapat perlindungan dan kemajuan dari Pemerintah yang berbunyi : "Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun."
5. Venny Wijaya
Pendapat saya mengenai kasus Trisakti, seharusnya kasus tersebut tidak terjadi di negara kita ini yaitu Indonesia, karena kasus Trisakti merupakan pelanggaran HAM yang berat dan juga dikarenakan terjadinya kasus itu membuat stabilitas negara kita menjadi tidak baik dan juga dikarenakan kasus ini telah memakan korban.